Oleh: adek | November 8, 2007

Malaaass ..

a_lazy_afternoon_cat_med.jpgMalas, itulah kata yang mewakili situasi aku saat ini.  Bahkan untuk menulis postingan ini. Bagiku lagi tidak penting sama sekali hari ini, Tidak juga ngapa-ngapain dan tidak lagi meratapi siapa sebenarnya Aku. Sudah terlalu banyak menulis kalimat dengan kata ’Aku’ dalam tulisan sebelumnya. Dan jujur saja itu membuat amat membosankan.

Walaupun mengganti kata aku dengan kata ganti ‘sayah’ atau ‘gue’ atau apalah, tetap saja terasa membosankan. Sepertinya sudah terlalu banyak menuliskan mengenai diri sendiri, kebanggaan, pemujaan dan sungguh semua itu amat membosankan (katanya).

Misal ditanyakan apakah pembaca blogku perlu tahu siapa ’Aku’ ini, bagaimana texture mukaku, pakai kacamata atau tidak, berapa ukuran celana dalamku? Paling kalau ada yang jawab PERLU! Itu jelas-jelas gombal. Dibalik iru semua terasa berani bertanya dengan mengatasnamakan blog.

Aku terjebak diblog ini karena nyatanya toh aku tetap menggunakan kata aku didalam tulisanku. Alangkah tidak beraninya aku menuliskan dengan menggunakan nama samaran dalam postinganku. Kecuali beberapa postingan cerita masa SMA yang ku buat bersama teman-teman waktu dulu, itupun karena bersekutu dengan orang lain, baru berani menuliskan nama lain dan itupun tetap sebagai aku.

Mungkin aku terlalu polos sehingga orang mengetahui siapa aku. Waktu nge-weblog aku berpikir suatu saat nanti weblog ini akan diketahui teman dekat, bahkan sanak saudara. Dikomunitas Belitong.Com yang mengetahui siapa aku tentunya dengan tidak segan, berani kubicara siapa AKU. Tapi diteman kantorku aku masih risih. Walau sudah 6 tahun disini, just professional saja belum perlu sampai printilan rumah.

Sebegitu tertutupnya biodataku dulu, dari mana aku datang, mahluk seperti apakah aku sampai aku berpikir tidak sebegitu pentingnya membuka jati diriku hahhh … tapi sekarang teman kantorku bisa membaca semua kegelisahanku lewat diweblog jadi kalau sudah seperti ini aku tidak perlu memberitahu semua orang siapa nama anggota keluargaku silahkan baca saja ..

Perduli amat pikirku, …. ceritanya salah seorang teman kantor tanpa sengaja membuka jati diriku yang selama ini terkemas baik, ketika dia mengetik kata adekrawie search machine seperti Google, weblogku langsung terbuka menganga, dan detik itu juga dia mengetahui siapa aku. Beberapa hari aku tidak membuka internet karena kesibukan sampai tiba-tiba salah seorang anak buah mencandai aku dengan sebutan BangSad, sebuah kata yang kutulis hati-hati dan setengah hati karena mengingatkanku atas banyak perkara diwaktu kuliah dulu dan sampai sekarang ini benar-benar kupendam untuk orang lain yang belum tahu. Karena merasa ada yang tidak beres, aku bergegas menuju laptop dan kumainkan internal-mail, ternyata ada teman yang berhasil menemukan siapa aku di internet. Lalu dia mengajak yang lain untuk bersama melihat weblogku.

Aku tidak pernah takut akan membuat klarifikasi . Who the heck do I think I am!? Bodo amat ah, Emang siapa aku?.   Aku selalu yakin, ketika orang yang membaca tulisanku, walaupun tanpa komentar, atau diam-diam ikut berkomentar di media atau ruang yang lain seperti ruang makan pabrik atau bahkan bertanya satu topik yang kutulis. Hal ini cukup bagiku. Lagian aku enggak Ge eR bahwa yang mereka tanyakan adalah content tulisan bukan aku toh…? Ingatku ketika kita melakukan sesuatu jangan berpikir bahwa apa yang akan orang katakan tentang kita.

Ketika pertama dulu mulai menulis blog aku tidak serta-merta langsung bisa, butuh tahapan yang lumayan panjang. Maklum tidak sepenuhnya waktu ada untuk berinternet karena aku adalah orang pabrik yang sepanjang jam kerja berada dilapangan tembak .

Walau sempat ragu, ketika teman kantor tahu sekian banyak tulisan yang telah terposting, pertanyaan miris rada takut ku dengar, kapan kerjanya, hanya nulis saja di weblog. Sekian lama aku berpikir bahwa aku akan memanfaatkan benar weblog ini sebagai suatu sarana informasi buatku, temanku dan siapa saja yang membacanya.

Di negara yang gemah ripah loh jinawi ini, sepertinya suatu keharusan di tempat kita ketika seorang menulis tentang sesuatu, pasti pembaca akan bertanya siapa yang nulis, Gilanya ketika ada tulisan mengenai kematian serta-merta orang akan berseru buset.. pernah mati neh orang, dimana dia bisa bercerita tentang mati kalo dia tidak pernah mengalami, gitu ngak seeh…,
paling tidak orang akan berpikir penulis membaca literatur banyak hal. Itu positipnya. Kalo tidak penulis akan dicap asal tulis, kok beraninya nulis tanpa ada pengalaman.

Setidaknya ketika teman kantorku tau isi blogku, kuanggap ini satu step lebih baik, minimal bisa menjadi fungsi control bagiku, tidak mungkin aku menulis bohong, misal aku tidak mungkin menulis mempunyai helicopter yang setiap hari mengantarku pergi dan pulang kantor.  Atau aku menuliskan diri ini sebagai pemudi yang berumur 19 tahun, cantik, dengan size B, tatto kupu-kupu dibokong dan mempunyai kebiasaan tidur telanjang.  Jika demikan Cap Bohong melekat di jidatku.

Ya kalau nulis baik ada masukan dari teman-kantor minimal secara langsung, komentar disampaikan dan bisa dilihat dari mimik lawan bicara, kalo komen yang ditulis dari orang lain yang belum dikenal susah ditebak jujur atau tidaknya tulisan itu.

Dalam dunia blog umumnya diskusi mengalir luas. Dan apakah dapat menjamin bahwa tulisan tidak akan menipu? Aku tidak yakin ada yang berani menjamin. Maka itu Aku memilih blog. Sebab dalam dunia blog, bebas memberikan opini tanpa meninggalkan tanggung-jawab, yaitu salah satunya menjawab komentar-komentar pembaca.

Jadi tetap namanya tanggung jawab nulis memberikan inpo dan kejujuran tetap dijaga, walau diperlukan pendekatan sastra untuk menarik dibaca.  Oups… Tapi diawal tadi aku menuliskan malas kok jadi kepanjangan ini ……

Oleh: adek | November 6, 2007

PERGI untuk mati….

mati.jpgSenin subuh 5.30 WIB tanggal 5 November 2007, lewat sms singkat dari adik iparku, mengabarkan bahwa salah seorang paman dari istri ku, Sunardi bin Sumarta, telah berpulang ke Rahmatullah, setelah tiga minggu menderita sakit. Mendapat kabar itu, bersama mertua yang barusan tiba dari Kuningan semalamnya langsung bersiap untuk kembali kesana.

Semalam sebelumnya entah ada firasat apa, biasanya untuk urusan remeh-temeh seperti mengepel rumah dan mencuci mobil harus 2 x dulu ditegaskan oleh istri, baru ku kerjakan, tapi malam itu tanpa disuruh semua kuselesaikan dengan cepat seperti ada firasat bahwa besok mesti balik lagi ke Kuningan.

3,5 jam waktu yang dibutuhkan untuk meraih Dusun Susukan Kuningan, sepanjang jalan mertuaku masih mengingatkan kami semua penumpang tentang tata cara sholat mayit. Kami tiba dan masih sempat menyaksikan jenazahnya yang terbaring kaku diruang tamu depan. Masih sempat dibuka mukanya sebelum mertuaku mengkodei untuk sholat mayit susulan bagi yang belum.

Semua tata cara disampaikan lewat bahasa sunda dan arab, oleh usztad muda berpeci dan berbaju batik, suara sangat baik membaca talqin dan kemudian berdoa bersama-sama. Lalu dia menyampaikan sambutan sesaat setelah mayit dipindahkan didepan rumah, kurang mengerti apa yang disampaikan olehnya tapi pokok-pokok yang disampaikan ku tangkap, bahwa kita yang masih hidup diminta belajar dari sang mayit, bahwa ketika menjadi mayit yang sudah terbujur kaku kita sudah tak akan bisa meminta bantuan kepada siapapun, putus sudah perkara dunia, kecuali tiga hal, yakni ilmu yang bermanfaat dan diajarkan kepada orang lain, amal jariah dan anak yang soleh yang terus-menerus mendoakan orang tuanya.

Adalah filosofi ajaran Islam bahwa jasad manusia berasal dari tanah. Dan hari ini Wa’ Nadi (begitulah kami memanggilnya) harus kembali ketanah.
Sejak kami tiba ke rumah duka, aku sungguh merasa sedih, terharu dan berpikir panjang.  Sempat dibukanya kain kafan yang sudah menutupi mukanya, hari ini berakhirlah kisah perjalanan manusia, setelah melalui lautan perjalanan hidup yang cukup panjang. Dia wafat dalam usia 69 tahun, orangnya memang baik, sederhana, bersahaja dan tidak mempunyai istri dan keturunan. Lalu kenapa begitu berkesannya aku terhadap beliau ini, sepanjang hidupnya yang saya tahu Wa’ Nadi mengabdikan diri untuk kepentingan orang lain. Karena kepiawaiannya mengobati orang sakit lewat izin Allah AWT, membuat dia sangat disenangi seisi kampung.  Lewat obrolanku selama hidupnya logika nyambung, walaupun jauh lebih sepuh tapi tetap tidak merendahkan yang muda.

Kini Wa’ Nadi telah pergi. Seperti telah aku katakan, aku menyaksikan jenazahnya diusung ke pemakaman diatas sebuah bukit (perkuburan atau disebut juga pasarean dalam bahasa sunda) dengan upacara yang sangat sederhana dan bersahaja diiringi oleh banyak orang. Ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat, aku memegang kain penutup diatas liang lahat. Inilah lubang dimana akhir perjalanan hidup di dunia yang fana ini. Semua dari kita akan pergi seperti Wa’ Nadi, tidak perduli apakah cakep atau jelek, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan dan nama yang masyhur atau bukan. Itulah hidup ternyata terlalu singkat, walau terkadang kita merasakannya terlalu panjang.

Bicara soal adat, setelah tahlilan sekitan 22.30 malam  aku dan beberapa orang mengantar air putih yang dibacakan waktu tahlilan tadi untuk disiramkan ke kuburan, tidak sempat bertanya kenapa mesti seperti itu. Yang pasti bagiku yang baru pertama kali mengantarkan air ke kubur diatas bukit yang merupakan pengalaman yang luar biasa ditambah angin kencang diatas bukit, lampu senter seadanya dan rombongan yang masih menangis diatas kuburan, cukup menambah cerita.

Kematian Wa’ Nadi, makin menyadarkan aku bahwa suatu ketika akupun akan dikuburkan orang sepertinya, dingin dan kaku. Semua hanyalah masalah waktu. Kalau memang demikian adanya, ku berpikir, untuk apalah terlalu ngoyo dalam kehidupan ini. Tentu kita ingin berbuat amal-kebajikan sebanyak mungkin selama kita hidup, agar bukan saja bermanfaat bagi sesama manusia dan sesama makhluk, tetapi juga sebagai bekal menjalani kehidupan akhirat kelak.

Namun, meskipun kita selalu berniat dan beriktikad baik belum tentu bisa diterima baik oleh orang lain, umumnya hidup manusia dipenuhi oleh perasaan, curiga, iri hati dan salah paham. tapi itulah kenyataan hidup yang tak dapat ditolak. Kebaikan yang kita lakukan, terasa hampir tak berbekas, dan mudahnya dilupakan orang. Namun satu saja kesalahan yang mungkin telah kita buat, akan diperolok setiap hari.  Dan mungkin akan dikenang sepanjang zaman.

Jika demikan mestikah orang berhenti berbuat baik jika akan ada sesalah-paham ini, seringkali orang tidak menyadari kebaikan dan juga kebenaran. Nantinya setelah sekianlama baru menyadarinya bahwa kebenaran yang dibuat sudah dilecehkan. Kebaikan tetaplah kita lakukan demi kebaikan itu sendiri, agar kita ikhlas dalam beramal dan batin kita merasa terpuaskan. Kepuasan bathin itu penting, walau kenyataan hidup terkadang terasa menyakitkan. Semoga kita menjadi orang yang bisa menghargai kebaikan orang lain dan memaafkan setiap kesalahan dan kekhilafan, agar dunia yang fana ini dipenuhi senyuman serta dijauhkan dari iri dan dengki.

Oleh: adek | November 5, 2007

Quo Vadis

quo_vadis.jpg“Quo Vadis?”, film buatan tahun 1951 yang diangkat dari novel karya Henryk Sienkiewicz memang sebuah film yang luar biasa. Dalam pembuatan film ini, diperlukan 30.000 orang pemain ekstra, dan masih ditambah dengan 63 ekor singa. Ada keunikan dari film “Quo Vadis?” tersebut.

Pada adegan balap chariot, bila diperhatikan secara seksama, penonton dapat melihat sebuah mobil sport merah melintas di kejauhan. Saat diputar di bioskop, banyak orang menonton kembali film ini hanya untuk melihat mobil sport itu nyelonong dalam adegan yang menggambarkan kejadian 19 abad yang lampau.

Didapat dari http://www.kaskus.us

Oleh: adek | November 2, 2007

Sajak Orang Kepanasan

rendra2.gif 

Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan dan ruangmu berlebihan maka kita bukan sekutu
Karena kami kucel dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu maka kami mencurigaimu

Karena kami terlantar di jalan dan kamu memiliki semua keteduhan …
Karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar … maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam dan kamu nerocos bicara …
Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan … maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana …
Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senapan …
Karena kami harus sopan dan kamu punya senjata … maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu.

oleh WS Rendra (dibacakan pada 15 Mei 1998 didepan pimpinan DPR)

Oleh: adek | November 1, 2007

Antonio Gramsi – seorang revolusioner Italia.

gramsci.jpgAntonio Gramsci lahir pada tanggal 22 Januari 1891, di kota Ales, pulau Sardinia.  Enam tahun kemudian, ayahnya dicopot dari posisinya sebagai pegawai dan dijebloskan di penjara karena dituduh korupsi, sehingga Antonio bersama ibunya harus perpindah ke kota lain dan hidup mereka menjadi agak sulit. Selama masih anak, dia jatuh dan menjadi cacat, dan seumur hidup dia kurang sehat.

Sewaktu mahasiswa di Cagliari dia menemui golongan buruh dan kelompok sosialis untuk pertama kalinya. Tahun 1911 dia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Turino. Kebetulan sekali Palmiro Togliatti, yang kelak menjadi Sekertaris Jendral Partai Komunis Italia (PCI), mendapatkan beasiswa yang sama. Di Universitas tersebut Gramsci juga berkenalan dengan Angelo Tasca dan sejumlah mahasiswa lainnya yang kemudian berperan besar dalam gerakan sosialis dan komunis di Italia.

Pada tahun 1915 Gramsci mulai bergabung dalam Partai Sosialis Italia (PSI) sekaligus menjadi wartawan. Komentar-komentarnya di koran “Avanti” dibaca oleh masyarakat luas dan sangat berpengaruh. Dia sering tampil berbicara di lingkar-lingkar studi para buruh dengan topik yang beraneka-ragam seperti sastra Perancis, sejarah revolusioner dan karya Karl Marx. Dalam Perang Dunia I, Gramsci tidak seteguh Lenin atau Trotsky dalam melawan perang tersebut, namun pada hakekatnya orientasinya adalah untuk mebelokkan sentimen rakyat ke arah revolusioner.

Aktivis dan intelektual muda ini sangat terkesan oleh Revolusi Rusia tahun 1917. Seuasai Perang Dunia Gramsci ikut mendirikan koran mingguan “Ordine Nuovo” yang memainkan peranan luar biasa dalam perjuangan kelas buruh di kota Torino. Saat itu kaum buruh sedang berjuang secara sangat militan serta membangun dewan-dewan demokratis di pabrik-pabrik. Gramsci beranggapan bahwa dewan-dewan itu memiliki potensi untuk menjada lembaga revolusioner semacam “soviet-soviet” di Rusia.

Sehubungan dengan keterlibatannya dalam gerakan buruh, Gramsci memihak minoritas komunis dalam PSI. Partai Komunis yang muncul waktu itu merupakan pecahan dari PSI, dan Gramsci menjadi anggota Komite Pusat partai tersebut. Selama 18 bulan (tahun 1922-23) dia merantau di Moskow. Tahun 1924 dia terpilih menjadi anggota parlemen.

Pada tanggal 8 Nopember 1926 Gramsci tertangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah fasis Mussolini. Jaksa menegaskan bahwa: “Kita harus menghentikan otak ini untuk bekerja selama 20 tahun.” Sejak saat itu selama 10 tahun dia meringkuk di penjara, dengan sangat menderita karena keadaan fisiknya yang kurang sehat. Namun bertentangan dengan harapan si jaksa fasis itu, masa sulit ini akan menjadi kesempatan untuk Gramsci menulis karya Marxis tentang masalah-masalah politik, sejarah dan filsafat yang luar biasa berbobot, dan yang terbit setelah Perang Dunia II dengan judul “Buku-buku Catatan dari Penjara” (Prison Notebooks).

Sayangnya, rumusan-rumusan dalam buku ini terkadang sulit ditafsirkan, karena Gramsci harus memakai bahasa yang tidak langsung, bahkan memakai kata-kata sandi yang dapat diartiakan secara berbeda-beda. Oleh karena itu, buku tersebut pernah diinterpretasikan sebagai karya non-Leninis bahkan anti-Leninis. Pemikiran Gramsci didistorsikan oleh kepemimpinan stalinis dari Partai Komunis untuk membenarkan strategi parlementer mereka, dengan argumentasi bahwa Gramsi mempunyai sebuah strategi yang beranjak dari sudut pandangan kelas buruh dan diktatur proletariat menuju suatu orientasi lebih “kaya” dan lebih “luas”. Kemudian argumentasi yang sama digunakan bermacam-macam partai dan kelompok reformis di seluruh dunia, yang suka mempertentangkan Gramsci dengan Lenin. Argumentasi ini adalah salah.

*****

Sudah pada tahun 1918 Gramsci menggambarkan para politisi reformis sebagai “sekawan lalat yang mencari semangkok poding” dan setahun kemudian menegaskan: “kami tetap yakin, negara sosialis tidak bisa terwujud dalam lembaga-lembaga aparatur negara kapitalis … negara sosialis harus merupakan suatu penciptaan baru.”

Ini sebabnya dia berpisah dengan Partai Sosialis dan ikut mendirikan Partai Komunis. Meskipun dia masuk parlemen sebagai taktik, pendapat Gramsci ini sama sekali tidak berubah seumur hidupnya.

Tulisannya terakhir sebelum masuk penjara adalah Tesis-tesis untuk konferensi Partai Komunis di Lyons pada tahun 1926. Di sini cukup jelas bahwa Gramsci tetap menganut jalan revolusioner, melalui pemberontakan bersenjata kaum buruh. Dia menganalisis kekalahan kelas buruh dalam perjuangan historis tahun 1919-20, dengan menyatakan bahwa kekalahan tersebut terjadi karena “kaum proletariat tidak berhasil menempatkan diri di kepala insureksi mayoritas masyarakat dalam jumlah yang besar… malah sebaliknya kelas buruh terpengaruhi oleh kelas-kelas sosial lainnya, sehingga kegiatannya terlumpuhkan.” Tugas Partai Komunis adalah mengajak kaum buruh untuk “insureksi melawan negara borjuis serta perjuangan untuk diktatur proletariat”.

Sudah sejak awal, Gramsci melihat proletariat sebagai faktor kunci dalam revolusi sosialis. Itu sebabnya dia terlibat dalam dewan-dewan pabrik di Torino pada tahun 1919-20. Fokus ini marak pula dalam Tesis-tesis Lyons. Organisasi partai “harus dibangun berdasarkan proses produksi, maka harus berdasarkan tempat kerja”, karena partai harus mampu memimpin gerakan massa kelas buruh, “yang disatukan secara alamiah oleh perkembangan sistem kapitalisme sesuai dengan proses produksi.” Partai itu harus juga menyambut unsur-unsur dari golongan sosial lainnya, tetapi “kita harus menolak, sebagai kontra-revolusioner, setiap konsep yang membuat partai itu menjadi sebuah ‘sintesis’ dari pelbagai unsur yang beraneka-ragam”.

Tetapi bukankah Gramsci telah mengembangkan sebuah analisis sosial tentang masyarakat kapitalis di barat yang lebih canggih dan halus dibandingkan teori-teori Lenin? Memang begitu. Seperti Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci lebih mengerti seluk-beluk dunia politik dan perjuangan sosial di Eropa Barat, sedangkan Lenin selalu berfokus pada perkembangan-perkembangan di Rusia, sehingga kita dapat banyak belajar dari tulisan-tulisan Gramsci.

*****

Namun kaum Stalinisis dan reformis menjungkirbalikkan hal ini pula. Mereka memusatkan perhatian pada sebuah kiasan yang dilakukan Gramsci antara strategi revolusioner dan militer.

Dalam “Buku-buku Catatan dari Penjara” dia membedakan antara dua macam perang: “perang manuver” yang melibatkan pergerakan maju atau mundur yang cepat; dan “perang posisi”, sebuah perjuangan panjang di mana kedua belah pihak bergerak secara pelan-pelan, seperti di dalam parit-parit perlindungan selama Perang Dunia I. Rumusan-rumusan ini diartikan para Stalinis dan reformis sebagai berikut: pemberontakan Oktober 1917 di Rusia adalah perang manuver, yang memang diperlukan dalam kondisi-kondisi primitif di sana; tetapi kondisi-kondisi di Eropa Barat sudah lebih matang dan kompleks, sehingga diperlukan sebuah strategi “perang posisi” — baca strategi parlementer dan perubahan gradual.

Semua ini omong kosong. Kedua strategi itu bukan bertentangan melainkan komplementer. Di Rusia antara tahun 1905 dan 1917, kaum Bolshevik juga melakukan “perang posisi”, dan pendekatan yang sama dianjurkan mereka bagi partai-partai Komunis muda pada tahun 1921, dalam bentuk “front persatuan”. Atau jika kita mau mengambil contoh Indonesia, para aktivis demokrasi telah menjalankan sebuah perang posisi selama bertahun-tahun, tetapi begitu krismon meletus dan rezim Suharto mulai bergoyang, mereka harus melakukan intervensi-intervensi radikal, sampai akhirnya kaum mahasiswa menduduki gedung DPR. Dan di barat sebuah “perang posisi” juga dibutuhkan sampai terjadinya krisis revolusioner; tapi begitu krisis itu meledak, kita harus beralih ke “perang manuver”.

Rumusan-rumusan Gramsci tentang “perang posisi” bersangkutan dengan teorinya tentang mekanisme-mekanisme kekuasaan ideologis dalam masyarakat kapitalis. Kaum penguasa tidak hanya berkuasa melalui alat-alat represif (polisi, tentara, pengadilan). Sebenarnya alat-alat itu hanya bergerak dalam keadaan luar biasa, seperti kriminalitas, kerusuhan, demonstrasi atau pemberontakan. Sedangkan seorang buruh biasanya masuk tempat kerja saban hari, menurut undang-undang yang ada, bahkan sering menghormati kaum penguasa … kurang-lebih tanpa paksaan langsung. Dia dipaksa oleh kebutuhan ekonomis, tetapi juga menerima ide-ide mendasar dari tatanan sosial yang ada, sehingga mematuhi undang-undangnya secara “sukarela”.

Gramsci mengembangkan sebuah analisis yang canggih tentang mekanisme-mekanisme “hegemonis” ini, yang memang lebih halus dan efektif di negeri-negeri maju. Sehingga “perang posisi” bisa saja berjalan selama bertahun-tahun. Tapi ada juga mekanisme-mekanisme hegemonis di Indonesia dan negeri dunia ketiga lainnya; bukankah para aktivis kiri sering mengeluh tentang “kesadaran palsu” massa rakyat Indonesia? Sehingga di sini pula, perbedaan antara negeri-negeri maju dan dunia ketiga bukan sesuatu yang mutlak melainkan relatif saja.

Jaksa fasis yang ingin “menghentikan otak ini untuk bekerja selama 20 tahun” telah gagal. Pemikiran Gramsci masih hidup dan berkembang. Namun pemikiran itu tidak boleh disalahartikan: Antonio Gramsci bukanlah seorang reformis melainkan seorang Marxis revolusioner.

BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia

——————–

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.