Oleh: adek | Maret 1, 2003

Sebuah Perjalanan 2

rombongan.jpgMengikuti Kesepakatan pertama untuk tidak demontrasi diluar kampus akhirnya bisa memperkuat basis-basis kampus yang ada, kelompok mahasiswa yang perduli semakin banyak didalam kampus, pengertian-pengertian kenapa harus bergerak dan diam berarti mau mati dan tidak perduli yang dijabarkan disetiap orasi dan mimbar bebas, pamplet yang ditempelkan disetiap sudut ruangan yang ada membuat bangkitnya semangat semangat yang selama ini terlena dengan semangat pembangunan yang disebut Pelita dan Repelita.

Disetiap kampus yang ada baik itu kampus dengan basik agama, sekuler maupun kampus-kampus dengan basic ekonomi dan tehnik sama-sama mengusung usulan yang sama waktu itu, Turunkan Harga …! (1998).

Dan mengambil momentum Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1998, beberapa hari sebelum peristiwa Trisakti teman-teman di IKIP Jakarta (sekarang UNJ=Universitas Negeri Jakarta) mengadakan mimbar bebas di depan kampus, tapi aparat dari negeri ini menjadi panas kuping seketika, betapa tidak ini merupakan gelombang-gelombang pertama peristiwa yang belakang hari disebut MAKAR terhadap regim yang bobrok mulai terbentuk.  Dimotori teman-teman PERS Mahasiswa, Lembaga Kesenian Kampus juga termasuk ROHIS Kampus bersuara satu untuk hal ini.

Ketika Demo itu berlangsung beberapa Teman mencoba untuk meningkatkan area , keluar dari gerbang tapi ternyata berita yang kudengar waktu itu, teman-teman disana ditembaki dang diberondong gas air mata
beberapa luka karena tercebur disaluran air.  Sayangnya peristiwa ini tidak pernah di Blow-up oleh Media Massa, bepa tidak zaman itu tidak ada yang berani membuat berita benar, semua diplintirkan.

Tak Dapat dipungkiri kami semakin berani, di beberapa hari kemudian Kami mulai beranikan diri berdemonstasi diluar kampus, aksi di 4 titik di Jakarta,  Daerah Timur Jakarta di Cawang, Tengah sekitaran Tanah Abang, Utara di Pelosok Cilincing dan Selatan di Lebak Bulus. 3 Titik pertama aksi selebaran, menggalang massa rakyat.. (kami mulai serius dengan mengusung bendera Forum Kota).

Di Lebak Bulus kami bentrok dengan PHH (Pocici anti HuruHara ), Dan maaf waktu itu aku baru tau fungsi lain dari pasta gigi yang ditempel di pipi dan kening, pentingnya mengunakan helm pengaman serta menggunakan pelindung tulang kering seperti yang dipakai oleh pemain bola.

menunggu.jpgTapi apakah waktu itu pernah terbesit bahwa kegiatan pariwisata akan menjadi pingsan dikarenakan anak negeri ini meminta kehidupan yang lebih baik untuk berbangsa dan bernegara , ketika PHH menghantamkan kayu mereka ke kami, dan dibalas dengan terbangan botol minuman mineral dan terakhir batu jalan. Beberapa teman di injak dan beberapa lagi di angkut ke poksek Ciputat, tapi beberapa jam keluar lagi karena waktu itu Polisi tak punya alasan untuk menangkap. Yang pasti peristiwa itu tak mungkin dilupakan betapa tidak setiap pulang demonstrasi kami selalu punya cerita yang gila yang tidak mungkin dipunyai oleh orang lain kecuali waktu itu mereka mengalami kegilaan yang sama.

ANV=Action Non Violence seperti yang diajarkan oleh Mahatma Gandhi memang belum menjadi pilihan yang cukup baik waktu itu, karena kami tau bahwa aparat tidak pernah diajarkan cara yang baik menghadapi demontrasi moral, Bangsa ini telah mendidik kami menjadi ahli-ahli kekerasan..betapa jahatnya. Setelah beberapa kali aksi kami intropeksi, kadang aku menangis aku, kami sadar bahwa kami bukan seperti Super-Man yang bisa hanya membalikan tangan untuk merubah sesuatu, Ada masanya ketika persoalan bangsa ini harus sesegera mungkin diatasi, dengan kondisi krisis moneter yang dimulai sejak tahun lalu 1997, semakin cepat teratasi semakin banyak persoalan ekonomi, sosial bisa memjadi lebih baik adanya.  Waktu itu kami berpikir mungkin perlu stategi yang kuat dan perlu perjalan yang panjang.

Dilain sisi diriku bertanya kepada hati kecil ini apakah ini akan menjadi pilihan terbaik, ataukah aku hanya killingtime dari perkuliahanku yang mandeg karena biaya, tapi sejak itu aku bulatkan tekat dan semua dari kami tak punya pilihan lain selain melakukan hal itu. Yang jadi berat adalah dibagian lain dari bumi Indonesia ini, mungkin belum pernah berpikiran yang sama, bagaimana menyatukan pikiran -pikiran ini, dan lebih banyak menganggap kegiatan yang kami lakukan lebih pada membuang waktu dan tak ada manfaat.

Tapi sudahlah..

Sebelum 12 Mei 1998, aksi besar terjadi di Jogya, didepan kampus yang UGM salah satu teman kita meninggal ditembak dan diseret tentara…namanya Sdr. Garuda Nusantara, dan hal ini sekali lagi tak pernah di blowup PERS, setelah kejadian beberapa hari baru ketahuan.

Ataukah PERS tak pernah berpihak pada kebenaran……….

Setelah gelombang-gelombang besar aksi mahasiswa-masyarakat, itulah Teman dari Universitas Trisakti Grogol beranikan diri untuk aksi mimbar bebas dan berencana keluar kampus dan maaf …
mengusung spanduk dengan tulisan turunkan harga gincu, turunkan harga-harga di Mall, tidak menyentuh persoalan substasial yang ada waktu itu, tapi itulah Trisakti, dengan segala pilihan yang ada mereka mencoba keluar dari kampus,
menuju DPR, tapi Aksi yang ditebari bunga-bunga itu harus berakhir tragis, 4 orang anak kandung bangsa ini harus menebus pengorbanan yang besar yang pernah atau tidak terpikirkan oleh mereka.

Karena mereka meninggal disudut-sudut gedung.. (sedang demonstrasi ..)

Cibitung, 1 Maret 2003


Responses

  1. cok elek elek gambare kurang apik goblok


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: