Oleh: adek | Maret 31, 2003

ancaman HUMANISME UNIVERSAL oleh Kasdin Sihotang

Dari : SUARA PEMBARUAN daily

hell_tb.jpgKENDATI mendapat penolakan luar biasa besar-besaran dari aneka komponen masyarakat di berbagai belahan dunia yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan, termasuk dari pemimpin agama Katolik, Paus Johanes Paulus II dari  Vatikan, genderang perang melawan Irak tetap ditabuh oleh Presiden Amerika Serikat George W Bush bersama tiga negara sekutunya, Australia, Inggris dan Spanyol.

Bunyi tabuhan genderang itu sudah menggema satu minggu yang lalu. Hari ini perang sudah memasuki hari yang ke-10.

Semua media massa, elektronik maupun media cetak, pemberitakan bahwa perang telah menyebabkan penderitaan luar biasa besar bagi rakyat sipil Irak dan tentara Amerika bersama sekutunya sebagai mana penulis telah prediksikan dalam
tulisan dua minggu lalu di harian ini (Pembaruan, 15/3-03).

Secara umum dapat dipetakan, dua penderitaan yang pengejawantah dalam kegiatan invasi militer itu.

Pertama, penderitaan fisik, yaitu banyaknya orang yang terluka akibat terkena peluru maupun ranjau darat. Harian ini dalam bentuk foto telah melaporkan bahwa yang terkena penderitaan fisik ini justru rakyat sipil seperti anak-anak dan
kaum wanita yang tidak tahu menahu mengenai sebab musabab dari konflik tersebut (Pembaruan, 25/3/2003). Di samping itu, penderitaan fisik juga tersaksikan dengan hancurnya bangunan-bangunan termasuk bangunan-bangunan bernilai kebudayaan dan rumah-rumah penduduk yang tentunya tidak bisa tidak memperburuk masa depan rakyat sipil Irak sendiri.

Kedua, yang lebih berat dan membuat kita terenyuh dari sisi kemanusiaan adalah penderitaan psikis. Termasuk dalam hal ini adalah jumlah korban yang mati akibat perang tersebut. Serangan Amerika Serikat dan sekutunya yang telah berlangsung selama sembilan hari itu telah menelan banyak korban nyawa. Mereka terdiri dari masyarakat sipil dan tentara Amerika Serikat sendiri bersama sekutunya. Selain itu anak-anak juga dicekam ketakutan dan kecemasan mengenai masa depan mereka.  Hak anak-anak untuk bermain dan belajar terganggu, bahkan terhenti secara total.

Di samping hal-hal tersebut di atas, penderitaan psikis juga terlihat pada raut muka para tawanan kedua belah pihak yang ditayangkan televisi baru-baru ini. Wajah mereka memperlihatkan rasa takut luar biasa. Keluarga (istri,orang tua,
sanak saudara) menyaksikan tayangan itu dengan rasa cemas.

Terhadap tindakan invasi militer itu dunia hanya terperangah dan tidak berdaya menghambatnya. Lembaga internasional sekalipun, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri, tidak berdaya menghambat niat buruk dari Presiden George
W Bush itu. Demikian halnya maraknya demonstrasi tidak membuat Bush menghentikan serangannya.

Etika Teleologis

sikap_tb.jpgPertanyaan kita, sebenarnya sikap apa yang diperlihatkan oleh George W Bush bersama sekutunya yang ngotot menabuh genderang perang untuk melawan Irak? Sulit diterima secara etis kalau alasan Bush adalah alasan kemanusiaan,yakni memerangi terorisme internasional demi menyelamatkan manusia, karena cara-cara destruktif itu tidak bernilai etis, malah kontra etis.

Argumentasi etis selalu menghindari prinsip contradictio in termino. Artinya, cara sebuah tindakan tidak boleh bertentangan dengan nilai dari tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan itu sendiri. Misalnya, untuk menolong orang sang
penolong tidak dibenarkan secara etis melakukan perampokan. Di sini perampokan sendiri sangat bertentangan dengan sikap baik untuk menolong. Artinya, sikap baik tidak melegalkan, apalagi memverifikasi pelanggaran terhadap prinsip
keadilan.

Kalau itu yang terjadi, maka orang bersangkutan telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan maksud tindakannya sendiri, karena perampasan hak orang lain bertentangan dengan sikap baik. Secara positif dapat dikatakan, penghargaan terhadap hak orang lain juga merupakan bagian dari sikap baik.

Dengan kata lain, harus ada keselarasan dalam mengupayakan nilai kebaikan dan cara yang dipakai untuk mewujudkan kebaikan itu sendiri. Jadi, nilai instrumental sebuah tindakan tidak boleh bertentangan dengan nilai intrinsik itu sendiri.

Menurut hemat penulis, yang diperlihatkan Bush bukanlah menghindari prinsip di atas. Yang diperlihatkan justru pemberlakuan prinsip condradictio in termino itu. Dalam hal ini yang diupayakan adalah menghalalkan segala cara untuk
mencapai tujuan. Bush telah membudayakan apa yang dalam teori etika disebut sebagai ”etika teleologis”.

Dalam teori etika teleologis, fokus utama bukan pada nilai dan substansi dari perbuatan, melainkan pada tujuan dari tindakan. Artinya, yang menjadi ukuran sebuah tindakan diletakkan pada finalitas aksi. Dalam bingkai demikian, lalu
kualitas cara untuk sampai pada tujuan bukan lagi menjadi sesuatu yang penting.  Yang penting, bagaimana cara mencapai tujuan itu. Atas dasar argumentasi demikian, lalu penganut etika teleologis dapat membenarkan segala cara untuk
mencapai apa yang diinginkannya. Dengan kata lain, di sini motivasi dan ekses kemanusiaan sebagaimana disebutkan di atas tidak mendapat tempat.  Karena itu dalam etika teleologis, yang dimutlakkan adalah persoalan ontis, dan bukan
persoalan ontologis, meminjam terminologi Martin Heidegger.

Hegemoni Kekuasaan

wanted.jpgDalam bingkai berpikir seperti di atas maka sangat tepat apa yang pernah digagaskan oleh Antonio Gramsci tentang kemungkinan hegemoni kekuasaan itu sendiri. Dalam Catatan-Catatan Politik (Pustaka Promothea, 2001) penulis dari Italia ini menyatakan bahwa pengaruh kepemimpinan dalam bentuk moral maupun intelektual amat kuat dalam pembentuk sikap kelas yang dipimpin dalam karakter konsensual. Konsensus yang terjadi antara dua kelas, yakni masyarakat dan pemimpin bisa diciptakan melalui cara pemaksaan maupun pengaruh yang terselubung lewat perangkat-perangkat kekuasaan. Justru dengan demikian lalu hegemoni tidak terlepas dari kekuasaan itu sendiri.

Menurut hemat penulis, itu pulalah yang diejawantahkan oleh Bush melalui perang.  Justru karena memberlakukan etika teleologis sebagai wujud dari hegemoni kekuasaan itu, humanisme universal terus terancam.

Pertanyaan selanjutnya tentunya, apakah setelah perang yang mengancam sisi kemanusiaan ini berakhir, Bush bertanggung jawab atas segala dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan militer itu? Bush harus memilih apakah ia
memperlihatkan dirinya sebagai orang yang memiliki integritas moral dalam arti bertanggung jawab atas segala risiko keputusan dan kebijakan yang dibuatnya terhadap sisi kemanusiaan atau menjadi penjahat kemanusiaan.

Kalau Bush memilih yang pertama, tentunya sudah seharusnya mulai sekarang tanda-tanda tanggung jawab itu diperlihatkan dengan keberaniannya untuk menghentikan tindakan invasi militer ke Irak. Sebab, tindakan itu telah
mengancam kemanusiaan.

Penulis adalah dosen etika di Universitas Atma Jaya, Jakarta dan Mahasiswa S2
STF. Driyarkara, Jakarta.

Last modified: 29/3/2003


Responses

  1. bagus sekali tulisannya eh ternyata dosen


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: