Oleh: adek | Maret 28, 2005

wakarimaste….!

Temperatur di jalan Okachimachi menunjukan 4 derajat Celius, angin dibulan Maret rasanya menusuk tajam sampai ke tulang.  Tapi aku nekat saja keluar penginapan Green Okachimachi Hotel walau cuma dibekali Jaket Merk Bukan Kulit.  Sejak meninggalkan kamar terbayang diotakku untuk mencari orang yang bisa berbalasan kata dengan menggunakan Bahasa Indonesia… siapa sajalah.

Padahal baru pukul 11 malam waktu Tokyo saat mulutku mulai merapat dan kering.  Sebentar-sebentar kugesekkan gigi atas dengan gigi bawah.  Cara tradisional mengurangi efek dingin-ada pengaruh atau tidak sih….

1.jpg

Tapi  yang penting beberapa hari ini rasa kebangsaan ku ini tiba-tiba membumbung tinggi, padahal sebagai orang Indonesia selama tinggal di negerinya sendiri tidak pernah merasakan dasyatnya rasa ini.

Selama berada di Negeri Sakura ini sehari-harinya selalu menggunakan bahasa orang lain, sehingga malam ini kuputuskan untuk mencari pelampiasan sekedar berbicara dengan bahasa Indonesia,  sepanjang langkahku sudah membayangkan bisa berhaha-hi dengan para pekerja Indonesia yang sering nongkrong di Ueno Park menjelang mekarnya Sakura, biasanya mereka berbahasa Jawa, sing penting koe ngarti deh …..

Mereka tak ku jumpai … karena sudah larut. Seperti biasanya orang Jepang sendiri keluar untuk break makan malam dari tempat kerjanya yaitu dari pukul 7 sampai pukul 9 malam lalu balik lagi kemejanya sampai pukul 1 dinihari baru pulang kerumahnya.  Jadi yang tersisa dijalan seperti ini kalo ngak gembel berjas, orang kurang kerjaan atau orang gila seperti aku ….

Aku seperti diberikan semangat baru ketika melewati Akhiabara, karena ada proyek pembangunan gorong-gorong, bukan mau merendahkan tapi biasanya ada teman-teman kita yang bekerja disana.  Tapi yang ku temui malah orang-orang Brazil.  Aku melangkah lemas dan berjalan kembali dibeberapa blok menuju hotel.

Bayangkan hanya ingin sekedar berhaha -hihi lalu mengucapkan apakabar dan ingin disambut dengan perkataan aku baik-baik saja … itupun susahnya minta ampun.  Dengkulku melemas dan singgah di supermaket 24 jam seveneleven untuk sekedar berteduh dari ganasnya angin dan membeli masker, malam ini kunyatakan misiku gagal. Karena ingin segera kuputuskan dengan cepat untuk sampai hotel dan tidur pulas sambil berharap bisa bermimpi berbicara dengan bahasa indonesia.  Wakarimaste … kurasa cukup terbalaskan daripada kulanjutkan malam besok tanpa tau hasilnya bisa positip atau tidak.


Responses

  1. masalah rasa kebangsaan memang sering timbul ketika kita tidak berada dinegara kita, atau ketika kebanggaan itu diambil orang, kasus batik yang diakui oleh negara Jiran misalnya…

    btw, foto diatas diambil sehari setelahnya oleh teman Indonesia juga, waktu sama-sama pulang dari kantor pusat di Toitaku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: