Oleh: adek | April 28, 2010

Louis Braille, Mengubah Dunia di Usia Belia

Oleh Aria Indrawati
http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/00125477/Louis.Braille..Mengubah.Dunia.Di.usia.Belia

Siapa tak kenal Louis Braille? Tunanetra asal Perancis pencipta huruf Braille; huruf yang biasa dipakai para tunanetra. Ketika kita para tunanetra membaca dan menulis dengan menggunakan huruf Braille, pernahkah kita berpikir bagaimana Louis Braille berjuang menciptakannya dan membuat ciptaannya itu diakui dunia? Dengan jerih payahnya di usia belia – 15 tahun, Louis telah membuka jendela ilmu pengetahuan bagi mereka yang “dalam gulita”. Dan, untuk mengenang jasanya pula, tanggal 4 Januari, hari kelahiran Louis Braille, diperingati sebagai “Hari Braille” oleh umat di seluruh dunia.

Sekilas Tentang Huruf Braille

Louis Braille, anak lelaki yang menjadi buta saat berumur tiga tahunan karena kecelakaan, pada awal masa sekolahnya merasakan betapa sulitnya kegiatan membaca dan menulis bagi orang-orang buta.
Usaha-usaha telah dilakukan untuk membuat para tunanetra bisa membaca, misalnya dengan mencetak huruf-huruf dalam ukuran lebih besar secara timbul, atau mengadopsi bahasa sandi militer (night writing) yang berupa titik-titik timbul untuk digunakan para tunanetra. Tapi, kesemua itu dibuat tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan, apakah metode ini mudah, tepat dan dapat memenuhi kebutuhan para tunanetra akan membaca, menulis serta kebutuhan akan buku.

Saat Louis mulai bersekolah di tahun 1819, The Royal Institute of Blind Youth — sekolah khusus tunanetra di Paris tempat Louis belajar — menggunakan huruf/alfabet timbul untuk murid-murid tunanetra. Cara ini tidak hanya menyulitkan tunanetra saat membaca karena huruf dicetak dalam ukuran besar, juga tidak memungkinkan tunanetra menulis. Di samping itu, karena ukuran huruf yang besarr-besar tersebut, membuat biaya pembuatan buku untuk tunanetra menjadi sangat mahal, akibatnya sekolah tersebut hanya mampu menyediakan 14 buku untuk seratus orang murid-murid yang belajar di sana.

Pada tahun 1821, seorang perwira – Kapten Charles Barbier –, hadir memperkenalkan “bahasa sandi” yang biasa dipakai oleh prajurit-prajuritnya untuk menyampaikan pesan rahasia, yang disebutnya “night writing”. Bahasa sandi ini berbentuk titik-tititk timbul, dibuat dengan alat menyerupai paku yang disebut “stylus”. Untuk menuliskannya, stylus ditusukkan ke kertas tebal yang terletak pada papan kayu. Stylus akan ditusukkan pada satu sisi dari kertas, dan hasilnya dibaca pada sisi lain dari kertas tersebut. Menurut Kapten Barbier, metode ini juga bisa digunakan oleh orang-orang buta, karena titik-titik timbul tersebut dapat diraba dengan jari-jari mereka.

Awalnya, para tunanetra yang belajar di The Royal Institute of Blind Youth terkesan dengan usulan Kapten Barbier. Tetapi kemudian, mereka merasakan masih ada yang salah dengan metode ini. Bahasa sandi tersebut hanya melambangkan bunyi-bunyi dalam suatu kata. Ini berarti akan ada ratusan sandi atau symbol yang mewakili bunyi-bunyian pada suatu bahasa. Di samping itu, karena titik-titik timbul itu hanya mensimbolkan bunyi, maka tunanetra tidak akan dapat membuat angka serta tanda baca. Ini akan menyulitkan jika harus membuat sebuah buku.
Metode ini akan mudah jika hanya dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan singkat, seperti yang dilakukan oleh para tentara; misalnya “serang”, atau, “ada musuh di belakangmu”.

Tapi, Louis merasakan bahwa tak ada yang salah dengan “metode titik-titik timbul” Kapten Barbier. Hanya saja, titik-titik timbul itu tidak dibuat untuk melambangkan bunyi, tapi menurut Louis, titik-titik timbul itu seharusnya dibuat untuk melambangkan alfabet, angka, serta tanda baca. Dengan demikian, tunanetra akan sama dengan mereka yang bisa melihat; memiliki alfabet, tanda baca, serta angka dan tanda-tanda lain yang juga dipergunakan oleh mereka yang bisa melihat, dapat membaca dan menulis, serta, yang paling penting adalah dapat memiliki buku.

Karena tunanetra membaca dengan indera perabaan, maka, louis berpikir, huruf-huruf untuk mereka harus dapat dengan mudah dikenali cukup dengan merabakan satu ujung jari saja. Itu artinya, ukuran huruf itu harus tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil.

Di usianya yang keduabelas, yang juga berarti di tahun ketiganya berada di sekolah khusus untuk tunanetra di Paris, secara diam-diam Louis muda memulai penelitiannya. Ia menciptakan kombinasi enam titik, yang dari enam titik itu tersusunlah symbol-simbol alfabet untuk orang-orang buta, yang kemudian disebut sebagai “system kecil”.

Sepanjang kurang libih tiga tahun penelitiannya, Louis senantiasa melibatkan teman-temannya sesama tunanetra untuk uji coba, apakah mereka merasa nyaman dengan system yang ia ciptakan. Dan, diusianya yang kelimabelas, Louis remaja berhasil menyelesaikan penelitiannya;
menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk tunanetra.

Tekun Dan Gigih Berjuang

Setelah menyelesaikan penelitiannya, Louis muda mendapati tak semudah yang ia pikirkan, mengusulkan agar alfabet kombinasi enam titik ciptaannya itu diajarkan dan digunakan secara resmi di sekolah The Royal Institute Of Blind Youth.

Fakta bahwa ide brilian itu datang dari seorang anak buta justru dijadikan salah satu alasan penolakannya. Saat itu Louis memahami bahwa orang-orang yang selama ini bekerja untuk tunanetra memang tampak bersikap baik dan menolong. Akan tetapi, pada umumnya mereka berpendapat bahwa orang-orang buta tidak secerdas mereka yang bisa melihat, sehingga orang buta seharusnya cukuplah puas dengan hanya melakukan hal-hal sederhana saja; membaca kalimat-kalimat pendek serta pesan-pesan singkat, dan memahami arah; yang berarti orang buta tak perlu membaca buku.

Dalam perjalanannya mengupayakan agar alfabet ciptaannya diterima dan digunakan secara resmi de sekolah-sekolah, Louis bahkan sempat mendapatkan penolakan yang sangat keras dari kepala sekolah tempatnya mengajar.

Saat Louis menyelesaikan penelitiannya, sekolah tersebut masih dipimpin oleh DR. Pignier, seorang kepala sekolah yang sangat memahami pemikiran Louis. Bahkan, ketika Louis memintanya untuk mengupayakan dukungan baik dari masyarakat yang menyangga penyelenggaraan sekolah secara finansial maupun dari Pemerintah Perancis, ia pun melakukannya.
Surat-surat pun lalu dikirimkan kepada semua pihak. Ada yang segera menanggapi, ada juga yang tidak segera merespon. Dari semua jawaban yang diterima, ada dua kelompok. Yang pertama mengatakan bahwa ide Louis sangat baik, tapi itu disampaikan hanyalah sebagai ungkapan penolakan secara tidak langsung. Kelompok kedua adalah mereka yang langsung marah dan menolak, dan menginginkan tetap diberlakukannya metode lama – huruf-huruf timbul – yang selama ini telah digunakan; tidak perlu ada perubahan.

Sementara menunggu dukungan dari Pemerintah, Louis terusmengajarkannya kepada murid-murid lain, dan mereka mulai membuat catatan-catatan di kelas. Hal ini juga masih terus berlangsung saat Louis menyelesaikan pendidikannya dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Bahkan, setelah menjadi guru, Louis mulai menulis buku-buku pelajaran dalam alfabet berbentuk titik timbul ciptaannya itu, yang secara bertahap mengisi perpustakan sekolah.

Tapi, di tahun 1841, DR. Dufau mengambil alih kepemimpinan sekolah, dan melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis. Dufau tak segan menghukum murid yang tertangkap atau ketahuan secara sembunyi-sembunyi masih menggunakannya. Tidak hanya itu, dia juga bahkan membakar semua buku-buku yang ditulis Louis, yang selama tahun-tahun keberadaannya sebagai guru telah memenuhi perpustakaan sekolah.

Larangan Kepala Sekolah Dufau juga didukung oleh guru-guru, yang selama ini mencemaskan penemuan Louis demi untuk kepentingan pribadi mereka sendiri. Guru-guru ini berpikir, jika para siswa membaca dengan huruf-huruf timbul seperti semula, guru akan dengan mudah mengajar, karena mereka telah mengenal dengan baik huruf-huruf besar dan timbul itu. Sedangkan, jika menggunakan alfabet ciptaan Louis, itu berarti mereka harus juga mempelajari sesuatu yang baru. Lebih dari itu, kekhawatiran mereka juga, jika huruf ciptaan Louis telah digunakan lebih banyak tunanetra, besar kemungkinan sekolah juga akan dikelola oleh para tunanetra, dan mereka akan kehilangan pekerjaan.

Itulah puncak masa-masa sulit Louis. Ia tidak hanya berjuang mengupayakan penggunaan alfabet ciptaannya untuk orang-orang buta, tapi ia juga harus berjuang melawan penyakit Tuberculosis yang dideritanya, yang makin hari kian bertambah parah.

Di sisi lain, Louis juga mendapati murid-murid tetap bersemangat menggunakannya; menulis catatan, buku harian serta pesan rahasia antar sesama murid, seolah tak peduli pada larangan kepala sekolah.
Murid senior terus mengajarkan kepada siswa yunior, meski secara rahasia. Mereka juga senantiasa bisa menemukan alat-alat pengganti untuk menulis, setelah Dufau memusnahkan stylus-stylus mereka.
Situasi ini ternyata dibaca oleh seorang guru lain, DR. Joseph Gaudet, satu-satunya guru yang saat itu berpihak pada Louis. Sikap empatinya dilandasi pada kesadaran bahwa, Dufau mungkin saja bisa melarang penggunaan alfabet ciptaan Louis, akan tetapi, dia tidak mungkin bisa menghentikan murid-murid menggunakannya. Mereka sangat bersemangat, mereka menyukainya, karena alfabet itu sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dengan kecerdikannya berdiplomasi, Joseph Gaudet berhasil meyakinkan Dufau, kepala sekolah yang sebenarnya orang yang sangat ambisius mengejar kepentingan pribadinya, bahwa, akan sangat baik bagi Dufau jika dia menjadi orang pertama yang memberlakukan secara resmi alphabet ciptaan Louis di sekolah mereka, daripada terus melarangnya. Dengan melarang, Dufau akan berada di pihak yang kalah, karena murid akan terus menggunakannya, meski secara sembunyi-sembunyi. Tetapi, jika mengijinkan, dia akan menjadi pihak yang menang, karena murid-murid dan bahkan juga orang-orang buta di seluruh dunia akan mendukung dan menghargainya.

Akhirnya, di tahun 1844, pada acara peresmian gedung sekolah yang baru, yang dihadiri oleh wakil pemerintah, pemuka masyarakat dan guru-guru – termasuk guru dari sekolah lain, Dufau mendemonstrasikan penggunan alfabet berbentuk titik-titik timbul ciptaan Louis kepada para hadirin. Ia membacakan teks, dan meminta seorang murid menuliskannya dalam alfabet tersebut, serta meminta murid tersebut membaca kembali hasil tulisannya. Sebagian hadirin terkesan, tapi, ada sebagian lain yang mengira itu adalah “trick” semata, dengan alas an murid tersebut telah dipersiapkan sebelumnya. Situasi ini mendorong Louis untuk meminta Kepala Sekolah Dufau mengundang seorang hadirin melakukan hal serupa pada murid lainnya, yang ditunjuk secara mendadak saat itu juga. Setelah terbukti murid berikutnya juga berhasil melakukan hal yang sama, barulah seluruh orang yang hadir percaya, bahwa alfabet berbentuk titik timbul ciptaan Louis adalah penemuan yang “brilian”.

Sejak saat itu, secara bertahap sekolah-sekolah untuk anak-anak buta lainnya mulai menggunakannya, tidak hanya di dalam negeri Perancis, tapi juga di negara-negara lain di Eropa, dan akhirnya di seluruh dunia. Sebagai penghargaan pada Louis Braille, orang lalu menyebut alfabet ciptaannya sebagai “Huruf Braille”, dan tentu saja Louis sangat senang mendengarnya.

Belajar Dari Louis Braille

Louis Braille adalah anak seorang pembuat pakaian kuda terkenal, Simon Braille, lahir empat Januari 1809 di Coupvray, sebuah desa di Perancis. Sejak menjadi buta di usia tiga tahun akibat kecelakan di bengkel kerja ayahnya, tak semua hal mudah bagiLouis.

Kala itu, sangat sedikit yang bisa dilakukan orang-orang buta di Perancis. Sebagian besar dari mereka hanya menjadi pengemis, termasuk orang-orang buta di Coupvray. Pada awalnya, kedua orang tua Louis pun sangat merasa kasihan pada anak lelaki mereka yang kini menjadi buta.
Mereka cenderung melindungi secara berlebihan, bahkan juga memanjakan.
Tapi, kemudian, mereka berpikir, Louis harus tumbuh seperti anak-anak lain yang tidak buta. Mereka tidak ingin Louis seperti anak-anak buta lainnya, yang takut melakukan hal apapun.

Mereka lalu mengajari Louis bagaimana mengenali lingkungan rumahnya, hingga ia tidak lagi menabrak benda-benda ketika berjalan. Ayahnya mengajarinya bekerja menghaluskan kulit di bengkel; Louis memang tidak dapat melihat, tapi dia bisa merasakan kehalusan kulit dengan jarinya.
Begitu pula Ibunya. Setiap malam, Louis membantu Ibunya menyiapkan meja sebelum makan malam. Louis memahami benar di mana ia harus meletakkan piring, mangkuk dan gelas. Ia juga harus pergi ke sumur mengambil air untuk minum dengan ember. Untuk itu, ia harus melalui jalan kecil yang berbatu. Sering air di embernya tumpah karena ia tersandung batu-batu tersebut. Tapi, Louis tetap harus kembali dengan ember berisi air.

Demi memudahkan Louis, ayahnya lalu membuatkan tongkat dan mengajari Louis bagaimana mengunakannya. Louis mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dihadapannya ketika berjalan. Dan, jika ujung tongkat itu menabrak sesuatu, tahulah ia, saatnya untuk berhenti dan minggir atau berjalan di sampingnya.

Dalam perkembangannya, Louis juga berhasil menemukan caranya sendiri agar tidak menabrak saat berjalan, yaitu dengan bernyanyi atau bersenandung. Dengan bersuara, Louis dapat merasakan jika ada benda-benda di hadapannya, dinding, pintu, atau lemari; gema suaranya akan terpantul kembali lebih cepat jika ada benda-benda di hadapannya.
Ia belajar dari apa yang dilakukan kelelawar. Meski tidak dapat melihat dengan jelas, kelelawar tetap dapat terbang di malam gelap, itu karena mereka terbang sambil bersuara.

Begitu juga halnya dengan cara Louis mengenali lingkungan di sekitarnya. Ia senantiasa bisa menemukan cara untuk membuat dirinya semakin hari semakin pandai, mengenali dan membedakan; suara orang-orang, langkah kaki kuda dan lain-lain. Ia hidup dengan mengandalkan tanda-tanda yang dia tetapkan sendiri; Ini semua tidak lepas dari peran orang tua yang sedini mungkin mengajarkan pada Louis segala hal yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak buta. Hanya saja, Louis harus melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda.

Meski buta, Louis tetap tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia juga tidak ingin dikasihani. Saat menginjak usia enam tahun, , kedua orang tuanya bingung, tak ada sekolah untuk anak buta di desa mereka. Tapi, berkat pertolongan pendeta Jacques Palluy di desanya, Louis memulai kegiatan belajar. Awalnya, sang pendetalah yang memberikan pelajaran pada Louis. Tapi, lambat laun, Sang Pendeta mulai merasa kesulitan atas pertanyaan-pertanyaan Louis; lebih dari itu, ia memang bukan guru. Maka, ia lalu mencoba menitipkan Louis belajar di satu-satunya sekolah di Coupvray. Semula, Louis bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, dengan cara mendengarkan; ini sangat membuatnya senang karena bisa bersekolah. Tapi, saat guru meminta murid-murid “membuka buku”, Louis merasa sedih, karena tak ada yang bisa ia lakukan. Sesekali ia meraba-raba saja buku temannya, tapi tak ada yang bisa ia baca di sana.

Untuk mengatasinya, di luar jam pelajaran, kadang Louis meminta teman-temannya membacakan buku untuknya. Tapi, tentu ini sangat tergantung pada kesediaan mereka meluangkan waktu. Di saat seperti ini, satu-satunya yang Louis pikirkan adalah betapa menyenangkan jika dapat membaca buku sendiri.

Keinginan dan kesadaran akan pentingnya menulis dan membaca terus menuntun Louis, hingga saat Pendeta Palluy berhasil membantu menemukan The Royal Institute Of Blind Youth, sebuah sekolah untuk tunanetra di Paris, yang kemudian menjadi tempat Louis belajar dan bekerja, serta menciptakan alfabet berbentuk titik-titik timbul untuk para tunanetra.

Keberhasilan Louis memang tak bisa dilepaskan dari dukungan orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang tua, pemuka agama di desanya, guru serta teman-temannya baik saat bersekolah di Coupvray maupun di Paris, teman sesama guru dan kepala sekolah sebagai pimpinanya saat telah bekerja, para pemuka masyarakat yang peduli pada pendidikan anak-anak tunanetra, dan yang merupakan keharusan adalah dukungan pemerintah Perancis dengan mengakui huruf ciptaannya secara resmi.

Namun, itu semua bisa terjadi, karena Louis juga menunjukkan keinginan yang luar biasa untuk mencapai kemajuan, bahkan membuat perubahan. Hal ini sudah mulai ditampakkannya saat ia mulai belajar di sekolah umum di Coupvray. Louis mengerti benar apa yang ia dan orang-orang buta pada umumnya butuhkan, dan ia berusaha serta berjuang untuk mewujudkannya. Tidak hanya itu, ketekunan dan kegigihan berusaha guna mencapai apa yang dicita-citakan, agar orang-orang buta juga dapat menulis dan membaca buku-buku melalui penemuan alfabet berbentuk titik-titik timbul adalah juga factor penentu.

Ia terus mencoba dan berusaha; bahkan tidak putus asa meski semua buku hasil tulisan tangannya sempat dimusnahkan. Rasa sedih, marah dan kecewa karena tidak atau belum mendapatkan tanggapan yang diinginkan juga sering dirasakannya. Akan tetapi, keinginannya agar tunanetra di seluruh dunia dapat menulis dan membaca buku sehingga dapat menjadi orang-orang yang berpendidikan telah mengalahkan segala perasaan yang tidak menyenangkan itu. Bahkan, rasa sakit akibat tuberculosis pun tak menghentikannya untuk terus melangkah.

Kini, 185 tahun setelah Louis Braille menciptakan huruf Braille, Cita-citanya masih belum sepenuhnya tercapai. Di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia,masih banyak anak-anak tunanetra belum bersekolah di saat usia mereka sudah memasuki masa duduk di kelas. Mereka belum mengenal huruf, apalagi membaca. Mereka yang sudah dapat membaca pun masih belum dicukupi dengan buku-buku yang mereka perlukan.

Masih dibutuhkan ratusan Louis Braille, ribuan orang seperti Pendeta Palluy, DR. Pignier, Joseph Gaudet, bahkan orang seperti Dufau diseluruh penjuru bumi. Louis Braille telah mencontohkannya kepaa kita semua, diperlukan kerja sama untuk mewujudkan impian. Di era dengan dukungan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seharusnyalah upaya meneruskan perjuangan Louis Braille agar para tunanetra dapat menjadi manusia berpendidikan bukanlah hal yang terlalu sulit. Diperlukan upaya bersama, kegigihan, ketekunan serta komitmen dan konsistensi semua pihak, seperti yang dicontohkan Louis Braille.

Terima kasih Louis, kami para tunanetra saat ini telah menikmati hasil jerih payahmu, dan masih akan meneruskan perjuanganmu.

Jakarta, 4 Januari 2009.

Sumber:
Louis Braille, The Boy Who Invented Books for the Blind
By: Margaret Davidson
Published by Scholastic Inc.


Responses

  1. panjang bgt seh potingannnya,…

  2. tulisan yang menarik. saya juga seorang tunanetra dan makin termotivasi untuk maju membaca perjuangan Louis Braille.. mari berkunjung ke website kami, yang dikelola oleh teman2 tunanetra juga di http://www.kartunet.com🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: