Oleh: adek | Juni 16, 2008

Rujak Ulek 555 Brebes, Jatiwaringin

Semenjak sering membelikan Sari rujak buah, membuatku jadi sering memperhatikan perkembangan perdagangan rujak ini.  Rasanya tak salahkah bila aku menuliskan nama dari usaha si abang gondrong ini.  Rujak Ulek 555 Brebes, begitulah stiker baru ditempel ini terbaca. 

Dari pertama mangkal depan kampus UIA Jatiwaringin, mulai mengunakan areal trotoar sampai punya tempat sendiri, merupakan prestasi yang cepat dan luar biasa.  Bagi kebanyakan tukang rujak sejenis, tidak ada yang special kecuali porsinya yang lumayan banyak untuk paket serutan serta bumbunya kacangnya yang oke punya.  Dan paling penting tidak jorok bagiku. 

Aku sering kali memperhatikan ketika sedang mengerus bumbu kacang untuk 2 porsi aku dan istriku, si abang memasukkan satu setengah gula merah yang berdiameter 8 centimeter.  Dan disitulah kupikir kuncinya ditambah pisang mentah yang juga ikut tergerus didalam bumbu membuat rasa yang keset-keset gimana gitu ha.. ha .. ha…

Dan sore minggu itu aku kembali kesana untuk mengulangi adegan yang sama.  Tapi kali ini agak sepi sehingga aku tidak perlu lama menunggu.  Bersamaan dengan si abang yang sedang didatangi sang iparnya, dan terdengar bahwa si ipar yang baru tahu usaha adik iparnya itu.

“Kalau kamu tertarik, tidak perlu modal besar toh, jualan seperti aku ini tak perlu minyak goreng, minyak tanah atau gas, cukup tenaga ulekan ..”, katanya sambil memasukan 1,5 gula merah untuk 2 porsi.  Kemudian lanjutnya, “Buahnya banyak dipasar bahkan kalo sudah seperti aku ini, pedagang buah sudah ada yang nawarin sendiri, tak perlu becek-becekan dipasar tradisional, tinggal tunggu mereka antar saja.”

Hebat juga kupikir, yang pasti rejeki siabang rujak yang gondrong ini memang disini. Lihat saja dulu dan perubahan yang terlihat seiring keuntungan yang diterimanya.  Sekarang sudah mempunyai lokasi tersendiri walau masih sewa, sehingga tidak perlu mengunakan fasilitas trotoar yang berbulan-bulan dipakainya.  Dan tak lupa plank nama baru digerobaknya itu.

Bekas kulit kupasan buahpun jarang ada yang tercecer , selalu diusahakan masuk plastik sampah. Serta tak lupa menguncir rambutnya dan terkadang rambut panjang tersembunyi rapih ditopinya.  Siabang mulai menyerut dari mulai buah  bengkoang, mangga muda, memotong nenas, jambu air  merah, dan sesuai permintaan kita, lalu mengoper rujak yang sudah dibuatnya ke istrinya untuk dikemas dalam plastik. Lalu aku membayar 10 ribu untuk 2 porsi yang kupesan itu.  “terimakasih ya “, katanya……   


Responses

  1. nitip dong dek. besok bawain ya.. *sslrrp..*

  2. jadi nelen ludah nih pak’, makannya siang atau sore trus pake krupuk kuning yang gope’an, kalau boleh pesen, “karetnya dua” ya pak, (agak pedes, gak pake kdondong)

  3. Mari kita bahas perihal RUJAKAN … setahu aku rujak pake krupuk itu dari Bogor, gimana seh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: