Oleh: adek | Oktober 5, 2007

KULIHAT andrea hirata

Sebelumnya mau minta maaf dulu, dalam penulisan ini nantinya tokoh yang akan digambarkan cukup akan ditulis nama saja, tidak mengunakan embel-embel Bang, seperti layaknya panggilan kepada lelaki yang lebih tua di masyarakat Belitong. Hal ini hanya untuk memudahkan saja bukan tidak supan….

left1.gifSemalam 4 Oktober 2007, pukul 21.00 an, aku dikejutkan dengan ketokan dari kaca jendela, aku udah terlelap sebenarnya, disamping komputer yang On. Rupanya Agus adikku kerumah sekalian mau pamit pulang kampung ke Belitong dan kutitipkan sesuatu untuk orang tua di kampung.
” Bang, … Bang Andrea di Kick Andy – Metro TV”, ketok Agus

Jarang dapat kesempatan seperti ini melihat langsung walau dalam TV-ada hasrat dalam diri ini yang membuatku ingin tahu tentang perawakan pengarang kelahiran pulau Belitong ini, Si Ikal begitulah dia menyebut dirinya. Dan sesuai namanya memang itulah dia. Walau foto kecilnya disampul belakang buku Laskar Pelangi terpampang tapi aku masih penasaran.

Sebelum acara masuknya Andrea, masih sempat ku Re-play beberapa tulisan rekan di Milis Belitong yang mengingatkan kita akan jasa Guru-Gurunya dulu.
Dari awal aku berencana menghitung akan berapa banyak kata Belitung diucapkan dalam acara ini, menurutku ini merupakan media promosi tidak langsung bagi pulau kami yang menyimpan sejuta pesona, selain pasir putih dan jejeran batu indah disepanjang pantai serta juga si sastrawan muda berbakat ini.

Tapi karena kebawa haru … sumpah aku jadi lupa, dari awal aku ikut merasakan seperti hadir dalam ruangan shooting acara ini, betapa tidak sesekali diperlihatkan muka penonton yang dan diantaranya adalah teman main dan perabangan teman-temanku. Suasananya seperti aku kenal. Tidak berlebihan rasanya aku dengan alasan seperti itu.

Walau penekanan hanya pada tokoh penulis buku Laskar Pelangi ini saja dan bukan pada isi buku, tetap membuat aku betah didepan TV. Buku laskar Pelangi bercerita bagaimana seorang guru yang bernama Bu Muslimah yang mati-matian 13 tahun mengajar tanpa digaji, kadang dibayar dengan beras, hasil kebun dan apa saja yang bisa diberikan oleh murid yang hanya berjumlah sepuluh orang.

Tapi niatnya bulat “ingin melihat anak didiknya nanti bisa menjadi orang”. dan ini terbukti oleh Ikal. SD Muhamadyah tempat Bu Mus mengajar sebenarnya secara administrative bisa dibilang sudah tidak terdaftar, hal ini membuat para muridnya setiap ulangan umum selalu dititipkan disekolah lain.

Saat dipertemukan Andrea dengan Bu Mus berkata,
“Aku bukanlah orang yang pintar, hanya seorang guru desa, tidak sekolah tinggi, tapi yang pintar murid-muridku”, Disinilah terlihat kecintaan tiada tara dari seorang guru terhadap muridnya semoga hal ini benar nyata adanya bukan hasil kreatif dari pihak televisi dan acara Kick Andy.

Dengan adanya acara/penampilan Andrea ini bisa mempublikasikan kampung kami kepentas Nasional, tapi pemerintah daerah tak mampu melihat ini sebagai suatu momentum untuk bisa mempromosikan kampung kami lebih jauh. Haru terasa saat Andrea bercerita tentang motivasinya melawan dan mengejar kepintaran Lintang … bagaimana semangatnya belajar-bagaimana jungkirbaliknya dia melawan kerasnya hidup dan menggapai cita-cita… sungguh mengharukan. Betul … ! karena bujang yang menamai dia sendiri dengan Andrea setelah putus asa dengan pencarian nama yang tak kunjung usai.

laskarpelangi.jpgBuku Andrea ini sendiri masih sempat kudapati yang cetakan pertama, konon kabarnya pada hari ke 10 setelah diterbitkan buku yang direncanakan tidak dipublikasikan oleh Andrea ini, sudah cetak berulang- ulang. Aku kira tiada keraguan didalamnya, dari mulai sastrawan muda sampai yang angkatan tua sudah sangat mengakui keindahan-kepolosan-dan kejujuran yang dituliskan Andrea, walau tidak menafikkan adanya bumbu-pendekatan sastra didalamnya tapi ini termasuk suatu karya sastra yang jujur menurutku. Bagiku aku juga bagian yang mengetahui keadaan kampungku, jadi jika Andrea bohong aku juga tahu. 

Walau didalam Laskar Pelangi menurutku Andrea masih terjebak sebagai dirinya yang sekarang tanpa mau menuliskan metamerfosis bagai mana seorang anak kecil si-Ikal mengetahui istilah latin untuk sebutan pohon, atau nama benda-benda dalam bahasa Belanda.  Kayaknya agak mustahil anak seumuran SD bisa seperti itu, walaupun tau mestinya Andrea janganlah lupa menuliskan dari mana ketahuannya itu,  didalam novel-novel besar lainnya termasuk Pramudya pun berlaku demikian, walau Andrea bukan Pram tapi etika novel seperti itu andanya …

Semoga keberadaan Andrea dan tulisannya bisa memotivasi yang lain untuk terus berusaha dan lebih maju….


Responses

  1. Memang rasanya urang melayu sederhana seperti kita, apalagi waktu kecil takkan bisa mengenangkan istilah antediluvium bahkan bahasa belanda, Andrea sepertinya terjebak didalam Andrea dewasa yang sekarang bukan sebagai Ikal.

    Tapi yang pasti Laskar Pelangi benar-benar membuatku rindu menjadi urang Belitong

  2. Bang Andrea di Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, beberapa kali menyebut orang-orang bersarung, suka nonton bioskop (cerita di SP). Apakah yang dimaksud itu adalah orang-orang bugis. Soalnya di LP saya temukan sedikit dialog yang berbahasa bugis. Jika yang dimaksud itu benar orang bugis, kira-kira berapa populasinya di belitong dan sejak kapan mereka berada di sana? Ini penting saya ketahui, karena saya orang bugis yang sedang merantau sebagaimana memang kebiasaan orang bugis pada umumnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: