Oleh: adek | Juli 20, 2007

uhh.. si dia ini menyebalkan sekali

Pagi hari itu 05.45 WIB.  Aku sudah tiba di daerah UKI Bawah dari mikrolet 06 kuturun diperlimaan lampu merah untuk menunggu bus yang akan membawaku ke tempat kerja.

Seperti biasanya aku temui wajah yang sama, seorang polisi bukan polisi lalu lintas.  Karena setahuku polisi lalu lintas itu dilengannya ada warna putihnya, lalu topinya juga putih, ikat pinggangnya putih serta selempang putih, sepatu bot, suara sempritan pluit yang tegas dan selalu senantiasa membuat lalu lintas menjadi lancar. Tapi yang ini beda sekali, serba hitam dan selalu memberikan peluang bus-bus itu untuk mondok diperlimaan yang membuat antrian panjang serta membuat jalanan macet.

Si dia-ini sedemikian rupa telah memberikan izin mondok dengan waktu tertentu kepada bus yang kami naiki untuk berkesempatan meraih sebanyak-banyaknya penumpang/sewa lalu setelah penuh dijalankan kembali olehnya.   Setiap bus yang boleh mondok harus mengikuti tahapan tata krama yaitu sang kenek harus bersalaman dulu dengan si – dia- ini.  Karena prosesi yang terus-terusan seperti inilah yang membuatku hapal mukanya.  Setiap kali mendapati kejadian yang sama dan berulang terus disetiap paginya.  Jadi jangan salahkan memory otakku merekam jelas ketidaksesuaian yang dipertontonkan setiap harinya.

Betapa mengenaskan ditengah mereka-para teman si-dia-ini berjuang membangkitkan imej kelembagaan dan korps, sang si-dia-oknum– ini malah secara vulgar memperlihatkan sisi lain yang menjatuhkan. 

Pagi ini otakku sudah dipenuhi banyak pertanyaan yang membuat aku gemes dan kesal.  Sebenarnya aku selalu pingin tahu siapa nama si – dia-ini.  Sesuai pepatah lama yang menyatakan tak kenal maka tak sayang.

Ada kepuasan tersendiri walau bus yang ku naiki mondoknya agak lama tapi aku bisa  jelas melihat name tag di dadanya, jujur saja sejak pertama ku melihatnya aku langsung penasaran setengah mati dengan namanya tersebut. Sekali lagi hal ini dikarenakan prilakunya itu.  Betapa tidak hampir setiap hari dia “berulah ” membuat mobil yang kami tumpangi selalu telat. 

Aku tidak mengerti kepangkatan yang bisa dilihat dari seragam, bagiku apapun pangkatnya, tapi dengan jelas terlihat dilengannya karena tertulis Polsek Metro Makasar.

Tangannya juga sudah lincah karena mungkin perannya ini dilakoninya terus menerus dan dijiwai dengan betul itu terlihat dari wajahnya yang santai penuh senyum.  Dan ini pula yang membuatnya bisa bertahan lama tanpa beban apapun.  Lapangan juga yang telah mendidik dan membantunya menjadi salah haluan.  Pagi itu karena tanpa apapun yang menghalangi pandanganku terhadap name tagnya, sehingga bisa jelas sebuah nama Pratomo didadanya, umurnya mungkin sekitar 40 tahun (asal tebak aja).

Puas… puas aku mendapatkan moment mengetahui namanya, selama ini baju dinasnya itu selalu ditutupi rompi dan kadang jaket hitam… cuma si dia ini lupa menutup mukanya.

Didalam prosesi mondoknya sebuah bus, ketika salam tempel diterima ditangan tak lama sudah merayap ke kantong celana, begitu cepatnya-dan tentunya dalam hitungan detik pula.  Aku melihat jumlah uang yang diberikan tidaklah banyak dan juga tidak bisa membuat si-dia- ini kaya tapi jika satu kali prosesi saja goceng dikalikan dengan ratusan bus yang dengan senang hati mondok disana sehingga bisa membuat urat dikepala langsung kendor semua.

Perihal prosesi salam tempel dilapangan seperti ini terjadi karena 2 belah pihak yang membutuhkan, kendaraan butuh penumpang/sewa dan si-dia-oknum-ini butuh duit, jadilah persahabatan yang kental dengan mengorbankan emosi setiap orang yang membutuhkan waktu setiap paginya.

Dengan mata ini aku melihat cara-caranya kolusi dijalan diberlakukan, dan nyata betul pagi itu serasa sumpah serapah para penumpang tumpah dilantai, berceceran sampai dinding bus yang membawa mobil kami ke tempat kerja, pikirku semakin besar biaya prosesi -waktu yang diberikan semakin panjang. 

Bagi para penumpang tidak ada yang menunjukan muka senang dengan keadaan ini, bertolak belakang dengan muka si-dia-ini yang tenang-senang saja, penuh senyum bahkan kita dengan leluasa menikmati senyumnya tatkala beberapa detik setelah prosesi-dan perpindahan recehan berlangsung. 

Dalam dinasnya si-dia-ini- sehari-hari selalu membawa senter seperti layaknya polisi LA yang siap menangkap pengemudi mabuk, berjaket parasut hitam disertai priwitan tanpa jelas suaranya.

Agak lama, bus kami pun harus melaju karena prosesi harus segera diakhiri …. prit …. prit (suara pluit campur ludah), memberikan kesempatan kepada kendaraan pribadi lewat dulu lalu dilanjutkan dengan mempersilahkan pak sopir bus untuk berangkat. Dari jauh tangannya melambai-lambai untuk mempersilahkan pemondok berikutnya… uhh ..si-dia- ini- meyebalkan sekali ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: