Oleh: adek | Juni 10, 2008

Si Mamang tukang Opak

Aku adalah warga perempatan UKI bagian yang menuju arah cikampek diantara pukul 5.45 sampai paling lama 6.15 pagi, begitulah, hampir setiap harinya.   Dan hari itu aku sudah agak lama menunggu bus yang selalu membawa ketempat kerja.  Disamping dengan setia juga menunggu.   Para pekerja, buruh pabrik, pedagang, pengamen dan handai tolan.  Kami berbaris rapih dan tiap menit makin panjang dan tebal shaftnya. 

Pemerintah sejak 2 hari yang lalu telah menaikkan harga BBM yang berimbas naiknya harga angkutan, kami ini jadi korbannya, seperti hari ini.  Ada beberapa armada yang tidak turun untuk narik penumpang hari ini karena menunggu manajemennya memutuskan sampai harga berapa yang akan dikenakan kepada para penumpang.  Kondisi yang saling menjepit dan terjepit.

Walaupun demikian sejak kemarin malam dengan kebijaksanaan awak bis sendiri, mereka menaikkan tarif dari Rp.4000 ke Rp.5000 rupiah, dengan dasar perhitungan suka-suka kao lah.

Mmmm …. Tak lama bus yang ditunggupun tiba , barisan mulai acak karena masing-masing mulai berebutan untuk naik dan dapat duduk.  Ha .. ha .. ha rugi rasanya kalau harga naik tapi tak dapat tempat duduk.   Tapi tetap saja aku tidak kebagian tempat kali ini, kami berdesakan didalam.  Duduk didepanku seorang pedagang opak , yang berganti mobil dari gunung putri bogor, oleh karena itu kupikir, saking banyaknya gonta-ganti mobil, nah giliran bus yang terakhir yang membawanya ke tempatnya berdagang, si mamangpun kehabisan ongkos.

Bus pun melaju pelan karena over penumpang, potret transportasi Indonesia yang begini adanya.  Si abang kernetpun mulai  menarik uang dari para penumpang.  Dari mukanya si abang kernet ini agak kesal, tadi sempat perang mulut dengan preman perempatan tempat kami menunggu tadi, biasanya karena BBM naik harga ngetem juga ikut-ikutan naik dan si abang kernetpun protes keras kepada preman.

Aku membayar dengan uang bewarna merah rukem dan dikembalikan uang bewarna orange.  Nah giliran mamang yang duduk bersimpuh keringat didepanku.  Sebelumnya tanpa sengaja karena persis didepanku dari tadi menyusur tiap mili dalaman dompetnya.  Mungkin  sapa tau ada lipatan uang yang masih tersisa.  Dosakah aku yang mengintip kegiatan si mamang ini.  Si abang kernet meminta uang dan disambut dengan 3 lembar uang hijau, kurang 2 lembar lagi, “Maap.. cuma nyisa ini”,  katanya .  Lalu disambut , “ Ini kurang, nanti kamu turun didepan tol ya !!! “, katanya galak.  Simamang makin tumpah keringatnya, berarti tak kan sampai tempatnya berdagang sementara perjalanan baru dimulai di 500 meter pertama.

Ribut-ribut kecil ini mengundang perhatian yang lain, aku mengulurkan uang kembalian dari si abang kernek ke simamang, sementara orang disebelahku yang juga dari tadi memperhatikan adegan panas ini telah lebih dulu menyodorkan uang kepada si abang kernet, hingga terbayarlah perjananan si mamang.

Wajah si mamang menjadi sumringah, tak henti-hentinya dia berucap terimakasih kepada orang disebelahku, uang dariku ditolaknya, dan berucap terimakasih.

Aku tersenyum melihat simamang ini, luar biasa sekali, dengan kondisi tak punyapun dia cukup mengambil yang diperlukan saja olehnya, dan dikembalikanya ketika berlebih.

Karena perjalanan baru dimulai, aku mulai bertanya sama simamang ini, disitu barulah kutahu kalau si mamang ini berdagang  OPAK (dan seperti apa mahluk opak ini juga aku lupa-lupa ingat).  Pagi masih petang ketika  dia berangkat dari daerah Gunung Putri menuju  pasar Cibitung tempatnya mencoba berjualan. 

Sampai turun di perempatan Cibitung aku masih berpikiran bahwa si mamang yang ternyata lebih muda dariku ini terlalu jauh untuk  berdagang, keuntungan dari opaknya bisa habis buat ongkos saja, tapi karena perihal lebih laku di pasar cibitunglah yang menyebabnya di datang jauh-jauh dari gunung putri.

Pemuda yang melunasi pembayaran tadipun memberikan pendapat yang sama, si mamang lebih mangut-mangut, “ Besok saya cari yang dekat. Tapi hari ini sudah terlanjur sampai sini…” katanya mengerti.

Ok mang gud, lak ya….. kamipun berpisah diperempatan Cibitung untuk menuju kesibukan berikutnya.

 

 


Responses

  1. beli opaknya aja dek.. lumayan kan untuk penglaris =)

  2. betul mba’ nana tuh pak, sama-sama diuntungkan kan pak! si mamang untung karena opaknya di beli, pak adek untung karena………………………………….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: