Oleh: adek | Juli 1, 2007

Selamat Ulang Tahun Tanjung Pandan-ku 1 Juli 2007

 

Ada ceritanya di satu kelompok anak muda di forum belitungisland, sebuah group milis, yang mencoba mencari pembenaran dari berita-berita yang ada.

Cukuplah sulit sekali untuk menemukan satu pembenaran yang mewakili berita yang telah ada. Jika diartikan pada pemaknaan yang sangat dalam, sulit sekali menemukan satu informasi yang ter-cross-check benar dari pihak yang bertanya dan pihak yang ditanyakan. Sampai tulisan ini ditulispun tak satupun ada pembelaan dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah disampaikan.

Awalnya beberapa teman termasuk saya membaca bahwa ada pernyataan dari sang bupati Belitung Barat yang bernama H. Ir Darmansyah yang dipertanyakan oleh masyarakat Sijok tentang kelestarian hutan yang merupakan titipan untuk anak cucu nantinya, pertanyaan ini timbul karena masyarakat menilai izin pemanfaatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit yang dikelola PT AMA ini cacat hukum karena sang izin-izin prinsip seperti HGU dan AMDAL tidak dipunyai oleh PT AMA ini serta izin penggunaan hutan untuk perkebunan dikeluarkan oleh Ishak Zainuddin (Bupati Sebelum) sesudah masa kepemimpinan Ir. Darmansyah ini.

Pertanyaan masyarakat Sijok ini tentang hutan untuk anak cucu langsung dijawab oleh sang bupati dengan kata-kata “Jangan Pikir Anak Cucu”.  Pada saat peristiwa ini terjadi, sang Bupati langsung disambut sumpah serapah oleh masyarakat Sijok yang hadir pada acara temu disebuah tenda tersebut dan kontan masyarakat yang hadirpun bubar.

Perjalanan mencari penjelasan atas perkataan anak cucu ini secara administratif memang terbentur pada jalinan pulau-pulau ini dan bentukan rantai birokrasi yang ada, ditambah dengan kultur bersama hampir luntur karena dapat dikatakan orang Belitong masing-masih hidup dalam rumah budayanya masing-masing sekarang, tanpa saling tahu,

Misalnya berita-berita tentang Jangan pikir anak cucu ini lebih diketahui oleh orang belitung diperantauan lewat internet, dan tidaklah banyak diketahui oleh orang pulau itu sendiri, saya bersyukur bisa mengakses internet ini lalu kemudian tau sejarah beripat dari cerita yang ditulis Perenggu Bule Sahib pada webblog-nya, kemudian bisa melihat gambar bolongnya tanah di Belitong dari mesin pencari yang bernama google dan seperkian detik berita apa saja dapat disebarkan karena memang begitulah mekanisme dari sebuah sistem yang bernama internet ini.

Karena masalah jarak tadi membuat informasi tradisional menjadi sangat lemah ditambah dengan kondisi kepulauan, sehingga informasi jadi tidak berkesampaian,  Dan kalau mau dilihat lebih jauh lagi, para “intelektual belitong” umumnya hanya mengetahui berita sekelilingnya saja, sedangkan kalau untuk berusaha mencari irisan berita yang agak jauh dan walau tetap masih satu pulau sepertinya masih susah dilakukan apalagi yang tak ada hubungan dengan dirinya.

Toh budaya juga telah membentuk mereka secara turun-temurun sekian lama ternyata bisa hidup hanya dengan pucok menggale atau guring ikan seriding !

Ingat idiom Menendak Mikaklah…., bagi saya ini punya arti yang dalam sekali bukan hanya sebagai kata, tapi sudah masuk ke arena budaya, tidak mau tau.  Dua bulan belakangan ini secara khusus, berita-berita yang dilontarkan beberapa teman disini tentang pengaruh perkebunan sawit tidak ditanggapi serius juga oleh pengurus ikatan keluarga pelajar maupun pengurus ikatan keluarga masyarakat belitong yang ada diperantauan yang setidaknya punya informasi yang sama yang juga didapat dari internet atau milis belitungisland.com, berita ini sepertinya tidak cukup baik dikuasai oleh anak-anak muda belitong sendiri. Memikirkan diri sendiri mungkin terasa susah, mungkin di satu sisi mengingatkan bahwa modal untuk mendapatkan informasi ternyata cukup minim.

Karena hampir tidak ada kata yang menjadi tempat sepakatnya sekian banyak masyarakat perantauan.

Kita sudah mengalaminya dimilis belitungisland ini karena masing-masing dari kita sudah menunjukan sikapnya, dan kadang pecahlah suasana santun yang pernah ada.  Terasa sekali kalau kita jarang bertamu dan hidup dalam lingkungan sekarang yang berbeda, terasa semakin jauh.

Masing masing dari kita artinya masih bisa menyebut kata perenggu, sebayak, buto, mikak, lantis, ngerae dan sebutan pendek lainnya. Tapi tidak lebih dari itu, berhentinya cuma sampai pada makian.

Pengalaman tinggal di Jakarta, mengingatkan saya atas kondangan sepupu kemarin, banyak yang datang diantaranya saudara dari Pulau Belitong sana, saya sengaja menghampiri satu-satu orang jauh tersebut, lama memang tak bersua, saya berbicara mulai dari yang ringan sampai masuk ke Isyu panas yang pernah bergulir di milis belitongisland ini, hanya satu-dua orang saja yang pernah mendengar pernyaan Bupati Jangan Pikir Anak Cucu dan yang lain menggelengkan kepala, tak tahu.  Bagian dari keluarka saya ini tidak mengetahui bahwa dibagian dari pulau kita yang bernama Sijok itu sudah sebagian dilalap dan siap-siap bagian lainnya untuk menerima bencana ekosistem karena rusak oleh mahluk yang bernama PT. AMA ini.

Ternyata saya lebih mudah menemukan budaya pencair dengan berbicara kepada anak muda ini dengan lagu pop anak muda yang membuat saya geli untuk membahasnya.  Ternyata budaya pop dimana-mana yang hampir sama, dan dari situlah cerita mengalir, dasar generasi muda Mtv . Semuanya mengekor lagu pop Jakarta. Tidak mampu mencerna informasi yang ada, pantas saja pikir saya, hancur-hancurlah pulau ini, saya sudah sedikit memanas kenapa tidak ada yang perduli.   Setidaknya inilah yang menjadi gambaran Generasi muda kita yang sekarang kerja di Pemerintahan daerah …. so what gitu loxh.

Kenapa ya?Ya, kita masih harus mencari. Atau apa ada yang sudah menemukan?

Tanggal 1 Juli 2007 ini kotaku berulang tahun …Selamat Ulang Tahun Tanjung Pandanku, senang masih bisa melihatmu sementara sang generasi penerusmu yang belum menyadari ancaman kehancuran ini, semoga kita cepat sadar, kalau tidak keburu mati dan tidak bisa berbuat banyak.

Cibitung 1 Juli 2007


Responses

  1. Info sangat menarik, sukses ya mas.. ,

  2. saya suka dan kagum dengan tulisan tulisan anda. selamat dan Salam kenal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: