Oleh: adek | Juli 25, 2007

Puisi Buat Moza …

terpaksa-naik.jpgHelikoptel
Balingnya berputel
Aku anak pintel
Sekolah tidak diantel

Pagi itu tanggal 23 Juli 2007 untuk pertama kali anakku Moza memulai aktivitas sosialnya dengan bersekolah, sebuah kegiatan bersosialisasi terbesar yang tergambar diotak kami sebagai orang tuanya.  Setelah hanya bermain saja dirumah.  Kini waktunya bagi Moza untuk mempunyai banyak teman dari lingkungan lain.

Umurnya belum genap 4 tahun tapi Moza bisa ditempatkan di TK A.  Syarat untuk masuk ke TK A yang pertama adalah haruslah berumur 4 tahun.  Cukup panjang pembicaraan Sari, Ibunya dengan pihak sekolah sehingga memutuskan Moza bisa ditempatkan di TK A.

Moza sedikit pemalu terutama terhadap orang yang baru saja ditemuinya.  Walaupun untuk sekolahnya ini TK.  Asyafi’ iyah sebenarnya sudah akrab sekali dengannya, terutama suasana bermain dan guru-gurunya. Sebulan kadang sekali kami ke tempat sekolah ini sekaligus menjemput keponakan kami Gita, anak kakak ipar ku, sehingga beberapa gurupun sebenarnya sudah mengenal baik si Moza.

Umur Moza dan Gita terpaut 2 tahun, jadi ketika Moza masuk TK dan Gita sudah keburu masuk SD, padahal bagi mereka berdua inilah yang diimpikan sejak lama bersama yaitu bersekolah di satu tempat yang sama.

Pagi ini Moza menangis dipojok kelas dihari pertamanya masuk sekolah, tangannya tak lepas memegang tangan ibunya.  Dia demam panggung rupanya.  Kenapa demikian… masa yang sama hampir terjadi di semua murid yang pagi itu berpakaian batik-merah dengan bawahan-putih.  Betapapun ibu-ibu muda ini berkeringat jagung sambil berdiri disamping anaknya disepanjang waktu jam sekolah tersebut.

Ternyata apa yan g disombongkan atas sang diri sang anak yang sempat terucap waktu sebelum masuk kelas tidak terbukti semua… “ Ooh anak saya orangnya mandiri loh, Jeng !, saya sering tinggal dia dirumah, Ooh anak saya bisa kok bisa duduk rapih bla-bla…!!” dan segala macam ungkapan keberhasilan dalam mendidik anak.  Tetapi hari ini tidak terlihat itu semua, hasilnya keringat jagung bercucuran, karena malu dan tidak terbukti.

Ibu Guru Moza namanya Ibu Erus dan Ibu Dian. Pagi itu terpaksa masing-masing menggendong seorang muridnya yang menangis, saling berlomba sekencang-kencangnya dan saling bersautan tanpa ada pemenang yang pasti.

Walau cuma diisi dengan perkenalan dari masing-masing murid. Hari pertama sekolah jadi sangatlah lama.
Didalam mobil menuju rumah aku berpikir keras, ibunya masih punya waktu sehari saja dari cuti kantor sedangkan aku terlanjur sudah mempersingkat cuti besar dari 6 menjadi 3 hari saja, artinya di hari Kamis nanti aku sudah harus melakukan aktivitas kantor kembali.
Pertanyaan besarnya sekarang bagaimana rencana Moza mandiri ke sekolah ini bisa terlaksana. Itu saja dulu.

Jika gagal ada maka rencana lain yang harus dimunculkan, sedangkan waktu tidak begitu banyak.
Untuk sementara dirumah aku dan Ibunya tidak berani menyinggung masalah sekolah dulu, tapi Moza sepertinya sudah melupakan kejadian sekolah tadi, dengan spidol ditangan dia asik mencoret white board dan kadang bermain lilin warna.

Sehabis Magrib aku mendapatkan ide. Kutulis ulang sebuah puisi anak. Lama pernah kudengar tapi pastinya kapan kudengar pertama kali aku sudah tidak mengingatnya.

Moza, Bapak mau bicara bisa ngak…!” kataku, begitulah kami selalu memperlakukannya seperti orang dewasa. Dengan kondisi aku masih sarungan. Tapi Moza tak bergeming dengan spidol masih ditangan.
“Bapak punya puisi nih “, barulah Moza menoleh dan menghampiri aku
Coba tiruin bapak ya… “, kataku selanjutnya

“Helikopter !” kataku, “Helikoptel”, kata Moza
“Baling-balingya berputer “, kataku . “ Balingnya berputel”, kata Moza
Aku nak pinter..!”, kataku. “ Aku anak pintel “ , kata Moza lagi
“Sekolah tidak dianter…!”, kataku, Moza langsung diam tidak mengikuti kalimat terakhirku.

“Ayo kita ulangi lagi ya, Mos ?”.. Moza hanya cemberut aku menangkap raut muka mungkin mengatakan … yah aku terjebak nih.

Sebelum tidur kuulangi puisi itu, Ibunya menutup puisi dengan menimpali secara halus. “Kamu pasti bisa nak!”, kata ibunya

Keesoknya tanggal 24 Juli 2007, saat turun dari mobil Moza kuingatkan kembali
“ Helikop….”, belum selesai, dia sudah melompat keluar…
“ Jangan lupa puisinya ya !”, kataku.

Pukul 7.15 WIB semua murid berbaris dilapangan didepan kelasnya masing-masing. Didalam bulatan biru yang sudah disiapkan satu persatu untuk mereka berdiri, seorang guru memimpin doa dan memberikan sepatah kata. Moza melangkah pasti ke lingkaran bulat…
“Yes kita berhasil..!”, bisikku kepada Ibunya.

Setelah berbaris semua murid masuk kelas dengan terlebih dulu membuka sepatu. Moza masih menoleh dan mencari-cari kami, Ibunya memberikan kode supaya Moza cepat-cepat masuk kelas, dari jauh dia mengangguk. Tapi settingan mukanya masih kurang bagus saat masuk kedalam kelas tadi..

Rencana keduapun mau dijalankan juga hari ini.
Kami menemui bagian penjemputan murid..
Usai bel pulang kami memperkenalkan Moza dengan Bapak Sopir Jemputannya, dan tak lupa satu persatu teman semobilnya tersebut.
Tapi moza tiba-tiba berbicara..
“Ibu aku ditemani dulu dimobil jemputan ini sampai ibu kelja ya …? kalo cutinya selesai baru Moza berani sendili.”
Ibunya lalu mengangguk “Betul ya ?”. kata Ibunya memastikan .

Hari berikutnya, pagi sekali kami sudah tiba disekolah Moza, finally hari ini Cuma memastikan rencana 1 dan 2 berhasil. Dan secara keseluruhan item keberanian kesekolah berhasil Tapi aku keburu mendapatkan sms dari kantor … kenapa ada masalah kok cutinya panjang…

Aku senyum saja betapa tidak kegiatan anak sekolah Moza ini telah direncanakan jauh-jauh hari bahkan setelah dia lahir, dan begitu juga cuti ini, tentunya sebelum adanya masalah dikantor. Kesal juga jadinya.
Tak lama berselang seorang teman kantor tua-senior menelpon, setengah mencandaiku dalam gurauannya, “ Emang anak siapa itu, pasti tidak jauh-jauh dari orang tuanya dulu “. setelah kusampaikan cerita singkat tentang sekolah pertama anakku ini.

Aku serasa melayang jauh ke masa-masa pertama sekolah Sekolah Dasar, jika aku minta dengan paksa Bapakku bercerita pastilah sama. Kejadiannya aku diantar kesekolah didepan pintu gerbang utama tapi yang kulakukan malah berputar ke belakang melewati kebon-kebon karena malu. Dan itu mengenaskan harus berlangsung sampai kelas 4 SD. Dan itulah aku juga sang pemalu.

Jadi kalo Moza seperti ini karena ……


Responses

  1. […] kisah puisi helicopter Masih ingatkah puisi Helikopter, yang pernah kutulis sebelumnya di puisi buat moza […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: