Oleh: adek | Juni 14, 2007

Atas Nama Perenggu Kecil yang Bernama Restu

Sebuah tulisan tentang apa yang dilakukan kawan-kawan lewat media milis belitungisland di berapa minggu ini, yang membuat ramai milis ini, dengan tulisan dan masing-masing mereka berpendapat, sebenarnya kadang saya bertanya dalam hati kecil ini masa’ sih Darmansyah sang bupati belitung barat tidak melakukan sesuatu untuk kampongnya, tapi apa mau dikata sampai saat ini Sang Kepala Daerah ini lebeh memilih “diam” tidak memberikan tanggapan.  Membuat orang berprediksi macam-macam.

Sekarang mungkin ada yang tertawa melihat kasak-kusuk orang yang padahal membela kehidupan sanak-saudaranya, sanak-saudara mereka di belitong sana

Biarkan ada yang juga ikut tertawa melihat Darmansyah yang tidak lagi punya gigi, karena suratnya perintahnya dengan gampang diabaikan oleh PT AMA.

Sekalian pula ada yang tertawa memperhatikan Komunitas Milis Belitungisland karena sorak-sorai puluhan milisernya itu juga tidak punya pengaruh apa-apa terhadap kondisi pulau yang dicintainya.

Mungkin ada yang tertawa lebar dan menyempitkan sebelah mata tatkala melihat kawanan kecil Ozzie yang kerapkali seperti gagap merumuskan jati dirinya di tengah gerombolan binatang buas yang menguap.

Mungkin ada yang tertawa melihat kita dan berharap dalam hatinya agar suara kita tidak lagi kedengaran lantang dan menjadi serak karena tersentak dalam kebuntuan waktu.

Mungkin ada yang tertawa menganggap mulut lantis anak muda ini,  dan susahnya untuk diatur duduk yang manis. sambil menikmati kopi racun yang ditawarkan 

Mungkin pula ada yang ingin agar kita bisa lebih rajin menunduk dan meminta maaf atas nama sopan santun, urang tue yang lebih senior dan kerukunan rumpun cabik. Yakinlah mereka menginginkan semua ini.

Kendati demikian sedikitpun tidak ada keraguan bahwa :

Mereka yang ikut memperjuangkan Keadilan tidak akan pernah kalah dalam perjuangannya. Karena mereka tidak berjuang untuk sebuah kekalahan atau kemenangan menurut ukuran mereka yang tertawa tadi, walau karena itu mereka ditertawakan.  Melainkan mereka berjuang karena rasa cinta dan kesetiaan yang terikat kepada Keadilan itu sendiri, kepada sebuah nama yang disebut sebagai Pulau Belitong sang asal rumpun cabik dengan apapun resikonya.

Kesetiaan itu sendiri adalah sebuah kemenangan yang tidak dikenal oleh orang orang yang tertawa tersebut.  Dan inilah saat yang paling baik untuk bersaksi tentang kesetiaan itu, untuk masa depan pemuda yang bernama Restu dan Ribuan kawan-kawan kecilnya yang nanti menjadi penerus kampung kami.   Untuk pemudi yang bernama Ririn yang sedang ranum-ranumnya menginjak SMA, yang nanti melahirkan para-para penerus belitong ini.

Dengan kesetian, penuh cinta dan hormat …….

Mari kita lanjutkan perjuangan.

Terimakasih atas ketegaranmu yang sederhana selama kurun waktu ini.

Karena melalui kegusaran hati kalian para Penjahat tengik yang bersembunyi dibalik topeng yang tertawa tadi menjadi lebih jujur dalam meletakan keberpihakannya yang sejati.

 

Cibitung 14 Juni 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: