Oleh: adek | Agustus 5, 2008

Hukuman Mati bagi Koruptor, Keluarganya Juga

HUKUMAN mati di Indonesia sudah diberlakukan untuk tindak kejahatan seperti teroris, bandar narkoba yang merusak gerasi muda. Kalau sekarang diwacanakan hukuman mati bagi koruptor mengapa harus dipertanyakan? Bukankah hukuman mati diberikan bagi masyarakat yang melakukan tindak kejahatan berat dan meresahkan masyarakat.

Tindakan korupsi, kalau mau jujur, kejahatan inilah yang paling berat karena menyengsarakan kehidupan rakyat, dan berimbas pada generasi berikutnya. Bagi koruptor hukuman mati dapat diberlakukan dengan mengacu pada UU RI No.20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Tindakan korupsi dewasa ini sudah mengakar dan membudaya di masyarakat dari tingkat atas sampai tingkat bawah. Terbukti pada setiap instansi dan celah kehidupan sekarang sudah lumrah masyarakat mengenal, berapa uang pelicin dan fee yang harus diberikan agar mempermudah dalam urusan birokraksi maupun pengurusan apa pun yang menyangkut instansi pemerintah. Tentunya akan bertele-tele dan tidak kunjung selesai masalah ataupun sebuah urusan jika uang pelicin atau fee tidak diberikan atau dialokasikan ke pos-pos tertentu.

Sedihnya, para pejabat menganggap korupsi sebagai tindakan yang biasa. Hal biasa bagi mereka jika menerima fee dari masyarakat biasa, pengusaha ataupun pihak lain yang berurusan dengan mereka dalam pengurusan sesuatu. Artinya tidak menjadi semacam perbuatan yang tabu di kalangan pejabat untuk melakukan perbuatan korupsi jika hal itu memungkinkan. Rasa malu, sudah menjadi hal yang kesekian di kalangan pejabat, jika tidak diberi mereka melakukan semacam teror kepada masyarakat.

Ada beberapa persoalan yang dapat dikaji dari masalah korupsi ini di mana persoalan ini akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara semakin terpuruk, dan menjadi semacam permasalahan pelik yang harus dilakukan tindakan tegas terhadap koruptor, harus.

Fenomena sekarang bukan masyarakat yang beriktikad memberi suap, tetapi perlu diingat para pejabatlah yang meminta, bahkan mencari kesalahan dan kelemahan seseorang untuk diperas, dan dipakai sebagai pencetak uang. Buntutnya, hati-hati berurusan dengan pejabat atau pemerintah jika tidak mau harta, bahkan kehidupan pribadi malah akan berada di ujung tanduk.

Gaji, fasilitas yang diberikan kepada para pejabat pemerintahan sudah lebih dari cukup, bahkan kadang membuat rakyat nelangsa, dengan perbandingan jumlah garis kemiskinan masyarakat yang selalu membengkak dari tahun ke tahun, cukupkah? Tentu tidak, banyak maunya dan banyak akal.

Hukuman yang kurang maksimal memberi peluang pejabat melakukan tindakan korupsi. Sebelum menjabat merupakan pribadi yang bersih, setelah menjabat dan hasil korupsi meninabobokan dengan jeratan hukum yang tidak sepadan dengan hasil perbuatan, mereka merasa hukum masih bisa dinegosiasikan.

Keluarga pejabat pastilah ikut menikmati hasil korupsi. Jangan menuding hanya koruptor yang tidah tahu malu, tetapi seharusnya keluarga koruptor juga ditindak tegas karena saat koruptor melakukan korupsi, anggota keluarga diam saja bahkan merekalah yang ikut menikmati hasil korupsi tersebut. Pada saat koruptor dijatuhi hukuman, pihak keluarga lainnya seperti kebakaran jenggot dan mengatakan tidak tahu dan tidak pernah tahu. Kenapa mereka saat menerima hasil korupsi uang rakyat, ikut foya-foya menikmati. Seorang koruptor, saat menjalankan aksinya, keluarga tentu mendukung, kalau ada semacam filter dari keluarga tentu kecil kemungkinan terjadi korupsi.

Memutuskan mata rantai korupsi hanya hukuman maksimal dapat menghentikan yaitu hukuman mati, karena hukuman mati memberikan efek jera bagi para koruptor. Setidaknya memberikan semacam warning bagi koruptor untuk tidak melakukan korupsi. Logikanya yang melakukan korupsi tentulah mereka para kerah putih, yang pada umumnya telah memiliki harta yang lebih dari cukup.

Kalau hukuman mati diberikan bagi para koruptor, tentu mereka akan berpikir seribu kali melakukan korupsi dengan memperaturuhkan nyawa untuk memupuk kekanyaan yang lebih banyak dari harta yang dimiliki. Dengan tidak melakukan korupsi para pejabat sudah dapat hidup layak, mengapa harus melakukan korupsi dengan hukuman mati yang mengintai?

Baik ada hukuman mati bagi koruptor, dan lebih baik lagi kalau pihak keluarga yang ikut menikmati hasil korupsi juga ditindak.
 

 


Responses

  1. Setuju, tapi entah kapan terjadi

  2. jelas koruptor juga harus di hukum mati!

  3. emang, sebenernya koruptor itu sama saja dengan para bandar narkoba yang merusak generasi bangsa dan harus dihukum seberat2 nya

  4. sudah sepantasnya para koruptor itu di hukum mati. tapi mampu
    kah hukum di negeri ini memberlakukannya? saya rasa bisa. para koruptor tsb sebenarnya lebih bajingan dari bajingan sekalipun. apalagi beliau para pejabat2 ngr yg nota bene adalah sbg pelayan masyarakat. dampaknya terhdp msyrkt tentunya akan sangat merugikan sekali. bahkan untuk generasi yg selanjutnya. sangat PANTAS DI HUKUM MATI


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: