Oleh: adek | November 2, 2007

Sajak Orang Kepanasan

rendra2.gif 

Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan dan ruangmu berlebihan maka kita bukan sekutu
Karena kami kucel dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu maka kami mencurigaimu

Karena kami terlantar di jalan dan kamu memiliki semua keteduhan …
Karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar … maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam dan kamu nerocos bicara …
Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan … maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana …
Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senapan …
Karena kami harus sopan dan kamu punya senjata … maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu.

oleh WS Rendra (dibacakan pada 15 Mei 1998 didepan pimpinan DPR)


Responses

  1. hai dek, lo ngingetin gw akan syair itu. syair yang selalu bikin gw sadar bahwa kita dan mereka memang berbeda…

  2. Begitulah adanya, belum ada perubahan yang menyentuh subtansi atas nama rakyat, namanya saja wakil rakyat …

    Sering main dimari Vic…

  3. prtama dgr puisi ini aku thn 96, gila!!! merinding! tmpak skali triakan jiwa2 muda yg pnh kegelisahan,, semprawut !!! penuh retorika selamat mas.willy,,, smoga Tuhan mmbrikan rahmatNYA slalu.,, ditunggu krya2 brikutnya, slmt mnikmati hari tuamu……..

  4. sajak-sajak buat orang2 yang yang ditindas nasib!!!

    i love rendra

  5. Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir 7 November 1935-2009 meninggal di Depok 6 Agustus , Bogor karena Jantung Koroner

  6. Terlepas dari kekaguman saya pada Rendra dan pesan dari puisi ”Sajak Orang Kepanasan” yang sangat kuat menancap di benak. Ternyata puisi ini juga membuka jalan kembali untuk menjumpai Wiji Thukul. Sajak Orang Kepanasan ini segera mengingatkan saya pada puisi Wiji, Bunga dan Tembok, Sajak Suara dan Peringatan.

    Bila Rendra bilang TIDAK, TIDAK dan TIDAK maka dalam Peringatan Wiji Thukul lantang meneriakkan ’maka hanya satu kata : LAWAN!

    Karena kami dibungkam
    dan kamu nyerocos bicara
    Karena kami diancam
    dan kamu memaksakan kekuasaan
    maka kami bilang TIDAK kepadamu

    Karena kami tidak boleh memilih
    dan kamu bebas berencana
    Karena kami semua bersandal
    dan kamu bebas memakai senapan
    Karena kami harus sopan
    dan kamu punya penjara
    maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

    Maka dalam Peringatan Wiji Thukul menuliskan pula pendasarannya. …

    bila rakyat tak berani mengeluh
    itu artinya sudah gawat
    dan bila omongan penguasa
    tidak boleh dibantah
    kebenaran pasti terancam

    apabila usul ditolak tanpa ditimbang
    suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
    dituduh subversif dan mengganggu keamanan
    maka hanya da satu kata: lawan!

    Dan sebelum sampai kepada klimaksnya TIDAK, TIDAK dan TIDAK Rendra dengan piawai membangun pukulan demi pukulan untuk menguatkan benturan atau kontradiksi antara si tertindas dan penindas atau antara siapa yang berlawan dan siapa musuh yang harus di lawan.

    sumber : http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/dalam-sajak-orang-kepanasan-ws-rendra.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: