Oleh: adek | Juni 29, 2007

BELITONG DALAM KESATUAN ADAT YANG OTONOM oleh Ian Sanchin

Assalamualaikum. Wr Wb

153 tahun yang silam, Depati Cakraninggrat Ki Agus Rahad, kembali ke Pangkuan Illahi dengan mewariskan Kota Tanjung Pandan dengan enam distrik di seluruh kawasan Belitong. Dengan makna lain bahwa KA Rahad telah mempersatukan seluruh Belitong tanpa terkecuali termasuk gugusan pulau-pulau yang mengitari kawasan perairan Belitong, itu dilakukan beliau setelah dengan gigih mempertahankan kedaulatan negeri ini dari tangan kaum penjajah yang mencoba merampas hak-hak beliau dan hak-hak anak negeri ini.

Sebelum redupnya pemerintahan Depati Cakraningrat oleh campur tangan Belanda. Negeri ini sudah kokoh terbentuk sejak abad ke 16 tepatnya pada masa Cakraninggrat pertama Yaitu Ki Gegedeh Ya’kob pada tahun 1618. Kerajaan negeri telah disatukan dengan kokoh dalam adat istiadat urang Belitong dan dikenal dengan sebutan Negeri Adat Urang Belitong hingga bertahan beberapa abad dengan kesejahteraan rakyat yang mencapai kemakmuran tinggi apalagi setelah adanya ekploitasi terhadap sumber mineralnya.

Maka ketika bangsa ini bergolak merebut kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Negeri Belitung bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga saat ini. Menjadi Indonesia dalam Negara Kesatuan bukanlah berarti kita sebagai anak negeri Belitong akan melupakan jasa dan peranan leluruh Cakraninggrat. Tidak sama sekali! Karena anak negeri Belitong adalah anak yang santun dan tahu diri! Meski pun kita sempat menjadi rela atau setengah hati ketika terintegrasi dengan Provinsi Sumatera Selatan, tetapi di bawah payung Sum Sel kita tidak mendapatkan kemajuan yang signifikan dalam arti yang seluas-luasnya, apalagi perkembangan pada dimensi kebudayaan, kebudayaan kita menjadi tidak dikenal oleh masyarakat luas pada umumnya.

Tidak dikenalnya kebudayaan kita oleh masyarakat luas, itu sama artinya kita tak memiliki identitas atau jati diri dalam hidup berbangsa. Padahal kita sebagai urang Belitong memiliki karakter budaya. Karakter budaya anak negeri ini adalah karakter yang kokoh yang sudah terbentuk sekian abad dalam adat istiadat negeri sejak Depati Cakraninggrat pertama hingga turunan dan kerabatnya kini. identitas budaya yang kita miliki adalah identitas eksotis yang tak dimilki oleh negeri mana pun di nusantara ini. Karena itu, kita boleh berbangga tanpa mesti menyisihkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa terima kasih kita kepada pendahulu kita.

Kini, setelah Provinsi Bangka-Belitung terbentuk, dan Kabupaten Belitong membagi diri dalam dua wilayah otonomi. Benarkah, kita sudah kembali berdaulat secara budaya setelah wilayah Belitong terpisah menjadi dua pemerintahan! Yaitu wilayah Belitong barat dan wilayah Belitong Timur. Akankah anak negeri ini menjadi dua anak negeri yang akan saling terpisah karena hanya dibedakan oleh dua kekuasaan wilayah dalam satu pulau? Apakah Arwah leluhur Cakraninggrat akan merestui jika kita saling berbeda! Tidak! kita tak mungkin akan berbeda karena wilayah kesatuan negeri Belitong yang sudah berabad-abad bersatu secara adat dan tradisi. Karena itu, kita tetap mesti satu yang di sebut sebagai Urang Belitong.

Urang Belitong menjadi satu dalam Kesatuan Masyarakat Adat Belitong di bawah kedaulatan raja yang bijak pada zamannya. Hanya Belitong lah satu-satunya di kawasan Sumatera Selatan ini yang memiliki ciri keadatan yang otonom, baik secara adat tradisi atau pun secara hukum adatnya. Kedaulatan tersebut ditandai dengan adanya; Bahasa Persatuan Negeri ini yaitu Bahase Belitong. Adanya alat pertukaran atau uang negeri yang disebut Uang Paku Belitong, adanya senjata tradisional masyarakatnya yang disebut Parang Belitong. Adanya rumah adat negeri yang disebut dengan Ruma Gede. serta adanya aturan adat yang jelas, baik mengenai adat tradisinya juga hukum adat pidana dan perdatanya yang disebut dengan Hukum Adat Raje

Karena itu, Sesungguhnya Belitong adalah tetap satu dalam satu kebudayaan meski terpisah oleh wilayah politis dan birokratis. Kita bersatu dalam kesatuan adat yang tak terpisahkan karena pada masa leluruh kita yaitu Depati Cakraninggrat telah membuat negeri ini menjadi satu-satunya negeri kerajaan yang rajanya berbagi kekuasaan secara egaliterian dengan sistem yang unik yaitu adanya peran Dukon Kampong sebagai penjaga wilayah adat dan tradisinya. Juga adanya ngabehi sebagai eksekutor hukum adat negerinya.

Akhirul kalam, pada hari ini, sebagai hari bersejarah bagi anak negeri ini. Patutlah bersyukur dan berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberikan pilihan terbaik buat negeri ini menjadi negeri yang memiliki kekayaan adat istiadat yang kini telah melebur dalam karakter masyarakat adatnya yaitu Kebudayaan Urang Belitong.

Demikianlah kalimah sambutan singkat ini, semoga bermanfaat untuk kita semua. Wabillahitaufik wallhidayah, Wassalamualaikum Wr Wb.

Ian Sancin, Juni 2007


Responses

  1. Seperti anda, Saya sangat tertarik dengan adat istiadat kita, oleh karena itu saya membahas tentang budaya pernikahan adat yang ada di Indonesia, mohon masukan dan dukungannya ya makasih🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: