Oleh: adek | Maret 21, 2008

Dufan-Ancol Huaaaaaa ….

ontang.jpgBangun tidur pagi tanggal 20 Maret 2008, hari pertama dari rangkaian libur 4 hari tanggalan merah bulan Maret ini, aku membujuk Moza untuk ke Dunia Fantasi Ancol. Semula Moza sudah setuju, tapi istriku Sari agak kurang sreg. Setelah agak panjang lebar akhirnya dia menyetujui dengan syarat membawa pasukan kakak dan adik iparku. Aku langsung menyetujui karena makin ramai pastinya makin asik.

Setelah bersiap, kami meluncur dan tiba dilokasi pukul 1 siang. Itupun setelah berputar-putar agak lama didalam lokasi Ancol karena antara 3 pilihan SeaWorld, Dufan atau makan saja di Bandar Jakarta. Rangkaian pilihan tersebut berakhir diputusan Moza dan ponakanku Gita yang kekeuh memilih Dufan.

Aku sendiri seumur ini, belum pernah masuk ke Dufan Ancol. Makanya agak bernafsu juga. Setelah melewati main entrance, yang tadinya tidak begitu setuju untuk memilih Dufan sudah pada kabur duluan mencari wahana yang disukai. Vivi, Ary dan Yeni pun menghilang dari rombonganku , Moza, Sari, Dewi dan Gita. Dan yang kekeuh mempertahankan Dufan malahan bingung mau bermain apa dengan anak-anak kami ini. Sambil menghisap permen bertangkai, aku memperhatikan wahana-wahana yang tersedia dan rasanya ada sebagian yang memang meng-copy dari konsep Disneyland.

Kami berjalan berlima berkeliling dan sampai sampai ke antrian Istana Boneka, kalau di Disneyland namanya It’s Small World. Kami masuk didalamnya menggunakan perahu, berputar-putar berkeliling tempat yang di huni oleh boneka-boneka berpakaian adat dari seluruh Indonesia dan sebagian dari tempat didunia. Persis sekali yang pernah aku ceritakan di Disneyland Huaaaaaa.

Selesai itu kami menyambung ke wahana yang terdekat dari Istana Boneka, namanya Poci-poci, aku terbayang teh poci setelah membaca plank nama wahana ini, antriannya tidak panjang. 5 menit saja kami sudah bisa masuk ke dalam poci raksasa yang akan berputar pada sumbunya dan juga berputar terhadap poci yang lainnya, lebih kurang 5 menit kami berlima berputar-putar, Gita dan Moza berteriak seru sementara Sari dan Dewi matanya terpejam menahan rasa pusing.

Selesai wahana ini aku mendapatkan pesan pendek dari Yeni bahwa mereka baru mau bermain satu wahana saja yaitu Tornado, kami akhirnya menuju kesana untuk melihat mereka. Tak lama giliran mereka tiba dan teriak para peserta tak bisa dielakkan, diputar-putar diangkasa lalu dihempaskan. Luar biasa. Bagaimana menguji kelayakan dari alat ini pikirku karena dalam wahana ini Un-Safety Action dan Un-Safety Condition hampir menjadi satu.

Mereka selesaikan permainan dan bergabung dengan kami yang menjadi penonton lalu kita menjadi satu rombongan kembali. Lalu kita menuju wahana yang bisa dimain bersama anak-anak, -lupa namanya1- naik gajah terbang berputar, Di wahana ini sebenarnya satu gajah maksimal 2 orang tapi kami naik bertiga, makanya gajah kami terbangnya paling rendah dari yang lain karena keberatan, itupun kami tahu setelah permainan…. kasiaannnn deh, tapi teteup ceria.

Selesai wahana ini kamipun istirahat sebentar sambil menikmati makanan ringan. Dan di waktu bersamaan ada suguhan tarian Tradisional dari dalam negeri dan India yang dipandu oleh 2 orang Wanita-Pria. Yang mau lanjut tetap mengantri di BomBomCar yang lokasinya bersebelahan dengan tarian-tarian tersebut. Sementara Moza, Sari, Dewi dan Gita menyaksikan tarian. Puas dengan BomBomCar. Kami menjadi satu rombongan kembali untuk menyaksikan wahana -lupa namanya2- yang menyuguhkan film 3D, antriannya hampir tak bergerak, akhirnya kami keluar dari antrian karena sudah kelelahan berdiri.

Lalu duduk sambil menonton Ontang-Anting. Lalu istriku bilang, “Ontang-Anting yuk ?”, Kamipun menganguk. Moza dan Gita dari tadi sudah tak memakai sepatu karena pegel, duduk saja, siap menyaksikan Ibu dan Bapaknya melayang diangkasa.

Kloter kami masuk dan diputar-putar diiringi suara operator yang memandu putaran demi putaran, setelah waktu selesai selalu ditanya “ Bagaimana mau lagi ….?, kami berteriak lagi dengan serempak “ lagi… lagi …. lagi …..! ”, diputarlah lagi beberapa putaran sampai dengkul ini betul-betul lemas, huaaaaaa.

Kamipun berhenti bermain karena hari mulai malam. Sayangnya parade menjelang malam yang sebenarnya juga termasuk yang ingin kami lihat terlewatkan begitu saja.

Sekali lagi didalam Dufan ini kurang informasinya. Jika tidak mau banyak mempekerjakan LO, minimal bersamaan dengan tiket, para pengunjung seharusnya diberikan peta dan informasi yang jelas terhadap wahana dan fasilitas apa saja yang ada didalam Dufan ini. Sehingga dengan waktu yang terbatas para pengunjung masih bisa mencari wahana yang cocok dengan waktu yang tersedia.

Selanjutnya perawatan alat dan fasilitas yang ada sangat terasa kurang, terkesan seadanya, membuat pengunjung kurang puas. Bayangkan diluar Indonesia sono, tempat yang kita nilai kurang bagus karena kalau dibandingkan dengan negeri kita banyak sekali tempat potensial wisata yang jauh lebih baik. Tapi toh mereka bisa menjadikan tempat tersebut menjadi yang favorite untuk kunjungan orang dari waktu-kewaktu . Hal ini disebabkan karena pengelolaan, penataan dan pengaturan yang super baik. Inilah yang mestinya kita contoh – untuk menghilangkan kesan hanya ini ingin mengambil duit para pengunjung saja-.

Sekian laporan singkat ini…


Responses

  1. ancol mmg pantas dikunjungi

    visit: http://www.indonesia-travel-guide.com/Jakarta_Travel_Guide/Ancol_Dreamland_Park/Dunia_Fantasy/Dunia_Fantasy.html

  2. mksd ny apaAN SIH??
    GAK mudeng,.,hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: