Oleh: adek | Juli 17, 2005

Ku_berterimakasih kepada …

 ..
pada suatu saat dimana kita berhenti,
memandang ke belakang
dan memberi salam.
(mesra tapi sayu)

masa lampau adalah seperti mimpi
terlupa dan berat menarik ke belakang
terkadang kecewa
yang bilang semua bilang
seperti usus yang leyap kelemasan
dan kecewa seperti asvius yang patah hati
Kemasakan dan juga kenaifan

keberanian dan penghianatan
apakah kita bisa bicara tentang nilai-nilai?
sebelum dewasa ?

(GIE, 17 Desember 1961)

Sudah lama sekali aku ingin menulis tentang hal ini, pada tanggal 23 Februari 2000, aku baru pulang dari pasar Glodok, dengan niat ingin segera menyelesaikan tugas akhir kuliahku, untuk itu aku harus mengejar sidang sarjana periode Oktober ditahun yang sama.  Setelah mendapatkan tinta printer, aku pulang dan menuju arah Ciputat, didepan gedung Kejaksaan Agung depan Blok M, masih ingat diotakku beberapa tulisan dari jauh yang terbaca diantaranya, Seret Soeharto ke Pengadilan, Marzuki Darusman Pengecut dan lain-lain.

Aku berhenti sejenak dan turun dari mobil bus lalu menyapa beberapa teman disana yang sangat ku kenal baik sejak akhir 1997, ada Alex (Atmajaya), Syafik dan Tino (STF Driyarkara), Sinton  (STHI) dan beberapa teman daerah seperti Farhan (IAIN Jogya) serta Badrus (Janabadra).

Hari itu memang Front Aksi untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED) mengadakan aksi didepan Gedung Kejaksaan Agung untuk meminta Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk segera menuntaskan kasus-kasus persidangan Eks Presiden Soeharto.  2 buah Toa mesjid besar dan satu Genset kedap suara, dipasang didepan pagar gedung. Satu demi satu teman bergiliran berorasi.
Kali ini tiba giliranku naik mimbar yang hanya terbuat dari tanjakan sederhana, dengan posisi yang agak tinggi didepan massa, sedangkan massa yang kebetulan kurang dari 100 orang pemuda dan mahasiswa persis berdiri berpanas-panas persis didepanku, diawal kehadiranku tadi sempat kudengar bahwa aksi hari ini memang tidak melibatkan banyak orang, cukup simpul-simpul kampus saja.

Orasi kumulai dengan menyanyikan penggalan lagu bangun pemuda-pemudi ..)
masa yang yang akan datang kewajiban mu-lah ..
menjadi tanggunganmu terhadap nusa …
menjadi tangunganmu terhadap nusa …

Sentimentil pemuda memang selalu kubawakan dalam aksi dan setiap ada kesempatan berorasi, penat memang mendengarnya, Satu ruas jalan jalur lambat kami tutup sehingga kendaraan hanya bisa lewat dijalur cepat.
Hampir 2 jam bergantian orasi, happening art dan macam-macam yang ditampilkan.
Waktu itu FAMRED mengambil garis Active Non Violence (garis Mahatma), kemudian bosen dengan hal itu kami mulai senam-senam kecil kecil merangsek masuk ke dalam pagar, berdorongan, sementara disisi kejaksaan dijaga banyak sekali polisi dan KamDal Kejaksaan yang jumlahnya lebih dari kami yang berunjuk rasa karena sudah dibantu oleh pasukan dari Kepolisian.

Semakin lama semakin panas, salah satu tuntutan adalah Jaksa Agung Marzuki bisa menemui kami di tempat orasi, tetapi tak kunjung juga dipenuhi, aksi dorong-mendorong pagarpun terjadi.   Orang-orang mulai banyak menonton dibelakang kami, tak jelas asalnya dari mana tiba-tiba batu datang beterbangan.  Beberapa pemudi berteriak, ditambah letupan senjata polisi, kami sempat mundur beberapa langkah menunduk tapi sekarang posisinya jadi berbalik dari arah gedung muncul terbangan pula batu-batu balasan.

Beberapa teman terluka, beberapa pemudi terpaksa di selamatkan lewat kerumunan banyak orang yang dari tadi ikut melempari gedung kejaksaan, lalu situasi semakin tak terkendali, beberapa teman dibarisan depan yang bermaksud mengamankan properti aksi dipaksa masuk dan dipukuli di dalam gedung.

Akhirnya diputuskan untuk mengakhiri aksi oleh komandan aksi, tetapi lempar-lemparan tetap terjadi.
Masyarakat yang dari tadi menonton kemudian ikut melempar batu kedalam gedung kini menghampiri beberapa mobil yang diparkir di depan gedung.  Sebuah Jip Hijau jadi sasaran pembakaran, kemudian beberapa Simpul Mahasiswa yang tersisa di tempat aksi berusaha menghalangi aksi masyarakat supaya menjauhi anarkis.

Beberapa polisi lari menghampiri kami salah satunya memukulkan tongkat rotan ke kami, satu dua sabetan mengenai punggungku, sakit mak rasanya, lalu beberapa teman coba membalas, akupun melawan karena sakit dan tidak mungkin untuk didiamkan karena semakin membabi buta sampai satu tendangan di kepalanya yang memakai helm. Tapi tetap saja kakiku yang sakit.

Perlahan kami lari kearah perempatan Gedung PLN, disana keadaan semakin sembrawut, akhirnya kami putuskan untuk menghindari tempat tersebut dan naik ke dalam sebuat bus yang menuju arah kota, belum jauh nampaknya, beberapa polisi motor (trail) menghentikan bus, seorang polisi menodongkan pistol tepat di pelipisnya Alex, aku masih ingat betul dengan tenang Alex berkata “Silahkan bapak tembak saya kalo’ bapak berani .. ! ” berulang ulang diucapkan kalimat itu, semua penumpang bus menyaksikan dengan tegang.

Dengan sedikit kesal sambil menendang body bus, polisi tadi akhirnya melepaskan todongannya. Tapi tak lama kemudian muncul unit polisi motor, menyapu jalan.
Beberapa dari mereka manabrak roda depan motornya ke setiap pejalan kaki, jika kita tidak berada di trotoar pasti ikut tertabrak.

Keadaan semakin tidak terkendali kami berempat lari dan melompat ke arah Gedung Pertanahan Nasional, langsung masuk ke dalam gedung ada yang naik ke lantai atas mengunakan lift, lalu sebagian lagi lompat ke gedung sebelah Kesekretariatan ASEAN. (-Jalan Sisinga Mangaraja-)

Aku sendiri bersembunyi di lantai dasar kantor Pertanahan, kosong sekali kantor sebesar ini kataku dalam hati sebagian mereka memang dari tadi ikut nonton dasar apatis)* dari kaca kulihat salah satu anggota polisi tadi menyisir kantor ditemani satpam gedung.

Lumayan mencekam tapi karena aku yakin dengan yang aku lakukan, dan sadar serta siap menanggung resiko yang sangat besar.  Sehingga aku mencoba bersikap tenang walau sudah berkecamuk di dalam hati bahwa keselamatanku mungkin kali ini tidak bisa kujaga bahkat bisa lewat, karena aku aku bisa saja mati hari ini.

Sesekali Polisi lewat ruangan tempat sembunyiku.  Aku merunduk dibawah meja, tak jauh dari tempatku ada 2 orang karyawan berumur setengah baya, yang satunya sepertinya khawatir lalu berucap “Jangan keluar dulu Dik, masih ada polisi !“, mendengar kalimat tersebut aku sedikit tenang.  Mungkin hampir 15 menit aku disitu, beberapa karyawan masuk kembali kedalam kantornya setelah selesai menonton chaos serta pembakaran mobil !

Karena menjadi risih akhirnya aku keluar, dan karena tidak semua orang disitu berpihak, 2 atau 3 mungkin malah mencibir.
Akhirnya aku keluar saja dari arah samping jalan yang hendak kulewati polisi mencoba menangkapku.  Aku mencoba diam dia memegang tanganku kearah belakang.

Semakin lama semakin kuat jeratan tangannya, aku semakin tidak tahan karena agak ditarik kearah atas.  Aku mencoba mencari simpati beberapa karyawan muda, tapi belum sempat aku mengucapkan kata-kata dari arah belakang satpam berteriak “Maling .., ada maling masuk ke gedung kita … “, dan setelah teriakan kalimat kedua baru beberapa orang memukulku dan itupun dari karyawan yang baru datang bukan yang dari tadi meyaksikan penangkapanku.  Aku terguling ada yang menginjak terlebih yang paling tidak kusuka memukul dari belakang.

Aku menunduk lalu pakaian ku dicopot, ikat pinggangku dipakainya untuk mengikat tanganku dari belakang lalu aku di dinaikkan diatas motor trailnya, mendingan ..
Diatas pompa bensin, seperti memperlakukan maling, binatang… bajingan .. aku berteriak dalam hati.  Aku dipindahkan dari gedung tersebut, mungkin dari jauh seperti polisi pahlawan yang berhasil menangkap buronan,

Tak memperdulikan keadaanku darah mengucur dari bagian bibir, belakangku sakit sekali bekas injakan mungkin.. Dan masih ku ingat Nanang nama polisi itu, sambil berjalan zig-zag melunjur di jalan Jendral Sudirman dengan tanpa memperhatikan rambu-lalu lintas (padahal dia polisi ya.. ) Sesekali ku berpikir loncat dari atas motornya tapi percuma. Aku pasrah.

Aku dibawa ke unit polisi bermotor, disana aku dijatuhkan dalam posisi tertelungkup beberapa polisi yang habis berburu tadi menungguku dengan kepalan jarinya dan tak kepalang tanggung memukulkan dengan gembira (itu yang kurasa), menendangkan, kehampir seluruh anggota tubuhku sedangkan aku sibuk bertahan di bagian kepalaku, yang penting setelah pemukulan ini aku bisa mengingat tidak gila dan sadar sepenuhnya karena itu sarat untuk bisa menuntut balik.

Aku diam saja di kelilingin polisi muda.
Badanku terasa sangat payah.. aku bersorak “AllahuAkbar …. !” ketika rambutku dijambak. Lalu tiba-tiba datang seorang ibu, aku masih ingat mukanya berperawakan timur, tinggi dan besar.  Apakah mahluk ini polwan, setan, iblis, malaikat atau bahkan genderuwo sekalipun aku tak perduli tapi Allah telah mengirimnya untuk menyelamatkan aku.   Dan yang kuingat dia memelukku dan serta merta telah menyelamatkan aku, pukulan reda sudah,.. dia berteriak “Sudah.. Sudah !”. lalu aku dimasukkan kedalam ruang gelap.

Setelah bisa melihat dan tidak pusing, lama juga… baru aku menyadari bahawa ada 2 orang lagi yang nasibnya sama sepertiku diruang gelap tersebut.  Sekali lagi aku diberikan kekuatan, setidaknya aku punya kawan senasib sekarang.  Aku haru sekali karena mengetahui bahwa 2 kawan tersebut adalah orang yang ku kenal betul, Dwi (Universitas Mustopo Beragama) satu lagi saya tak ingat namanya teman dari IISIP, punker juga manusia.. mataku bengkak.

Kami bertiga mulai saling mendekat, mencoba menyamakan frekwensi dulu, menyamakan informasi. Sambil  satu demi satu gigiku kuraba dengan lidah aku masih sempat berpikir estetika (sial).  Dwi menjabat tanganku sementara diluar kudengar tendangan keras kepintu dilakukan oleh polisi yang belum dapat bagian, shock psikis. sementara teman punker salah satu atau dua giginya copotnya.

Lama juga mungkin hampir Magrib (karena terdengar Adzan) kami bertiga disana dari sekitar jam 4 sore saat, Aku rebahan seluruh badanku sakit semuanya… lalu perlahan suara garang di depanpun mulai hilang hilang.

Lalu selepas magrib kami dibawa secara terpisah.  Diatas tangga seorang menyampiriku dan mengaku sebagai wartawan bertanya .. “Mas saya wartawan harian … (lupa), mas dari mana ? langsung ku jawab “Aku Sadek dari ITI, tolong kabarin teman Famred dan Advokasi PBHI !” kataku kencang, tanpa ku duga beberapa pukulan mampir diperutku ketika mereka tahu aku mahasiswa, tapi kenapa mereka begitu buas.  Rupanya yang ku anggap wartawan tadi adalah intel.  Tapi pertanyaan itu langsung terhenti karena ketakutanku melebihi semuanya waktu itu.

Lalu aku di BAP sampai 00.30 malam dalam sebuah ruangan ber AC, lantai 2 Polda Metro Jaya.  Aku ingat jelas pertanyaan tentang asal-usulku saja bisa menghabiskan lebih dari 30 menit.
Merisaukan kadang ada tangan menggetok dari arah belakang ketika kupalingkan muka dia menendang kursi yang kududuki. Mungkin tak perlu ku ladeni karena memang tidak bisa. Aku masih mengenal jelas lawan bicaraku namanya Napoleon Bonaparte.  Seluruh ruangannya di penuhi ijazah sekolah dan prestasi luar negeri dengan namanya, dari logatnya dia berasal dari Sumatera Selatan.

Makanya hal ini kupakai untuk membuatnya sedikit iba.  Dari raut muka Napoleon sepertinya tidak terlalu bersemangat untuk menanyaiku, karena sebentar-sebentar telpon genggamnya bunyi sepertinya istrinya minta pulang segera.

Kadang kumainkan muntahan-muntahan kecil (seperti kena gegar otak) ku pikir wajahku sudah terlanjur hancur ada darah dari pipi, kepala dan bibir untuk meredakan pukulan-pukulan yang kadang datang.  Akupun dibawa ke poliklinik disamping kanan Polda Metro jaya.  Napoleon menyarankan untuk dibawah ke RS Kramat Jati, tapi aku menolak karena kemungkinan besar makin tak jelas nasibku nanti.  Sempat rebahan beberapa saat di poliklinik, belum juga sampai 30 menit sudah diangkat lagi sepanjang jalan dipukul sampai aku benar-benar merasakan kekuatan untuk mengusirkan rasa takutku. Pasrah…

Hari semakin larut tak seorang temanpun ku temui disana, matilah aku, kecuali wartawan intel yang memukulku tadi.
Kemudian di dalam ruangan 4 x 4 meter tersebut aku ditanyakan kembali pertanyaan berulang. aku sudah tidak konsen tapi berusaha untuk tetap sadar.
dalam hati .. apakah penangkapan ini tidak diketahui kawan yang lainnya, mana team advokasi Aksi ini ya….

Keadaan langsung berubah drastis. Pukul 00.45 tengah malam aku baru diberi 1 gelas lid cup (minuman mineral) kemudian dibelikan sate, tapi kenapa tiba-tiba keadaannya jadi berubah-baik, tapi sate tak ku jamah, keadaan seperti ini yang menjadi pertanyaan penuh dikepalaku.

Kemudian aku dikeluarkan dari ruangan tersebut.  Dari beberapa pojok kulihat beberapa teman didampingi oleh teman-pengacara PBHI yang selalu standby kalo’ kami aksi, ada Bang Jhonson Pandjaitan disana dan beberapa yang lain aku mencoba mengkomunikasikan hal ini kepadanya.  Ada 9 + 3 orang yang ditangkap semua sudah ditemukan “baik-baik” di Polda Metro Jaya. Disatu ruangan aku dipertemukan dengan Birong (Kimia 93) karena sama-sama dari ITI, giginya patah karena dipopor pistol, sempat mengadakan perlawanan katanya tapi menyerah setelah diteriakin polisi bandar narkoba.

Kemudian tanpa babibu semua barang kami dikembalikan termasuk dompet plus KTP (barang berhargaku) dengan mobil teman kami dibawa ke RS. St. Carolus aku masuk ke UGD, di rontgen badan dan kepalaku dan luka dimuka dibersihkan.  Dari arah luar ku dengar keributan.

Temanku masuk dan membisikan katanya perwakilan Kejaksaan Agung akan menanggung semua biaya perawatan dan berobat korban aksi, tapi serta merta langsung diusir oleh beberapa teman yang lain.. atas nama Jaksa Agung Marzuki Darusman minta maaf atas kejadian ini karena beliau sedang ikut lawatan ke RRC bersama Presiden GUS DUR..

Lebih dari satu minggu aku tidur-an saja di Centraal Studiet 164 (lembaga anak muda NU-lokasi di Matraman) beberapa kali datang ke PBHI untuk kesaksian terhadap kekerasan Polisi.

Baju yang penuh lumuran darahpun masih kusimpan, pernah Umak (Ibuku) datang dan menanyakan darah apakah yang ada dibaju yang ditemukannya dalam plastik hitam didalam lemari, ku jawab dan kuceritakan kepadanya tentang sejarah hitam itu, dia hanya diam dan menahan air mata,.. kenapa aku mengambil jalan seperti ini, lalu dengan bangga disimpan dan dibawanya pulang ke Belitung baju itu.

Mak …. itulah aku, anakmu ini !

Peristiwa itu sudah hampir 5 tahun yang lalu, baru kuberanikan diri membagi pengalaman yang gila ini kepada semua.  Sebuah bagian dari sejarah hidupku…
Di sampul belakang Tugas Akhir Sarjanaku kutulis, kalimat dari Gothe
Ku_berterimakasih kepada masyarat miskin, tertindas … oleh karenanya aku bisa seperti ini.

Salam Hangat,
Adek P. Rawie
Cibitung 17 Juli 2005
 

Berikut tambahan berita di harian KOMPAS, Kamis, 24 Februari 2000
Mahasiswa Bentrok dengan Aparat, Jaksa Agung Minta Maaf

Jakarta, Kompas

Bersamaan dengan keluarnya pernyataan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa aparat kepolisian berada dalam keadaan siaga satu, Rabu (23/2), sedikitnya 23 kelompok masyarakat melakukan aksi unjuk rasa dengan berbagai tuntutan di berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya.

Aksi unjuk rasa itu diwarnai dengan bentrok antara aparat dengan mahasiswa yang tengah menggelar aksi di depan gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, menuntut para jenderal yang terlibat pelanggaran hak asasi manusia dan para koruptor diadili.

Jaksa Agung Marzuki Darusman yang dihubungi Kompas Rabu sekitar pukul 23.00 menyayangkan terjadinya salah pengertian antara mahasiswa dengan pihak Kejaksaan Agung yang mengakibatkan delapan mahasiswa ditahan dan tujuh orang dirawat di rumah sakit. Latar belakang terjadinya bentrokan akan ditelusuri.

“Jaksa Agung meminta maaf atas kejadian tersebut. Terjadinya bentrokan itu sungguh amat disesalkan,” ucap Marzuki Darusman yang menilai terjadinya bentrokan itu sungguh sesuatu yang janggal. Selama ini, demikian Marzuki, Kejaksaan tidak pernah merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan mahasiswa atau kelompok pengunjuk rasa.

Jaksa Agung juga mengatakan, Kejaksaan Agung terbuka dan akan terus membuka diri untuk berkomunikasi dengan masyarakat dalam rangka mendorong terciptanya pemerintah yang bersih dan bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Berkaitan dengan terjadinya bentrokan Marzuki menjanjikan, jika memang dari hasil penelurusan menunjukkan adanya salah tindak yang dilakukan jajaran Kejaksaan Agung, pihaknya tidak segan-segan akan mengambil tindakan.

Marzuki mengaku sudah berbicara dengan Kapolri Letjen (Pol) Rusdihardjo yang sedang berada di Bangkok. “Saya meminta mahasiswa yang ditahan dapat segera dilepaskan karena yang terjadi adalah salah pengertian,” kata Marzuki.

Luka-luka

Di wilayah Jabotabek, aksi unjuk rasa dilakukan oleh sejumlah kelompok buruh, petani, pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat. Sasaran unjuk rasa adalah Istana Negara, Gedung Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Departemen Tenaga Kerja, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kejaksaan Agung, maupun kawasan pabrik. Tuntutannya beragam dari tuntutan para jenderal diadili, penarikan aparat dari Aceh, protes menentang penghapusan subsidi pendidikan, sampai tuntutan kenaikan upah.

Dalam unjuk rasa di Kejaksaan Agung, sedikitnya tiga mahasiswa dan dua polisi luka-luka akibat bentrok antara aparat dengan mahasiswa yang menggelar aksi tersebut. Sedangkan belasan lainnya masih ditahan di Polda Metro dengan tuduhan menyerang aparat. Namun, menurut keterangan kepolisian hanya lima mahasiswa yang ditahan, dua diantaranya ditahan dengan tuduhan mencuri karena dalam tasnya ditemukan roda dan potongan besi dari pintu gerbang Kejaksaan Agung yang roboh.

Tiga mahasiswa yang mengalami luka-luka adalah Pahala (Unika Atmajaya Jakarta), Ipung (Universitas Satya Nagara Indonesia), dan Abdullah (Universitas Negeri Jakarta). “Kami tidak tahu bila kepolisian dalam keadaan siaga satu. Kami juga tidak tahu kalau ada aksi di tempat-tempat lain. Kami hanya ingin menuntut agar para jenderal dan koruptor diadili,” kata Syafiq.

Gerbang dirobohkan

Sebelum insiden berlangsung, mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAM) Trisakti dan Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) sempat merobohkan pintu gerbang menuju Gedung Kejaksaan Agung. Tindakan itu, menurut seorang mahasiswa, dilakukan karena mereka kesal setelah seorang petugas Kejaksaan Agung menyatakan Jaksa Agung Marzuki Daruzman tidak berada di tempat dan tidak ada yang berwenang menerima mereka.

Namun, Kepala Humas Kejaksaan Agung membantah bahwa pihaknya tidak bersedia menerima mahasiswa. “Kalau mau ketemu Pak Marzuki harus ada janjian. Ini nggak ada perjanjian mereka disuruh masuk tidak mau, mintanya semuanya masuk,” kata Soehandoyo.

Penanganan aksi mahasiswa yang represif itu agak mengagetkan karena sejak pemerintahan baru terbentuk, aparat kepolisian di Jakarta cukup profesional dalam menangani aksi-aksi demonstrasi.

“Aparat agaknya tidak bisa membedakan aksi yang satu dengan yang lain sehingga main gebuk saja. Mereka tidak bisa membedakan demo bayaran dengan demo murni mahasiswa yang justru untuk mendukung Gus Dur,” kata Hermawan Sulitstyo, pengamat politik LIPI yang sering terlibat dalam advokasi gerakan mahasiswa.

Hermawan Sulistyo meminta agar seluruh mahasiswa dibebaskan karena dalam kasus ini aparat yang melakukan kekerasan juga tidak ada yang ditahan. Ia juga meminta agar dua mahasiswa yang dituduh mencuri dibebaskan karena perbuatan itu hanya merupakan perbuatan iseng, apalagi mahasiswa selama ini dalam aksi-aksi demo mahasiswa sering menjadi korban penjarahan oleh aparat.

Blokir jalan

Di Cibitung, Bekasi, ratusan warga menutup tiga gerbang utama menuju Kawasan Industri Megapolis Manunggal (MM) 2100. Aksi itu mengakibatkan kemacetan panjang di jalan tol Jakarta-Cikampek serta menghalangi ribuan buruh yang akan bekerja. Akibat aksi tersebut ratusan pabrik di lokasi tersebut tidak bisa beroperasi sehingga mengakibatkan kerugian milyaran rupiah.

Aksi yang dilakukan oleh warga yang mengaku berasal dari lima desa di sekitar kawasan industri menyatakan kekesalannya karena sekitar 130 pabrik di situ tidak menerima mereka sebagai pekerja. Demonstrasi itu berlangsung sejak pagi sekitar pukul 05.30. Sekitar pukul 12.00 warga bersedia membuka jalan masuk melalui pintu tol khusus setelah dibujuk aparat kepolisian. Namun, warga mencegah kendaraan dari perusahaan elektronika LG dari Korea Selatan.

Aksi itu berakhir pukul 16.00 setelah perwakilan warga bertemu dengan perwakilan pabrik-pabrik yang berada di lokasi industri tersebut.

Unjuk rasa buruh dilakukan ratusan buruh PT Arrish Rulan di Kompleks Industri Pulogadung. Aksi itu dilakukan setelah perusahaan menutup pintu gerbang perusahaan tersebut. Malam sebelumnya buruh sempat bentrok dengan aparat setelah ada provokasi dari sejumlah orang tidak dikenal yang mengakibatkan belasan buruh luka-luka. Hingga semalam sejumlah buruh masih bertahan di depan pabrik.

Alexander Sinaga, Wakil Sekjen Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FPSI) juga menyatakan bahwa aksi buruh PT Arrish Ulan di Kompleks Industri Pulogadung tidak ada kaitannya dengan aksi-aksi demonstrasi lainnya di Jakarta. “Masalah yang dihadapi buruh Arrish Ulan sudah berlangsung tujuh bulan dan sampai sekarang belum selesai-selesai,” kata Sinaga. (Ant/wis/rts/msh/muk/nic/ ika/bdm)


Responses

  1. Beb, Tuhan tak pernah diam, tapi dia menunggu … ( dari sang pemimpi )

    Ps. Dak usah gila gile agik..

  2. Biar lah gila karena ada manfaatnya, sekarang kalian telah menikmati udara kebebasan dari kegilaan-kegilaan kami dulu ha ha …

  3. MERDEKA

  4. […] Membaca kisah penangkapan sekitar 140 mahasiswa UNAS di kampus Pejaten Sabtu Dini hari tanggal 24 Mei 2008 karena unjuk rasa menolak kenaikan BBM, yang berbuntut penahanan 30 orang dan meninggalnya mahasiswa yang bernama Maftuh Fauzi, membuat aku kembali merinding.   Pasal kekerasan aparat keamanan ini sudah banyak memakan korban.   Dan aku sendiri pernah mengalaminya yang kutulis dalam kisah Ku-berterimakasih kepada … […]

  5. aq bangga lihat mahasiswa,dy berjuang demo juga bukan buat dirinya sendiri,tetapi untuk orang banyak.
    saya juga seorang mahasiswa,sejak kenaikan BBM banyak masyarakat yang mengeluh tapi mereka hanya bisa mengeluh tanpa berbuat apa2, tapi seorang mahasiswa brani juga untuk masyarakat.

    DEMO anarkis juga bukan kemauan mereka tapi mereka ga punya jalan lain supaya suara mereka didengar,karena pemerintah itu klu diambil jalur damai belum tentu diterima bahkan diabaikan karena apa urusan mereka toh gaji mereka cukup koq untuk tujuh keturunan,

    mau naik ato ga gak pengaruh asal gaji gak berkurang ya kan!!!tuh pemikiran kalian para pejabat negara,,katanya wakil rakyat,mana buktinya malah nyusahin rakyat,,,

    kapan indonesia maju!!!

    klu emank setuju naik BBM,,kalian juga harus setuju donk gajinya diturunkan,,,gimana mau ga????

    klu aq setuju aja mereka demo,,biar pemerintah dengar tuh jeritan masyarakat!!!

    1 hal aq kecewa ma masyarakat,,kalian yang ngeluh naik BBM,,tapi kalian pula yang marah mahasiswa berjuang,,seharusnya kalian mendukung,,,
    mereka anarkis gitu karena mereka ga punya jalan lain supaya suara mereka didengar!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: