Oleh: adek | Desember 22, 2007

masa jayanya SATRIA BERGITAR di kampungku

Aku duduk dengan kepala tersandar di sofa panjang XXI. Di hapeku baru menujukkan pukul 12.30 siang. Sore ini aku ada janji dengan beberapa teman SMA, yang bisa hadir pada saat menjelang liburan natal dan tahun baru 2008, ditempat yang telah disepakati bersama.

Sambil menunggu aku membuka hape dan mulai menulis di blog. Sebelumnya aku kepagian sampai tujuan, karena tadinya sekalian ngantar Sari ketempat kerja karena ada yang diselesaikan hari Sabtu ini dan pula karena pada hari Senin besok mesti cuti karena saudara kawin di Kuningan Jawa Barat.

Didepanku bolak-balik penjaga pintu teater yang berkebaya dengan belahan samping sampai paha atas, Massallah… Sementara menunggu jam yang disepakati untuk bertemu aku melihat ke atas sebelum sampai plafon yang bertuliskan REFRESMENTS dan dibawahnya orang-orang antri untuk membeli popcorn jagung dengan beraneka rasa. Sementara suara-suara menggema mengingatkan bahwa pintu-pintu teater telah dibuka, supaya para penonton yang telah memiliki karcis untuk masuk karena film segera dimulai.

Disisi lain dibawah tulisan BOX OFFICE, 4 karyawan tersenyum lebar, masing-masing berlomba memberikan keramahan kepada setiap penonton yang hendak membeli ticket. Ramah sekali mereka seiring gincu merah di bibir tipis.

Kalau kejadian seperti ini sangat kontras sekali dengan kejadian dikampungku, hampir 15 tahun lalu, saat aku masih sering menonton dibioskop di kampung kami. Dimana kursi duduk penonton berasal dari kayu keras yang membuat tak betah penonton dan berkawan dengan aroma kencing yang tak tersiram sekian lama.

Bioskop dikampungku dikelola perorangan yang jauh dari persaingan. Karena raksasa perbioskopan seperti XXI ini belum bisa melirik selera penonton dikampungku. Dengan daya tonton yang masih rendah tentunya akan membuat BIP sangat lama dan panjang. Dan juga karena dikelola perorang itulah yang membuat bioskop kampungku tidak bisa berkembang dan bersaing, cukup satu pintu saja pada akhirnya.

Jangan ditanya tentang film yang diputar. Ibaratnya sebelum kita hapal dialog dan sceen per screen dari film. Film belum akan berganti. Karena sering kali diputar, bekas paku payung yang membekas menjadi lubang pada poster film menandakan semakin banyaknya film ini naik turun panggung. Jadi jangan ditanya berapa kali film Satria Bergitar-nya Rhoma Irama diputar …? tinggal hitung dari lubang bekas paku payungnya, dengan sendirinya kita temukan jawabannya.

Ciri lain adalah ada jam istirahatnya sekitar 5 menitan, film tidak bisa continuity, karena pergantian roll film. Entah kenapa jam istirahat itu yang dipakai untuk kencing. Yang tidak kebagian tempat pada lubang pembuangan, dengan beraninya kencing di bangku penonton.

Luar biasa sekali keadaan ini. Tapi sekarang kudengar bioskopnya sudah mati karena tergerus oleh VCD … DVD …. dan banyaknya stasiun TV swasta yang memutar film-film lama.

Aku menerima pesan pendek di hapeku, karena beberapa teman yang kutunggu sudah merapat kelokasi. Menggangu keasikkan penulisanku, lalu kuselesaikan kalimat penutup dan kukirimkan tulisan ini. Semoga bioskop dikampungku bisa kembali tumbuh seiring kembali banyak dan merebaknya film-film Indonesia seperti masa-masa jayanya dulu sang Satria Bergitar, siapa lagi yang menghargai film kita kalau bukan kita ….. Hidup film Indonesia… walaupun para penjaga pintu bioskop dikampungku tidak berseragam dan tanpa belahan kebaya sampai paha….


Responses

  1. Pokoknya kalau sudah film Bang Haji Oma main, mobil truk banyak kali parkir didepan kantor pusat, kau tau kan Dek bahwa film Desperado ( 1990-an ) nya
    Antonio Banderas kan idenye dari Satria bergitar nya Bang Haji Oma ( 1980-an ) he…he… 😀

  2. Wakakak, lucu beib… Kagak kreatip tuh Banderas kalo benar gitchu adanya..

  3. Wah jadi ingat di kampung halamanku di Malang ada Bioskop MISBAR – GeriMIS BuBAR namanya bioskop KELUD, tapi sayang akhir2 ini yg ditanyangkan cuma pilm parno gitu, nggak tau skrg masih ada apa gak, ntar di check kalau pulang kampung.

    Jadi penasaran kayak apa pilm Satria Bergitar ini. Cuma dapat penggalan klip dari Youtube pas bang Haji nyanyi.

    Salam dari Jerman, Vania

  4. ya iyalah.. gak ada yang mau nonton kalo pilem yang di puter itu2 terus. orang daerah juga punya rasa bosan kalee…

  5. ha ha kayak andrea aja……..yang laen ahhhhhh

  6. @Vania
    Dikampung aku juga ada Misbar, biasanya film Barry Prima kalo ngak Walisongo, stock filmnya terbatas … Kalo mau Misbar-an dari siang sampai sore ada pengumuman pakai mobil bak toyota … Hadirilah …. Hadirilah …

    Tapi sekarang ada ngak ya ?

    @Nana
    Tergantung ama Filmnya, kalo yang maen itu idolanya ampe berapa kalipun enggak bakal bosen, DiTV pernah diwawancara seseorang gadis yang menonton film Titanic, sampai 6X di Bioskop XXI Jakarta selama satu periode, karena saking suka ama tuh film dan Leonardo Decaprionya… karena sang idola

    @KieGuavara :
    Masa cih, Andrea dalam sebuah bukunya pernah menulis tentang Bioskop dikampung kami dengan cara dan pendekatan sastra ala Andrea dan Team Bentang. Didalam tulisannya itu dia menuliskan tentang film barat yang mengundang selera laki muda Andrea.

    Jadi apa yang kaya’ Andrea ?. Dan satu hal mungkin cerita tentang bioskop dikampung belitong bukan milik siapa-siapa tapi milik orang-orang yang pernah merasakannya, termasuk anda mungkin.

    Yup bradeh.. Thank’s sudah maen dimari..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: