Oleh: adek | November 16, 1998

Kisah Negeri Pelangi

Sudah seminggu ini aku berada di negeri pelangi, sebuah kenyataan yang tidak nyaman yang harus kutempuh guna melengkapi salah satu syarat untuk meraih gelar kesarjanaan  di Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Indonesia. Seperti sebuah pilihan sulit bagiku diantara tanggung jawab yang dibebankan orang tua yang telah mengeluarkan uang yang cukup banyak demi sebuah embel-embel sarjana teknik.

Sebelumnya pernah terbayang olehku sebuah nama, Mohamad Polan Sarjana Tehnik, disingkat Mohamad Polan , ST.  Mantap kali kedengarannya.  Tapi lama-lama aku gerah juga, karena keberatan embel-embel itu.  Karena beberapa hari yang yang lalu, adik kelasku Teddy Mardhani tertembak didepan Universiatas Atmajaya Jakarta dalam peristiwa Semanggi.  Dan hal ini membuatku semakin mau cepat pulang ke Jakarta saja.

Aku menelpon beberapa teman di Jakarta mempertanyakan keadaan mereka, Sari menyarankan untuk menyelesaikan semua urusanku di negeri pelangi ini.  Itu artinya aku baru pulang tanggal 8 Desember 1998 nanti, cukup lama juga padahal inipun baru 1 minggu.  Sebelumnya perlu aku sampaikan bahwa aku berada di daerah yang disebut Badak Field, VICO Indonesia di Kalimantan Timur dalam rangka melihat secara langsung dunia industri itu seperti apa.  VICO  Indonesia sendiri adalah Virginia Indonesia Company merupakan salah satu perusahaan kontraktor sharing Pertamina yang memproduksi minyak dan gas bumi.  Dan keputusan yang sulit itu harus dijalankan dengan berkonsentrasi dan belajar di Badak Field yang tepatnya 80 mill di sebelah timur laut kota Balikpapan dan 30 mill disebelah timur kota Samarinda.

Dari rangkaian praktek kerja ini, dimulai keberangkatan kami dari Bandara Sepinggan dan naik pesawat baling-baling menuju Badak Field, dan sejak itu belum pernah kutemukan mahluk lain selain laki-laki.  Makanya aku menuliskan dalam reportku, ….  Laporan di Negeri Pelangi.  Akhirnya aku mulai iseng-mencari acara sendiri-membunuh waktu supaya tak terasa lama.  Hari ini korban pertamaku adalah teman sekamar.  Sebenarnya bukan hal yang aneh kalo para karyawan disini keluar dari barak pemandian dengan celana dalam saja sambil memutar-mutar handuk sambil menuju kamarnya masing-masing.  Toh bagi mereka disini laki-laki semua.

Tapi hal ini berbeda dengan Achmad Bina, temanku ini. Pagi itu aku sembunyikan handuk yang tergantung dipintu kamar mandinya ketika dia sedang mengusap-ngusap mukanya dengan sabun.  Alhasil Bina telat sampai Plant Maintenance.  Bina tidak marah sambil mesem-mesem dia berkata, “Jadi terpaksa ku tunggu sepi semua dan baru ku lari dengan kencang menuju kamar, persoalannya aku tidak pakai celana dalam… “.  Barulah kami sadar kenapa Bina jadi lama sekali sampai ditempat pekerjaan.

Lain-lagi, anak UPN Perminyakan.  Gatut Yuli namanya.  Entah sudah berapa kantong pasir yang diambilnya lalu dibungkus sebesar genggaman, “ Ini loh Dek, menurut kepercayaan orang Jawa kanya kalo pasir ini kita ambil dan kita simpan maka kita akan balik lagi kesini (kerja maksudnya)”.  Ada-ada saja pikirku si Gatut ini. 

Gatut dari sejak pertama memang sudah seperti bunglon tingkah polahnya, dari Bandara Sepinggan, hampir kupikir karyawan VICO.  Betapa tidak, dari warna pakaiannya sangat menyerupai karyawan VICO dan satu lagi mukanya pas banget, bukan seperti mahasiswa kerja praktek.  Sepertinya dia sangat menjiwai perannya sebagai orang minyak.

Populasi Mahasiswa bertambah ramai dengan datangnya 3 mahasiswa dari Trisakti Jakarta, tapi mereka sangat selvis, jadi aku tidak perlu mengingat nama mereka.   Kedatangan mereka ini bersamaan pulangnya Mahasiswa dari ITS jurusan Fisika Instrumentasi, yang mengambil thesis ditempat ini dengan biaya perjalanan sendiri dari Surabaya.

Bicara negeri pelangi memang tidak ada duanya, walaupun ditengah hutan akses telpon tiada habisnya, bisa telpon kemanapun kau suka, kalau setelah makan malam, aku menelpon Jakarta, melepaskan rindu.  Nanti sengaja kucari telpon yang agak jauh dari keramaian, setelah itu aku selalu masuk bioskop, untuk melepas lelah menunggu jam tidur.  Hampir setiap malam ku dengar teriakan yang sama.  Ketika adegan ciuman pada film tersensor tiba-tiba.  Rupanya mereka normal juga pikirku.  Lalu sebelum balik kekamar kujambangi Gatut Yuli di ruang Bilyar, kadang dia sudah tidak ada.  Sampai dikamar kudapati Bina sudah menarik selimut, dengan stelan temperatur 24 derajat C.  Sudah berapa malam ini Bina tidur duluan karena kecapean.

Tadi sore waktu makan malam, Pak Eko Bambang yang jenggotan, berkata kepadaku, “ Besok kalo mau lihat mahluk yang namanya perempuan, diacara senam jam 3, Instrukturnya cantik dari Samarinda. “  Berita ini kontan membuat Gatut Yuli meneteskan air liurnya.  Aku juga jadi penasaran. Karena mulai dari Koki dan Para Pelayan di resto makan mess CAMP A sampai pada Tukang loundry pakaian kami, semuanya laki-laki.  Jadi kesempatan melihat perempuan, ya.. hari besok itu pikir kami.

Tapi … penasaranku terjawab semua dengan sebutan negeri pelangi ini dengan semboyannya no woman no cry, besok jadwalku ku Sumur no 17, entah bisa pulang cepat atau tidak, sedangkan Gatut Yuli berangkat ke Samberah.  Yang punya kesempatan hanyalah Bina dan anak-anak Trisakti itu, tapi aku sudah tidak terlalu penasaran karena aku mulai menumukan studi kasus yang lain terhadap getaran pada Centaur Turbine Compressor 40 Version T-4702.     Toh perihal instruktur senam ini bisa dilihat kapan saja, dan di Jakarta juga banyak, yang penting Ilmu dan kesempatan buat belajar disini ini cuma ada satu kali dan jangan dilewatkan begitu saja.  jadi pergunakan waktumu dengan sebaik-baiknya.


Responses

  1. he he … dasar gila …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: