Oleh: adek | April 25, 1993

MEMORY buat tias

Aku tersentak kaget, terasa darah mengalir ke kepalaku, ketika kusaksikan sendiri dengan mata kepalaku saat engkau melambaikan tanganmu kepada laki-laki itu, dan apa yang kutakutkan selama ini terjadi…………..

Kamu masih menyayanginya….?”

Dulu… Di sebuah kedai kecil diseberang sekolah, Arik masih terus nungguin teman lawan jenisnya yang belum juga keluar dari Lab. sekolah. Ketika Arik menghabiskan Van Houtennya, yang ditunggu datang.

“Dimana Rik, jadi yah rencana kita tuk sore ini ?” Tias membuka pembicaraan sambil melemparkan senyuman manisnya itu. “Jadi” jawab Arik tegas dan mantap. Lalu mereka keluar dari lokasi itu, pulang sama-sama seperti sebuah pekerjaan rutin harian bagi mereka berdua. Dan selama mereka pacaran kurang dari tiga semester ini, semua teman mereka pada tau……

Tapi sekarang……. Arik berjalan loyo keluar dari kelas melewati belasan pasang mata teman-temannya, belasan pasang mata yang telah melihat perubahan pada diri Arik. Arik yang dulunya riang, banyak canda sekarang melangkah gontai menuju ke bangku panjang dibelakang kelasnya. Dengan tak bersemangat dia mencoba duduk, lemas. Terbayang di matanya, selama ini….selama Arik masih mempunyai cerita cinta dengan Tias, orang yang begitu disayanginya dan sebelum hari keputusan yang diambil Arik. “Ias…saya kangen kamu, saya pengen cerita dan ngomong-ngomong lagi sama kamu”.

“Ias…memang dulu kita tidak pernah pisah kemanapun….dan sampai kita pernah buat janji tuk trus sama-sama”.Ias…saya tidak tau apa yang harus kuperbuat sekarang”. Arik berkeringat dingin, wajahnya jadi pucat. Lalu Arik terbayang ketika hari terakhir ngomong serius sama Tias ditempat itu.

“Ias…kamu nangis di depan mataku lalu kita sama-sama tau, kita tidak bisa terusan dengan semua janji-janji kita”. Arik memeluk Tias, orang yang disayanginya dan pelukan terakhir kalinya. Arik mencium kening Tias… ”Kita sekarang sahabat, sayang”. Semenjak itulah mereka ……..putus !. Arik mengingat-ingat kembali peristiwa lalu sehingga Arik berani mengambil keputusan itu. Lima hari yang lalu, Arik kenalan dengan Henri dirumahnya Jei, teman lama Arik. Henri adalah anak sini juga tapi selama ini Henri sekolah diluar kota, lalu dia bercerita kepada Arik bahwa dia mempunyai pacar dikota ini, walaupun mereka pisah lebih dari dua semester, mereka tetap bersuratan dan mereka saling cinta… Arik tersenyum saja mendengar cerita Henri.

Arik memutuskan cerita Henri karena ada janjian dengan teman-teman lain. Esok harinya, sore hari Arik dan Tias jalan-jalan, ketika ingin kembali mereka berpapasan dengan Jei. Jei terkejut melihat Tias dengan Arik. Arik melihat perubahan pada wajah Jei. Lalu mereka singgah bertiga dirumah Arik. Arik meninggalkan Tias dengan Jei di teras depan. Ketika ingin kembali Arik menangkap jelas pembicaraan antara Tias dan Jei bahwa selama ini….selama Tias dan Arik berhubungan, Tias masih mempunyai hubungan lain…yaitu dengan Henri. Arik belum percaya apa yang telah didengarnya. Arik percaya Tias.

Sampai suatu ketika, saat Arik ke rumah Tias dan duduk-duduk di depan rumah Tias, lalu lewat Henri dan Arik tersentak kaget, terasa darah mengalir kekepalanya dan dengan mata kepalanya, Arik melihat sendiri Tias melambai-lambaikan tangannya kearah laki-laki itu dan disambut Henri dengan senyuman, Kamu masih sayang padanya ? Arik mengusap air matanya, mengakhiri bayangan buruk itu ketika bel pulang sekolah berbunyi. Lalu buru-buru Arik mengambil tas lalu pulang melewati kelas gadis yang pernah bersamanya, pernah dicintainya dan yang pernah menjadi cerita bagi diri Arik, Tias yang sedang berdoa untuk pulang. Wajah manis itu membayangi pikiran Arik kembali.

“Ias…saya tidak bisa munafik, aku masih sayang kamu, tapi apakah masih mungkin aku mengharapkan kamu kembali….?”. “Kenapa sekarang aku jadi ingin mengembalikan kebersamaan yang pernah kita buat dulu dan mengapa rasa itu timbul setelah dia akan pergi meninggalkan diriku…” Arik duduk di kursi belajarnya dengan malas, pandangannya tertuju pada tumpukan surat. Semua surat dari Tias, kekasihnya dulu. Dibacanya satu demi satu, lalu melirik sebuah sampul pink…kartu Valentine. Dari Tias yang ukuran yang gede banget dan paling berkesan di hati Arik, lalu Arik mengorek kembali masa lalunya dengan gadis manis itu. Peristiwa yang membuat malu untuk mengenangnya kembali…disaat Arik berani bilang bahwa Arik suka Tias.

“Ias,….aku suka kamu..”. Arik jadi senyum sendiri. Lalu lamunannya cepat-cepat dipotongnya karena keburu mau ke rumah teman, kan udah janjian. Dan sekarang Arik telah menghapus anggapan bahwa sepi itu lebih baik daripada rame dengan canda tawa Tias dan sekarang waktunya buat kita sama-sama lagi seperti dulu. “Rik, jadi ya kita basket sore ini ?” kata Eman yang mengagetkan Arik. “Jadi dong…” jawab Arik. Sore ini Arik harus maen lawan tim dari kelas Tias. Berarti ini kesempatan baik buat nunjukin ke Tias. Siapa Arik sekarang ini. Ego Arik mulai timbul.Dengan kaos nomor du puluh tiga, lari kencang menyarangkan bola ke basket lawan merubah skor untuk sementara. Sementara diam-diam Tias memperhatikan Arik dari tadi dengan serius sekali. “Rik, kenapa kali ini aku jadi suka sekali sama gaya-gaya kamu…Oh Tuhan, Rik maafin aku yah” gumam Tias.

Mungkin Arik sudah tau apa yang harus dilakukannya sekarang. Esok paginya, Arik kagak muncul disekolahan…., Tias tambah plin-plan. Lalu Tias coba-coba kembali ngumpulin cerita tentang Arik. Retna yang diserbu pertanyaan Tias jadi bengong dan membuat Tias jadi penasaran lagi. Apalagi selama dua hari ini Arik tidak kelihatan batang hidungnya. “Eh, Eman. Arik kemana?” tanya Tias di kantin. “Arik ? Kan mau pindah, gak tau sekarang ada dimana, katanya sih ngurus ke Sma Merah Putih”. “Eh, dia benar mau pindah ?” Tias menarik lengan Eman. “Iya” jawab Eman singkat.

Dirumah, Tias banyak merenung. Mikirin kesalahan yang telah diperbuatnya dan kenapa sekarang dia jadi ingin mengembalikan kebersamaan yang pernah mereka buat dulu dan mengapa rasa itu timbul setelah Arik akan meninggalkan Tias. “Aduh kenapa Arik tega pindah…” Esoknya, Tias masih diam seperti kehilangan semangat. “Tias, dipanggil Eman tuh” bisik Retno. Eman melambaikan tangannya dari kantin. Jangan-jangan soal Arik.

Tias menghampiri Eman penuh harap. “Sst..kamu ditunggu Arik di gardu samping”. “Arik ?” Tias menggumam. Mungkin mau ngucapin selamat berpisah. Tias berjalan gemetar menuju gardu samping sekolah. Dibalik gardu tampak pemuda tanpa seragam sekolah dengan celana hitam panjang, kemeja biru muda. “Rik” suara Tias gemetar. Arik langsung menoleh dan tersenyum memandang wajah manis didepannya. “Halo, apa kabar ?”Arik berkata. “Baik”. Lama keduanya membisu. Arik membuang rumput basah yang dari tadi digigitnya, ketika menunggu Tias. “Eng,…..Ias saya mau pamit ke kamu dan mau minta maaf atas semua salah saya…”.

Tias tersenyum pahit. “Aku juga” jawab Tias. “Kamu mau maafin saya kan ?” Tias mengangguk. “Apapun yang terjadi ?” Tias mengangguk. Arik tersenyum…..lalu berlalu… Sementara Tias diam, matanya berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan tangis…Betapa masih sayangnya Tias ke cowok yang satu ini. Eeesokan harinya, Retno menghampiri Tias….”Kamu dikerjain ama Arik, dia kan gak pindah seperti yang kamu kira…dia ada di kantin sono..”. Tias terdiam lalu menuju kantin. Benar Arik disana. “Sorry Ias, ini terpaksa saya lakukan. Abis saya gak tau gimana caranya supaya bisa kembali lagi ke kamu. Saya capek sendiri”.

Tias tetap membisu. Arik kehabisan akal. “Atau….kamu pingin aku pindah beneran…?” “Rik…kamu udah mainin perasaan saya”. “Maafin aku Ias”. “Gak apa-apa, tapi sekarang aku bahagia kok karena bisa kembali ke kamu…”. Tias maju selangkah, memegang erat jari Arik. teman-teman yang ngerti soal ini jadi malu sendiri melihat adegan privacy yang gak layak ditonton anak-anak…..Aku masih sayang kamu………

Adek……1993 Pro : Kamu, 3 Bio1, kamu baik deh and salut buat kamu


Responses

  1. Gilo le … Aku romantis jua dulunya…. ya ha ha…
    Thank’s Mija yang telah mengembalikan naskah ini ke Aku…

  2. ternyata tulisan ini bagus loh bro …
    gila… gw ampe senyum-senyum kaya unta abis gosok gigi..

    asli … top bgt….

    frase-frasenya ok… cukup emotional….

    seru…

  3. Zik, you know lah I waktu itu lagi berbunga-bunga, but this story came from true story ..

    Gara-gara kulihat ada cinta lain dimatanya .. serem amat waktu itu sayangnya istilah selingkuh belum ngetop Beb …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: