Oleh: adek | Agustus 22, 2008

Benarkah Wanita Belitong tidak laku …

Sebuah resume dari Edisi ke-3 BEGALORdotCOM

Walau hari ini aku kehilangan dompet, hape dan cancel penerbangan untuk ke Jakarta, tapi yang pasti ada sedikit hiburan karena senang jadi bagian sejarah dari Positive Tune 104,6 FM. Di edisi ke 3 ini Aku dan Novil mengudara masih lewat program begalor dot com. Tema kali ini yang diangkat  adalah tema yang lumayan kontroversial yaitu … Benarke dayang Belitong endak laku agik dibanding Wanita Bogor (Benarkah Wanita Belitong tidak laku dibandingkan dengan Wanita Bogor).

Sore hari itu mulai pukul 16.30 WIB dan hari masih panas dengan temperatur 31 derajat celsius , kami didatangi 2 tamu istimewa, yaitu mahluk cantik dari daerah Bogor. Sebut saja yang satu bernama NIA berprofesi sebagai penyanyi  dan yang satu lagi bernama HILDA adalah lady escourt. Keduanya kalau kita meminjam istilah Belitong disebut MELENTER benar (cantik-sekali).

Mengenai riwayat keduanya perempuan ini. Adalah Nia sudah bolak balik Jawa, Sumatra dan Belitong hingga ke daerah Monokwari  dan akhirnya lebih memilih pulau Belitong, sebagai tujuan dari profesi sebagai penyanyi cafe. Sedangkan Hilda dari daerah Bogor (baru 4 bulan bekerja di pulau Belitong) merupakan janda beranak satu dengan rambut pirang, wajah dan karakter budaye keduanya tidak bisa menyembunyikan dari sundanese-nya.

Dari hasil begalor diudara, Kami bertanya kepada keduanya, ternyata mereka terikat kontrak tidak tertulis selama 3 bulan dengan pengusaha hiburan malam.  Boleh panjang atau tidak tergantung pekerjanya.

Berdasarkan data yang ada kondisinya saat ini tidak kurang lebih dari 1000 -an pekerja disektor hiburan malam ini. Dan yang paling banyak berasal dari daerah Jawa Barat, yang didatangkan berdasar informasi mulut kemulut, jika mereka tertarik untuk bekerja lalu bungkusssss… dan terikat kontrak yang tak tertulis itu.

Nia menjelaskan kepada pendengar bahwa tamu yang datang paling banyak dari sektor pertambangan, permalamnya dengan kondisi penuh, menurut keterangan Nia bisa mendapatkan uang Rp. 500 ribu per pekerja, apalagi jika sudah menjadi primadona, pastinya bisa lebih dari itu. untuk hal ini tergantung dengan jenis cafe dan kelasnya, eksekutif dan semak.

Selama ini uang yang didapatkan para pekerja dari hiburan malam dipakai untuk keperluan  pribadi dan dikirim untuk anak dan orang tua.

Selanjutnya kami membuka line telpon yang rata-rata mengaku pernah ketempat hiburan malam di Belitong yang kite sebut cafe semak. Pendapat mereka ada yang berbeda ketika berada ditempat itu, sehingga tak segan-segan untuk mengeluarkan sampai Rp. 700.000 permalam. Dan mereka mengaku secara tidak sadar uangnya habis begitu saja.

Mengangkat tema ini rasanya berbeda karena menit-kemenit Telpon dan SMS sering terlihat kontra, dan tamu dari BFMpun tumben banyak sekali di bawah studio, tidak seperti biasanya. Walau demikan sebagai penyiar kami harus profesional, persoalan pernak-pernik cafe semak dan wanita dari Bogor ini nyata ada, sebuah realita yang lagi hangat ditengah masyarakat, dan hal ini benar terjadi dan mesti dicarikan solusinya.

Kehadiran wanita bogor di Belitong yang bekerja di dunia hiburan jadi dalam tanda kutip menghempaskan sebagian dari rumah tangga yang ada.

Bukan bermaksud menggurui, karena dalam hal ini kami sebagai host harus berhati-hati sekali dalam berbicara, bertanya bahkan mengemukakan pendapat. Sangat berbeda dari tema-tema sebelum yang dibawakan. Apalagi kalau bicara solusi sangat-sangat tidak mudah,mungkin akhirnya kita akan kembalikan ke pribadi kita masing-masing.

Di sisi lain masuk telpon dari sebelah ibu-ibu, karena melihat suami jadi sering garang, memukul anak dan istri (terjadi perubahan prilaku). Dan terjadi kekerasan dalam rumah tangga.

Menanggapi hal tersebut diatas Hilda berpendapat, katanya dirinya pernah ada kejadian seperti itu, tapi karena sang istri mendatangi dan berbicara secara baik-baik, akhirnya ketika suami kembali ke cafe dimalam berikutnya, Hilda mengingatkan please datang ke cafe just for drink and see the music show, “ Intinya dibicarakan baik-baiklah, aku kan juga manusia punya hati.. “ Selanjutnya Nia berpendapat, istri harus banyak memberikan perhatian, dia contohkan buat kopi dipagi hari, mengucapkan salam dengan mesra…. “Selamat pagi sayang, aku buatkan kopi ye…?  (Memang terlihat dalam budaya Belitong basa-basi salam itu jarang ada).

SMS juga banyak datang dari B-lover yang mempertanyakan nomor Hapenya Nia dan Hilda, dan mengirimkan salam kenal dan salam sayang.  Sayangnya sebuah SMS yang TIDAK SETUJU dengan kegiatan hiburan malam ini tidak menyebutkan nama, padahal inilah yang ini kami kejar sebagai pendapat lain, sebagai bentuk kontrol dari masyarakat.  Terutama untuk kebijakan pemerintah daerah dan pihak pengusaha hiburan malam.

Dalam hal ini walaupun pemerintah daerah mendapat pajak sampai 21% dari setiap makanan dan minuman yang ditransaksikan pada saat hiburan malam berlangsung.

Perihal tingginya angka perceraian dan kekerasan rumah tangga menjadi hal yang lain yang akan dibicarakan di begalor.com edisi berikutnya, yang pasti hal ini kita kembalikan keribadinya masing masing.

Kami juga masih melihat didalam begalor.com di BFM ini kami masih mendapatkan pelajaran banyak ternyate orang Belitong bisanya hanya melemparkan masalah saja. Kita harus berani jika kita anggap pendapat kita benar bila perlu perkenalkan diri, inilah juga yang jadi konsen BFM untuk mempercepat proses berani mengemukan pendapat yang merupakan bagian dari proses demokrasi. Tak bisa dihindari juga karena sektor hiburan malam juga menjadi effeck yang sulit dihindari ditengah Belitong yang membangun bidang pariwisata ini.

 

 


Responses

  1. Salam kenal dari urang Manggar Bang …

    Sebenarnya biak belitong lagak-lagak … tapi ngape dak ade nok nak kan aku ye …. hehehe

    Jadi sekarang punye bini urang sunda juak, di kampong dak laku . . . . abang gimane ?

    Topik diatas sebenarnye tegantong kan urangnye ye ke bang ?

  2. @Marjono Kulup Bakri

    Mikak la mandik ke..? kalo kaper kan mandi jangankan ngarap biak dayang nak ningok ha ha.. ha ..

  3. masih jago ya bahasa daerah nya? (gak penting banget response nya.. ) ;o)

  4. hai dek!! gimane kabere sidak.salam ketemu kan kawan lamak no ade di purwakarta sekarang

  5. Kiape kabar mikak Musthafa Kamal, lama tak berjumpa …. beli nomor kontak kao Mus…?, usa gila begaye ne…. btw posisi mikak dimane ?

  6. De aku kerje di pabrik nylon di purwakarta.Telp :02649126304

  7. Bagi saya ga semua wanita belitung spt itu,tergantung dari latar belakang keluarganya.tp kalau banyak para suami yg datang ke cafe yg kadang didalam hutan,bagi saya memang suaminya yg ingin cari hiburan,itu seh menurut ifo dan yang saya lihat realnya.

  8. ndak juak be


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: