Oleh: adek | Januari 9, 2009

Surat Cinta buat Shireen Sungkar

Pengantar :

Seperti syair dari Serieus… Aku juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati… halah jadi endak nyambung…

Dibawah ini ada artikel yang ada hubungan dengan kesenjangan antara Jakarta dan daerah terbelakang lain di Indonesia lainnya. Ditambah pula dengan carut-marutnya tontonan yang disajikan sekarang.
Mulai tahun 80-90 kita disuguhi telenovela, dan drama dari adopsi China , Malaysia dan India lalu era sekarang kita mendukung produk lokal penuh dengan kisah cinta-harta-paha, dengan pemeran yang lebih fresh tapi isi cerita itu–itu saja, (lihat saja kalo tak percaya.. tapi bisa jadi suka …)

Oleh karena banyak digandrungi oleh ibu-ibu, dan menulari anak-anaknya, sehingga sinetron-sinetron seperti Fitri, Intan, Khanza, (maap untuk bisa menuliskan judul ini aku mesti lihat jadwal sinetron di sebuah harian ibukota),… Eh ada lagi nih … Sekar, Ningrum, Melati, Tukul hua.. ha ..ha.., yang nyatanya lebih terkenal dibandingkan nama pemimpin partai di negeri ini.

Terenyuh….. kok bisa ya, itulah kita yang masih jadi manusia.

Endak ada maksud buruk selain untuk menyatakan bahwa sebagian besar dari masyarakat yang hidup dan berasal dari desa-desa terpencil yang jauh dari Ibukota Negeri ini juga Manusia sama seperti kita sekarang kebetulan parkir di Jakarta.

Berikut ini ada surat cinta dari seorang penggemar Shireen dari Lorwembun…

Adek

—forwarded message begins—

Surat Cinta buat Shireen Sungkar
— by M Aan Mansyur (http://pecandubuku.blogspot.com)

Sun 2:11pm
DALAM pelajaran sastra di sekolah, bukan penyair atau pengarang yang ditanyakan guru, tapi nama-nama pemain sinetron. Karena itulah, saya mengirim surat ini padamu, Shireen.

***

RUANG guru. Pukul 11.00. Seorang membacakan sebuah kalimat kepada seorang lain yang duduk di depan mesin ketik tua. *Sebutkan nama-nama pemeran sinetron Cinta Fitri!* Perempuan yang duduk di depan mesin ketik itu meminta diulangi. Perempuan di dekatnya mengulangi. Lebih pelan. Kata per kata. *
Sebutkan-nama-nama-pemeran-sinetron-Cinta-Fitri.* “Tanda seru,” kata perempuan itu mengakhiri kalimatnya.

Shireen, adegan itu tidak diambil dari sebuah sinetron.  Adegan itu saya saksikan sendiri Juni lalu saat mengunjungi sebuah Sekolah Menengah Pertama di Pulau Yamdena, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. (Apakah gurumu pernah menyebut pulau seluas 3.333 km2 itu di pelajaran geografimu?) Dua perempuan dalam adegan itu sedang mempersiapkan soal ulangan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa mereka. Esok harinya puluhan siswa kelas dua sekolah itu wajib menjawab soal itu agar tidak disebut bodoh.

Sekolah itu terletak di sebuah desa bernama Lorwembun, Shireen. Jika kau hendak ke sana, kau harus ke Ambon dulu dengan 4 jam penerbangan. Dari Ambon ke Saumlaki, ibukota kabupaten itu, kau membutuhkan waktu 2 jam lagi. Dari Saumlaki ke Lorwembun kau membutuhkan waktu sehari perjalanan. Naik bus di jalan yang tak beraspal setengah perjalanan. Lalu naik sampan menyeberangi sungai. Kemudian naik speed boat membelah laut, jika beruntung ada speed boat. Kalau tidak ada kau harus rela menunggu hingga esoknya lagi. Sungguh, Shireen, itu perjalanan yang sangat melelahkan!

Di Lorwembun tak ada listrik, Shireen. Telivisi yang hanya dimiliki sedikit rumah di desa itu butuh bahan bakar yang mahal. Bahan bakar itu hanya bisa didapatkan di Saumlaki, di mana satu-satunya pasar di pulau itu berada. Agar mereka bisa beli bahan bakar, ibu-ibu harus menjual hasil kebun mereka ke Saumlaki. Ubi, pisang dan kelapa. Kebun-kebun itu jauh dari rumah mereka.
Ada yang sampai 10 kilometer. Mereka harus jalan kaki naik-turun gunung untuk mencapainya. Hasil kebun itulah yang mereka jual agar bisa beli bahan bakar. Jika pergi ke pasar, ibu-ibu itu membutuhkan 3 hari sebelum tiba di rumah mereka.

Mereka rela melakukan semua itu agar setiap malam anak-anak mereka bisa menontonmu. Agar bisa melihatmu menangis tersedu-sedu di telivisi. Agar mereka bisa meniru gayamu. Agar bisa menjawab soal ulangan dari guru mereka, Shireen. Dan apakah kau tahu, saat di Jakarta pukul 20.00 di Lorwembun sudah pukul 22.00? Apakah kau tahu, Shireen?

***

RAYMOND Williams (kau pernah dengar namanya, Shireen?) pernah mengatakan bahwa media hiburan utamanya televisi kini telah menjadi institusi pendidikan jutaan anak di dunia. Kau itu guru, Shireen, bagi anak-anak Lorwembun dan jutaan anak lain di Indonesia. *Cinta Fitri*, yang sudah ratusan episode itu, adalah mata pelajaran. Saya pernah mendengar produsermu akan membuat *Cinta Fitri* bisa memecahkan rekor sebagai mata pelajaran terpanjang di Indonesia. 777 episode. Itu sungguh angka yang cantik, Shireen!

Saya harus buru-buru menambahkan kata-kata Raymond Williams bahwa bukan hanya jutaan anak yang jadi murid televisi. Guru-guru juga, Shireen. Seperti sepasang guru yang membuat soal ulangan itu. Saya juga tak akan pernah lupa, saya pernah melihat di acara *infotainment* banyak guru sengaja datang ke tempat syutingmu dan berebutan ingin berfoto bersama kau. Dan bahkan, saya juga melihat BJ Habibie datang menemuimu, Shireen, dan mengatakan sangat menyukai mata pelajaran itu.

“Saya ada di sini karena saya mengikuti sinetron *Cinta Fitri* dari episode pertama sampai sekarang. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.” Kau ingat kata-kata Mantan Presiden RI itu, bukan? Saya juga membaca kalimatnya itu, Shireen, yang dikutip banyak media. Dan, ah, saya lihat fotomu bersamanya ada di internet. Kalimat itu dia ucapkan saat menghadiri *press conference* peluncuran *Cinta Fitri 3*. BJ Habibie bahkan mengaku memperhatikan semua gerakan, mimik dan bahasamu sampai sedetail-detailnya.
Pasti kau lebih tahu soal ini, Shireen!

Jika kau belum percaya bahwa televisi adalah institusi pendidikan, saya akan menambahkan fakta lain, Shireen. Ibuku adalah murid yang patuh dari tantemu yang kata-katanya sejuk saat mengajar di pagi hari itu. Ibuku juga menjadi sangat sejuk jika bicara padaku, Shireen, seperti tantemu itu. Dia belajar dari televisi, Shireen, di mana tantemu itu mengajar. Dan banyak kawanku pernah ingin sekali jadi penyanyi dan pemain film seperti ayahmu sebelum sadar suara dan wajah mereka tak sebagus milik ayahmu. Mereka juga berguru pada ayahmu di televisi, Shireen.

***

SHIREEN, kau menjadi mimpi banyak orang. Ibu-ibu di Lorwembun (dan di daerah lain) bermimpi anaknya menjadi seperti kau. Guru-guru bermimpi muridnya menjadi seperti kau_atau seperti BJ Habibie. Para pria, muda dan tua, bermimpi memiliki kekasih atau istri seperti kau, Fitri yang lugu, baik hati dan taat itu. Gadis-gadis, bahkan yang berkulit gelap dan berambut keriting, bermimpi menjadi kembaranmu. Saya juga, Shireen, selalu bermimpi menjadi kekasihmu. Selalu, Sayang!

Sampaikan salam dan ucapan terima kasih pada teman-temanmu, Shireen, yang telah menjadi guru kami. Sampaikan pula terima kasih kami kepada produser dan sutradara yang merumuskan mata pelajaran favorit seperti *Cinta Fitri*.
Jangan lupa, sampaikan pula salam hormat dan terima kasih kami kepada yang menciptakan institusi pendidikan tempatmu mengajar. Sampaikan bahwa mereka sungguh berjasa! Sungguh mereka telah berjasa membodohi kami!

*catatan: surat ini saya kirim ke Kompas, semoga dimuat agar lebih banyak yang membacanya.*

—forwarded message ends—


Responses

  1. ada penulis muda disini ya…, salam kenal aja deh sob

  2. huehehehe… hebat ya. di daerah yang demikian sulit menjangkaunya sudah masuk listrik meskipun harus bersusah payah untuk mendapatkannya. berkat shireen kah?

  3. Auuu… kaya gimana sih sinetronnya…?

  4. gak pernah nonton juga dek. malesh..

  5. ini download aja shireen sungkar telanjang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: