Oleh: adek | Juli 12, 2005

Bojes ….!

Dari Mulut moza anakku, keluar kata Bojes, … !
umurnya baru 1,9 bulan. Kata itu beberapa hari yang lalu begitu tidak begitu jelas diucapkan ke padaku, sampai malam ini. Tapi cukup jelaslah sudah yang dimaksud olehnya dan itupun di depan TV yang menyiarkan konser eliminasi distasiun TV swasta tersebut.

Untuk itu aku jadi merasa bersalah, betapun aku seperti selalu tak punya waktu banyak mengikuti perkembangannya. Kecuali Sabtu dan Minggu bersama kami, hari kerja kutitipkan dia di tempat ibu mertuaku, pagi diantar dan pulang kerja kami jemput begitu setiap harinya sampai kata bojes itu keluar dari mulut mungilnya.
Tak adil memang rasanya ketika dalam perjalanan antar jemput Moza selalu tidur, jadi otomatis keadaan interaksi antara kami dan moza, tatap muka, bermain ya cuma di Sabtu dan Minggu saja.

Kadang jadinya kita menganggap penting arti ibu, kadang setiap tahunnya kita perlu waktu untuk sekedar mengenang, menyanjung dan merenungkan kembali nasibnya dalam kehidupannya dari hari-kehari, dan barang kali dari sosok ibulah kita bisa berkomunikasi terlepas baik atau buruk.

Ketika aspek hubungan sosial paling awal yang penting ketika kita mengenal dunia. Lalu bahasa ibu menjadi mata air yang terus mengalir sepanjang masa. Jujur aku jadi mulai gelisah dengan keadaan ini, walau sebenarnya kagum dengan pertumbuhannya tapi hegemoni TV jadi seperti faktor yang sulit dihindari. Sekali lagi aku bukan mau merendahkan peran tradisional ibu (mengasuh dan mengajarkan).

Sepertinya ketika bapak sebagai kepala rumah tangga, lalu ibu hanya jadi instrumen atau bagian dari tubuh rumah tangga, tapi terlepas dari hal itu sosok ibu telah memberikan makna yang dalam dalam pertumbuhannya, istriku dan mungkin aku lewat ibuku.

Lalu apa yang sebenarnya jadi harapanku, sederhana saja aku hanya meredam hegemoni budaya lewat apa yang telah di siarkan diTV, setahuku karena jadi ikutan latah, setiap minggu malam mulai pukul 19.00 WIB ikut menikmati siaran tersebut dan otomatis aku tidak bisa mengikuti siaran lain.

Kawan … ingat kejadian dulu setiap malam 30 september kita wajib nonton film pemberontakan 30 s PKI, terlepas sejarah tersebut benar atau tidak dalam pembuatan filmya, apa yang muncul diingatan kita … karena setiap kali (mungkin mau perpaling) kita kembali dibenturkan untuk kembali ke rel mereka.

Di bebebera negara maju, anak-anak belajar tentang hidup, berjalan, berpakaian dari TV, oleh sebab itu sepertinya kegiatan kehidupan mereka diatur oleh pesan-pesan TV. Bayangkan menurut penelitian LIPI di daerah Sulsel, kehidupan masyarakat disana bisa diatur TV, mereka menjadwal ulang dan merubah cara hidup setelah TV hadir, karena mereka harus menonton acara-acara bagus di TV dan tidur diatas 01.00 dini hari lalu bangun, dan pergi keladang agak siangan dari kondisi sebelumnya dan itu kondisi kondisi kita cuma ada satu TVRI, sekarang …?

Nah kekhawatiranku yang pertama tadi adalah, karena mulainya mengganti kegiatan yang penting dengan jadwal menonton TV. Seharusnya anak-anak mulai mengenal yang penting dari sekedar menonton TV entah itu belajar-membaca buku, menggambar dan sebagainya tapi kegiatannya kini tergantikan dengan menonton TV, salah satu temanku pernah bercerita bahwa anaknya tidak mau mau makan kalau tidak didepan TV.

Tapi tentunya TV tidak melulu menggambarkan sosok yang jelek, atau semua siaran berefek negatif. ada hal-hal yang lain yang memang dibutuhkan sebut saja seseorang pahlawan yang menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran, tapi ingat kekersan dan seks itu punya pengaruh yang tidak menguntungkan bagi anak-anak, karena terbukti sering kali kita menemukan fakta, setelah menonton adegan yang panas, ayam tetangga mati di perkosa.

Ada fakta lain yang pernah kutemukan karena ada dua tokoh sebut saja Saras 008 dan Mr. Black, karena si kakak tidak mau mengalah dan selalu memposisikan dirinya sebagai Saras 008 (jagoan) maka si adik yang tidak kedapatan peran terpaksa mengambil tokoh Mr. Black yang nota bene selalu membuat keonaran, dan sehari-hari si adik selalu memerankan dan menganggap dirinya sebagai Mr. Black yang selalu memusuhi kebenaran.

Terlepas dari persoalan itu sekarang salah satu yang sekarang aku lakukan adalah selalu menemani dia menonton TV, memangkas segala sesuatu yang aku yakini bisa merusaknya.

waspadalah … waspadalah.

 

Cibitung, 12 Juli 2005


Responses

  1. jesssssss……..main lg dunxxx k majalengka…..skses ywaaaa bwt U….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: