Oleh: adek | September 3, 2008

Belitong dimasa lebaran kecilku….

Pulau Belitong hanya seluas 4800 kilometer persegi dan ditinggali 17.000 kepala keluarga, hanya dibutuhkan 1 hari saja untuk sekedar berkeliling pulau dengan menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Karena tidak luas itulah makanya, nilai nilai kekerabatan kami semakin kuat.

Agustus 2008 lalu, ketika aku pulang kampung walau sudah 4 tahun tidak pulang dan sejak 15 tahun menjadi warga Pondok Gede. Tapi kekerabatan masih terasa kuat walau beberapa kejadian membuatku seakan tak percaya bahwa kampungku telah berubah banyak terutama tingkat kriminalitasnya. Aku tak punya angka statistik tapi dari hilangnya hape dan dompetku di RSUD dan beberapa pengakuan orang lain yang pernah merasakan hal yang sama membuat mataku terbuka lebar akan kondisi Belitong sekarang ini.

Semasa Umak/Ibuku berada di ruang ICU-RSUD, justru yang membuatku stress karena hampir tiap malam selalu ada yang meninggal karena kecelakaan motor. Dan selalu sikorban berada disamping ranjang Umak, tanpa pemisah tembok, ketika masuk pertama penuh erangan kesakitan dan esok harinya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Ku hitung rata-rata perharinya ada 2 orang masuk ICU dari kasus kecelakaan motor saja.

Oktober ini Lebaran 1429 Hijriah, rencana semula memboyong istri dan anakku ke sana, jadi tidak bisa terlaksana. Terlalu berat untuk sebuah keluarga dengan ongkos pesawat sampai IDR 800.000,-, belum lagi buah tangannya. Toh akupun masih bisa pulang diwaktu yang lain. Dimana normal tiket yang biasa mencapai IDR 500.000 ,-. Lagian kami punya rencana pengobatan Jantung Umak ke Jakarta setelah habis Lebaran ini.

Bagiku lebaran itu sudah terlanjur menjadi sesuatu yang tidak termaknai bersama keluarga besarku, bayangkan saja sejak tahun 1994, pertama kali lebaran dikampung orang tanpa keluarga, dimalam takbiran aku meneteskan air mata, apalagi sewaktu menelpon Umak, tak tertahankan rindu ini padanya. Setelah ditahun-tahun berikutnya tangisan dimalam takbiran dapat dikendalikan. Tahun 1998 dimana aku masih pedenya menjadi aktivis, aku dikirimi tiket untuk pulang lebaran, tapi uangnya kupakai untuk hidup dijalan dari kampus-kekampus.

Jadi kurun 15 tahun ini aku hanya pulang 2 kali lebaran dan 2 kali dalam acara lain, Abang menikah dan Umak sakit Agustus 2008 kemarin.

Tapi kalau ngomong-ngomong masalah puasa dan lebaran di Belitong, ada beberapa hal yang bisa aku ceritakan sewaktu masa kecil. Lebaran menjadi moment yang penting untuk kebahagiaan anak-anak seumurku, sebut saja perihal pakaian baru. Biasanya pakaian baru mulai dibeli sewaktu pertengahan puasa. Sewaktu hari H-nya, pakaian baru dan berapa stel menjadi hal yang bisa menunjukkan berapa banyak bolong, ful atau tidaknya puasa kita. 3 bulan sebelumnya lebaran menjadi hari yang ditunggu, ada ucapan orang tua dikampung kami yang menjadi warning system untuk berhati-hati…. “ Lup jangan deras-deras naik ketangain kok be dak lebaran atau jangan tinggi-tinggi naik batang jambu kok be dak lebaran !, yang artinya jangan naik sepeda terlalu kencang atau naik pohon terlalu tinggi takut jatuh dan tidak ikut lebaran nanti.

 

Sewaktu siang dibulan puasa biasanya diisi dengan kegiatan mengaji, lalu sesudahnya ada bergerombol mencari Bambu Betung yang dibuat untuk mainan Bedil menggunakan minyak tanah. Kadang juga ada kelompok yang lebih senang mencari air sungai –aik arongan- seperti layaknya Kuda Nil yang berendam dan berenang disiang bolong.

Lalu setelah buka puasa sampai menunggu Isya dan Tarawih disempatkan bermain Bedil, bagi yang ahli biasanya tidak cukup lama bisa membuat bedil langsung berbunyi dengan kencang, yang lebih ektrim biasanya melakukan perang dengan kaleng yang disumbatkan di ujung bedil dan posisi bedil saling berhadapan dengan jarak 15 meteran.

Bagi yang mahir bisa diperlihatkan bahwa bulu mata masih lengkap tak ada satu helaipun yang terbakar dan terlihat gundul, beda dengan yang pemula pastinya akan terlihat lucu tanpa bulu mata.

Tarawih semasa sekolah dasar masih berdasarkan tugas tanda tangan dari guru agama, jadi masih musim tarawih bawa buku tanda tangan imam dan khotib.

Dilain waktu kami mencari klaher dibengkel motor yang jumlahnya tidak banyak sehingga harus rebutan, bearing untuk nanti buatkan mobil mobilan yang diluncurkan diturunan tanpa rem, ini sering kita lihat sama persis di AXN-Singapura untuk acara ZONGKER MOVIE, beset-beset di lutut itu sudah biasa, makanya mainan ini tidak banyak peminatnya.

Menu berbuka adalah kue basah jajanan dari tuko KIK KERI, nama yang menjadi jaminan mutu untuk kue terenak dikampung kami, bahkan dalam bulan puasa banyak orang yang menitipkan kuenya untuk dijual ditoko KIK KERI ini.

Bagi kami anak kampong membuat sarang ketupat adalah hal biasa, kebisaan kami bisa mencapai 2 sampai 3 macam sarang ketupat yang berbeda, dan ini dipertajam waktu H-4.

Malam takbiran menjadi hal yang ditunggu sehabis pengumuman pemerintah tentang penetapan 1 Syawal kami berkeliling dengan mobil truk berkeliling, entah truk siapa yang penting terangkut membawa beduk. Yang parah sampai sholat Ied besoknya kesiangan.

Mengenai masakan biasalah lawan ketupat adalah opor daging, rendang, sambal lingkong (abon ikan), ada kue khas yang kami sebut RINTAK yang terbuat dari tepung yang dioven dalam oven tradisional dengan menggunakan bara dari sabut kelapa. Konon membuatnya juga tidak sembarangan bisa tidak jadi kue katanya. Nah yang ini angkatan umak ku jagonya.

Lalu ada tar kering yang berisi selai nanas, ini kesukaanku. Dan asiknya lebaran ini hampir tak keluar dana besar untuk belanja makanan, sebut saja ayam untuk opor sengaja dipelihara beberapa bulan sebelum puasa, sewaktu mau lebaran tinggal dipotong. Lalu Ketupat biasanya metik daun/pucuk kelapa yang masih muda lalu dirangkai sendiri, santan kelapa adalah perasan sendiri dari kelapa tua yang dipetik sekalian mengambil pucuk kelapa muda tadi, kalau boleh dibilang yang beli adalah daging sapi, beras untuk ketupat dan air ngetep, (istilah ngetep sangat popular karena untuk brand fanta –aik Mira- dan sprite –aik pute- ketika diminum terasa seberti ada semut yang menggigit di mulut -ngetep – , hingga disebut aik ngetep.)

Setelah Sholat Ied, setelah acara sungkem keluarga, sungkem ke keluarga Ninek atau kakek dengan jumlah komunitas yang lebih ramai dan padat, nah disinilah kita dapat angpau besar dari Pak Long-Mak Long, Pak Ute-MaK Ute, Pak Itam-Mak Itam yang merupakan Om dan Tante kite yang nota bene sengaja mempersiapkan duit lebaran-duit nanggok-angpau buat ponakannya. Sewaktu memberikan besar kecilnya rupiah tergantung banyak atau fullnya kita puasa, sang Om dan Tante punya aturan yang sama akan memberikan nilai angpau yang besar terhadap yang puasanya bagus.

Setelah acara silaturahmi besar ini kami biasanya mengunjungi kubur leluhur kakek-nenek di KUBOR JAMBU. Disini sering kali kita ketemu orang yang kita taksir dari kampong sebelah, eh ternyata punya lelulur yang sama ha… ha…

Biasanya anak kecil punya agenda tersendiri NGIDAR yaitu berkunjung kerumah tetangga sekali lagi angpau yang diharapkan, jadi lazim pemandangan disana, ada kelompok anak yang tidak beranjak dari satu rumah karena tuan rumah belum memberi angpau-benar-benar ditunggu, setelah dikasih baru pulangdan ini menjadi bahan studi kelayakan untuk bisa didatangi tahun depannya, dikasih atau tidak dan berapa jumlah angpaunya.

Lebaran dikampungku belum putus sampai hari kedua, jadi masih ada istilah lebaran ke 3 ke 4 ke 5 atau lebaran hari ke 6 ha.. ha… karena ini adalah urusan menghabiskan angpau ke tempat wisata atau membeli mainan di pasar.

Tempat yang sering kudatangi dengan sepeda adalah Museum Timah, uniknya museum timah ini juga berfungsi sebagai kebun binatang RAGUNAN kalau di Jakarta, ada buaya besar sekali dan Siamang yang selalu berteriak sesekali waktu sampai seluruh kampungkun mendengarnya, Hal ini bukan karena besarnya suara Siamang tapi penghambat gelombang suara seperti polusi dikampungku hampir tidak ada..

Lebaran ke 5 atau 6 urusanya ke pantai bersama keluarga, berenang wuih sedapnya….

Mengenang cerita lebaran ini membuat kuingin pulang kampong dan berlebaran disana karena lebaran dikampung penuh suka cita…, tapi apa daya tangan tak sampai.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: