Oleh: adek | Agustus 16, 2008

Kamu yang memilih teman, bukan teman yang memilihmu………….

Katanya dalam konsep keseimbangan, ada dua mata sisi yang berbeda sebut saja baik-buruk, siang-malam, hitam-putih, laki-perempuan dan seterusnya.  Oleh karena kedua mata sisi diperlukan untuk keperluan keseimbangan

Dan didalam kehidupan ini selalu ada yang berperan sebagai orang baik dan orang buruk entah disadari atau tidak oleh pelaku-pelakunya.  Kalau di dalam seni peran ada yang disebut peran antagonis, sering digambarkan dengan orang yang membuat kita kesal, gemes bahkan membuat kita ingin ikut menyumpah, melawan bahkan bila perlu ikut memukul ha… ha… ha….

Waktu menuliskan tentang ini aku tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa anakku Moza mendapatkan peran baik dan teman kelasnya terpaksa mendapat peran buruk, bukan itu.  Walaupun keduanya diperlukan dalam konsep keseimbangan, tapi ada nilai positif yang mesti aku share dari kejadian itu.  Berikut ini ceritanya …..

6 bulan pertama sekolah, Moza sering sekali mengeluhkan perlakuan temannya, apalagi setelah mengetahui bahwa Moza merupakan anak yang pendiam dan sering mengalah sehingga membuatnya menjadi sering diperlakukan kurang baik.  Moza pernah mengaku sering kali waktu masuk setelah istirahat, kursinya harus pindah dari tempat duduk pertama karena diambil alih oleh sang jagoan kelas.  Dan karena Moza juga tidak pernah ditemani orang tua, membuat Moza di-lebeli oleh temannya sebagai anak ibu guru walikelas, karena tidak ada yang menemani.

Suatu ketika Moza mengadu karena kepalanya dipukul teman kelasnya, karena mempertahankan pensil warna kesayangannya.  Akhirnya hal ini semakin membuat kami semakin gundah. 

Kalau dihari Sabtu kami datang mengantar sekolah, terlihat sekali komunitas kental dari orang-orang tua yang sering menemani sang anaknya sepanjang minggu, pastinya jika salah satu anak-anak mereka melakukan kesewenangan dengan yang lainnya, asal bukan dari komunitas mereka, ya biarin saja….(aku sudah berpikiran jelek seperti itu jadinya… semoga tidak ya ibu-ibu…..).

Dari pengakuan Moza, dirinya dan beberapa yang lain menjadi minoritas dari 22 siswa-siswi dikelasnya.

Terlebih setelah naik ke TK B, Moza berniat masuk eskul drumband, layaknya siswi harus memainkan pianika, tapi Moza ingin memilih drum, namanya juga permintaan anak-anak, istriku mencoba menyampaikan kepada ibu guru pembina, dan kebetulan disitu ada ibu dari siswi yang sering kali berselisih dengan Moza, dia mencibir dengan mengatakan tidak bisa !

Karena aku dan istriku bekerja, kami terpaksa menghindari perselisihan, untuk safe dulu….. juga membuat kami harus memutar otak untuk menyelesaikan masalah yang menggelisahkan Moza.   Ada satu hal yang membuat kami takut, jangan-jangan Moza juga nakal di kelasnya.  Sehingga akhirnya kami bersepakat ini merupakan kasus anak-anak biasa.  Kami mencoba termasuk berbicara dengan walikelasnya.  Tapi disini yang menjadi peran utama adalah anak kami sendiri bukan ibu guru walikelasnya.  Artinya hanya Moza yang bisa menjaga dirinya sendiri.

Dari pengalaman kami yang bukan ahli dalam mendidik anak, tapi review kami selama di TK A, selama libur kemarin terlebih karena proses pertemanan itu.  Ada hal yang ditanamkan Sari, istriku kepada Moza bahwa Moza-lah yang harus memilih teman, bukan teman yang memilihmu….

Sabtu ini setelah bel pulang sementara aku masih duduk di Auning (tempat tunggu orang tua) dan Sari, istriku bergegas kedalam mencari Moza karena kami buru-buru juga hari ini.

Sari mendekatiku setelah berhasil mengandeng Moza, “Dek, kamu tahu ada surprise hari ini ?…”

Aku menggelengkan kepala sambil kucium Moza. “ Moza menggandeng tangan anak ketua komunitas ibu-ibu itu keluar kelas, artinya Moza yang memilih temannya, bukan Moza yang minta-minta dipilih”. 

Aku mencium kembali anakku ini, artinya untuk kali ini Moza bisa menyelesaikan masalahnya sendiri….

Bahwa ternyata anak kita ternyata bisa menemukan cara untuk menyelesaikan persoalannya sendiri, cukup kita arahkan caranya, dan yang melakuan tinggal anak kita… sekali lagi bahwa dalam soal pertemanan …. kamu yang memilih teman, bukan teman yang memilihmu………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: