Oleh: adek | Oktober 13, 2007

Lebaran ini di KUNINGAN jawabarat

lebaran-782633.jpgAllahhuakbar Allahuakbar Allahuakbar …..Laa ila hailaulahuaula huakbar …. Allahuakbar walilah ilham….

Mesti hatiku menggelegar-dihantam gema takbir.  Hari ini sudah memasuki 1 Syawal 1428 H, di pukul 3 dinihari ketika mata masih merah dan napas belum terkumpul penuh saat kakiku digoyang-goyangkan Sari untuk segera bergegas.  Kami sekeluarga akan bertolak menuju kampung dari istriku, inipun sebenarnya tidak masuk hitungan pada lebaran ini, maklumlah kami sudah harus mempunyai PC baru untuk menggantikan yang lama yang lelet kadang merangkak.  

Rencana semula lebaran tetap berada di Pondok Gede-sampai berubah total pada tawaran mertua untuk konpoi bersama di malam takbiran menuju Susukan-Kuningan-Jawa Barat.  Sebelumnya sudah terbayang dikepala kami berdua akan kesepian yang mengerayangi kami bertiga saat lebaran nanti.  Apalagi Moza yang tipenya tidak mau diam, pastinya akan banyak pertanyaan yang kiranya tidak perlu akan dilontarkan kepada kami.

Bu,  Pilet Kakek khan ada tape,  Tape itu dari Nasi ya, Bu ? Tapi kok warnanya hijau ya … Emang pake Rumput Laut ? Kenapa dibungkus daun sih  ? Oo eM Ji … masuk Ember Hitam ya ?, Kenapa kita tidak ikut nenek saja si Bu ?, Bapak lagi yang punya mani  ya ?”.

Asal bicara saja maklumlah bagi Moza kadang perlu unjuk kosa kata yang banyak didapatkan dari teman sekolah, bahkan dari tv.

Sepanjang jalan hanya sepatah-sepatah yang kuucap, selebihnya memperhatikan spion dan merasakan tak enaknya mengekor kendaraan mertua dari belakang.  Inilah salah satu bentuk ke egoisan nomor 12 dari mertuaku, setelah yang nomor 11-nya memboyong kami dalam rombongan untuk bersama ke tanah Leluhurnya. 

Dari rencana pulang kampung yang diplot sebelum tidur ternyata bisa sesuai dengan aktualnya.  Langsung saja kita melewati keseluruhan jalan yang lengang… sampai pada pukul 06.30 pagi, di Masjid Desa Ciperna -Cirebon kami menghentikan mobil saat Moza bangun dan bersiap untuk Sholat Ied yang diadakan di tengah jalan menuju arah Cirebon. Setelah salam terakhir aku berdoa semoga dalam perjalanan kami ini kami diberikan perlindungan dan bisa selamat sampai pulang kembali ke Pondok Gede dan doa menjadi manusia yang fitri.  Aku menguap lalu kuhabiskan doaku dengan membaca Al Ihklas 3 x. Kami tiba didaerah Susukan kampung mertuaku–di ponselku tertulis Ciawi Gebang,  yang merupakan bagian dari daerah Kuningan dibawah kaki Gunung Ceremai.  Jalannya mulai berkelok ketika posisi setir beralih ke istriku .

Walau suasana rimbun dipenuhi pohon mangga sepanjang jalan masih belum bisa menyejukan hati, walau ditaburi senyum dan tutur santun tetap tak mampu mencairkan kebekuan dalam hatiku.  Padahal kau tau kawan kampung Belitongku disana lebih parah – kerontang dipenuhi Kulong (bekas galian tambang timah dan kaolin). 

Sampai sore ketika tamu mulai berkurang lewat teknologi GPRS kutulis di weblogku ini untuk kukabarkan ke kapada kawan semua bahwa aku kangen berat saat ini dengan kampung ku yang rusak itu … sebaik-baiknya negeri orang masih asikkan kampung sendiri….  


Responses

  1. sumuhuuun,,

  2. kuningan ciawi gunung karung luragung asyik khan ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: