Oleh: adek | Mei 26, 2008

Pelampiasan di warung pecel lele

Habis magrib, Sari sambil mengajari Moza melipat dan memilah pakaian sempat bilang kalau Pecel Lele di dekat rumah mertuaku rasanya enak dan minta dibelikan kesana.  Lumayan jauh juga jaraknya sekitar 2 kilometeran dari rumah kami padahal 2 ratus meter dari depan rumah juga ada.  Setelah menyelesaikan 2 paragraf dari buku yang masih kubaca, akupun berangkat kesana.

Memang berbeda kalau makanan enak, bak gula yang dikerubungi semut.  Akupun sempat menunggu lama karena si abang sibuk sekali tampaknya meladeni para pembeli yang lebih dulu.

Karena agak lama, aku memesan es jeruk dan duduk dipojokan didekat 3 orang sopir taxi yang sedang mangkal dan makan malam disini juga.  Walaupun demikian mereka akrab sekali walaupun dari 3 armada yang berbeda, perlahan kuperhatikan wajah mereka yang letih, yang satu orang terlihat berat sekali pikirannya sepertinya .  Yang satu lagi terus-terusan menghisap rokoknya dan sudah agak lama tidak kulihat cara menghisap rokok seperti ini yaitu belum selesai asap disemburkan eh masuk lagi lewat hidungnya.  Jadi sekelebat kumisnya berwarna putih karena selewatan asap rokok.  Seperti orang tua dikampungku melakukannya.  Dan sopir taxi yang terakhir sedang asik menggigit ekor lele yang tergoreng kering.

Sambil nyerumput es, aku menunggu dan memperhatikan, obrolan abang-abang ini memang tak jauh dari topik sepinya sewa penumpang dan kelangsungan hidup, apalagi mereka sudah mendengar bahwa pemerintah akan menaikkan harga bensin sebesar 28 persen.

“ Makin susah aja kita rakyat ini “ kata yang menghisap rokok.

Ah dari kemarin yang kao omongin masalah itu saja, tak bosan apa “, kata yang yang masih makan ekor lele.

“ Huhhh”, tarik napas yang dari tadi mikir berat. Kemudian lanjutnya,  “Sabar aja lah toh kita tidak punya pilihan..”.

Sambil memeperkan abu dan sisa api dirokoknya di tiang tenda dengan maksud rokok yang tinggal setengah itu bisa dihisap dilain waktu, “ Kao aneh lagi dari kemarin kita makan diwaktu yang sama, ucapanmu tetap sabar.. sabar. Orang punya sabar itu ada batasnya.  Cobalah kao bilang sama istrimu untuk sabar-sabar bukan ngak dilempar pisau nantinya.  Sementara harga beras dan telor naik terus, kontrakananku mau naik juga bulan depan.  Coba gimana aku mau sabar”, suaranya mulai mengeras sehingga makin menarik untuk didengarkan. 

“Iya juga Son, gue kagak demennya apa kita yang disuruh sabar sementara pejabat disana tidak bersikap sederhana. Tindakannya korupsi sampe maen perempuan, bah….  Cape hatilah kita ini”. Siberat pikiran mulai berpendapat.

Obrolannya jadi agak berat ketika menyoal tentang napas keluarga, tentang hidup-periuknya sang istri, tentang yang punya kontrakan yang tak bisa diajak ikut bersabar, tentang uang sekolah anak yang sudah 2 bulan menunggak, tentang uang buku anak sejak semester kemarin belum dibayar.  Dan tentang-tentang yang tidak mengembirakan lain. 

Hampir separuh hari ku mendengar keluh kesah ini, dikantin pabrik plastik, diangkutan umum, sambil di pojok musholah.  Semua  topiknya mulai mengerucut.   Bahkan pernah kutemui obrolan-obrolan lepas ini menyoal tentang nasionalisasi perusahaan minyak asing yang banyak menguras isi bumi Indonesia ini.  Setidaknya bukan bicara dan protes saja yang disampaikan menjadi unek-unek tapi  usulan solusi juga sempat dilontarkan walau hanya sebatas obrolan diwarung kopi.

Dibalik itu semua ternyata masyarakat kita sebenarnya sudah mulai pintar karena digerus keadaan.   Pendidikan politis yang mereka dapat dari persolaan sehari-hari membuat mereka menjadi mengerti keadaan sebenarnya.  Sejauh mana peran serta mereka buat system demokrasi di negara ini.  Sadar atau tidak atas pilihan mereka di pemilihan pemimpin yang lalu yang ternyata sulit dibuktikan omongan serta janji-janji semasa kampanye.  Dan setidaknya sampai malam ini 3 orang abang sopir taxi ini sudah berani berpendapat diforum kecilnya mereka itu.  Persoalannyanya apakah akal sehat mereka ini bisa bertahan lama karena terhantam terus-terusan oleh ketidaksabaran yang lain yang tidak bisa diajak kompromi.  Karena terlihat mulai meledak-ledak.

Jika kondisi pengetahuan ini sudah ada sejak dulu, mungkin kita sudah sembuh dari keterpurukan ini,  tentunya masyarakat sudah bisa membedakan mana pemimpin  yang bisa sekedar berjanji dan mana yang benar-benar bekerja untuk kepentingan umat.  Sehingga kita bisa bangkit sebagai bangsa yang besar.  Bukan sekedar guyon dalam demontrasi kami dulu ..” Bangsa yang besar adalah bangsa Gajah,  ikan paus, dan dinosaurus… ha ha… “.

Sayangnya tipikal masyarakat kita pada umumnya harus dibenturkan dulu, setelah merasa sakit baru sadar dan kondisi sudah terlambat karena benar-benar jatuh.

Istriku mengirim pesan pendek yang menanyakan kenapa beli pecel lelenya lama amat, seiring selesainya siabang membungkuskan pesananku, dan akupun berlalu setelah membayar pecel lele.  Semoga kita menjadi lebih arif dalam mensikapi keadaan ini.  Bukan menjadi lebih buas sikap menerkam sesama tanpa tercipta solusi yang terbaik buat sesama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: