Oleh: adek | September 23, 2007

Para Pencari Tuhan-sebuah sinetron

rasulullah.jpgMalam itu aku tak bisa menahan luapan air mata, didepan tv yang sedang kutonton, waktu menunjukkan pukul 4 pagi bersamaan dengan makan sahur. Dihari sebelumya aku tertawa lepas diacara yang sama. 

Adalah sebuah seri sinetron ramadhan yang ditayangkan SCTV yang membuat aku berprilaku seperti ini.  Setiap hari selalu ku tunggu jam tayangnya.  Sinetron Para Pencari Tuhan ini mengaburkan anggapanku kenapa kaum hawa begitu mengandrungi opera-opera sabun, ternyata kalau sudah mengena dihati rupanya seperti ini.

Tapi pembelaanku bakalan panjang terhadap sinetron yang diambil gambarnya di daerah Jatiasih-Bekasi, karena seri sinetron ini berbeda sekali, karena betul-betul mengambarkan realita hidup sebenarnya yang ada ditengah masyarakat kita yang sedang sakit.  Episode demi episode menurutku pun jarang di dapatkan di sinetron yang diproduseri punjabi bersaudara, dimana selalu terlihat kehidupan yang wah – gemerlap dengan desain tangga yang besar-besar didalam rumah.

Dalam episode yang membuatku menangis itu, adalah Juki si mantan copet yang insap, telah memulai hidup barunya selepas hukuman penjara bersama dengan 2 orang temannya Chelse dan Barong (diperankan oleh pemenang kompetisi lawak di stasiun TPI tahun 2006).  Para mantan napi ini, (mantan penjual narkoba dan pelaku curanmor)  berguru kepada Ustazd Jaga/Tembak (Dedi Mizwar) disebuah musholah pinggir kota, sedangkan ustazd ini biasanya berprofesi sebagai tukang bunga juga sekaligus tukang jagal kambing dan kerbau. 

Dalam episode ini juga digambarkan bahwa sangat inginnya Juki melihat Ibunya yang sejak lama tidak pernah ditemuinya lagi terlebih setelah masuk penjara.  Sang ibu yang galak-buas sangat menjadi alasan bagi Juki untuk selalu mengurungkan niatnya untuk pulang kerumah dan bersilatuhrahmi. Karena masih takut akan kegalakkan sang ibu, Juki mencari akal bagaimana bisa melihat sang ibu walau dari jauh dengan dibantu kedua temannya ini.

Dibuatlah cerita bahwa Juki sakit keras dan sangat ingin ketemu sang ibu, pada saat dikabarkan kondisi Juki ke si ibu yang tadinya galak tiba-tiba sedih bahkan menangis sejadinya. Sang ibu mengaku memang dia galak, tapi galak yang pura-pura. Sebagai seorang ibu tentunya tak ingin melihat anaknya salah arah. Maka dia memakai cara galak ini.  Tak lain dan tak bukan  Supaya si Juki bisa menjadi anak yang benar dijalan yang diridhoi Tuhan, bisa keluar dari pekerjaan mencopet. Juki yang tadinya sembunyi dibalik tembok memperhatikan dialog sang ibu dengan dua temannya menjadi tak karuan sedihnya, karena tahu bahwa cara ibunya mendidiknyalah yang salah diartikan si Juki.

Pada saat sang ibu memanggil nama Juki, Juki keluar. Dan seketika keadaan menjadi berubah seratus persen yang tadinya sedih karena tahu Juki sakit keras menjadi marah besar karena sang ibu merasa telah dibohongi oleh Juki dan kawan-kawannya ini. 

Nama besar Dedi Mizwar dibalik Sinetron ini patut aku acungkan jempol.  Durasi 1,5 jam sekali tayang untuk sebuah sinetron Indonesia ku pikir adalah prestasi yang luar biasa. Iklannya tidak banyak untuk kelas sinetron yang bisa mengocok-mengocok perut dan pikiran penonton. Jadi ibarat durian montong dari thailand isinya muantap, kadang renyah tak berbiji dan kulitnya tidak meyengsarakan yang beli.  

Dedi lebih mengutamakan isi termasuk pesan moral yang hendak disampaikannya.Kalau kita lihat karya-karya Dedi di sinetron Indonesia seperti Lorong Waktu, Kiamat sudah dekat 1, 2, 3. sangatlah selektif terhadap tema dan pesan moral yang mau disampaikan, pada Non Tema Religius misal filmnya Naga Bonar jadi 2pun kita masih melihat pesan moral sebagai manusia Indonesia yang hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Para Pencari Tuhan sebagai sebuah tontonan unik hadir menurutku pada saat yang tepat, maklum saja, aku lagi bosan lihat aksi-aksi garingnya si Eko Patrio, Parto,Ulfa, 4 Mata Sahur dan sebagainya (-semua tayangan pada saat/jam yang sama-) yang menghadirkan episode – maaf- kurang mendidik/tidak cerdas.

Sekali lagi salut buat stasiun tv-nya juga yang telah berani berputar arah dari mode yang lagi in ke tema yang diusung Dedi (sutradara dan sekaligus producer) dan group lawak BAJAJ (para pemain didalamnya).  Mana lagi sinetron ini dibumbui dengan protes-protes kecil terhadap sang pencipta – kenapa tidak adil – kenapa aku diciptakan miskin – sangat mengena sekali karena sering juga kita merasa demikian.

Regards


Responses

  1. Dek- hari ini aku baru melihat weblogmu- u have the spirit – tulisanmu bagus. keep the faith Bro!!!

  2. thank’s brother’ cuma nyalurkan kalimat-kalimat yang terlintas de kepala ini… tak lebih, dari pada dibiarkan lepas dan menguap begitu saja …

  3. termakasih infonya, sangat bermanfaat , Abla


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: