Oleh: adek | Februari 12, 2016

sikapi perbedaan untuk produktifitas

Sore ini hujan belum berhenti, semua kendaraan tersendat di jalan raya. Syukurnya Jakarta tidak banjir seperti dulu.  Program Gubernur Jakarta yang sekarang memperlebar kali telah membuahkan hasil walau sejak pertama terdapat pro dan kontra.  Tapi kita bisa mengucap Alhamdullilah.  Karena diawal perbedaan ini terlalu dibesar-besarkan, tapi produktifitasnya bisa di acungin jempol.

Seringkali kita sangat sulit menerima perbedaan.  Perbedaan dianggap akan menjadi rintangan. Perbedaan akan menambah kesenjangan. Perbedaan akan membuat jalan menjadi lebih panjang. .. dan seribu macam alasan perbedaan membuat tidak baik.

Aku mulai mengambil hp dan melihat beberapa pesan masuk dari grup kesayanganku.  Sempat aku balas beberapa. Lalu aku jadi ingat sebuah tulisan tentang survey dibanyak tempat bagaimana menaikkan produktifitas.

Dari beberapa ada 2 cara yang membekas di ingatanku. Yang pertama di komunitas yang para lelaki mendominasi akan bertambah produktifitas 15% jika ada penambahan tenaga kerja wanita. Akan ada semangat baru tumbuh disana.  Yang kedua jika ditambahkan lagi tenaga kerja dengan etnis yang berbeda akan bertambah produktifitas sampai 35%.

Ketika ada etnis baru masuk kesuatu kelompok dan kelompok tersebut menerimanya maka kelompok tersebut mulai berempati, memperhatikan hal-hal kecil dari si komunitas baru, lebih terbuka dan banyak hal-hal yang bisa dipelajari disana.

Ada kondisi sejak kecil sampai belajar di sekolah tinggi, komunitas kita kadang tidak berubah bahkan mungkin jodohpun berasal dari komunitas tersebut juga.  Bahkan tertutup dengan komunitas yang lain.  Hal ini tentunya sangat disayangkan.  Saya bukan mau menuliskan baik buruknya suatu etnis/suku tapi mengupas dari culture aspek. Karena ada suku yang terlihat sangat mengandalkan senioritas.  Karena kondisi demikian kita akan menjadi bersikap superior. Tapi dibalik superior tersebut junior tidak bisa berkembang baik.  Dimana  kita tidak bisa belajar banyak tentunya dengan situasi tersebut.

IMG_2763

Waktu aku berusia 35 tahun, disuatu kesempatan berkumpulnya semua kepala produksi dari grup perusahaan dengan berbagai negara. saya masih menangkap cibiran senioritas, ‘Junior kamu belum waktunyaaaaaaa…!’ (pikir- jahatku diotak mereka).   That’s way .. aku kira inilah yang membuat perusahaan dari negara tersebut perlahan runtuh dan beberapa sudah angkat kaki dari negeri ini.

Ketika ada seorang anak yang dilahirkan dari pasangan berbeda suku, bahwa sejak dia lahir dia sudah memiliki dan bisa belajar di 2 culture yang berbeda.  Seharusnya si anak akan lebih kaya kreatifitas dibandingkan anak yang dilahirkan oleh pasangan sesuku.

Dari contoh diatas tentunya bisa kita bisa menakar cara menaikkan produktifitas dengan cara lain, tentunya semakin banyak tahu kita terhadap suatu perbedaan (baca: kebudayaan) akan semakin mudah kita melalui rintangan yang ada.

Semoga kita bisa lebih arif dalam menyingkapi perbedaan dan bisa menggunakan untuk menaikkan produktifitas.

Oleh: adek | Januari 5, 2016

mp3

Saya termasuk orang yang sangat gembira ketika teknologi pemutar musik di tape mobil bisa menggunakan format mp3.

Apalagi bukan bentuk kepingan disc lagi tetapi sudah menggunakan port usb.

Bayangkan jaman kaset dulu yang hanya mampu merekam 12 lagu kini sudah tergantikan dengan sistem yg lebih lapang, sehingga perjalanan Pd Gede – Jatake yang melewati 3 propinsi tidak terjadi pengulangan lagu.

Sehingga hobbyku melakukan gerakan aneh mengikuti lagu, terealese dengan sempurna  b:)*

Oleh: adek | September 2, 2015

blink…blink

I know the story, but I don’t know the truth

-carlos fuentes-

Oleh: adek | April 9, 2015

Kembang Jambu Air di Pangkallalang

Saat itu penghujung Juli 1991, sudah mendekati akhir libur sekolah. Pagi hari dengan udara yang sejuk.  Pepohonan menghijau.  Begitu pula dengan pohon Jambu Air depan rumahku.  Mulai merontokkan buluh putih pada bakal buah.  Mewarnai bak karpet alami di sekeliling pohon, sayang untuk dibersihkan.  Putih ..

Kondisi ini susungguhnya tidak tahan lama karena sore nanti bulu putih tersebut segera berubah menjadi coklat terkena sinar matahari.

Aku sendiri masih terpaku menatap indahnya permadani.  Belum kumulai pekerjaan ku untuk menyapu daun-daun yang ikut berjatuhan, sayang untuk dihancurkan.  Sapu lidi masih kupegang erat di tangan kananku.

Kumbang kayu masih berpindah dari satu bunga ke bunga lain menambah andil jatuhnya sang bulu.  Kampungku bernama Pangkalalang. Kampung ku penuh di tumbuhi pohon jambu air di pekarangan rumah-rumah kami.

Disetiap pohon jambu air berbuah mulai dari kembang sampai buah sayang untuk dilewatkan.  Sesungguhnya mengamati hal ini sayang untuk dilewatkan… Apa yang nanti dilihat dan dirasakan anak anak kami, apakah mereka masih melihat bulu kembang jambu air ini, pohon jambu air ini dan aktivitas kumbang jambu air ini.

Sopir taxi yang saya tumpangi bercerita mengejutkan bahwa anaknya tidak tahu bahwa ayam punya bulu.  Gambaran tentang ayam ini seperti yang dilihat di resto cepat saji tersebut, sudah bentuk potongan, saya menggelengkan kepala, bayangkan indahnya mahluk ciptaan Tuhan yang disebut ayam ini tapi berbeda penggambarannya oleh anak kecil di negara tetangga kita,.. tragis bukan.

Bahkan salah satu anak pimpinan kantor pernah saya tunjukan pohon durian dan dijawab olehnya, ‘Masa itu, baru tau saya ..’

Saya menggumam, jangan sampai Anak-anak kami tidak tahu bagaimana bentuk awalnya sebuah jambu air..

Terima kasih kami punya kesempatan untuk meyaksikan kebesaran Mu yang tak tak terhitung jumlahnya.

Oleh: adek | Maret 3, 2014

March 3, 2014…

ink manufacture, Jatake…..

image

Older Posts »

Kategori