Oleh: adek | November 27, 2007

Kerusakan Lingkungan Belitung: Kita Memang Nggak Pernah Bersiap

Oleh BULE SAHIB

5331654924_0662616579_o.jpgKepedulian kite dengan masa depan Belitong, tentu keprihatinan kite semue. Persoalan kerusakan lingkungan di Belitong pun bukan persoalan baru, malah sangat lama, mungkin sudah lebih setengah abad.

Pertama, bekas galian timah, yang reklamasinya baru terprogram dan terkontrol setelah PT Timah melakukan efisiensi (dengan PHK massal tentu). Artinye, fokus ke masalah lingkungan oleh perusahaan yang menaungi periok lebih separuh penduduk Belitong, baru terjadi pada awal tahun 90-an. Ini sangat memprihatinkan.

Masalah penambangan kaolin pun, yang telah membuat sebagian sungai di Belitong jadi kepo, pun gak pernah ditengok. Yang kite tahu, oooo sungai aik rayak la kepo, artinye di bagian hulu ade pabrik kaolin.

Sekarang kite semue juga tahu, kalok liwat jeramba lalu ngeliat aik sungai dan bekomentar, “mak ai la makin itam aik sungai kite ne.”

Kite semue tahu itu, keluarge yang di Belitong, anggota dewan, bupati dan para pembantunye, bahkan kite pun kalok balik lebaran ke belitong selalu melihat itu, kemudian marah-marah sendiri.

Perenggu semue, di era sekarang ini kesadaran akan makna pentingnya lingkungan bagi kehidupan, memang baru pada tataran menengah, menengah dan atas –kelompok ini bukan merupakan gabungan dari banyak variabel yakni pendidikan, ekonomi, komunikasi– , lingkaran grass root malah tak tahu persoalan lingkungan. Kepekaan atas kondisi lingkungan akhir-akhir ini adalah hasil interaksi kelompok masyarakat di atas dengan dunia luar, hasil dari membaca, mendengar, membandingkan dan melihat. Hingga mudah untuk memahami persoalan, lalu menjustifikasi bahwa lingkungan sudah parah dan mengancam masa depan.

Nah, sebagian besar perenggu kite di Belitong –yang maaf adalah berada di tingkat grass roots, hanya melihat saja. Tidak tahu akan ancaman ke depan karena tidak mampu membandingkan. Hal ini erat kaitannya dengan kondisi ekonomi, pendidikan malah komunikasi terbatas. Kondisi ini tentu berbeda dengan –misal Bung Awaluddin yang bisa lihat internet tiap hari tanpa terlalu banyak perlu memikirkan urusan perut terlalu serius, karena sudah terpenuhi.

Yang jadi masalah justru adalah kita yang tahu informasi. Bung-bung semue, dengan begitu banyak informasi yang kita terima selama ini, justru secara tak sadar kita sudah berhasil dicekoki oleh penguasa dunia saat ini yang notabene adalah negara G-7, dengan panglima Paman Sam tentu. Mereka juga secara konsisten menyisipkan isu tersebut dalam MDG’s (Millenium Development Goals).

Akhir-akhir ini yang paling ramai adalah pemanasan global. Semua media menulis dan mempublikasikan persoalan pemanasan global. Patut kita semua ketahui, di tangan G-7 lah yang hanya terkonsentrasi 20% penduduk dunia menguasai 80% penduduk dunia belahan lainnya.

Berikut ada bahan sikit mengenai hal tersebut:

Dunia 2080

31062989227_039cf4c6cf.jpgPada akhir 1995, di Hotel Fairmont, San Fransisco, dalam satu diskusi 500 politisi dunia terpandang, para pengusaha terkemuka di dunia (Ted Turner –pemilik CNN, Washington SyCip -pengusaha terpandang di Asia Tenggara dll, serta pemikir termasyhur di dunia berkumpul dan mendiskusikan “Orientasi Pemikiran Global Baru”.

Dipicu oleh John Gage, yang mempropose “hubungan teknologi dan pekerja global ekonomi dunia”, hingga muncul pemikiran penyederhanaan masa depan oleh orang-orang pragmatis di Fairmont, dengan kata kunci “20:80” dan “tittytaintment” . Hingga muncul pula pemikiran Wahintong SyCip bahwa, 20 persen dari penduduk akan mencukupi untuk mempertahankan perekonomian dunia. “Lebih banyak tenaga manusia tidak akan dibutuhkan lagi,” ugkap Washington.

Seperlima dari seluruh pencari kerja sudah cukup untuk memproduksi seluruh barang dagangan yang dibutuhkan dan memberikan pelayanan jasa bernilai tinggi yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Hanya 20 persen orang inilah, di negeri mana pun, akan secara aktif berpartisipasi dalam kehidupan, pendapatan dan konsumsi.

Lalu akankah 80 persen orang yang bersedia bekerja dibiarkan tanpa pekerjaan? Menjawab pertanyaan tersebut seorang penulis Jeremy Diskin dalam salah satu karyanya Das Ende der Arbeit (Tamatnya pekerjaan) menyatakan, “mereka yang masuk 80 persen ini akan mendapatkan masalah-masalah sangat besar”. Masalahnya di masa depan adalah ‘to have lunch or be lunch’, memakan atau jadi makanan. Dari diskusi ini menggambarkan bahwa pengangguran akan menjadi masalah besar di masa depan.

Sedang masalah “tittytaintment” , menurut H Z Brzzinski, seorang kelahiran Polandia yang selama empat tahun menjadi penasehat keamanan dalam negeri Presiden AS Jimmy Carter, sebagai campuran antara hiburan, riuh rendah dan sandang pangannya tercukupi, sehingga membuat seluruh penduduk dunia yang frustasi dapat dikontrol
perasaannya agar tidak meledak.

Sepanjang tiga hari diskusi para manajer top dunia itu membahas bagaimana seperlima masyarakat dunia yang makmur dapat mengendalikan sisa masyarakat dunia lainnya. Sebab tekanan persaingan global yang sedemikia rupa sehingga mereka menganggap tidak masuk akal mengharapkan suatu komitmen sosial dari bisnis-bisnis perseorangan.
Hingga seseorang lain harus mengurus masalah pengangguran.

Pada intinya mereka selama tiga hari berdiskusi mulai mengkhawatirkan datangnya sebuah masyarakat “dua pertiga” yang tidak lagi melukiskan bagaimana kesejahteraan dan posisi sosial akan dibagi-bagikan. Model dunia (baru) di masa akan datang adalah sebuah dunia 20:80, sebuah masyarakat dengan yang seperlima akan tertarik ke atas, dan mereka yang tidak mendapat tempat harus dijinakkan dengan “tittytaintment” .

Salah satu dampak paling kuat globalisasi adalah munculnya trend pembangunan kota-kota dunia dengan teknologi tinggi. Padahal pembangunan ini akhirnya hanya akan menambah jumlah ‘pulau-pulau kemewahan’ yang tersisolasi. Dunia pada akhirnya akan menghasilkan ketegangan-ketegang an yang diakibatkan oleh semakin lebarnya jurang pemisah antara yang kaya dan miskin. Kota-kota yang megah tersebut berubah menjadi kota-kota kusam, dimana ketimpangan antara si kaya dan si miskin yang tinggal di berbagai daerah kumuh perkotaan sangat besar, dimana miliaran penduduknya hidup miskin sekali.

Seiring dengan itu kekuasaan penguasa perdagangan dunia pun makin menjadi-jadi. Pada 1996, seluruh kekayaan dari 358 miliarder di dunia jumlahnya sama banyaknya dengan kekayaan 2,5 miliar penduduk bumi lainnya. Bantuan negara-negara industri ke negara dunia ketiga pun makin berkurang. Jerman, misalnya, pada 1994 mereka masih membantu 0,34% dari seluruh ekonominya. Namun, pada 1995, jumlahnya tinggal 0,31%, atau berkurang sekitar 10 persen. Namun jumlah hutang negara-negara berkembang malah meningkat hingga 1,94 miliar USD pada 1996 dan itu bertambah hampir dua kali lipat dari sepuluh tahun sebelumnya.

Perhatian dunia kepada masalah-masalah sosial di dunia pun berkurang. Kota-kota di antara Sierra Leone da Kamerun, misalnya, menjadi kota paling berbahaya di dunia pada malam hari. Di Ibukota Pantai Gading sepuluh persen dari penduduknya menderita HIV/AIDS positif.

Manakala 95 persen peningkatan penduduk dunia terkonsentrasi di daerah-daerah paling miskin, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah terjadi perang baru, tetapi perang melawan siapa? Di jazirah Arab, misalnya, pada 1995, sebanyak 17 dari 22 negara di jazirah itu melaporkan telah terjadi kemerosotan ekonomi, padahal dalam dua dasawarsa kemudian kemungkinan jumlah penduduknya akan berlipat dua.
Sementara di beberapa wilayah banyak yang kekurangan air, seperti di Asia Tengah, Mesir dan Ethiopia.

Jika di Fairmont Hotel, San Fransisco, para elit dunia menghitung akan terbentuknya masyarakat 20:80 di negara-negara yang kini makmur. Namun kenyataan bahwa, kekuatan yang dilepaskan globalisasi akan semakin jelas dan tegas. Seperlima negara-negara terkaya menguasai 84,7 persen dari gabungan GNP dunia; warganya menguasai 84,2 persen dari seluruh perdagangan dunia dan menguasai/memiliki 85,5 persen dari seluruh tabunga-tabungan uang dalam negeri. Sejak 1960 jurang antara yang paling kaya dan yang paling miskin dari seperlima bangsa di dunia telah menjadi dua kali lipat – yang sejatinya adalah menunjukkan sekaligus menegaskan kebangkrutan janji keadilan/kejujuran dalam bantuan pembangunan ekonomi.

Dewasa ini perhatian mengenai masalah lingkungan hidup telah menjadi lebih penting dibanding lowongan pekerjaan dan masalah sosial lainnya. Namun pola eksploitasi sumberdaya alam global sejak konferensi PBB tentang lingkungan dan pembangunan di Rio de Jenairo pada 1992 tidak mengalami sedikit pun perubahan. Sebanyak 20 persen negara-negara yang paling kaya mengonsumsi 85 persen dari seluruh kayu dunia, 75 persen logam dan 70 persen dari energi dunia.

Di Rio de Jenairo di hadapan PBB semua negara industri sepakat untuk mengurangi beban gas buang (emisi) pada bumi. Namun, janji-jani itu tak ada artinya, sebab kebutuhan energi dunia pada 2020 akan bertambah dua kali lipat. Emisi gas-gas rumah kaca akan bertambah 45 sampai 90 persen. Saat ini penduduk Uni Eropa menghabiskan 1,5 persen dari GNP-nya dalam kemacetan lalu lintas. Sementara di Bangkok mencapai 2,1 persen.

Sementara itu industrialisasi di negara-negara berkembang sedang bergerak maju dengan ketidaktahuannya tentang ekologi yang sangat mencemaskan. Kota-kota Cina memuntahkan awan beracun yang luar biasa besarnya membentang lebih dari seribu mil di atas Pasifik. Di dekat Chengdu, asap hitam-putih yang tanpa tersaring mengalir sepuluhan mil dari ribuan tempat pembakaran kapur dan pabrik batu bata. Lebih buruk lagi di Lembah Kathmandu, Nepal yang sangat tersohor keburukannya udaranya mempengaruhi selaput lendir yang hanya terjadi di kota-kota besar.

Akibat keseragaman yang dipaksakan dan “dipadatkan” , kapan saja bisa disaksikan di layar kaca. Hampir setiap waktu gambar-gambar standar hidup negara-negara pusat industri utama dunia, kaum muda yang lapar akan kehidupan membelakangi negeri mereka sendiri –yang tidak mempunyai apapun untuk ditawarkan kecuali kemiskinan– dan bersiap-siap berangkat ke tanah yang dijanjikan.

Orang-orang dari kondisi yang lebih buruk berduyun-duyun menyeberangi Rio Grande masuk ke Amerika Serikat yang sudah penuh sesak. Atau menyeberangi Mediterania memasuki Eropa yang dilanda kiris lowongan kerja. Sudah pada tahun 1970-an sebanyak 20 persen dari Algeria tenaga kerja telah berimigrasi, dan bersama dengan 12 persen orang Maroko dan 10 persen orang-orang Tunisia telah mencapai usia kerja.

Evakuasi, perampingan pemutusan hubungan kerja, ekonomi dengan kemampuan tinggi dan teknologi menggerus habis lapangan pekerjaan masyarakat. Hanya dalam tiga tahun (1991-1994) lebih dari satu juta lapangan kerja di Jerman lenyap di dalam industri Jeman Barat. Di negara-negara lain yang tergabung dalam OECD (satu organisasi beranggotakan 23 negara industri kaya ditambah lima negara tetangga lebih miskin), jumlah lapangan kerja yang beruah lebih baik berkurang jauh lebih cepat. Pada 1996 lebih dari 40 juta orang di negeri OECD gagal mendapatkan pekerjaan. Kesejahteraan massa dengan cepat menghilang dalam negara-negara yang paling terkemuka dalam perekonomian dunia.

Setelah mempelajari penilaian yang dilakukan OECD, Bank Dunia dan lembaga Global Mc Kinsey maupun sejumlah besar laporan sektor perdagangan perusahaan, berkesimpulan bahwa 15 juta pekerja krah putih dan krah biru di Uni Eropa akan terus mencemaskan pekerjaan penuh waktu mereka dalam tahun-tahun mendatang.

Angka tersebut hampir sama dengan pengangguran tercatat di Jerman pada 1996. Di Jerman saja lebih dari 4 juta tempat kerja berada dalam keadaan gawat. Jumlah pengangguran dapat berlipat dua dari 9,7 persen menjadi 21 persen atau dari 7,3 persen menjadi 18 persen di Austria.
Diperkirakan akan banyak pekerjaan yang aman akan hilang karena digantikan oleh pekerjaan paruh waktu, pekerjaan sementara menurut panggilan dan berbagai bentuk pekerjaan berupah rendah. Betapapun penghasilan dipindah-pindahkan dari satu pekerjaan paruh waktu lainnya, akan jauh lebih rendah daripada yang diterima dalam sistem tawar menawar kolektif seperti sekarang. Masyarakat 20:80 semakin mendekati.

Oke perenggu, dengan hegemoni negara-negara adi kuasa di dunia, rasanya isu lingkungan yang didengungkan sekarang ini adalah kecemasan dari mereka bukan kita. Misalkan terjadi pemanasan global, yang pertama kali mengalami kerugian sangat besar adalah mereka semua. Sementara kita mungkin tidak.

Lalu apa artinya semua ini? Kita semua mungkin secara tidak langsung telah berhasil dibodohi oleh mereka. Lalu ikut pula berteriak nyaring tentang lingkungan. Padahal tindakan kita justru melindungi kepentingan mereka –secara ekonomi. Itulah namanya kejahatan dunia.

Untuk kite urang Belitong, tentu banyak yang bisa dan harus dilakukan. Tapi kesadaran untuk memperbaiki lingkungan bukan karena latah, tapi karena memang kita penting. Bertindak bukan karena latah apalagi dibodohi, tentu akan lebih bijak dan lapang menjalankannya.

Salam.


Responses

  1. per 18 Maret 2008
    tew … tew .. tulisan ini paling banyak di lirik pengunjung bravooooo…

  2. maju trus bro….

    laskar pelangi dari belitong, bukan hanya asuhan bu Mus…

    biarlah Laskar Pelangi jadi inspirator untuk semua anak negeri tentang pentingnya pendidikan..

    say not for “GLOBAL WARMING”

    wass.
    aBHe (from Bugis Land)

  3. laskar pelangi adalah hasil karya anak bangsa yang menunjukan betapa mISKIN DAN BOBROKNYA sistem pendidikan kita .INDONESIA .Semangat bangsa yang ada ga akan ada jika kebijakan pemerintah cuma sebatas angan

  4. per 25 Oktober 2008 sudah 1064 pengunjung membaca tulisan ini wew……

  5. salam kenal bang.. kamek agik gaok kan belitong.. nyasar ke blog ikam.. setelah jalan2 di belantara maya

  6. yuk mari… salam kenal jua, mikak de belitong sebelah mane ?

  7. benar bang, yang pasti urang belitong harus kompak utuk memajukan belitong tercinte ini…

  8. sayang… ubah mental dulu, apa urusan perut dulu?

  9. Dek, kamu memang sang penulis sejati…
    Ciamikkkk puoooolllll.. Salut buat kamu dek….

  10. kreeeennnn

  11. liat kesenian asli belitung dong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: