Oleh: adek | November 29, 2007

Kemanakah Dana Abadi buat Masyarakat Belitong

Sekadar opini :

“Tidak ada sesuatu yang abadi, kecuali Tuhan”

Billiton Maatschappy ( BM ) rupanya punya pemikiran lain. Mereka secara tidak sengaja seperti ber-eksperimen menguji kebenaran petuah lama itu dengan menerbitkan Dana Abadi. Sungguhpun demikian, tujuan mereka adalah sangat mulia, yaitu untuk kesejahteraan rakyat Belitong di bidang pendidikan dan kesehatan.

Sayangnya yang ingin diabadikan adalah dana. Benda yang punya kharisma dan sensitifitas tinggi bagi hasrat manusiawi selain mengundang keingintahuan dan ironinya pula benda ini paling berpotensi untuk ‘tidak abadi’.

Mengingat setelah 75 tahun beroperasi, baru kemudian dana konpensasi itu terbit, BM sepertinya ‘terlambat’ untuk mewujudkan niat mulia itu kepada rakyat. 75 tahun bukan waktu yang singkat bagi mereka untuk menatap biji timah dan menghitung untung.

Rakyat yang setiap hari hilir mudik keluar masuk areal tambang, baik di lubang-lubang atau di parit-parit tidak terlalu pusing mempersoalkan hal ihwal analisa dampak lingkungan waktu itu. Yang penting dapur ngebul.
Termasuk hal ihwal Dana Abadi. Dari sekian banyak interaksi penduduk Belitong di warung-warung kopi, kami mencatat belum pernah secuilpun mendengar istilah Dana Abadi. Padahal tahun ini–2007–Dana Abadi itu sudah berulang tahun yang ke 80. Jauh lebih tua dari republik ini.

Mungkinkah perihal Dana Abadi ini tadinya hanya merupakan ‘konsumsi’ diskusi kalangan tingkat atas ? Mengapa baru sekarang riwayat Dana Abadi itu baru bergema ? Mengapa justru setelah dana itu sudah berjalan tak tentu rimba baru mulai di cari jejaknya ?

Dilain sisi, kita tahu sejak dulu, kearifan lokal memang sangat dibenci oleh penjajah negeri ini. Petuah, pepatah, ure-ure mereka hantam dengan logika sederhana yang memang sulit untuk bisa diurai dan dijabarkan dengan pola pemikiran secara instinctive naturalism para dukun dan tetua adat.

Namun belakangan, jauh sekali kebelakang, kita seakan baru tersadar dengan kearifan dalam keluguan. Kebenaran tersembunyi orang2 bijak jaman dahulu pelan-pelan seakan mulai ‘mengancam’ serta menunjukkan kesalahan demi kesalahan masa lalu yang diperindah oleh orang-orang ‘terdidik’.

Yang bisa kita lakukan mungkin hanya berusaha untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Hal-hal ‘kecil’ namun sangat bernilai seperti dilakukan oleh Bang Zenai. Luka di atas bumi Belitong mungkin tak mudah untuk segera kita tutupi namun mahluk hidup yang tumbuh dengan cemas diatasnya sekuat tenaga harus kita lindungi dari kepunahan.

Memang sulit merangkai hasrat, karena masing-masing berjalan dan berpijak atas keinginan yang kadang saling bertolak belakang. Mereka yang ahli mengupas tuntas kerak bumi demi mencari alur timah yang luput dari perhatian orang-orang terdahulu, mungkin sadar apa yang telah mereka perbuat. Namun kesadaran mereka sering kalah oleh tuntutan hidup. Kearifan yang kita bisa usahakan, mungkin kearifan untuk mengerti dan mencoba menghubungkan apa yang kita lihat dengan apa yang kita rasakan.

Kearifan untuk menyelamatkan tanah, hutan wilayah dan ulayah menurut hemat saya segera menyarankan kepada mereka agar segera membuat sertifikat tanah. Bantu mereka mengenal dan memanfaatkan ‘bargaining power’ dengan cara-cara yang intelek, legal dan elegan. Kerena hal inilah yang dari dahulu sangat ditakuti bangsa penjajah terhadap bangsa kita. Yaitu bangsa kita mampu berjuang dengan cara yang intelek, legal dan elegan.

Saya yakin, bila masyarakat kita mampu memperjuangkan haknya dengan cara-cara seperti itu pihak manapun yang ‘mengintai’ selamanya hanya bisa mengintai dan berpikir keras untuk bertindak.
Kecuali bila masyarakat sendiri yang menjual tanah milik mereka atau ada pihak lain ‘membantu’ menjualkan dengan izin dan kuasa mereka.

Salam

Yudha

—– Original Message —-
From: Kiagus <arizal@indosiar. com>
To: BelitungIsland@ yahoogroups. com
Sent: Wednesday, November 28, 2007 12:47:39 PM
Subject: [Belitung] Kemana kah Dana Abadi buat Masyarakat Belitong

Tanah Hutan Bangka Belitung

Potongan artikel http://www.begalor. com

Apa yang terjadi saat ini ketika setiap orang telah berhak mengatasanamakan berbagai kepentingan untuk menguasai tanah wilayah. Sejarah mencatat, kepentingan menguasai tanah secara brutal sudah berawal ketika penambangan timah mengekploitasi hutan-hutan produksi, sejak zaman pendudukan Belanda, hingga zaman kini, tanah-tanah hutan tergerus tanpa ada hutan pengganti yang seimbang secara biologis yaitu kembalinya ekosistem yang mendekati sediakala.

Pada masa penambangan timah oleh Belanda upaya penyelamatan tanah-tanah adat oleh pemangku adat yaitu para dukun di Belitung nampak juga kurang begitu efektif meski banyak daerah yang dalam istilah mistis para masyarakat pemukim tradisional dengan sebutan Pengkopongan bijih timah, artinya wilayah itu sengaja dikosongakan bijih timahnya secara mistis oleh para dukun agar wilayah itu terselamatkan.

Upaya para dukun tak efektif karena pada masa itu, Depati Belitong sudah dapat diajak kerjasama oleh Belanda dengan diberikannya penguasaan saham dari beberapa parit timah, diantaranya Parit Timah Bengkuang di distrik Manggar dan beberapa parit lainnya. Meskipun begitu pada tahun 1927, setelah 75 tahun badan usaha penambangan timah Belanda, Billiton Maatschappy memberikan konvensasi kepada rakyat Belitung dengan menerbitkan Dana Abadi untuk Kesejahteraan Rakyat Belitung di bidang pendidikan dan kesehatan yang di sebut dengan Dana Bevolkingfonds dana itu berjumlah f. 750.000,- Dana itu hingga kini tak ketahuan rimbanya. Bagaimana di bangka Seperti halnya Belitung, Bangka pun mengalami nasib yang sama tantang sejarah tanah oleh penambangan timah tersebut.

Saat ini persoalan yang sering muncul adalah konflik sosial yaitu berbenturannya masyarakat pemukiman tanah ulayah atau tanah wilayah dengan para pengusaha yang menguasai hutan wilayah mereka, seperti perusahaan perkebunan kelapa sawit; rakyat sudah merasa memilki tanah ulayah atau wilayah itu sejak turun temurun sebagai sumber hidup mereka, sementara pihak perusahaan yang mengatasnamakan kepentingan yang lebih luas juga merasa berhak atas tanah tersebut

Kearifan yang bagaimakah mesti diterapkan untuk menyelamatkan tanah hutan wilayah atau tanah ulayah, sementara kepentingan banyak pihak yang tak berpihak kepada masyarakat setempat terus mengintai


Responses

  1. salut aku kan tulisan bang yuda ,kadang kite ne ndak sadar mun kite urang be-
    litong la diadu same kite ,untuk urang luar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: