Oleh: adek | Mei 21, 2008

The Kim Can, The Legend oleh Bule Sahib

The Kim Can, The Legend

MUNGKIN terlalu berlebih kamek menganugerahi The Kim Can sebagai legenda. Tentu tidak bagi orang Belitong kebanyakan. Tapi, mungkin sangat ia bagi kamek secara pribadi. Entah pula bagi urang Pangkallalang lainnya, semisal Ozzie, Adek Rawie, atau pak Rustam dan perenggu lain-lain.

Kendati demikian sosok The Kim Can, biase dipanggil Kim Can, pasti akan sangat membekas. Terutama bagi urang seputaran Mesjid Asy-Syura, Simpang Empat, Pangkallalang. Kim Can adalah tanda pengenal. Kim Can adalah gambaran seutuhnya ekspektasi urang Pangkallalang pada urang Cine di kampong.

The Kim Can, bukan tipe Cine kaya. Tidak pula miskin. Dia hanya Cine sederhana di antara Cine perantauan yang datang ke Belitung, pada era kolonial Belanda.

Dari sisi ketenaran Kim Can memang jauh lebih tenar dibanding empat teman seperantauannya, seperti A Yen (dulu di depan Mesjid), atau Kik Coi, atau Semael Mualap (maap ye, aku ndak tahu name Cine-nye) atau A Yun, yang menetap di Pangkallalang dulu.

Menurut cerite dari mulut ke mulut urang-urang tue di Pangkallalang, mereka bermigrasi dalam dua pola. Yang pertama, adalah The Kim Can, terlebih dahulu datang sebagai kuli kontrak Timah zaman Belanda. Setelah kontrak habis, dia dikembalikan ke Cina daratan. Merasa nyaman di Belitong, Kim Can kembali ke Belitong dengan membawa istri serta A Yen, juga beberapa teman lainnya.

Di Belitung dia mengontrak tanah yang semuanya adalah milik keluarga Kik Rahman (kakek kamek). Kim Can di Simpang Empat (toko Kim Can sekarang) dan A Yen di seberangnya, persis depan Mesjid Asy Syura, kebetulan juga milik Kik Rahman. Sedang tiga yang lainnya, mengontrak tanah agak ke dalam, yakni mengarah ke stadion sekarang, yang kebetulan pula milik Kek Rahman.

Tahun demi tahun berjalan. Kim Can dan A Yen membuka toko kelontongan. A Yun menjadi tukang gigi. A Coi, ahli bengkel dan Semael Mualap pedagang antar pulau. Masyarakat Pangkallalang zaman itu pun tahu bahwa mereka berlima punya keahlian masing-masing. Tak ada yang menggubrisnya.

Terusikkah urang Pangkallalang dengan kehadiran Kim Can cs? Dipastikan tidak! Buktinya, penguasa perdagangan antar pulau zaman itu yang adalah keluarga besar istri Kek Rahman, sama sekali tidak terusik. Mereka sangat tahu perjuangan kelima perantauan tersebut berjuang di Pangkallalang (kalok Nek Po, aku kurang tau).

Kim Can (juga Nek Po –toko kelontongan- – dan A Cai –top dengan taoco dan kecap) adalah tiga yang paling tenar. Tapi Kim Can tetap yang paling gampang diingat. Toko kelontongannya sangat khas. Tampak luar ndak ada apa-apanya. Terdiri dari bangunan semi permanen dari papan (sekarang udah permanen), dengan bagian atas dinding kawat yang pada malam hari harus ditutup bilah papan.

Isi dagangan, tak kalah dibanding Alfamart saat ini. Garam, beras, paku, kumbu kacang, kelempuan, pentel kerite, cucor, raket, bola badminton, bola pingpong, ban kerite, ruti mohok, rukuk-rukuk, sengkelat aurora dan sarsaparilla, rupe rene ade dijual di tuko Kim Can.

Pokoknye bemacam. Semuanya ditata seadanya. Tak beraturan, tapi mudah mengenalinya.

Kendati begitu siapa pun yang ke toko Kim Can pasti tahu, menuju ke rak atau tumpukan mana jika mau membeli sesuatu yang dibutuhkan. Yang paling mudah dikenali dan diwasi setengah ketat, tentu saja talam kue, yang kebetulan berada di meja “kasir”, dekat sempoa. Meja inilah yang sering jadi tempat menunjukkan kemahiran tingkat tinggi, ngilatek Kim Can.

Yang khas, makan kumbu kacang tige, sebut dua lalu bayar dua.

Care belanje di toko Kim Can pun sangat praktis. Misal, cukup nyebut, “Can, beli paku dua dim, setengah kilo!”. Tak sampai sepuluh menit, barang dicari ada di tangan.

Toko Kim Can memang menjadi tempat belanja bukan hanya keluarga tapi turunan. Mulai dari Bapaknye gik kecit, terus berlanjut ke anaknye, lalu sampai cucu, pasti pernah ke Toko Kim Can.

Bukan sekadar tempat belanje, toko Kim Can dulu –entahlah sekarang– juga menjadi halte untuk menunggu angkutan bagi yang mau menggunakan bis antar kota (dulu kalok ke Kampit ade oto Apin, dengan bangku jok kelece, dan badannye macam oplet, aku ndak tahu uto ape namenye).

Toko Kim Can juga adalah tumpuan ekonomi bagi sebagian urang-urang tertentu, terutama yang ekonomi agak pas-pasan. Saat beras abis, atau gule abis, kerap toko Kim Can menjadi tempat pelarian, dengan harge tetap same.

Tuko Kim Can juga menjadi, simbol awal perjuangan masyarakat Cine yang bermukim di Pangkallalang untuk memerdekakan Indonesia. Konon, menurut cerite urang tue, ketika tokoh pemuda Pangkallalang (dan Belitong) Abdullah Aidit –orang tuanya DN Aidit– menghambat laju tentara KNIL, dengan memalangkan kayu di di jalan-jalan, Kim Can termasuk salah satunya.

Padahal, pada masa itu, Kim Can sendiri mungkin kewarganegaraannya nggak jelas. Tapi, karena dia merasa bagian dari urang Pangkallalang, dia merasa wajib membantu perjuangan pemuda pada masa itu.

Tuko Kim Can juga adalah simbol toleransi hidup bertetangga dan bermasyarakat dengan Cina di Pangkallalang. Sepanjang ingatan aku ndak pernah ada yang mengganggu toko Kim Can, kendati di seberang tokonya sering anak-anak mudak ngumpul dan mabok-mabokan. Relatif ndak pernah terdengar ada yang membongkar Toko Kim Can.

Pun ketika lebaran Melayu (Idul Fitri), Kim Can selalu mendapatkan antaran ketupat dari tetangga yang merayakan lebaran. Pernah pada satu kali dapat giliran ngantar makanan lebaran ke rumah Kim Can, di meja makannya telah berderet lebih dari lima rantang makanan lebaran, kiriman dari tetangganya.

Pun waktu konyen atau Imlek. Bisa dibilang empat puluh rumah dari tokonya pasti dapat kue keranjang, walau cuma satu satu buah.

Yah, Kim Can memang legenda. Tak ada warga lokal Pangkallalang yang pernah sirik ketika dia pertama buka toko kelontongan di Simpang Empat Pangkallalang. Pun setelah tokonya membesar. Tak ada juga yang sirik ketika tokonya tetap bertahan hingga saat ini. Padahal dalam era yang sama di Pangkallalang tak kurang dari lima toko Melayu yang sudah tak ada lagi. Tak pula ada yang sirik dengan kemajuan tokonya.

Kini, toko sederhana dari kayu yang dulu berpagar besi bulat-bulat di depannya, sudah berdinding bata. Tapi kawatnya masih tetap sama seperti yang dulu.

Tapi, sejak satu dasawarsa ini, sosok pria tua berperawakan kecil setinggi sekira semeter enam puluh itu, yang jalannya selalu agak terbungkuk –seakan mencerminkan beratnya beban yang dia pikul dari tanah leluhurnya sana, demi untuk melanjutkan hidup dan keturunan, sudah tak kelihatan lagi. Dia telah dipanggil Sang Pencipta. Dia telah digantikan A Kun.

Namun, A Kun, kayaknya nggak dianggap oleh urang Pangkallalang. Kendati telah cukup lama menggantikan posisi Kim Can, urang Pangkallalang tetap menyebut toko itu Toko Kim Can.

Nama bagi seorang lelaki perantauan langsung dari Tanah Tiongkok, yang tak pernah menunjukkan kelebihannya dari orang sekitar, tak pernah tinggi hati, tak pernah marah. Sangat sederhana.

Dari perawakan dan pembawaan dengan masyarakat, seakan dia mau mengatakan kepada WNI Keturunan Cina di Belitong bahwa, kita harus baik dan menghormati tetangga kalau mau dihormati, kita tak perlu terlalu menunjukan kelebihan karena orang sekitar sudah tahu akan kelebihan itu. Tidak pula meminta previllege berlebihan. Yang jelas dari sosok The Kim Can sangat jelas menyiratkan bahwa dia adalah bagian dari masyarakat Pangkallalang, Tanjungpandan, Belitong, Indonesia.

Dan orang Pangkallalang pun tahu akan sosok The Kim Can, seorang perantauan yang datang langsung dari Tanah Tiongkok. Karena perilaku dan pembawaannya, tak pernah sedikit pun menganggap dia pendatang. Die adalah Kim Can. Urang Pangkallalang pun lupa (atau malah ndak tahu) bahwa Kim Can dulu datang langsung dari Tanah Tiongkok.

 

Bule Sahib


Responses

  1. aku salah satu peserta makan kumbu kacang 3 nyebut 2 ….. setuju kalau The Kim Tjan adalah legend Pangkallalang ..

    • ha ha ha… la minta maap ke ikam setelah ngambik to…

  2. Bagus juak ini cerite Kim Can jadi nak balik rasenye ke Belitong. Kamek urang Pangkallalang jadi tau benar cerite ini. Ingat pulak kan kue keranjang nye mun kunyan.

  3. ehm ini die blog ikam rupanya ha…ha…haaaa


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: