Oleh: adek | Agustus 19, 2008

Balik ke Belitong …. sekali merengkuh dayung

Setelah mendapat kepastian tentang kesehatan Umak (panggilanku untuk Ibu), akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung sendirian besok disaat di HUT RI ke 63.

Berbekal nomor telfon agen tiket penerbangan 24 jam, dinihari itu aku dan istri ditemani Moza yang tidur dikursi belakang menuju Gedung Soewarna di komplek Bandara Soekarno Hatta.

Diatas langit Belitong, 1 jam menjelang detik-detik proklamasi, dari atas pesawat tampak jelas bekas daerah tambang baik yang aktip maupun sudah ditinggalkan oleh pemilik dan pekerjanya.

Singkat cerita aku sampai juga di kota kelahiranku 1 jam menjelang detik-detik proklamasi, melawati stasion Radio B-FM aku mengirim SMS singkat ke Ozzie, si owner.. “Aku upacara bendera di Belitong, Zie…, langsung dijawab, “main ke studio, Dek….”

Di sebelah kanan antrian panjang BMM,  sepanjang jalan memang sopir mobil tanpa henti berbicara tentang susah nya BBM. Mengenaskan kondisinya seperti itu karena sepanjang jalan juga dipenuhi oleh spanduk dan poster calon Bupati yang menjelang Pilkada Oktober 2008 nanti.

Sampai di Rumah, hanya meletakkan tas bawaan sebentar, ambil motor abangku dan tancap gas langsung ke RSUD. Dan depan Gedung Mesium aku papasan dengan Bapak yang telah bersiap pulang. Karena jam besuk ICU room masih 1 jam akhirnya aku minta dipertemukan dengan dokter yang menangani umak. Kebetulan sang dokter merupakan kakak kelasku di SMAN 1, dokter Bambang namanya.

Akhirnya aku diizinkan dengan terpaksa, setelah melihat umak aku baru tenang. Umak menangis melihatku datang, aku memang merahasiakan kedatanganku. Alat rekam jantung dan alas pipis masih melekat.

Jam 1 siang di temperatur luar hampir 31 derajat celsius, aku ke Radio BFM, radio yang menggunakan Bahasa Belitong sebagai bahasa pengantar. Jam 2 siang aku naik siaran untuk program B-Radu (berani diudara), ha.. ha… agak grogi juga tapi dimenit berikutnya bisa mengatasi situasi sampai Ozzie bingung kok lancar katanya.  Maklumlah Zie dulunya rajin bersorak dijalan …. ha.. ha.. Untuk nantinya BFM ini akan bisa dinikmati melalui http://www.bilitonesefm.com yang sekarang lagi dibangun oleh TOHALabs, sehingga suara dari Belitong ini akan membuat perantauan Belitong semakin dekat dengan kampungnya, semoga…

Hari kedua aku kepasar ikan harganya mahal benar (perkilo IDR 32.000-karena sulitnya susah solar ditambah musim angin sehingga banyak nelayan yang tidak melaut.

Jam 12 dari RSUD bersama bapak, acaraku berikutnya adalah menonton pawai/carnaval … hampir 75% bertema-kan sulitnya BBM. Ada 172 kelompok= 110 kelompok jalan kaki, 12 kelompok sepeda hias, 34 sepeda motor, 20 mobil hias) dari mulai TK, SD, SMP, SMA dan kelompok umum dan mulai dari membawa drum, derigen, drumband dari direjen, miniatur mobil tangki minyak yang bertulisan 5000 Liter kemana larinya ….??

Aku just compare dengan pawai sewaktu kami masih duduk di SMA dulunya (kira-kira 15 tahun lalu), yang berani membawakan Barongsai saja sampai depanggil SOSPOL.  Sekarang alam demokrasi semakin terbuka begitu terbukanya sehingga terlihat nuansa politik di carnaval. Dimoment tersebut ada 2 calon Bupati dari indipenden Andeska-Sri dan Soehadi-Yudi yang berteriak dengan mikrofon diatas mobil menyampaikan vidi dan misinya sebagai calon Bupati.

Menarik selain masalah BBM dan sulitnya distribusinya, persoalan lingkungan dan pemanasan global menjadi tema lain yang menyolok mata, sebut saja tambang TI, perusakan hutan.  Yang lain masih bertahan dari tahun-ketahun yaitu drumband, pakaian adapt dari berbagai daerah di Indonesia,  bencong-bencongan, seni beladiri, plus partai… (nah yang ini kurang simpati, karena mereka pakai motor, gasnya ditarik tinggi-tinggi, gimana tuh belum menjadi pejabat aja kelakuannya kayak gitu…)

Ada juga para pemeran film dari laskar pelangi yang unjuk kebolehan dengan tarian Irian. Mereka bersama sang pimpinan tertinggi Baro Begado sdr. Zenai.

1 kilometer dari tempatku, katanya ada panggung kehormatan diisi oleh Plt. Bupati Mulgani, Ketua DPRD-Suhardi, kelihatannya setelah ikut mencalonkan diri menjadi Bupati Belitong barat 2009-2014, Bupati lama Sdr. Dharmasyah melepaskan jabatannya itu, istilah orang Belitong (nak muboh agik = mau nambah lagi).

Sorenya, melepaskan kerinduan akan bonsaiku yang lalu, ngetren bonsai sambil nunggu karena hari ini Umak rencana akan dipindahkan ke ruang biasa dari ICU. Nunggu pergantian kamar ini aku mencari warnet untuk membalas surat yang disampaikan teman-teman Belitong mengenai sakit Umakku.

Sorenya, Ozzie menelpon setelah beberapa SMS tidak kujawab karena aku ketiduran. Rupanya aku diundang untuk menjadi Host dalam acara Begalor di BFM 104,6 FM. Begalor sendiri berarti ngobrol-ngobrol dan dikampung kami biasanya begalor dilakukan di warung kopi. Hari ini kami memindahkan warung kopi diudara, untuk didengar oleh sebagaian dari penduduk pulau Belitong. Serta hari itu aku, Novil dan Bang Mansur yang notabene adalah berstatus perantauan pulang kampung akan menjadi bagian dari sejarah dari radio tersebut dimana setiap resume dari begalor ini akan ditulis didalam web www.begalor.com

Dan tanpa disangka siaran pertama ini mendapat sambutan dasyat baik itu dari penelpon dan pengirim SMS. Tema yang dibawakan selama 1. 30 menit tersebut jadi terasa kurang, inilah yang dimaksud pecerahan, yang selama ini detunggu orang. Tema singkat yang kami bawakan bertiga adalah Pawai Pembangunan Ape Demo ?

Tema ini kami bawakan karena hampir 75 % isi pawai kemarin adalah mengungkapkan rasa emosional dari masyarakat yang diwakili oleh peserta pawai tentang kesusahan BBM terlepas masalahnya karena kurangnya pasokan BBM dan masalah mahalnya harga BBM itu merupakan ekses dari susahnya BBM tadi, akhirnya banyak pihak yang bermain. Tak lupa diiakhir acara kami membuat konklusi dari semua yang digalorkan tadi, baik itu pendapat dari SMS pendengar dan apa yang menjadi kesimpulan dari yang dibicarakan.

Lalu adanya usulan untuk pawai tahun depan untuk tetap menjaga kebersihan. Karena kebersihan adalah tugas bersama bukan tugas Dinas Kebersihan apalagi kita sedang dihadapkan dengan pemanasan global.  Karena setelah pawai sepanjang jalan yang dilewati pawai yang menjadi tempat berdirinya penonton dipenuhi plastik bekas makanan dan minuman. Pesan-pesan moral seperti ini, semangat patriotisme yang masih utuh dan semangat untuk menunjukan apa saja yang ada yang menonjol di daerahnya, kemudia apa saja yang diberikan instsitusinya terhadap masyarakat Belitong secara utuh. Dan inilah yang diharapkan oleh BFM bisa sampai ke pendengar supaya bisa diketahui pendengar dan semoga bisa diamalkan.

Lalu jua disampaikan juga bahwa ekses lain dari pawai adalah naiknya omset tukang bakso dan es… karena kurang dari 3 jam ludes terjual semua dagangan yang ditawarkan.

Siaran ini kami tutup jam 17.30 dan aku buru-buru pulang karena harus ke RSUD lagi …..


Responses

  1. Salam kenal untuk abang dan terima kaseh agik nak ngaku’ urang Belitong.. Men nok la, la ne banyak nok “Merengak” baru 10 taun di luar Belitong la belaer nak ngaku diri’ urang Belitong (luar biase manusie itu), aku paling benci men ketemu urang macam itu.

  2. masak seh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: