Oleh: adek | Juni 22, 2007

Surat [terbuka] kepada Bupati BelBar H. Ir. Dharmansyah Hussein

Berikut ini sebuah surat yang berisi protes saya kepada Bupati Belitung Barat dan ditulis dengan ketidak tahuan cara untuk mengirimkannya, entah dengan cara apa.   Sebagai sesama orang Belitong surat itu beginilah isinya.

Dengan hormat,

Bapak Bupati, jangan pernah biarkan hutan kita rusak, karena para penghancur hutan ini dengan segera melalapnya.   Setidak-tidaknya sebagai pemimpin di daerah sana anda wajib melindungi dan melestarikan hutan yang sudah ada, merawatnya untuk generasi yang akan datang.  Sebab nantinya anda harus menyerahkan hutan ini dalam bentuk yang baik pula generasi berikutnya.  Saya berharap tidak ada [lagi] orang lugu mengorbankan masa depan anak cucu demi pikiran dan angan yang diciptakan untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Untuk para pemimping Belitung yang lainnya jangan dong berpura-pura buta; sekarang hampir semua telinga dan mata orang Belitong melihat dan rasakan bahwa cepat- lambat hutan akan rusak dan hancur.  Hutan akan terpelihara dengan baik kalau kita menjaganya dengan layak.  

Sebagian besar kerusakan sekarang datangnya dari izin penggunaan hutan untuk kebutuhan Kebun Sawit PT. AMA, walaupun sebelumnya kita juga sama tahu bahwa ada peran dari pertambangan timah tapi kerusakan yang sudah ada seharusnya tidak ditambah.

Bapak Bupati, anda memaksa saya untuk berpikiran bahwa anda tidak pernah berbuat apa-apa dan tak perduli akan hal ini, karena dari kronologis yang ditulis oleh forum komunikasi masyarakat sijok bersatu bahwa sebagai kepala daerah , anda tidak serius  dalam menanggapai keluhan serta penolakan masyarakatnya atas hadirnya perkebunan kelapa sawit.  Dimana Pemerintah Kabupaten Belitung hanya sebatas membuat Rekomendasi tapi tidak dijalankan.

Juga Kepala Bapeda dan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Belitung tidak mengindahkan perintah Bupati.

Sehingga wajar kembali saya bertanya : Anda adalah salah bagian dari anggota dari masyarakat belitong yang mempunyai posisi dan memegang keputusan di Belitung, anda adalah pemimpin disana, kenapa sepertinya diam saja, atau anda telah melakukan sesuatu tapi malas memberitahukan kita?

Aku mengeluh kepada Tuhan … Oh Tuhan, alangkah dustanya manusia ini kenapa terlalu lama dibiarkan berbohong.

Sebagai Bupati apakah terlalu sulit untuk menentukan mana yang harus didahulukan, apakah penggalakan anti kerusakan hutan dengan mengambil keputusan tepat untuk masa depan anak cucu nanti ataukah kampanye Pilkada.

Apapun keputusan anda layak dihormati, tapi ada kebutuhan lain atas nama generasi yang akan datang sang pemilik hutan.  Kebutuhan ini jauh lebih prioritas dari kebutuhan-kebutuhan yang ada, dan kerusakan bisa dicegah dengan segera.  Mesti sampai hari ini anda mengambil posisi diam terhadap kami, dari segala macam pertanyaan yang ditujukan kepada kepada daerah Belitong.

Sekali lagi dalam kapasitas anda yang ahli dibidang tatakota setidaknya anda mengerti sekali bahwa hutan yang merupakan aset lingkungan sebagai tabungan masa depan terhadap air, satwa, pepohonan, lumbung udara segar yang sangat besar fungsinya menjaga keseimbangan alam ini.

Mungkin anda bertanya kenapa aku begitu peduli dengan ini, tidak ada jawaban pasti dimata anda, tapi saya ingin menyampaikan pesan anak cucu yang disampaikan lewat syair-syair kuno, bahwa alam ini dan isinya adalah kepunyaan yang maha Kuasa harus dirawat karena pemilik yang sebenarnya adalah generasi yang akan datang.

Surat dan imel beberapa teman di milis belitungisland yang dikirimkan memang perlu untuk menampar seorang pemimpin, betapa tidak karena kami memandang seperti tidak ada keperdulian sama sekali terhadap hal ini, kami yang hanya bisa berteriak dari luar dan mungkin pada detik yang sama anda tertawa puas.

Teriakan ini terasa hanya seperti percikan kecil dari sekam yang sebenarnya, sang api bisa saja terbakar di pulau Belitung sana, semoga ini tidak terjadi …. amien, karena tentunya akan lebih seram dan pasti susah dipulihkan perlu beberapa dekade untuk mengembalikan kepercayaan.

Mungkin sekarang anda masih bisa berakrobat untuk bisa bertahan, ternyata dugaan akan muboh lagi dipilkada yang akan datang seperti semakin menerang, benarkah?  Mungkin saya buta tentang ilmu pemerintahan.  Tapi urusan deal para petinggi daerah di level “penghabisan hutan itu terlihat tidaklah samar”, sebagai seorang pemimpin islam dan haji pula  harusnya dengan tegas anda mengatakan “Jangan hancurkan masa depan anak cucu kami”.

Kalau rakyat jelata terlihat porno sedikit sudah diarak telanjang keliling kampung serta dilempari batu, tapi orang pejabat bisa pesta seks di hotel tanpa takut ketahuan.  Siapa yang mau lapor? Prostitusi café semak di Belitong juga harus diberantas. Caranya bagaimana? Anda juga tahu itu, bukankah agama yang anda anut melarang keras dengan sebutan kata HARAM.

Saya Cuma tahu perubahan itu harus datangnya dari sana bukan dari luar sini.

Soalnya petinggi dan pejabat yang sudah menikmati manisnya madu hutan ini bisa saja berkata kenapa ada yang berani melawan, lantis benar mulutnya, Anak muda yang tak bisa diatur untuk duduk manis. Seribu sumpah serapah dan segala nama setan, hewan, kelamin kita umpatkan, tapi mungkin masih sama saja tidak bergeming, pertarungan yang tidak seimbang.

Jadi Bapak Bupati yang terhormat, saya juga sudah menyumpah dan beberapa perenggu lain juga bersuara, dengan hati nurani anda karena lewat anda dan power anda sebagai bupati/pemimpin kerusakan hutan dipulau Belitong akan bisa dicegah, dari sekian ribu hektar izin yang anda keluarkan untuk perkebunan yang menggunakan tanah dan hutan adalah pemilik yang sebenarnya anak cucu kita nanti.   Sadarlah akan hal ini.

Salam selalu,

Adek


Responses

  1. Semoga bisa terealisasi ya mas… amien.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: