Oleh: adek | Agustus 2, 2007

Ibu !, izinkan aku jatuh biar aku bisa berdiri …

manjazorecherub.jpgKerabat dekatku bernama Boi, sehat dan belia maklumlah baru berumur 23 tahun. Boi anak ke tiga dari empat bersaudara. Dan anak laki-laki satu satunya.

Sejak kecil apapun yang diminta selalu diberikan karena memang keluarga ini serba berkecukupan. Yang dimintapun akan dibelikan, entah itu hari ini, besok atau lusa yang pasti dalam hitungan hari barang yang disebut bisa tersedia. Apa yang tidak memungkinkan bisa menjadi mungkin bagi Boi.

Selama ini ibu adalah yang paling diingini oleh Boi untuk selalu berada disampingnya, karena lewat ibu setiap harinya Boi meminta. Karena kasih sayang yang berlebihan ini juga membuatnya lemah dan tak mampu diterpa angin.  Karena dibesarkan dengan cara-cara ini akhirnya membuat Boi menjadi rapuh, betapa tidak segala sesuatunya sudah tersedia.

Tentunya sebagai anak laki-laki seharusnya menjadi kuat bak pohon pelindung. Karena sebagai laki-laki harus melindungi kakak dan adik perempuannya, sandaran keluarga dan penopang keluarga nantinya serta yang paling penting menjadi harapan keluarga dimasa depan.

Lewat kasih sayang yang berlebihan tersebut membuatnya takut sendirian dimasa depan, padahal ini bertentangan dengan kemampuan seorang laki-laki yang seharusnya bisa berjalan sendirian didalam gelap, menerobos hutan bahkan menghadapi serangan.

Untuk Boi yang tidak pernah mengerjakan sesuatu sendiri dan dari sejak kecil tidak pernah merasa susahnya hidup.  Bisa dibayangkan mulai dari alat musik listrik, Motor Balap, Camera Digital terbaik dengan lensa panjang, Komputer terbaik, HP Printer canggih serta Handphone bisa didapatkan dengan mudah. Uang tinggal nyomot dari lemari kalo tidak dari dompet Bapak di saku celana yang tergantung dibalik pintu kamar.  Jika Boi membuat kesalahan, tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas karena langsung diselesaikan oleh ibu dan para saudara.  Sehingga rentetan kelemahan inilah yang membuatnya tidak pernah belajar sesuatu dari masalah.

Singkat cerita Boi akhirnya bisa kuliah di Jurusan KV, setelah melewati Ujian Akhir untuk Sekolah Lanjutan Atas dengan diberikan angin oleh sang ibu untuk bisa membeli contekan bersama teman-temannya.  Bertumpuknya masalah-masalah yang kecil inilah yang membuatnya semakin larut dalam ketidak mampuannya tersebut. Dibalik sosok Boi sebenarnya tidaklah bodoh tetapi kemalas-anlah yang membuatnya menjadi begini. Ditahun ke 3 nya, sebagai seaorang mahasiswa Boi harus mencari tempat magang untuk membuat tugas lapangan, sekali lagi Boi masih bisa dibantu dan bisa bernapas lega karena bisa magang keperusahaan yang bersekala nasional tersebut dengan bantuan salah seorang familynya.

Tahun-tahun pertama di masa kuliahnya diisi dengan malas-malasan.  Akhirnya dari habislah masa yang diberikan untuk menyelesaikan bidang studi dan bila  tidak bisa mencapai target maka Lembaga Pendidikan tempat Boi bersekolahpun memberlakukan pemutihan.  Rupanya Boi masih bisa menyelesaikan mata kuliah walau terseok berkat bantuan para kerabatnya yang sangat sayang kepadanya dan tetap harus ditutup dengan membuat Tugas Akhir. Untuk bisa lepas dari lembaga pendidikan tersebut Boi pun harus menyusun tugas akhir.  Karena ditambah desakan waktu pemutihan maka untuk meghadapi hal ini Boi mulai merubah cara pandang dan cara menyelesaikan sesuatu.

Boi seperti me-restart mainset berpikirnya.  Karena ini saat dia harus mempertanggungjawabkan sendiri nantinya tanpa bantuan siapapun didepan dosen ahli dan penguji.  Terhadap perubahan yang terjadi begitu cepat pada dirinya membuat kakak-adiknya tidak percaya.  Walau kadang seperti terlihat tarik ulur dengan waktu yang tersedia.  Dengan modal perubahan 180 derajat yang serta merta tersebut, maka untuk tugas akhir ini Boi masih meminta kamera digital Nikon DLSR dengan lensa Nikor panjang.  Dengan sedikit saja perubahan prilaku terhadap permintaan kamera ini dengan senang hati dituruti pada saat itu juga.  Maka bersama sang ibu, Boi dibelikan kamera sesuai permintaannya. Waktu yang ditentukan sudah semakin dekat dan mulai memasuki Pra Sidang. 

Boi terlihat mulai sibuk, semua kakaknya juga disibukkan juga.  Tapi Boi sebetulnya belum benar-benar tulus atas perubahan itu.  Kamera yang dijanjikannya untuk bisa menunjang tugas akhir juga tidak sepenuhnya dipergunakan.  Seorang kakak mengetahui jelas bahwa adiknya ini terlalu banyak trik tapi tidak bisa berbuat banyak karena oleh sang ibu, si kakak dibuat diam dan akhirnya cuma bisa gigit jari.  Semua cerita lemahnya si Boi ini seperti ditutupi.  Bapaknya saja tidak mengetahui kondisi Boi yang sebenarnya karena kebetulan bapaknya Boi bekerja diluar kota.  Dengan jelas bisa dilihat bahwa peran kerabat dekat Boi sangat banyak dalam penyelesaian Tugas Akhir ini tetapi dimata sang bapak bahwa Boilah yang melakukannya.  Semua bahan Pra Sidang sudah dipersiapkan, berupa poster-poster besar, alat-alat promosi dan makalah yang dikerjakan kakaknya.

Malangnya ketika pulang dari Pra Sidang, Si Boi malah mengunci kamar, tidak mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.  Ibunya menelpon kakak-kakaknya untuk ikut membantu tapi Boi malah memilih diam sehingga tenaga yang ditawarkan menjadi percuma.  Kerabat dekat Boi yang kuliah ditempat yang sama sebenarnya mengetahui bahwa Boi sebenarnya melakukan pencontekkan terhadap makalah seniornya.  Sehingga ketika ditanyakan tentang karyanya tersebut Boi tergagap dan buyar konsentrasi.  Ditengah keputus-asaan itu Boi lalu memutuskan untuk minggat dari rumah,  sehingga Ibu dan kakaknya dibuat pusing karenanya.

Karena tidak ada informasi yang bisa diterima dari Boi untuk perbaikan Tugas Akhir tersebut maka sang kakak mencoba menghubungi dosen pembimbing mencari tahu kejadian apa yang menimpa Boi.  Dari dosen pembimbing didapatkan informasi bahwa Boi tidak bisa menyampaikan karyanya di Pra Sidang sehingga perlu ada perbaikan.  Apa mau dikata dalam pikiran Boi kiamat telah menimpanya.

Memang agak aneh, setidaknya ketika kita membuat sesuatu dengan ide sendiri, kita mestinya bisa menjawab apa saja pertanyaan yang berhubungan dengan karya kita tersebut, walaupun sekecil-kecilnya pasti kita tahu.

Ibu dan kakaknya menganggap persoalan yang kecil tersebut dibuat rumit sendiri oleh Boi, lalu diputuskan untuik segera mencari Boi dan menjemputnya pulang kerumah dan dipaksa untuk bisa hadir saja waktu sidang sarjana.  Boi dijemput dari Kampung di Jawa barat oleh kedua orang tuanya sementara kakaknya bertugas memperbaiki Tugas Sarjana Boi.

Akhirnya dengan terpaksa Boi pulang ke Jakarta dan langsung berhadapan dengan Tugas Sarjana yang di koreksi oleh kakak-kakaknya berdasarkan informasi dosen pembimbing. 

Hari itu jam 10 pagi Boi menelpon beberapa temannya yang senasib yang perlu diperbaiki Tugas Sarjananya untuk bersama-sama mendapatkan ACC terakhir.  Betapa paniknya Boi ketika mengetahui bahwa teman-temannya telah pergi duluan.  Boi duduk lama didepan teras, lalu mengambil makalah dan dimasukkan kedalam kaleng minyak dan siap dibakar.  Untuknya Ibu langsung menyadarkan Boi dan bisa menyelamatkan beberapa lembar makalah sidang tersebut.  Boi sempat tenang sebelum kemudian menginjak-injak poster karya tugas akhirnya yang besarnya 80 x 65 cm sebanyak 9 buah, tripleknya hancur.  Boi menangis isak … ” Ibu maafkan aku, ibu telah banyak berkorban untuk ini …. tapi aku tetap tak mampu …”, kemudian Boi dipeluk sang ibu.

Boi diminta mandi supaya tenang…. tapi menjelang magrib Boi kembali gusar dan  membakar seluruh poster yang tadi siang sempat di selamatkan dan makalah yang sudah kucek dan masih sempat disetrika ibu… barulah puas hatinya dilakukannya dengan menangis sejadi-jadinya, dipukulnya poster itu sampai tripleknya kecil kemudian disiram minyak dan dibakar.  Dari jauh ibu menangis sedih-haru-pahit melihatnya.  Tak pernah terbayangkan kejadian ini sebelumnya. 

“Sedari kecil engkau dibesarkan dengan kasih sayangku kenapa jadinya seperti ini apakah yang salah, Nak ..?”

“Ibu… ! izinkan aku jatuh biar aku bisa berdiri …!”

Cibitung ….


Responses

  1. termakasih infonya, sangat bermanfaat , Abdukrahman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: