Oleh: adek | Desember 16, 2007

Paris Van Java Malam…

par.jpg

 

15 Desember 2007 malam 22.00 WIBdg, kami sampai juga di Bandung, awalnya adik Iparku, Vivi berulang tahun yang ke 20. Lalu bersama Istriku dan ipar-ipar yang lain kami menuju Bandung untuk nonton film.  Sudah lama sekali aku tidak kekota ini terakhir waktu pertama-tama selesainya jalan Tol Jakarta-Padalarang dan sekalian nyobain Jazz. 

Tak lama perjalanan yang kami tempuh, 2 jam kami sudah merapat ke pintu tol pasteur. Selanjutnya melintas dibawah flay-over, lampu merah kedua belok ke kiri menuju Paris Van Java. Hujan rintik-rintik menambah suasana, Bandung banget.  Semula kami hanya ingin main ke Bandung saja, maklumlah kami orang Pondok Gede dan tidak mengikuti perkembangan kota Bandung, lagian buat apa.  Nah giliran butuh terpaksa tanya sana-tanya sini, barulah keluar pilihan Paris Van Java.  Padahal kami sudah sampai didepan pusat belanja yang dimaksud disebelah kiri jalan, malah aku ambil kanan, kupikir kok macet sekali didepan, eh ternyata antrian karena masuk parkiran.  Karena sudah lewat aku membuka kaca dan bertanya dan dijawab pak satpam untuk lewat jalan belakang saja, mengikuti beberapa mobil didepan.  Akhirnya selamat juga masuk ke dalam pusat belanja ini.

Dari tempat parkir terbaca jelas Biltz Megaplex, yang juga termasuk raksasa perbioskopan di beberapa kota besar di Indonesia.  Istriku memilih I Am Legend di Audi (ruang tonton)  1 yang akan tayang jam 00.05 WIBdg.  Sedikit mengenai film I Am Legend ini Luar biasa,  kupikir patut ditonton betapa tidak, selain nama bintang besar Will Smith diipertaruhkan, film ini juga bercerita tentang habisnya koloni manusia karena virus yang menyerang lewat udara. Hal ini disebabkan oleh penemuan yang kebablasan dari pakar kekebalan tubuh.  Manusia yang tersisa hanyalah mutan yang sakit karena terserang virus dan Will Smith seorang dokter militer sebagai legend yang hidup bersama anjingnya Sam, bertahun tahun berusaha mencari penangkal dari Virus ganas tersebut. 

Ditengah keputus-asaanya karena anjing yang telah menemaninya bertahun-tahun itu harus mati karena terserang virus yang mematikan itu juga, dia dipertemukan dengan 2 orang yang juga ternyata kebal terhadap virus tersebut.  Tapi sayangnya persembunyian mereka dicium oleh Mutan yang mematikan ini.  Dan ketika dia berhasil menemukan obat penangkal virus ini beberapa menit kemudian dia harus mati karena pilihan yang harus dijalani untuk tetap mempertahankan koloni manusia yang masih hidup lainnya.  Oleh sebab itu dia disebut The Legend.  Lebih lengkapnya harus nonton sendiri, sayangnya Audi 1nya panas. Tidak seperti bioskop-bioskop papan atas lainnya. Sedikit mengganggu kupikir.

Sewaktu menunggu film diputar ini kami sempatkan makan dulu dan aku berkeliling mencari anjungan tunai mandiri.  Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIBdg, aku lewati lantai bawah ada sekelompok muda-mudi yang memegang  Beer disisi kiri dan kanan dari etalase toko, 10 meter dari mereka kudengar dentuman musik, rupanya ada café didalam, tak bisa kubaca apa judul café itu tapi menarik sekali kelihatannya.  Sehingga mengundang sekian banyak muda-mudi untuk teler bersama.

Kasihan sekali aku jadinya, inikah yang dibilang gaya hidup, sampai dengan bebasnya orang yang lewat bisa menyaksikan warna celana dalam yang dipakai pemudi yang sedang mabuk karena ngongkong tak sadarkan diri.  Atau inikah yang dinamakan pergaulan hidup karena berciuman dipojok–pojok toko yang sudah tutup.  Atau juga ini juga  dari tujuan hidup mereka yang muntah jackpot di sudut-sudut toko. Sementara sebagian dari pekerja keras di Paris Van Java ini sedang mengelap barang dagangan, merapikan lipatan baju yang dibongkar-bongkar pembeli.

Tapi keberadaan mereka dilindungi, terlihat dibeberapa pojok beberapa sekuriti sedang ikut bergabung dan berbicara dengan mereka.  Akupun berlalu sambil bergumam sayang dan kasihan sekali, mereka sepertinya dibesarkan dari keluarga berada, terlihat dari pakaiannya, ikutan model-model bajunya.  Baru sadar aku ketika melihat keatas terpampang tulisan besar yang dirangkai dari neon berwarna-warni PARIS VAN JAVA tulisannya, begitu sepertinya kota paris yang sesungguhnya ha ha ha …  

 


Responses

  1. Jadi warne ape CD nye Dek……….he……..he
    bandong gitu loh.

  2. Putih … trus ade yang crem ha ha kok jadi banyak

  3. Eemmmhhh.. Paris Van Java!

  4. ahemmmm

    paris vanjava ni pengen donk kesana aku pengen liat bagaimana paris vanjava itu

    hehehehehehe……….?????????
    coi y


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: