Oleh: adek | Juni 25, 2008

Kekerasan Aparat dan trauma masa lalu …

Turut berduka cita atas meninggalnya rekan mahasiswa dari UNAS, Almarhum Maftuh Fauzi.  Berikut sebuah petikan bait lagu yang dipersembahkan buat perjuanganmu…

Kubisa tenggelam dilautan

Aku bisa diracun diudara

Aku bisa terbunuh ditrotoar jalan

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan pernah berhenti

(petikan lagu Di Udara karya Band Efek Rumah Kaca.)

 

Membaca kisah penangkapan sekitar 140 mahasiswa UNAS di kampus Pejaten Sabtu Dini hari tanggal 24 Mei 2008 karena unjuk rasa menolak kenaikan BBM, yang berbuntut penahanan 30 orang dan meninggalnya mahasiswa yang bernama Maftuh Fauzi, membuat aku kembali merinding.  Pasal kekerasan aparat keamanan ini sudah banyak memakan korban.  Dan aku sendiri pernah mengalaminya yang kutulis dalam kisah Ku-berterimakasih kepada …

 

Dan hal itu membuatku menjadi trauma yang berkepanjangan.  Perlu waktu yang lama untuk melepaskan itu semua.  Belum lagi biasanya kasus-kasus seperti ini biasa menguap seperti air, tanpa bekas.

 

Sampai beberapa tahun kemudian kucoba melawan trauma dan kurangkai cerita kekerasan itu kembali, terlebih ketika Isyana Bagoes Oka (yang ketika itu masih di TV7) bermaksud mewancarai aku dalam rangka Hari Bayangkara dan kekerasan yang masih terjadi.  Tapi kutolak halus karena masih belum lepas dari bayangan ketakutan yang mendalam.  So…  Kita tinggalkan masa lalu kelabuku tersebut.

 

Dalam kasus terakhir dikampus UNAS ini yang berbuntut korban kematian pemuda berumur 27 tahun yang merupakan mahasiswa Jurusan Bahasa Asing, menyisakan tanda tanya karena sebelumnya team dokter dari RSPP tempat korban terakhir dirawat sebelum menghembuskan nafas terakhir, yang disuarakan oleh Wakil Direktur Medis, Widya Sarkawi berpendapat bahwa korban meninggal karena infeksi berat pada fungsi sistemiknya akibat HIV yang menyerang seluruh tubuh.

 

Perkara yang tidak jelas jadinya ini akhirnya menghembuskan rumor dan prasangka buruk, dan hal ini pulalah yang memicu dugaan rekayasa terhadap hasil pemeriksaan dokter tersebut yang menyulut kemarahan teman-teman Almarhum.  Mereka menuding dokter RSPP berkomplot dengan polisi memanipulasi hasil pemeriksaan.

 

Perihal kekerasan ini perlu dicermati, karena sering kali kita melihat bahwa ini sering terjadi, sementara pula kita juga sering melihat tontonan simulasi penanganan demontrasi dan huru-hara yang sedemikiannya rapihnya yang sering diperagakan oleh polisi disetiap hari kebesaran lembaga ini.  Tentunya penanganan demontrasi ini sudah menjadi standar yang mesti dilaksanakan.  Bukan dilakukan dengan kekerasan seperti yang terjadi di kampus UNAS dini hari tersebut.  Artinya ada pelanggaran standar kerja yang dilakukan.  Mestinya ada tindakan tegas terhadap hal ini apalagi nyawa manusia jadi taruhannya.  Tak salah kalau KOMNAS HAM memperpanjang penyelidikan terhadap kasus 24 Mei 2008 ini.

 

Lalu handai toulan Almarhum meminta agar jenazah kembali diotopsi sebelum dimakamkan dikampung halamannya, Kebumen.  Semoga pemeriksaan ulang yang nantinya dilakukan oleh Team kedokteran RS Cipto dan Team dari Universitas Diponegoro dan Universitas Jendral Soedirman yang keduanya ditunjuk oleh KOMNAS HAM bisa memberi berita berupa fakta baru dari kematian mahasiswa UNAS ini.

 

Semoga pemeriksaan yang tuntas nantinya bisa menjernihkan masalah serta memberi kepastian hukum dan kejelasan siapa yang bersalah dan patut mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatannya.  Apalagi beredarnya berita tentang adanya konspirasi melawan kenaikan harga BBM.  Masyaallah  kok begitu jadinya……

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. Wew… Kengerian lagi…

  2. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  3. Amin bung Muhjamil moga bisa berguna..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: