Oleh: adek | November 1, 2007

Antonio Gramsi – seorang revolusioner Italia.

gramsci.jpgAntonio Gramsci lahir pada tanggal 22 Januari 1891, di kota Ales, pulau Sardinia.  Enam tahun kemudian, ayahnya dicopot dari posisinya sebagai pegawai dan dijebloskan di penjara karena dituduh korupsi, sehingga Antonio bersama ibunya harus perpindah ke kota lain dan hidup mereka menjadi agak sulit. Selama masih anak, dia jatuh dan menjadi cacat, dan seumur hidup dia kurang sehat.

Sewaktu mahasiswa di Cagliari dia menemui golongan buruh dan kelompok sosialis untuk pertama kalinya. Tahun 1911 dia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Universitas Turino. Kebetulan sekali Palmiro Togliatti, yang kelak menjadi Sekertaris Jendral Partai Komunis Italia (PCI), mendapatkan beasiswa yang sama. Di Universitas tersebut Gramsci juga berkenalan dengan Angelo Tasca dan sejumlah mahasiswa lainnya yang kemudian berperan besar dalam gerakan sosialis dan komunis di Italia.

Pada tahun 1915 Gramsci mulai bergabung dalam Partai Sosialis Italia (PSI) sekaligus menjadi wartawan. Komentar-komentarnya di koran “Avanti” dibaca oleh masyarakat luas dan sangat berpengaruh. Dia sering tampil berbicara di lingkar-lingkar studi para buruh dengan topik yang beraneka-ragam seperti sastra Perancis, sejarah revolusioner dan karya Karl Marx. Dalam Perang Dunia I, Gramsci tidak seteguh Lenin atau Trotsky dalam melawan perang tersebut, namun pada hakekatnya orientasinya adalah untuk mebelokkan sentimen rakyat ke arah revolusioner.

Aktivis dan intelektual muda ini sangat terkesan oleh Revolusi Rusia tahun 1917. Seuasai Perang Dunia Gramsci ikut mendirikan koran mingguan “Ordine Nuovo” yang memainkan peranan luar biasa dalam perjuangan kelas buruh di kota Torino. Saat itu kaum buruh sedang berjuang secara sangat militan serta membangun dewan-dewan demokratis di pabrik-pabrik. Gramsci beranggapan bahwa dewan-dewan itu memiliki potensi untuk menjada lembaga revolusioner semacam “soviet-soviet” di Rusia.

Sehubungan dengan keterlibatannya dalam gerakan buruh, Gramsci memihak minoritas komunis dalam PSI. Partai Komunis yang muncul waktu itu merupakan pecahan dari PSI, dan Gramsci menjadi anggota Komite Pusat partai tersebut. Selama 18 bulan (tahun 1922-23) dia merantau di Moskow. Tahun 1924 dia terpilih menjadi anggota parlemen.

Pada tanggal 8 Nopember 1926 Gramsci tertangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah fasis Mussolini. Jaksa menegaskan bahwa: “Kita harus menghentikan otak ini untuk bekerja selama 20 tahun.” Sejak saat itu selama 10 tahun dia meringkuk di penjara, dengan sangat menderita karena keadaan fisiknya yang kurang sehat. Namun bertentangan dengan harapan si jaksa fasis itu, masa sulit ini akan menjadi kesempatan untuk Gramsci menulis karya Marxis tentang masalah-masalah politik, sejarah dan filsafat yang luar biasa berbobot, dan yang terbit setelah Perang Dunia II dengan judul “Buku-buku Catatan dari Penjara” (Prison Notebooks).

Sayangnya, rumusan-rumusan dalam buku ini terkadang sulit ditafsirkan, karena Gramsci harus memakai bahasa yang tidak langsung, bahkan memakai kata-kata sandi yang dapat diartiakan secara berbeda-beda. Oleh karena itu, buku tersebut pernah diinterpretasikan sebagai karya non-Leninis bahkan anti-Leninis. Pemikiran Gramsci didistorsikan oleh kepemimpinan stalinis dari Partai Komunis untuk membenarkan strategi parlementer mereka, dengan argumentasi bahwa Gramsi mempunyai sebuah strategi yang beranjak dari sudut pandangan kelas buruh dan diktatur proletariat menuju suatu orientasi lebih “kaya” dan lebih “luas”. Kemudian argumentasi yang sama digunakan bermacam-macam partai dan kelompok reformis di seluruh dunia, yang suka mempertentangkan Gramsci dengan Lenin. Argumentasi ini adalah salah.

*****

Sudah pada tahun 1918 Gramsci menggambarkan para politisi reformis sebagai “sekawan lalat yang mencari semangkok poding” dan setahun kemudian menegaskan: “kami tetap yakin, negara sosialis tidak bisa terwujud dalam lembaga-lembaga aparatur negara kapitalis … negara sosialis harus merupakan suatu penciptaan baru.”

Ini sebabnya dia berpisah dengan Partai Sosialis dan ikut mendirikan Partai Komunis. Meskipun dia masuk parlemen sebagai taktik, pendapat Gramsci ini sama sekali tidak berubah seumur hidupnya.

Tulisannya terakhir sebelum masuk penjara adalah Tesis-tesis untuk konferensi Partai Komunis di Lyons pada tahun 1926. Di sini cukup jelas bahwa Gramsci tetap menganut jalan revolusioner, melalui pemberontakan bersenjata kaum buruh. Dia menganalisis kekalahan kelas buruh dalam perjuangan historis tahun 1919-20, dengan menyatakan bahwa kekalahan tersebut terjadi karena “kaum proletariat tidak berhasil menempatkan diri di kepala insureksi mayoritas masyarakat dalam jumlah yang besar… malah sebaliknya kelas buruh terpengaruhi oleh kelas-kelas sosial lainnya, sehingga kegiatannya terlumpuhkan.” Tugas Partai Komunis adalah mengajak kaum buruh untuk “insureksi melawan negara borjuis serta perjuangan untuk diktatur proletariat”.

Sudah sejak awal, Gramsci melihat proletariat sebagai faktor kunci dalam revolusi sosialis. Itu sebabnya dia terlibat dalam dewan-dewan pabrik di Torino pada tahun 1919-20. Fokus ini marak pula dalam Tesis-tesis Lyons. Organisasi partai “harus dibangun berdasarkan proses produksi, maka harus berdasarkan tempat kerja”, karena partai harus mampu memimpin gerakan massa kelas buruh, “yang disatukan secara alamiah oleh perkembangan sistem kapitalisme sesuai dengan proses produksi.” Partai itu harus juga menyambut unsur-unsur dari golongan sosial lainnya, tetapi “kita harus menolak, sebagai kontra-revolusioner, setiap konsep yang membuat partai itu menjadi sebuah ‘sintesis’ dari pelbagai unsur yang beraneka-ragam”.

Tetapi bukankah Gramsci telah mengembangkan sebuah analisis sosial tentang masyarakat kapitalis di barat yang lebih canggih dan halus dibandingkan teori-teori Lenin? Memang begitu. Seperti Rosa Luxemburg, Antonio Gramsci lebih mengerti seluk-beluk dunia politik dan perjuangan sosial di Eropa Barat, sedangkan Lenin selalu berfokus pada perkembangan-perkembangan di Rusia, sehingga kita dapat banyak belajar dari tulisan-tulisan Gramsci.

*****

Namun kaum Stalinisis dan reformis menjungkirbalikkan hal ini pula. Mereka memusatkan perhatian pada sebuah kiasan yang dilakukan Gramsci antara strategi revolusioner dan militer.

Dalam “Buku-buku Catatan dari Penjara” dia membedakan antara dua macam perang: “perang manuver” yang melibatkan pergerakan maju atau mundur yang cepat; dan “perang posisi”, sebuah perjuangan panjang di mana kedua belah pihak bergerak secara pelan-pelan, seperti di dalam parit-parit perlindungan selama Perang Dunia I. Rumusan-rumusan ini diartikan para Stalinis dan reformis sebagai berikut: pemberontakan Oktober 1917 di Rusia adalah perang manuver, yang memang diperlukan dalam kondisi-kondisi primitif di sana; tetapi kondisi-kondisi di Eropa Barat sudah lebih matang dan kompleks, sehingga diperlukan sebuah strategi “perang posisi” — baca strategi parlementer dan perubahan gradual.

Semua ini omong kosong. Kedua strategi itu bukan bertentangan melainkan komplementer. Di Rusia antara tahun 1905 dan 1917, kaum Bolshevik juga melakukan “perang posisi”, dan pendekatan yang sama dianjurkan mereka bagi partai-partai Komunis muda pada tahun 1921, dalam bentuk “front persatuan”. Atau jika kita mau mengambil contoh Indonesia, para aktivis demokrasi telah menjalankan sebuah perang posisi selama bertahun-tahun, tetapi begitu krismon meletus dan rezim Suharto mulai bergoyang, mereka harus melakukan intervensi-intervensi radikal, sampai akhirnya kaum mahasiswa menduduki gedung DPR. Dan di barat sebuah “perang posisi” juga dibutuhkan sampai terjadinya krisis revolusioner; tapi begitu krisis itu meledak, kita harus beralih ke “perang manuver”.

Rumusan-rumusan Gramsci tentang “perang posisi” bersangkutan dengan teorinya tentang mekanisme-mekanisme kekuasaan ideologis dalam masyarakat kapitalis. Kaum penguasa tidak hanya berkuasa melalui alat-alat represif (polisi, tentara, pengadilan). Sebenarnya alat-alat itu hanya bergerak dalam keadaan luar biasa, seperti kriminalitas, kerusuhan, demonstrasi atau pemberontakan. Sedangkan seorang buruh biasanya masuk tempat kerja saban hari, menurut undang-undang yang ada, bahkan sering menghormati kaum penguasa … kurang-lebih tanpa paksaan langsung. Dia dipaksa oleh kebutuhan ekonomis, tetapi juga menerima ide-ide mendasar dari tatanan sosial yang ada, sehingga mematuhi undang-undangnya secara “sukarela”.

Gramsci mengembangkan sebuah analisis yang canggih tentang mekanisme-mekanisme “hegemonis” ini, yang memang lebih halus dan efektif di negeri-negeri maju. Sehingga “perang posisi” bisa saja berjalan selama bertahun-tahun. Tapi ada juga mekanisme-mekanisme hegemonis di Indonesia dan negeri dunia ketiga lainnya; bukankah para aktivis kiri sering mengeluh tentang “kesadaran palsu” massa rakyat Indonesia? Sehingga di sini pula, perbedaan antara negeri-negeri maju dan dunia ketiga bukan sesuatu yang mutlak melainkan relatif saja.

Jaksa fasis yang ingin “menghentikan otak ini untuk bekerja selama 20 tahun” telah gagal. Pemikiran Gramsci masih hidup dan berkembang. Namun pemikiran itu tidak boleh disalahartikan: Antonio Gramsci bukanlah seorang reformis melainkan seorang Marxis revolusioner.

BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia

——————–

Revolusi Iran
Sejarah dan Hari Depannya

Judul Asli:
Iranian Revolution; Past, Present and Future
Penulis:
DR Zayar

Pengantar
Oleh Alan Woods

PENGANTAR

Peristiwa-peristiwa terkini di Iran merupakan hal yang sangat penting bagi kaum buruh di seluruh dunia. Dua puluh tahun setelah revolusi anti-Shah dibelokkan dari relnya dan dirubah menjadi lorong buntu oleh para fundamentalis, rakvat sekali lagi mulai bergerak. Dernonstrasi mahasiswa, kemenangan besarbesaran dari para “reforman” dalara pernilihan umumkesemuanya ini adalah indikasi akan adanya perubahan fundamental dalam situasi. Publikasi dari buku Dr. Zayar dengan demikian tidak memerlukan justifikasi khusus.

Peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi mernberikan konfirmasi yang mengejutkan dari analisa vang telah dibuat setahun yang lalu dalara dokurnen First Shots of the Iranian Revolution. Dalam karya itu kauri menandaskan bahwa rezim para mullah dalara keadaan krisis, ditandai dengan perpecahan antara apa yang dinamakan sebagai reforman dan faksi garis keras, dan bahwa dernonstrasi mahasiswa menandai dimulainya sebuah tahapan baru dalam revolusi Iran. Represi yang brutal terhadap para mahasiswa, kauri prediksikan, akan membawa ke keadaan tappa gejolak sementara waktu, namun hal ini akan berakhir dalara sebuah kebangkitan gerakan baru yang tak terelakkan.

Sejak paragraf tersebut dituliskan, telah terdapat beberapa perkembangan baru yang besar, yang kesemuanya cenderung memberikan konfirmasi terhadap posisi kami sejak awal. Proses revolusioner di Iran mencapai sebuah tingkatan baru dengan pemilihan sebuah pemerintahan “reformis” pada awal tahun ini. Dengan mendorong faksi reformis menuju ke tampuk kekuasaan, massa ini melancarkan pukulan lain terhadap para mullah reaksioner yang telah memegang kekuasaan selama 20 tahun terakhir. Mereka mengambil keuntungan dari pemilihan untuk mendemonstrasikan keinginan mereka yang bergelora akan adanya suatu perubahan. Namun demikian, tidak ada perubahan vang telah diterima. Faksi reformis yang dipimpin oleh Mohammad Khatami takut untuk menangani para mullah reaksioner vang diwakili oleh Ayatollah Ali Khamenei.

Koran Chicago Tribune (10 juli, 2000) berkomentar: “Parlemen baru, yang keenam di Iran sejak revolusi, bersidang pada 28 Mei dan telah menghabiskan kebanyakan waktu enam bulan pertamanya meributkan masalah teknis dan menghindarkan isu-isu nyata.” Koran ini meneruskan ke permasalahan pemilihan Muhammad-Reza Khatami, seorang reforman terkemuka yang merupakan saudara dari Presiden Khatarni: “Perubahan di Iran akan menjadi sulit dan gradual… Mereka yang mengharapkan bahwa segala sesuatunya akan diselesaikan dalara waktu 6 bulan atau 12 bulan harus memahami bahwa perubahan sosial secara mendalam memakan waktu bertahun-tahun.”

“Sementara itu,” tambah Harian Tribune, “para reforman berhati-hati dalara mengambil langkahnya di parlemen. Mereka berasal dari berbagai kelompok yang berbeda-berkisar dari perwakilan kelompok mahasiswa hingga sebuah organisasi yang dinamakan Asosiasi Pejuang Ulama-tanpa adanya agenda yang pasti terhadap komitmen samar akan ‘kebebasan lebih banyak’.

Khatami dan para pendukungnya mencari perubahan melalui sarana damai yang legal, dan pada saat bersamaan menjaga konstitusi dan asas pemerintahan ulama yang tertinggi. Hal ini hampir sama saja dengan mencoba membuat bentuk kotak dari sebuah lingkaran. Meskipun para reforman telah melakukan segenap penyerahan diri dan kompromi, kaum mullah masih tidak dapat ditenangkan. Catatan bahwa, merupakan suatu hal yang masuk akal untuk mengurangi kontradiksi dalam masyarakat dengan memberikan suara bagi reformasi telah menunjukkan suatu hal yang benar-benar utopis. Sebaliknya, antagonisme telah meningkat pada sebuah level ketakutan yang baru.

Setelah adanya kekalahan yang sangat termasyhur dari para reforman dalam pemilihan parlemen Februari lalu, para ulama konservatif telah menggunakan koptrol mereka atas lembaga peradilan untuk menyerang balik. Meskipun kaum konservatif militan hanya mengontrol kurang lebih 30 persen dari kursi yang ada di parlemen, mereka telah melakukan perlawanan ketat “satu lawan satu” dalara belasan pertandingan yang dimenangkan oleh kandidat reformis. Sekitar 20 kursi masih belum diketahui siapa pemenangnya. Para reforman mengontrol lembaga eksekutif dan legislatif dalara pemerintahan Iran. Akan tetapi kaum konservatif agamis masih mendominasi lembaga yudikatif dan pusat kekuasaan penting lainnya, dan mereka telah memperlihatkan bahwa mereka siap untuk menyabotase semua usaha serius untuk mereformasi.

Ketika secara sistematis menghambat dan menyabotase reformasi, Khamenei, merasakan adanya

tekanan dari bawah, berkewajiban untuk mengambil kendali dan melakukan manuver. Dia mempertahankan reformasi “pada prinsipnya” tetapi menuntut tujuan yang jelas terdefinisikan demi menghindari adanya “miskonsepsi”. “Kami tidak ingin setiap orang menyokong pemahamannya sendiri tentang reformasi. Jikalau reformasi bergerak terlalu cepat, hal itu dapat mengarah terhadap adanya deviansi,” katanya. Dengan kata lain, Khamenei dan para reaksionaris berlindung di balik jubah Khatami dan para reforman borjuis dalam rangka mengkontrol gerakan masa. Akan tetapi tujuan dia adalah untuk menjaga cengkeraman para mullah yang kuat terhadap negara: “Konstitusi haruslah digunakan sebagai suatu ikrar, dimana Islam memiliki keutamaan di atas segala undang-undang,” tegas Khamenei.

Isu serius satu-satunya yang telah dikendalikan oleh para reforman sejauh ini adalah undang-undang pers yang mempermudah lembaga yudikatif dalara memberangus suratkabar. Akan tetapi di sini sekalipun kaum konservatif telah membuat segalanya menjadi jelas bahwa mereka hendak menghambat inisiatif ini dalara Dewan Pengawal Konstitusi, sebuah lembaga konservatif yang memiliki otoritas untuk memblokir undangundang yang dianggap “ofensif terhadap Islam.” Mereka telah menggunakan kekuatan yudikatif untuk membredel 20 suratkabar dan majalah reformis. Mereka juga telah memenjarakan belasan jurnalis terkemuka dan aktivis gerakan reformasi. Khamenei membela serangan atas kebebasan pers ini: “Kebebasan adalah penting, akan tetapi material yang meracuni (dalam pers) yang membelokkan reformasi pada saat kritis yang sensitif ini, dilarang,” katanya. “Kita tidak akan mengijinkan metode musuh kita digunakan untuk melaksanakan reformasi.”

Belum-belum konfliknya sudah dibatasi dengan kata-kata. Kaum reaksionaris telah berulangkali memperlihatkan bahwa mereka siap untuk menggunakan kekerasan apabila hal itu sesuai untuk mereka. Sebuah percobaan pembunuhan terjadi pada bulan Maret yang membuat luka kritis pada Saeed Hajarian, seorang penasihat kunci bagi Presiden Khatami, yang dilakukan oleh sebuah kelompok pejuang Islam, hampir pasti dilakukan dengan persetujuan para ulama reaksioner.

Kepengecutan Kelompok Liberal

Menghadapi kekerasan semacam itu, para reforman semata hanya mencoba untuk mengubur mereka hiduphidup. Tujuan utama mereka ke depan adalah untuk mencegah gerakan dari bawah dengan segala daya upaya. Ketika dihadapkan dengan ancaman dari kebangkitan masa, maka mereka tidak bisa tidak akan berkompromi dan meredam lapisan bawah dengan reaksi. Dalam usahanya untuk mengurangi snood para pemberontak, kaum Liberal akan melakukan yang terbaik menurut mereka untuk memperendah harapan: “Bersabarlah”, “Kami tidak bisa melakukannya sekaligus!” dan sebagainya dan seterusnya. Tom Hundley, koresponden luar negers harian Chicago Tribune berkomentar: “Harapan yang tinggi pada beberapa bulan yang lalu telah memudar. Dengan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana permainan ini akan dimainkan, para reforman yang menyapu hasil pemilihan parlementer pada bulan Februari sekarang mencoba untuk memperkecil pengharapan dari para pendukung mereka” (Chicago Tribune, 10 Juli 2000).

Para pemimpin gerakan reformasi-termasuk beberapa “mahasiswa” yang terkenal dari generasi sebelumnya, yang memimpin pendudukan Kedutaan Besar Amerika pada tahun 1979-terus mendesak mereka untuk mengendalikan perasaan dan bersabar. “Beberapa orang yang dibuat frustasi mungkin akan mencari jalan yang lain untuk mencapai tujuan mereka, tetapi kami mendesak kelompok ini untuk tidak mengambil langkah-langkah ilegal, khususnya sekarang, dimana kauri memiliki kekuatan untuk meraih tujuan ini melalui sebuah kerangka yang legal,” ucap Khatami, saudara sang presiden.

Hamid-Reza Jalaipour memainkan sebuah peranan yang menonjol dalam gerakan untuk menggulingkan kekuasaan Shah. Sebagai imbalannya, pada usia ke-21, adalah kegubernuran sebuah provinsi, namun setelah beberapa saat dia mulai merasa kecewa dengan para ulama yang memerintah negeri. Pada saat itu dia mulai menerbitkan suratkabar reformasi. Orang Liberal tersebut sangat ingin menjauhkan diri dari revolusi. “Ini adalah sebuah gerakan untuk menciptakan sebuah masyarakat madani. Ini adalah sebuah gerakan damai, sebuah gerakan yang halus, bukan sebuah revolusi,” begitu kata Jalaipour. Mantan pemimpin gerakan mahasiswa ini berubah menjadi penerbit suratkabar yang kaya pada usia 40-annya, secara sempurna mengekspresikan pendirian kaum Liberal: “Satu revolusi sudah cukup.”

Apakah ini tidak familier bagi kita di Barat? Hal ini mengingatkan akan sebuah kelas menengah eksradikal yang menyedihkan, yang berdemonstrasi di jalanan Paris tahun 1968 dan sekarang merupakan reformis yang nyaman dan politisi borjuis yang tidak ragu-ragu untuk mengacu pada surat kepercayaan “revolusioner” (yang ada tiga puluh tahun yang lalu), pada saat yang sama mendesak generasi baru supaya “bersabar” -yaitu, menundukkan kepala mereka atas kemenangan kapitalisme yang tak terhindarkan. Seperti halnya Kadet Rusia sebelum Revolusi, ketakutan mereka akan masa adalah ratusan kali lebih potensial daripada kebencian mereka terhadap kaum reaksioner.

Akan tetapi kata-kata muluk seperti itu tidak mempunyai pengaruh sama sekali terhadap rakyat yang telah letih menunggu. Perasaan yang tumbuh adalah “tak ada yang telah berubah” dan dengan demikian sebuah impuls dari bawah diperlukan. Perbenturan penuh kekerasan antara mahasiswa pro-reformasi dengan satgas Islam pada akhir minggu 8-9 Juli menunjukkan bahwa kesabaran mulai semakin menipis, terutama di antara kaum pemuda. Pemuda adalah kunci bagi revolusi Iran. Hampir 60 persen dari 65 juta populasi Iran ada di bawah usia 25 tahun. Mereka yang tidak memiliki memori nyata terhadap revolusi Islam ataupun Khomeini, menuntut kebebasan dan semakin tidak sabar dengan lambatnya langkah perubahan. Selama beberapa bulan, Presiden Khatami dan para sekutunya telah menyerukan untuk tetap tenang menghadapi agitasi dari penganut garis keras. Dalam pendapatnya yang dipublikasikan pada hari Sabtu, Khatami telah memperingatkan adanya “ledakan” sosial jika kritikan dilenyapkan dengan paksa. “Salah jika berharap bahwa rakyat bertindak sebagaimana mereka, dan menindak mereka jika mereka tidak melakukan seperti yang diharapkan,” katanya dalara komentar menandai peringatan peristiwa penyerbuan Juli 1999. “Kami tidak boleh bertindak dalam sebuah cara yang akan memperlebar kesenjangan antara rakyat dengan pemerintah, sesuatu yang pada akhirnya bisa mengakibatkan ledakan,” Khatami memperingatkan. “Rakyat harus diperbolehkan untuk berbicara bebas dan mengkritik pemerintahnya, karena jika mereka tidak diijinkan untuk melakukan hal ini, ketidakpuasan publik pada akhirnya akan menyebabkan sebuah ledakan

Khatami yang liberal mencoba untuk memperingatkan kaum reaksioner akan bahava adanya ledakan sosial kecuali jika mereka setuju untuk melakukan reformasi. Akan tetapi, seperti biasanya, peringatan yang bermaksud baik dari kaum Liberal terhambat pada tulinya telinga. Kaum reaksioner telah memutuskan bahwa setan revolusi harus diusir dengan ledakan dan peluru, bukan dengan reformasi.

Masa Turun ke Jalanan

Sekali lagi para mahasiswa harus memenuhi jalanan di Teheran dan kota-kota lainnya. Akan tetapi lingkup dari gerakan sekarang ini adalah jauh Iebih besar dari gerakan yang terjadi pada musim panas lalu yang kami gambarkan pada saat itu sebagai “percobaan pertama revolusi Iran”. Gerakan mahasiswa terkemuka, Persatuan Upaya Konsolidasi (PUK), mengorganisasikan sebuah even damai untuk memperingati ratusan mahasiswa yang terluka pada sebuah serangan atas pondok mahasiswa tahun 1999, menyerukan para pendukung supaya membagikan bunga dengan slogan “senyum untuk reformast”. Para pemimpin reformis mengadakan sebuah seminar pada suatu pondok yang setahun lalu diserang oleh para gerombolan Islam dan menghajar para mahasiswa. Tujuan akan seminar ini adalah untuk mendesak digunakannya taktik tanpa kekerasan dalara perjuangan meraih kebebasan yang lebih besar dan mencapai demokrasi. Akan tetapi banyak pelajar yang mengabaikan posisi damai semacam itu dan larangan resmi untuk mengadakan arak-arakan, mereka turun ke jalan atas kehendak sendiri dan menarik banyak minat orang awam untuk bergabung dengan keinginan mereka. Begitu masa mahasiswa turun ke jalan, demonstrasi yang terjadi menampilkan karakter yang sama sekali berbeda.

Ketika para mahasiswa berkumpul di universitas, mereka berhadapan dengan polisi dan para milisi sukarela Islam. Pertikaian meletus dan dengan cepat menyebarluas melalui pusat kota Teheran. Para satgas Islam telah menyerang demonstrasi sebelumnya yang dilakukan oleh para mahasiswa yang meneriakkan slogan-slogan untuk memberikan dukungan terhadap reformasi dan kebebasan politik. Para saksi mata menyatakan bahwa polisi tidak melakukan intervensi disaat para petugas sukarela Islam memukuli dan menendangi para mahasiswa dimuka mereka. Kekerasan polisi dijawab dengan sebuah ledakan di jalanan beberapa hari kemudian. Beratus-ratus orang, kebanyakan dari mereka dipersenjatai dengan bebatuan dan meneriakkan “kematian bagi para diktator”, bertarung mati-matian dengan belasan pejuang garis keras yang dipersenjatai dengan batu, rantai dan senjata otomatis. Para pejuang meneriakkan slogan mendukung pemimpin tertinggi garis keras Ayatullah Ali Khamenei. Para saksi mata melihat para demonstran terluka ketika kelompok militan Ansar-e-Hisbullah, atau Sahabat Partai Allah, dilempari dengan rantai, pentungan kayu dan botol pecah, disekitar pusat Taman Revolusi, dekat dengan Universitas Teheran, dimana para mahasiswa pro reformasi mengadakan hari protes damai.

Koran-koran melaporkan bahwa polisi dan para pejuang menangkap banyak demonstran dari sebuah kerumunan, yang berjumlah beberapa ribu maksimumnya. Beberapa pengunjuk rasa dibalas dengan batu-batu. Saksi mata melihat belasan orang ditangkap, dilemparkan kedalam mobil, van dan truk polisi, yang terus menerus berdatangan ke distrik tersebut. Anggota milisi sukarela Basij yang mendukung garis keras juga memenuhi jalan dengan sepeda motor dan van, dilengkapi dengan pentungan kayu dan bekerja bahu membahu dengan polisi. Pada hari Sabtu, ribuan polisi anti huru-hara-kembali-memekakkan jalanan yang sepi disekitar Taman Revolusi di Teheran. Pecahan kaca, pentungan dan batu berserakan mengotori daerah itu.

Pertikaian antara para pengunjuk rasa dengan pejuang Islam meninggalkan goresan berupa para demonstran ditangkap dan banyak orang dikedua belah pihak terluka parah. Tidak jelas berapa orang yang terluka dalara perkelahian antara kedua kubu, tapi setidaknya selusin orang terlihat diangkut kedalam mobil pribadi, kebanyakan dengan luka dikepala. Unjuk rasa dengan Lebih sedikit kekerasan yang meletup di bagiab selatan kota Shiraz dan sentra kota lsfahan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi telah menunjukkan bahwa pentungan polisi tidak dapat menghentikan gerakan tersebut. Sebaliknya. Begitu sebuah rezim memakai kembali kegunaan purbanya, berupaya untuk menjaganya dengan cara kekerasan, maka dampak yang dihasilkan akan merupakan kebalikan dari yang diharapakan. Setiap tindakan represi hanya akan mengakibatkan kebencian yang lebih dalam diantara masa terhadap rezim tersebut dan memperlebar jurang dalam yang memisahkan dua kelas yang bertentangan. Hal ini, pada gilirannya, akan mengakibatkan hilangnya usaha bagi mereka yang mencoba untuk menutupi dan menyembunyikan kesalahan. Pendidikan di jalanan telah memberikan masyarakat dengan pelajaran yang berharga tentang alam, bukan hanya tentang reaksi tetapi juga tentang Liberalisme.

Gerakan tersebut kini telah melewati batasan yang dibuat oleh para reforman. Sebuah laporan dari Teheran oleh koresponden Reuters, Mehrdad Balali (Minggu, 9 Juli 2000) menyimpulkan: “Para pengunjuk rasa jauh melewati batas dari apa yang diperjuangkan oleh gerakan Khatami bagi perubahan politik dan sosial, serta melampaui garis yang disebut sebagai’garis merah’ bagi perlawanan politik.” (Dengan penekanan dari saga, AW.) Apa yang paling signifikan dari peristiwa ini adalah bahwa teriakan-teriakan para pengunjuk rasa utamanya diarahkan kepada para reforman. “Khatami, Khatami, perlihatkan kekuasaanmu atau mundur!” begitu dendang para demonstran pada arak-arakan hari Sabtu. Hal ini adalah salah satu dari pertama kalinya aktivis reformasi mengkritik presiden didepan publik. “Khatami, Khatami, ini adalah peringatan terakhir!” adalah slogan yang lain.

Perkembangan ini malahan merupakan sebuah titik balfik. Mereka menandai adanya perubahan kualitatif dalam keseluruhan situasi di Iran. Apa yang mengejutkan adalah cepatnya pergerakan melewati tingkat parlementer menuju ke jalanan. Ini adalah ekspresi dari fakta bahwa kontradiksi tersebut terlalu dalam untuk bisa diperbaiki oleh montir amatir di parlemen. Pemilihan reformis hanyalah semata diadakan untuk mengekspos impotensi mereka. Gerakan dijalanan adalah merupakan, dalam satu bagian, sebuah usaha untuk mendorong mayoritas Liberal di parlemen untuk bertindak lebih jauh. Dalam kesia-siaan!

.Seperti yang telah kami jelaskan satu tahun lalu, setelah 20 tahun bereaksi dibawah pemerintahan kaum mullah, rakyat kini tidak sabar akan adanya perubahan. Perpecahan pada tingkat atas adalah merupakan refleksi dari jalan buntu yang dihadapi rezim tersebut. Salah satu sayap dari kubu pemerintah mengatakan: “jika kita tidak mereformasi dari tingkat atas maka akan timbul revolusi.” Saya_p yang lainnya berkata: “Jika kita melakukan reformasi maka akan timbul revolusi.” Dan keduanya benar. Perjuangan pada tingkat atas, yang secara terbuka ditampilkan dalam parlemen, memberikan dorongan bagi gerakan dari bawah. Hal ini adalah merupakan arti sesungguhnya dari perkembangan yang terakhir.

Setelah terjadinya demonstrasi, orang-orang Khatami telah (secara alami) membikin jarak antara mereka dengan unjuk rasa. “Gerakan reformasi meyakini pendekatan yang damai dan rasional. Gerakan reformasi mengutuk segala bentuk aksi kekerasan dan tekanan,” sitir harian Hayat-e No. Nyatanya, unjuk rasa tidak hanya diadakan mengabaikan larangan resmi terhadap arak-arakan tetapi juga mengesampingkan permohonan para reforman untuk tetap tenang dalam menghadapi reaksi yang tidak menyenangkan dari kaum konservatif terhadap aktivis liberal. Kenyataan ini cukup bisa menyatakan sifat sejati para reformtin sebagai reaksi yang berkebalikan. Kaum reaksioner menentang demostrasi dengan larangan, polisi dan pentungan, kaum Liberal dengan pendapat, “jangan memprovokasi reaksi”. Akan tetapi, apada akhirnya, kedua faksi bermusuhan dengan gerakan masa, yang mereka takuti sebagaimana iblis takut dengan air suci.

Fitnahan Kaum Reaksioner

Suratkabar Konservatif menggambarkan para pengunjuk rasa sebagai “berandalan dan anti-revolusioner”, menyerukan pada kelompok mahasiswa garis depan untuk mencoba memisahkan diri dari mereka. Seperti biasanya, kaum reaksioner mencoba untuk menyalahkan demonstrasi sebagai “musuh asing”. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru ataupun orisinil. Dengan cara yang sama, Kerensky pernah menuduh Bolshevik telah menjadi agen Jerman. Akan tetapi fitnah semacam itu tidak memiliki pengaruh begitu masa melakukan gerakan.

Seperti yang telah terjadi selama unjuk rasa tahun lalu, kita melihat suatu jenis persekutuan antara Khamenei dengan Khatami menentang gerakan masa. Kaum reaksioner tidak berkeberatan dengan kaum reforman selama mereka aktivitas mereka dalam “saluran konstitusional”, selama mereka menerima aturan main yang telah ditetapkan oleh reaksionaris, selama mereka tidak melakukan apapun untuk membangkitkan masa, yang bisa dikatakan, selama mereka tidak bergerak untuk berjuang menuju perubahan. “Selama kubu-kubu dalam sistem ini tidak dengan jelas mendefinisikan posisi mereka dan tidak mengeluarkan radikalitas dari posisi mereka, ada kemungkinan bagi musuh untuk mengambil keuntungan,” tulis Entekhab, sebuah harian yang terbit di Teheran.

Kemarahan kaum reaksioner tidaklah ditujukan hanya kepada para demonstran tetapi juga terhadap pemimpin mahasiswa reformis malang yang telah melakukan yang terbaik untuk mencegah demonstrasi dan menjaga gerakan tetap pada batas yang bisa ditolerir. “Strategi PUK berupa ‘bunga dan senyum’ tidak berlangsung lama. Penyebar kekerasan menciptakan insiden yang lainnya,” sembur harian garis keras Resalat. Kaum Liberal yang terkemuka tidak memerlukan waktu untuk terbujuk. “Mereka yang menjadi ekstrim, jelas bukan termasuk gerakan mahasiswa. Wakil mahasiswa adalah mereka yang membagikan bunga pada hari Sabtu,” ucap Meysam Saeedi, seorang anggota parlemen dan mantan “pemimpin” mahasiswa.

Akan tetapi pernyataan para reforman yang menyedihkan hanya memberikan keberanian bagi kaum reaksioner, beberapa orang melakukannya lebih jauh dan menyalahkan sekutu Khatami dan lembaga pemerintahan atas adanya unjuk rasa dengan kekerasan. Hal ini merupakan usaha yang jelas untuk menakuti para reforman (bukan sebuah tugas yang sangat sulit!) dan membuat mereka mengutuk gerakan masa (fuga bukan sesuatu yang sangat susah). Menulis dari Teheran pada hari Minggu, 9 Juli, dalam sebuah artikel yang bertajuk “Reforman Iran Memaklumatkan Kekerasan di Jalan”, Mehrdad Balali menyatakan bahwa “sekutu reformis Presiden Mohammed Khatami pada hari Minggu menjauhkan diri dengan arak-arakan prodemokrasi pada akhir minggu, yang memiliki target pada jantung sistem pemerintahan agamis.” Suratkabar reformis mencoba untuk memaparkan pertikaian antar kelompok, bukannya memberikan liputan terhadap peristiwa-peristiwa penuh damai untuk mendukung reformast liberal Khatami, yang ditekan oleh penindakan keras konservatif terhadap press independen dan aktivis liberal.

Setelah unjuk rasa itu para pemimpin reformis bahkan mencoba untuk mengklaim bahwa para mahasiswa tidak terlibat. Persatuan Upaya Konsolidasi, kelompok mahasiswa pro-reformasi terbesar, dengan cepat mengingkari para perusuh. “Para demonstran bukan mahasiswa,” sanggah kelompok itu dalam sebuah pernyataan. “(Mahasiswa) tidak ada kaitannya dengan insiden ini.” Hal ini jelas-jelas sebuah kebohongan. Kenyataannya adalah gerakan ini dimulai oleh mahasiswa militan, tetapi mereka digabungi oleh orang awam Iran, terutarna kaum miskin. Guardian (10 Juli) menulis: “Sebuah tantangan baru kepada pemerintahan Presiden Muhammad Khatami yang bangkit dalara kemunculan demonstrasi pada akhir minggu di pusat kota Teheran dimana ribuan rakyat miskin Iran bergabung dengan pelajar universitas dalara sebuah pertempuran dengan ekstrimis Islam.”

“Koalisi spontan pada hari Sabtu malam, yang terdiri dari mahasiswa dan rakyat Iran, menuntut perbaikan kondisi sosial, menandai sebuah titik balik dalara perjuangan untuk mendefifnisikan kembali Republik Islam.”

“Setahun yang lalu, para mahasiswa-lah terutama vang menuntut reformasi politik dan kebebasan lebih. Sekarang, teriakan akan perubahan datang dari masyarakat lapisan utama.” (Penekanan saga, AW.)

Hal ini adalah sebuah perkembangan vang sangat penting. Pergerakan yang mulai menjadi gerakan bagi reformasi demokratis ditranformasikan menjadi sebuah gerakan revolusioner dimana para buruh bergabung dengan mahasiswa di jalanan, dan memenuhi tuntutan demokratis dengan membangun sebuah kelas. Bagi para pekerja dan petani, dernokrasi bukanlah sebuah pertanyaan abstrak yuridis. Perjuangan bagi hak-hak demokratis hanya masuk akal apabila hal itu dikaitkan dengan perjuangan untuk sebuah perbaikan kondisi material masyarakat. Alasan sejati bagi adanya demonstrasi, serta partisipasi kaum miskin dan tertindas bahu-membahu dengan para mahasiswa, dijelaskan dalara artikel Guardian yang sebelumnya pernah dikutip: “Bahkan sebelum unjuk rasa hari Sabtu di Teheran, yang meninggalkan belasan orang terluka serius setelah para pejuang Islam menggunakan pentungan kayu untuk menghajar para pengunjuk rasa, demonstrasi menentang kurangnya listrik dan air minum yang dibawah standar telah meletus disejumlah kota, termasuk dipusat minvak, Abadan, didekat perbatasan Irak.” (Penekanan dan saga, AW.)

Fakta bahwa unjuk rasa telah menvebarluas ke kota-kota lainnya, dan khususnya wilayah-wilayah penghasil minyak, pastilah telah memberikan firasat yang dalam di Teheran. Kami harus mengingatkan bahwa perjuangan menentang Shah vang paling menentukan adalah vang dilancarkan oleh pekerja tambang minvak pada tahun 1979. Masyarakat telah bergabung dalam perjuangan para mahasiswa, tapi telah menambahkan tuntutan independen mereka sendiri bagi peningkatan standar hidup, upah dan kondisi hidup. Bagaimanapun juga, akan merupakan suatu hal yang salah untuk mengasumsikan bahwa motif yang sesungguhnya dari protes ini adalah.kondisi material masyarakat yang semakin memburuk. Tuntutan akan kekurangan listrik serta air minurn yang buruk meskipun hal ini juga pentrog-hanyalah percikan vang telah menyalakan sebuah pemantik yang telah dipersiapkan lama lebih dahulu. Setelah dua puluh tahun diperintah oleh para mullah yang korup dan reaksioner, kaum pekerja Iran telah muak. Sebuah perubahan fundamental masyarakat-tidak kurang dari itu-yang akan memuaskan mereka. Hal ini berarti bahwa perkembangan revolusioner di Iran hanyalah merupakan masalah waktu.

Kaum Imperialis Khawatir

Kejadian di Iran diikuti dengan penuh perhatian oleh Washington dan Brussel. Bukanlah sesuatu diluar kesengajaan jika segera setelah kemenangan Khatami dalam pemilihan umum, pejabat administrasi Clinton, untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, menyatakan kemungkinan sebuah pemulihan hubungan baik dengan Iran. Pejabat administrasi Clinton menghapuskan larangan impor terhadap karpet Persia, kaviar dan pistachio (sejenis kenart hijau-penerj.) dart Iran Maret lalu sebagai sebuah proposisi pembuka terhadap Teheran. Dari sisi mereka, kaum reforman akan menerima investor AS setelah hubungan dingin selama dua dekade dan menunggu Amerika Serikat “melakukan langkah pertama”, sebagaimana yang dikutip dari pernyataan kementerian luar negeri negara itu. “Dari pihak kauri jalan itu terbuka bagi perusahaan Amerika untuk datang ke Iran dan menjadi aktif di sini,” demikian ucap Kamal Kharazzi terhadap mingguan Jerman Der Spiegel dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Akan tetapi berlawanan dengan pemerintah Eropa, Amerika Serikat masih memblokir kesepakatan bisnis besar, terutama dalam industri minyak. Para reforman umumnya berkenan dengan restorasi hubungan yang normal dengan AS tetapi adalah masalahnya adalah terlalu sedikit dan terlalu terlambat.

Kunjungan Presiden Khatami ke Jerman adalah sebuah indikasi akan perhatian nyata dari ulama “moderat”. Mereka berkeinginan untuk membangkitkan kembali pertalian dengan Eropa Barat dan AS, yang putus sejak revolusi Islam tahun 1979 di Iran menggulingkan Shah dan militan Islam menyandera 52 sandera Amerika di Kedutaan Besar AS di Teheran selama 444 hari. Eropa Barat membekukan hubungan dengan Iran setelah pada tahun 1997, pengadilan Jerman memutuskan bahwa pembunuhan atas empat orang pembelot Iran pada tahun 1992 di Berlin, telah diperintahkan mereka yang berada pada tingkat tertinggi di Teheran. Akan tetapi Kharazi berkata bahwa kini semua adalah masa lalu. “Tidak ada yang perlu diragukan dalam hal itu,” Kata Kharazzi kepada Der Spiegel. “Kami ingin memandang ke depan dan akan lebih melihat pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat membawa kita bersama dekat.” Kharazzi mengundang Jerman untuk menggelembungkan aliran ekonomi dengan Iran, mengatakan bahwa rencana pembangunan Iran sekarang ini membutuhkan investasi total sebanyak $13 milyar. “Dan kami berharap bahwa kisaran proyek semacam itu menarik minat banyak negara, termasuk Jerman,” dia menjelaskan.

Karakter pro-borjuis dari reforman Iran dengan demikian cukup jelas dan tidak asing di Barat. Imperialis berkeinginan untuk menyandarkan diri pada sayap Khatami untuk menghambat sebuah revolusi dan, secara tidak sengaja, membuka sebuah pasar yang sangat menguntungkan. Akan tetapi kenyataan ini tidak dengan demikian melambangkan sebuah kelebihan dari para reforman didalam Iran itu sendiri. Sentimen antiimperialis masih tetap kuat diantara masyarakatsebuah fakta yang oleh sayap Khamenei dicari untuk keuntungan mereka sendiri. Pada suatu tingkat dimana ekonomi pro-pasar milik kaum reforman secara berkebalikan memberikan pengaruh terhadap standar hidup masyarakat, hal itu hanya untuk mengakselerasi kurangnya dukungan mereka. Bukan tanpa alasan Khamenei menyalahkan kekuatan Barat atas keresahan sosial negara tersebut, mengatakan bahwa mereka merencanakan untuk menghancurkan republik Islam itu sebagaimana yang telah mereka lakukan terhadap Uni Soviet. “Bagaimana bisa Amerika dan Inggris, yang bertanggungjawab atas penderitaan di Iran selama 50 tahun, sekarang mendukung reformasi?” tanya Khamenei demagogis.

Ide dalar bahwa imperialis Amerika dan Eropa bertindak sebagai juara demokrasi di Iran hanya sekadar menjadi bahan tertawaan. Orang-orang ini adalah juara kediktatoran brutal dari Shah hingga dia digulingkan oleh rakyat Iran. Bagaimana mungkin sekarang mereka mengklaim sebagai pembela demokrasi sekarang? Kemunafikan ini semata hanya ingin untuk mencegah sebuah revolusi di Iran dimana kekuasaan akan pindah ke tangan rakyat. Mereka ingin menerapkan rezim demokrasi-semu lemah yang akan mengizinkan mereka menjarah kekayaan minyak Iran dan melemahkannya menjadi sebuah negara satelit balti Barat.

Para pengunjuk rasa, betapapun juga, tidak berdemonstrasi menentang kapitalisme, tetapi menentang rezim reaksioner para mullah. Dengan melakukan hal seperti itu, mereka, dalara kenyataannya, menentang basis sistem Islami, menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama di Iran dan menuntut sebuah referendum untuk demokrasi. Hal ini secara langsung mengajukan pernyataan tentang kekuasaan di Iran. Pertanyaan itu berbunyi: siapa yang akan menjadi panitia referendum itu? Siapa yang akan menjamin hakhak demokratis bagi rakyat? Segala macam pembicaraan tentang demokrasi akan tetap merupakan sebuah omong kosong, sepanjang negara itu, tentara dan polisinya ada ditangan para mullah dan kroni-kroninya. Kaum reforman pro-borjuis tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Mereka terlalu takut dengan masyarakat untuk memimpin sebuah perjuangan yang murni bagi demokrasi.

Satu-satunya kekuatan yang murni tertarik dengan demokrasi di Iran adalah kelas buruh dan sekutu alaminya-kaum tani miskin dan kaum miskin kota, ditambah rakyat kelas menengah kebawah, para mahasiswa, penjaga toko kecil, bazaaris dan semacamnya, yang akan merninta pada kaum proletar untuk memimpin, disaat kelas buruh dimobilisasikan dalara perjuangan untuk merubah masyarakat.

Hal itu merupakan tugas semaa anggota kelas pekerja yang sadar untuk berjuang bagi terwujudnya kebijakan kelas independen. Dalara hal ini, perjuangan untuk demokrasi bisa menjadi langkah pertama dalam perjuangan revolusioner, menuju adanya transformasi sosialis dalara masyarakat. Syarat yang pertama, bagaimanapun juga, adalah putus total hubungan dengan kaum Liberal borjuis. Jangan percaya dengan Khatami! Rakyat pekerja harus bersandar hanya pada kekuatan mereka sendiri untuk mengakhiri kediktatoran para mullah!

Unjuk rasa yang terakhir diadakan dalam rangka peringatan pemberontakan mahasiswa pada 8 Juli tahun silam. Protes ini berakhir dengan represi berdarah dan penangkapan para pemimpin. Akan tetapi seperti yang telah kami prediksi pada waktu itu, langkah mundur hanya akan merupakan hal yang sementara: “Dengan adanya kelangkaan pemimpin, represi akan memiliki dampak berupa penundaan gerakan secara temporer, tetapi pasti dengan imbalan berakibat ledakan yang jauh lebih memakan korban dan tidak terkontrol di suatu hari nanti.” (The First Shot of the Iranian Revolution, 17 Juli 1999.) Prediksi ini sekarang telah sepenuhnya dibenarkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut. Perjuangan akan terus berlanjut, dengan segala pasang surutnya yang tak terelakkan, hingga sebuah penanganan yang menentukan dilakukan.

Tentang buku ini

Buku ini mewakili sebuah kontribusi yang pentrog bagi pemahaman kita tentang revolusi Iran. Pengarang mempunyai segala hal yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya, merupakan seorang partisipan yang menonjol dan berpengalaman dalara gerakan Marxis dan gerakan buruh di Pakistan, dengan hubungan lama yang dijalin dengan Iran maupun Afghanistan. Karyanya ini akan berguna terutama di Barat dimana disitu dipercaya secara universal bahwa revolusi tahun 1979 adalah sebuah gerakan fundamentalis Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini yang mendorong Iran kembali ke abad ke-6. Pandangan ini telah disebarluaskan dengan baik oleh yang berkuasa, yang memiliki sebuah vested interest dalam mendiskreditkan ide dasar revolusi dalam pikiran kelas pekerja di Barat. Hal seperti itu, dalam kenyataannya, adalah sebuah kebohongan yang keji.

Dr. Zayar, mengutip dari beragam sumbersumber yang orisinil, membuktikan dibalik bayangan keraguan, bahwa gerakan pada tahun 1979 adalah sebuah revolusi proletar yang dikhianati oleh para pemimpinnya, membuat terjadinya sebuah kontrarevolusi dimana para mullah merampas kekuasaan dengan mengisi kekosongan kekuasaan. Kaum buruh dan rakyat Iran telah membayar dengan harga yang mahal atas penghianatan ini selama dua puluh tahun terakhir, tetapi, seperti yang telah kita lihat, sekarang telah terpulihkan semangat juangnya dan memulai perjuangan yang telah diinterupsi oleh kontra revolusi Khomeini. Pengarang juga memberikan pada kita latar belakang sejarah yang kaya, termasuk banyak material yang akan menjadi tidak familier bagi pembaca di barat. Adalah suatu ketidakberuntungan yang besar bagi orang-orang di barat karena tidak mengenal pencapaian yang menakjubkan dari peradaban di timur, dimana Persia memiliki posisi yang istimewa. Kenyataan bahwa Asia dan Timur Tengah, seperti halnya semua negara kolonial dan semi-kolonial, telah mendapatkan perkembangan sejarah mereka terhambat dan dikerdilkan oleh dominasi penjarah imperialis yang telah mengaburkan kontribusi yang mengagumkan dari negara-negara ini terhadap kebudayaan umat manusia, seni dan ilmu pengetahuan.

Langkah mundur kebudayaan akhir-akhir ini diperburuk oleh kelicikan fundamentalisme yang menganggap pengabaian dan kesempitan pikiran sebagai kebenaran nyata. Dalam poin kenyataan, periode terbaik dari peradaban Islam, ketika negara seperti Iran memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia, dikarakterisasikan dengan toleransi dan keterbukaan pikiran. Hanya atas sebuah basis semacam itu perkembangan dari seni, ilmu pengetahuan, dan pikiran manusia dalam perkembangan umum bisa merdeka dan menjulangkan diri mereka sendiri pada ketinggian yang sebenarnya. Hal itu merupakan tugas kaum proletar, dengan dipersenjatai oleh program Marxisme berdasar keilmuan, untuk mempertahankan penaklukan kebudayaan manusia dan untuk berjuang melawan pengabaian dan pengaburan dalam segala bentuk penyamarannya.

Kaum pekerja membutuhkan sebuah pemahaman keilmuan dalara rangka untuk mempersenjatai diri dalam merubah masyarakat. Pemahaman semacam itu hanya bisa didapatkan dari Marxisme. Begitu kaum pekerja Iran telah dipersenjatai oleh program tersebut, kebijakan dan metode Marxisme, maka mereka takkan terkalahkan. Sebuah negara sosialis Iran, berdasar atas nasionalisasi sarana dan produksi dan sebuah sistem ekonomi terencana dibawah kontrol demokratis dan administrasi kaum buruh, akan berada dalam sebuah posisi yang bisa memobilisasikan potensi produktif yang menakjubkan, dari apa yang seharusnya menjadi sebuah negara yang kaya raya dan sejahtera bagi keuntungan semua orang secara keseluruhan, bukan hanya sejumlah pengeduk keuntungan, baik itu yang memakai sorban mullah ataupun jas bikinan desainer Amerika.

Perkembangan semacam itu akan menandai sebuah renaisans baru bagi kebesaran negara Iran, dengan berseminya seni, kesusastraan, puisi dan ilmu pengetahun. Hal itu tidak akan berhenti hanya disebatas wilayah Iran. Contoh dari demokrasi kaum buruh Iran akan bertindak sebagai sebuah mercu suar bagi rakyat yang tertindas dimanapun juga. Rezim yang penuh kebencian, Taliban, di negara tetangganya Afghanistan, tidak akan bertahan Iebih dari seminggu dibawah keadaan seperti itu. Juga tidak kediktatoran Saddam Hussein, atau rezim reaksioner dan busuk di Arab Saudi dan Negara-Negara Teluk. Dalam segala segi, revolusi Iran adalah kunci bagi Timur Tengah dan, dalam pandangan tertentu, bagi dunia.

Sebuah tanggung jawab yang berat dengan demikian dibebankan diatas pundak generasi baru dari kaum revolusioner Iran, terutama kepada kaum muda. Mahasiswa Iran telah menunjukkannya dengan keberanian mereka, bahwa mereka adalah anak-anak revolusi 1979 yang cukup berharga. Akan tetapi keberanian tidaklah cukup untuk menjamin adanya kejayaan. Perlu ditandaskan bahwa generasi baru dari para pejuang harus memperlengkapi dirinya dengan teori dan program Marxisme. Juga merupakan sesuatu yang penting bahwa mereka harus belajar dengan hatihati tentaug pelajaran-pelajaran yang telah terjadi di masa lampau, karena dia yang tidak belajar dari sejarah akan selamanya ditakdirkan untuk mengulanginya. Karya berikut ini menyediakan semua hal yang dibutuhkan bagi kepentingan ini. Dengan demikian saya tidak ragu sama sekali untuk merekomendasikannya kepada kaum muda di Iran. Bacalah, belajarlah darinya, dan temukan sebuah jalan bagi kaum buruh. Dengan cara seperti itu, maka kejayaan akan bisa dipastikan.

Bab 1
Latar Belakang Sejarah

Iran adalah salah satu negara tertua di dunia. Sejarahnya telah dimulai dari 5000 tahun yang lalu. Iran berada pada persilangan yang strategis di daerah Timur Tengah, Asia Barat Daya. Bukti keberadaan manusia di masa lampau pada periode Palaeolitikum Awad di pegunungan Iran telah diternukan di Lembah Kerman Shah. Dan seiring dengan berjalannya sejarah panjang ini, Iran telah mengalami berbagai invasi dan dijajah oleh negara asing. Beberapa referensi tentang keadaan sejarah Iran dengan demikian tidak bisa dihapuskan untuk mendapatkan sebuah pemahaman yang sesuai terhadap perkembangan yang terjadi selanjutnya.

Peradaban awal utama yang terjadi pada daerah yang sekarang menjadi negara Iran, adalah peradaban kaum Elarnit, yang telah bermukim di daerah Barat Daya Iran sejak tahun 3000 S.M. Pada tahun 1500 S.M. suku Arya mulai bermigrasi ke Iran dari Sungai Volga utara Laut Kaspia dan dari Asia Tengah. Akhirnya dua suku utama dari bangsa Arya, suku Persia dan suku Medes, bermukim di Iran. Satu kelompok bermukim di daerah Barat Laut dan mendirikan kerajaan Media. Kelompok yang lain hidup di Iran Selatan, daerah yang kemudian oleh orang Yunani disebut sebagai Persis-vang menjadi asal kata nama Persia. Bagaimanapun juga, baik suku bangsa Medes maupun suku bangsa Persia menyebut tanah air mereka yang baru sebagai Iran, yang berarti “tanah bangsa Arya”.

Pada tahun 600 S.M. suku Medes telah menjadi penguasa Persia. Sekitar tahun 550 S.M. bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk dinasti mereka sendiri (Kerajaan Achaemenid). Pada tahun 539 S.M., masih dalam periode pemerintahan Cyrus; Babylonia, Palestina, Syria dan seluruh wilayah Asia Kecil hingga ke Mesir telah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Dan dalara masa pemerintahan Darius, jalur pelayaran mulai diperkenalkan, bersamaan dengan dimulainya sistem mata uang logam emas dan perak. Jalan kerajaan dari Sardis hingga Susa dan sistem pos difungsikan dengan tingkat efisiensi yang menakjubkan. Pada masa jayanya di tahun 500 S.M. daerah kekuasaan kerajaan ini membentang ke arah barat hingga ke wilayah yang sekarang disebut Libya, ke arah timur hingga yang sekarang disebut sebagai Pakistan, dari Teluk Oman di Selatan hingga Laut Aral di Utara. Lembah Indus juga merupakan bagian dari Kerajaan Achaemenid. Seni budaya Achaemenid memberikan pengaruh pada India, dan bahkan kemudian dinasti Maurya di India dan pemimpinnya Asoka sangat terimbas dengan pengaruh Achaemenid. Begitupun juga yang terjadi di Asia Kecil dan di Armenia, pengaruh Iran sangat kuat bertahan jauh setelah keruntuhan dinasti Achaemenid. Ada beberapa kata yang diserap oleh bahasa Armenia dari kata-kata bahasa Iran sehinggga selama beberapa lama para peneliti mengira bahwa bahasa Armenia merupakan bagian dari bahasa Iran dan bukannya merupakan unit yang terpisah dari keluarga bahasa Indo-Eropa.

Pada kira-kira tahun 513 S.M. bangsa Persia meakukan invasi ke tempat yang sekarang merupakan Rusia Selatan dan Eropa Tenggara dan hampir menguasai wilayah ini fuga. Darius sekali lagi mengirim bala Tentara Agung-nya ke Yunani di tahun 490 S.M., tetapi dikalahkan oleh pasukan bangsa Athena di Marathon. Sekali lagi putra Darius, Xerxes, menginvasi Yunani di tahun 480 S. M. Bangsa Persia mengalahkan tentara Sparta setelah melalui pertempuran sengit di Thermopylae. Akan tetapi mereka mengalami kekalahan yang menyesakkan di Salamis dan didepak dari Eropa tahun 479 S. M. (2) (3)Setelah mengalami kekalahan di Yunani, Imperium Achaemenid kian melemah dan mengalami kemerosotan. Pada tahun 1331 S.M. Alexander dari Macedonia menaklukkan kerajaan tersebut, setelah mengalahkan tentara Persia yang besar dalara pertempuran di Arbela. Kemenangan ini mengakhiri Imperium Achaemenid dan Persia pun menjadi bagian dari kekaisaran Alexander.

Penaklukan keseluruhan kerajaan Achaemenid oleh Alexander dianggap sebagai sebuah tragedi besar oleh bangsa Iran, sebuah fakta vang direflksikan dalam kisah epik nasional Shah Nameh, yang ditulis oleh Firdausi, seorang penyair, kira-kira pada awal abad 11 M. Lebih dari sepuluh tahun setelah kematian Alexander di tahun 323 S.M., salah seorang panglima bernama Seleucus mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Persfa dari tahun 155 S.M. Setelah itu, bangsa Parthian memenangkan kendali atas Persia. Pemerintahan mereka bertahan hingga tahun 224 M. Bangsa Parthian membangun kerajaan yang besar melewati Asia Kecil Timur dan Asia Barat Daya. Selama 200 tahun terakhir pemerintahan mereka, bangsa Parthian harus berperang dengan bangsa Romawi di Barat dan bangsa. Kushan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Afganistan.

Sekitar tahun 224 M seorang Persia bernama Ardhasir menggulingkan kekuasaan bangsa Parthian dan mengambil alih kerajaan. Setelah lebih dari 550 tahun di bawah kekuasaan bangsa asing, orang Persia kembali memerintah Persia, dan dinasti Sassanid ini bertahan selama lebih dari 400 tahun. Dalam kurun waktu itu, seni budaya Iran tumbuh subur, jalan-jalan, irigasi dan bangunan berkembang pesat, akan tapi perang antara bangsa Persia dan bangsa Romawi terus berlanjut mewarnai sebagian besar masa pemerintahan rezim Sassanid. Peradaban Sassanid mencapai kejayaannya di pertengahan abad ke 6 M. Persia memenangkan beberapa peperangan dengan Romawi, dan menguasai kermbali wilayah yang pernah menjadi bagian dari Kerajaan Achaemenid. Tentara Persia sebenarnya telah menguasai hingga perbatasan Konstantinopel, yang pada saat itu merupakan ibukota dari kerajaan Byzantium (Kerajaan Romawi Timur). Akan tetapi mereka di sana dikalahkan dan terpaksa mengundurkan diri dari sernua wilayah yang telah mereka taklukkan.

Kerajaan Sassanid jauh lebih tersentralisir dari para pendahulunya. Zoroastrianismez menjadi agama negara. Akan tetapi selama masa rezim Shahpur 1, seorang pemimpin agama dan pergerakan baru muncul ketika Mavi menyatakan dirinya sebagai rasul Tuhan Yesus yang terakhir dan terbesar. Pada akhirnya dia dihukum mati. Agamanya kemudian disebut Manicliaeisme. Di bawah dinasti Sassanid, eksploitasi dan penindasan yang ekstrim terhadap rakyat mencapai puncaknya. Perbudakan telah rnelampaui batas dan memasuki masa krisis. Migrasi besar-besaran kaum tani miskin telah merambah kota-kota sebagai akibattirani kebangsawanan feodal yang tak tertahankan. Namun, di kota-kota-pun mereka masih diperlakukan sebagai budak. Penindasan yang terakumulasi itu tiba-tiba meledak dalara bentuk gerakan revolusioner di bawah pimpinan Mazdak.

Mazdak adalah seorang revolusioner besar jaman itu dan gerakannya, seperti halnya gerakan Kristen di masa awal yang berkembang di bawah kondisi serupa, memiliki kandungan komunistik. Ajarannya menuntut distribusi kesejahteraan yang adil, melarang memiliki istri lebih dari satu, dan memperjuangkan eliminasi kebangsawanan dan feodalisme. Gagasan-gagasan revolusioner Mazdak mengakar kuat di kalangan budak dan kaum tani miskin. Gerakannya bertahan selama 30 tahun dari tahun 494 M hingga 524 M. Pada masa pemerintahan Raja Nosherwan, gerakan Mazdak secara brutal ditindas dan tiga puluh ribu pengikutnya dibinasakan, akan tetapi pada dasamya Nosherwan telah dipaksa untuk melaksanakan reformasi sosial dan agraris. Gerakan revolusioner Mazdak adalah salah satu perjuangan kelas yang paling inspiratif dalam sejarah Iran. Tradisi ini telah meninggalkan jejak mendalam pada perjalanan panjang gerakan revolusioner Iran.

Di pertengahan abad ke-7 M, terjadilah sebuah peristiwa yang merubah nasib Iran. Tentara Arab menaklukkan negara tersebut dan kebanyakan rakyat Iran kemudian menganut agama Islam. Alasan bagi keberhasilan pesat agama baru itu tidak sulit untuk dicari. Di samping kesemua pencapaian yang demikian menakjubkan, Kerajaan Sassanid dicirikan dengan adanya penindasan yang ektrim terhadap rakyat yang telah terinjak. Meskipun begitu, bagi dunia bangsa Iran lahirnya agarna Islam tidak berarti pembebasan, akan tetapi merupakan kekalahan dan penjajahan oleh orang asing. Hal itu merubah seluruh rangkaian sejarah Persia. Dengan memperkenalkan Islam, bangsa Arab mengganti kepercayaan kuno Persia, Zoroastrianisme, dan sejak saat itu hingga hari ini, orang Persia menjadi Muslim. Namun, stempel Islam mereka dari awainya agak berbeda dengan yang dimiliki oleh Muslim yang lain. Mereka mengisinya dengan wanra-warna Iran yang spesifik ketika bangsa Persia itu menganut agama Islam dalam bentuk Syi’ah yang heterodoks dan menggunakannya sebagai senjata yang digunakan untuk melawan para penguasa Arab.

Selama beberapa abad bahasa penjajah, yakni Bahasa Arab, menggantikan bahasa Pahalavi (bahasa Persia tengah), bahasa vang dipakai oleh bangsa Persia selama masa pemerintahan Sassanid (periode Kerajaan Persia Kedua). Pemberlakuan bahasa asing itu telah menghambat perkembangan kreatif kesusastraan dan puisi Persia. Dan jelas di sini bahwa semangat nasional kembali mengemuka dengan sendirinya. Bidang kesusastraan pertama pendobrak ketergantungan pada bahasa Arab setelah dua abad lamanya mendominasi kebudayaan adalah puisi. Tidak diragukan lagi, ini merupakan hasil dari kekuatan tradisi lisan dalam penyampaian puisi. Betapapun juga, pengaruh bahasa Arab masih tetap kuat, dan ketika bahasa Persia muncul kembali sebagai bahasa tulis di abad ke-9, karya-karya sastra ditulis dalam naskah berbahasa Arab. Selama kurang lebih lima abad, mayoritas karya yang ditulis oleh orang Persia dalam bidang teologi, filsafat, kedokteran, astronomi, matematika dan bahkan sejarah ditulis dalam bahasa Arab. Namun demikian, semenjak pertengahan abad ke-8 Iran telah menjadi pusat kesenian, kesusastraan dan sains dunia.

Selama abad ke-9, kontrol Arab melemah dan Iran pecah menjadi sejumlah kecil kerajaan di bawah bermacam penguasa Iran. Akan tetapi segera musuh yang baru muncul menjelang. Pada pertengahan abad ke-11, Bangsa Turki Seljuk dari Turkistan telah menaklukkan sebagian besar wilayah Iran. Bangsa Seljuk dan suku-suku Turki lainnya memerintah hingga tahun 1220. Tahun dimana bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan mengepung seluruh wilayah, dan meluluhlantakkan segalanya. Mereka menghancurkan seluruh kota, menjagal beribu-ribu orang dan mengakhiri kekhalifahan Abbasid dengan cepat dan niengerikan. Epik bangsa Iran dibanjiri dengan darah dari bencana nasional ini; setiap halarnan dipenuhi dengan catatan tentang kota-kota yang menjadi puing dan penghancuran yang mengerikan oleh kejahatan bangsa barbar nomaden ini. Namun ini pun sekedar episode vang melintas dalara sejarah bangsa Iran. Setelah tahun 1335 kerajaan Mongol di Iran pada gilirannya terpecah belah dan sekali lagi sebuah kerajaan digantikan dengan serangkaian dinasti-dinasti kecil. Antara tahun 1381 dan 1404 Iran diporak-porandakan oleh invasi berulangkali oleh penakluk lainnya dari daerah stepa, Taimur-yang di Barat dikenal sebagai Timurlane (“Titnur tlte Laine -Timur si Pineang “). Tetapi dengan sifat dan keorganisasian “berandalan” ini, kematian sang pemimpin utama biasanya merupakan sinyal akan adanya disintegrasi dan tercerai-beraikannya gerombolan itu. Maka, kerajaan Taimur di Iran tidak lama bertahan.

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, suatu suku dari Turki memperoleh kendali atas beberapa wilayah Iran. Pada tahun 1501, pemimpin suku tersebut, Ismail, ditahbiskan sebagai raja dan mendirikan Dinasti Safavid, dimana seorang representasi terbesarnya adalah Shah Abbas yang memerintah dari tahun 1587 hingga 1629. Ditangkalnya invasi yang dilakukan oleh kerajaan Ottoman Turki dan suku Uzbek dari Turkistan. Tercatat Shah Abbas dan para penerusnya sangat berpengaruh dalara mendukung perkembangan arsitektur dan seni. Isfahan, yang menjadi Ibukota Safavid di tahun 1598, dikenal sebagai salah satu kota berperadaban yang paling maju. Pada masa itu orang Persia suka menyebut Isfahan sebagai Nif-e-Jaltan (“separuh dunia”). Pemberlakuan ajaran Syiah sebagai agama resmi dari negara Safavid bertindak menjadi kekuatan pemersatu dalara tubuh kerajaan Safavid dan memungkinkan Safavid untuk menghubungkan rasa nasionalisme laten bangsa Iran yang luas tersebar. Di lain pihak, hal itu membawa Safavid ke kancah konflik terbuka dengan kerajaan Ottoman dan menggiringnya menuju dua abad pasang-surut peperangan antara kedua negara adidaya ini.

Dinasti Safavid memerintah Iran hingga tahun 1722, ketika tentara Afghan menginvasi negara itu dan menguasai Isfahan. Pada tahun 1730, Nadirshah, seorang suku Turki, mendepak bangsa Afghan keluar dari Iran dan menjadi raja. Dia membuktikan dirinya sebagai penakluk yang mengagumkan. Pada tahun 1739 Nadir Shah mencaplok kota Delhi di India. Dia menjarah India dan kembali dengan membawa berlimpah-ruah harta rampasan. Tapi Nadir Shah terhunuh pada tahun 1747, yang setelahnya diikuti oleh periode chaos dimana berduyunan pemimpin-pemimpin Iran saling berebut kekuasaan.

Pada tahun 1750, Karim Khan, seorang suku Kurdi dari Zand memperoleh kekuasaan di Iran. Setelah kematian Karim Khan pada tahun 1779, pecah perang antara suku Zand dan Qajar (suku Turkoman dari daerah Laut Kaspia). Selama periode ini Iran kehilangan Afghanistan dan wilayah lain yang telah ditaklukkan oleh Nadir Shah. Bangsa Qajar mengalahkan kaurn Zand di tahun 1794 dan dinasti mereka memerintah Iran hingga tahun 1925. Akhirnva kerajaan Qajar, terbukti tidak mampu membangun ekonomi modern, dan perlahan-lahan jatuh di bawah gerusan arus imperialisme Narat. Mereka mengucurkan sumberdava ekonomi Iran sebagai konsesi kepada kaum imperialis atas sejumiah uang ala kadarnva vang memenuhi kebutuhan finansial seketika dan kemewahan harian mereka.

Ketidakpuasan yang semakin meningkat terhadap kemandulan serta korupsi dalara kerajaan, seiring dengan kekecewaan terhadap dominasi ekonomi bangsa asing dan tekanan politik imperialis, menemukan ekspresinva dalara bentuk gerakan massa. Revolusi Bab yang terjadi pada tahun 1844 dapat digilas oleh monarki, akan tetapi gerakan tersebut mewariskan sebuah tradisi revolusi yang mengambil bentuk dari berbagai sekte religius seperti gerakan Bahai. Sekali lagi gerakan massa meletuskan perlawanan terhadap kebijakan politik luar negeri Qajar yang menghadiahkan konsesi kepada Perusahaan Tembakau Inggris. Kekesalan ini berubah menjadi gerakan yang menyebar luas dan kerusuhan merebak di berbagai tempat yang berbeda. Hasil gerakan radikal ini yang paling utama adalah tuntutan akan reformasi konstitusional, yang diimplementasikan pada tahun 1906.

Gerakan menuntut reformasi demokratis dipimpin oleh sebuah aliansi tak tetap dari kelas pedagang dan institusi religius yang mendapatkan dukungan mereka dari para bazaris, para penjaga toko dan unsur kelas yang iebih rendah lainnya di kota itu. Monarki dipaksa untuk merumuskan sebuah konstitusi dimana hak-hak borjuis-demokrat, seperti kebebasan berbicara, kemerdekaan berkumpul dan berserikat dianugerahkan dan pedagang serta para saudagar diberi hak-hak perwakilan dalara majelis (parlemen) secara terbatas.

Pada tahun 1826 Rusia menginvasi Iran. Penguasa Tsar Rusia mgin memperlebar daerah kekuasaannya dan memperoleh jalur penghubung ke Teluk Persia. Bangsa Rusia memberikan kekalahan yang hebat atas Iran pada tahun 1827, yang kemudian sesudah itu dua negara tersebut menandatangani traktat Turkomanchai. Perjanjian ini memberi penguasa Tsar Rusia wilayah bagian utara sungai Aras, yang sampai sekarang masih nienjadi perhatasan antara dua negeri itu. Di tahun 1856 Iran mencoba untuk mendapatkan kembali bekas teritorinva di barat laut Afghanistan, tetapi imperialis Inggris menvatakan perang terhadap Iran. Dan pada tahun 1857 Iran dipaksa untuk menandatangani traktat yang menverahkan semua klaim terhadap Afghanistan. Pengaruh imperialisme lnggris dan kekaisaran Rusia di Iran semakin meningkat sepanjang akhir pertengahan abad ke-19, dan pada permulaan tahun 1900, sebuah Korporasi Inggris, Perusahaan Minyak Anglo-Persian, mulai mengambil alih kendali atas ladang minyak di Iran barat daya.

Selama masa Perang Dunia 1, Iran menjadi ajang pertempuran meskipun negara tersebut bersikap netral. Ketsaran Rusia tertarik untuk mempertahankan cadangan minyak di Baku dan Laut Kaspia. Bangsa Rusia terlibat dalam pertempuran sengit dengan bangsa Turki di Iran barat laut. Imperialis Inggris, di pihaknya, mempertahankan kepentingan mereka di ladang minyak Khuzistan. Pada tahun 1920 Sayid Ziauddin Taba Tabai, seorang politisi Iran, dan Reza Khan, seorang perwira kavaleri, menggulingkan dinasti Qajar. Di bulan Oktober 1925, Reza mentahbiskan diri sebagai Shah dan menjadi pendiri sebuah dinasti baru, Dinasti Pahlevi. Selama 20 tahun masa kekuasaannya, dia menindas suku bangsa Kurdi, Baluchis, Qashqis, serta gerakan pemberontakan lainnya dan mengakhiri pemerintahan Arab semiotonomi Syekh Khazal yang mendapatkan proteksi dari Imperialis Inggris di Khuzistan.

Pada saat Perang Dunia II dimulai tahun 1939, Iran sekali lagi menyatakan kenetralannya. Akan tetapi sekutu ingin menggunakan jalan kereta Trans-Iranian Railway untuk mengirimkan peralatan perang dari Inggris kepada Rusia di bawah Stalin. Bagaimanapun juga, Reza Shah pada titik tertentu di bawah tekanan Jerman-Hitler. Di akhir tahun 1930 lebih dari separuh perdagangan luar negeri Iran adalah dengan Jerman yang menyediakan mayoritas permesinan untuk program industrialisasi Iran. Dia dengan demikian menolak untuk bekerja sama, dan maka pada tahun 1941 imperialis Inggris dan Rusia-Stalin menginvasi Iran. Mereka memaksa Shah Reza untuk mengundurkan diri, menempatkan putranya Muhammad Reza Pahlevi sebagai penggantinya. Shah yang baru mengijinkan mereka untuk menggunakan rel kereta api tersebut dan menempatkan pasukannya di Iran hingga usajnya perang.

Kehadiran pasukan perang imperialis Inggris di Iran selama masa pertempuran mendorong timbulnya gerakan massa. Di dalam majelis (parlemen) suatu kelompok nasionalis di bawah pimpinan Mossadeq menuntut diakhirinya kontrol Inggris atas industri minyak. Pada tahun 1951 majelis menyepakati suara untuk menasionalisasi industri minyak, tetapi Perdana Menteri menolak untuk mengimplementasikannya. Dia kemudian dipecat dan digantikan oleh Mossadeq. Menyadari bahaya akan kebijakannya yang anti-imperialis, maka pada tanggal 16 Agustus 1953 CIA melancarkan kudeta terhadap Mossadeq. Pada tanggal 19 Agustus Shah kembali berkuasa.

Sekali lagi pada tahun 1960-61 krisis politik dan ekonomi kembali mengemuka, ketika pemilihan majelis dimanipulasi besar-besaran. Kekacauan politik dan ekonomi menimbulkan sebuah pemogokan umum yang secara brutal ditindas dengan pertolongan agen polisi rahasia yang kejam, Savak. Shah memperkenalkan apa yang disebut dengan program “Revolusi Putih,” program reformasi agraria yang dikombinasikan dengan langkah-langkah pendidikan dan kesehatan. Dari tahun 1963-73 secara politik dan ekonomi Iran relatif stabil. Pendapatan nasional dari minyak yang naik cukup mantap memperbaiki kinerja pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 1973-74, harga minyak dunia naik empat kali lipat, dan pendapatan Iran dari minyak meningkat dari 5 milyar dolar ke 20 milyar dolar setahun.

Shah mencoba menggunakan dana ini untuk merubah Iran dalam semalam menjadi apa yang dia gambarkan sebagai negara adidaya kelima di dunia. Dengan ilusi ini dalam pikirannya, dia merayakan ulang tahun ke 2.500 pendirian pertama kerajaan Persia pertama oleh Cyrus pada tahun 550 S. M. di tahun 1971.

Akan tetapi, boonring dalara penghasilan minyak segera diikuti dengan inflasi yang pesat, migrasi masal ke daerah perkotaan, minimnya perumahan dengan infrastruktur yang tidak mencukupi serta jenjang pendapatan yang semakin melebar. Kondisi ini memicu kekecewaan yang mendalam di antara para buruh, kaum petani dan kelas menengah yang termuntahkan dalam sebuah ledakan gerakan masa revolusioner. Pemogokan umum yang dilakukan kaum pekerja melumpuhkan sistem. Akan tetapi karena kebijakan yang diambil oleh Partai Tudeh (Partai Komunis) dianggap salah, revolusi tersebut dibajak oleh para fundamentalis.

Pada puncak gerakan itu, Khomeini sedang berada di Perancis, dimana dia memperoleh dukungan dari golongan pemerintah di Perancis, yang melihatnya sebagai sarana untuk membelokkan revolusi itu dari relnya. Sebenarnya, kekuatan nyata di belakang revolusi tersebut adalah kaum proletar Iran, terutama para pekerja tambang minyak. Setelah membajak revolusi, Khomeini tidak mampu menghancurkan kelas pekerja, yang diorganisasikan dalara shura (Soviet) hingga tahun 1981. Setelah mengantongi kekuasaan negara, dia mengeksekusi lebih dari 6000 buruh politikus oposisi. Terdapat benturan dan perpecahan terus menerus dalam tubuh PIR (Partai Islam Republik), yang para pemimpinnya berjuang untuk melawan, pada satu sisi dengan mengorganisasikan penindasan terhadap oposisi internal, dan di sisi lain, dengan mendirikan organisasi-organisasi teroris di Timur Tengah dan negara-negara Islam lainnya.

Rezim Khomeini mendukung sayap-sayap fundamentalis Hizbullah Harnas sebagai saran untuk mengalihkan perhatian dari ketegangan internal di Iran. Komposisi sosial dari kelompok-kelompok ini utamanya berasal dari kaum proletar-tak terpelajar. Ironisnya adalah bahwa sebelum Revolusi di Iran tahun 1979, organisasi semacam ini dibiayai oleh CIA dan Agen Rahasia Israel Mossad, dalam rangka untuk memecahbelah kaum pekerja di Timur Tengah sesuai dengan gans pemisah agama.

Melalui metode semacam itu, mereka berhasil mengendalikan faksionalisme dalam tubuh PIR dan mengkonsolidasikan rezim reaksioner mereka. Bulan September 1980, Irak menginvasi Iran dan pecah perang balas-membalas yang berlumuran darah hingga tahun 1988. Pada tanggal 3 Juni 1989 Khomeini meninggal dan digantikan oleh pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khomeini. Pertarungan faksional pada level atas mencapai babak kritis, yang diekspresikan dalam pemilu tahun 1997, dan sekali lagi pada 18 Februari 1999.

Pada tanggal 11 Maret Said Hajjarian, Balah satu dari arsitek gerakan reformasi Iran, ditembak. Paling terakhir, serangan bom bermunculan secara periodik di berbagai belahan pusat kota Teheran. Bom telah mengguncang Pasdaran di Barat Laut ibukota. Hal ini menunjukkan bahwa rezim yang kelihatannya terlalu berlebihan untuk bisa bertahan selamanya telah memasuki satu keadaan krisis terminal. Bagaimana hal itu bisa terjadi sebaliknya? Sejarah tidak berakhir dengan adanya proklamasi Republik Islam” Iran. Bagaimana bisa? Bertentangan dengan mimpi reaksioner Khomeini, sejarah tidak pernah terproses sesuai dengan rencana subyektif apapun atau gagasan-gagasan individu yang telah diprasangkakan, setidaknya ketika ide-ide ini memiliki karakter vang keseluruhannya tidak ilmiah. Pada satu kesempatan, meetang benar, bahkan reaksi yang paling ngawur sekalipun bisa berhasil, dengan mengambil kesempatan dari kontradiksi kesengsaraan dalara masyarakat dan dalam kesadaran masa yang baru saja bangkit dan berjuang untuk mencari cara menuju ke jalan revolusi.

Da lam situasi-kondisi tertentu dan terkecualikan, Khomeini dan para pengikutnya mampu untuk membajak sebuah revolusi yang tidak seorangpun dari mereka terlibat dalara pengkreasiannya. Karya ini bertujuan untuk menerangkan bagaimana sebenarnya hal ini bisa terjadi. Kemenangan reaksi kaum fundamentalis di Iran sebenarnya tidak bisa terbayangkan tanga kebijakan kacau yang senantiasa dianut partai-partai dan kelompok-kelompok tersebut, yang seharusnya memberi kaum pekerja pemimpin yang dibutuhkan. Terutama, Partai Tudeh Stalinis memainkan peranan fatal yang secara efektif menghantar kaum huruh di Iran, terikat dan terbungkam, ke Khomeini.

Rezim para ayatullah telah berakhir lebih dari dua dekade lalu. Akan tetapi kesemua sinyal-sinyal itu menghangus dengan sendirinya. Satu babak baru gerbang revolusi Iran telah terbuka lebar di hadapan kita. Cambuk kontra-revolusi, sebagaimana ramalan Karl Marx, telah menggugah kembali gerakan revolusioner. Simpul sejarah, vang putus setelah tahun 1979, sekali lagi ditalikan di Iran. Tugas bagi para Marxis Iran-lah untuk mempersenjatai gerakan dengan tujuan dan sasaran yang jelas. Dengan basis ini, kejayaan ada di depan mata. Akan tetapi svarat yang mesti dilangkahi adalah bahwa generasi baru kaum buruh revolusioner dan para pemuda harus belajar dari pengalaman masa lampau dan mengambil kesimpulan vang dibutuhkan. Bila karya ini membantu tugas tersebut, maka terpenuhilah tujuannya.

Bab II
Catatan Atas SeJarah Iran

Antara abad ke-11 dan abad ke-19, sekitar 15 dinasti telah memerintah Iran. Hampir kesemuanya adalah penduduk asli Asia Tengah yang nomaden dan, dengan perkecualian dinasti Savafid (1501-1722), tidak satupun yang berumur panjang. Rangkaian dinasti nomadik ini timbul tenggelam nyaris seperti siklus. Para pakar sejarah dan antropologi telah berargumen bahwa, dalam konteks metode peperangan pra-kapitalis, kaum nomaden umumnya memiliki kekuatan militer yang superior jika dibandingkan dengan kaum pemukim dan konsekuensinya, mereka mampu menjadi pihak penakluk. Begitu kaum nomaden menjadi kekuatan yang memerintah, bagaimanapun juga, maka mereka akan menjalani proses pemukiman, dan superioritas militer mereka akan mengalami disintegrasi.(1) Menurut sejarah, kaum nomaden telah menggunakan kekuatan militer untuk menopang prasarana mata pencaharian mereka dengan menjarah harta kekayaan yang dikumpulkan oleh peradaban yang telah menetap.(2)

Setiap suku yang menginvasi memandang tanah maupun hasilnya sebagai obyek untuk dijarah. Perlakuan tanah sebagai obyek penjarahan, bersamaan dengan kebutuhan untuk memberikan upeti bagi para pejabat dinasti yang baru, memiliki arti bahwa setiap penaklukan diikuti dengan penyitaan masal dan pembagian jatah pampasan untuk elit baru yang memerintah. Setiap perubahan dinasti senantiasa disusul dengan penjarahan dan penjatahan. Dengan demikian, daur timbul tenggelamnya dinasti-dinasti nomadik menghambat perkembangan kepemilikan tanah milik pribadi.

Periode stabilitas yang relatif lebih lama di bawah dinasti Safavid, betapapun juga, memiliki pengaruh yang lebih langgeng terhadap relasi kepemilikan, menjauh dari kesewenang-wenangan siklus penguasa nomadik dan perubahan dinastis. Perkembangan daya produktif mendapatkan dorongan baru pada awal abad ke-19. Sebagaimana halnya dengan kasus tsar di Rusia, dan kemudian Jepang, sumber dari dorongan ini adalah persaingan dan tekanan dari luar. Bangsa kapitalis barat yang lebih maju memberikan awalan bagi sebuah fase ekspansi kolonialis di Timur. Rusia berkonfrontasi dengan kekuatan Swedia yang tengah tumbuh berkembang, dan disusul konfrontasi dengan Perancis dan Jerman. Trotsky menulis bahwa: “Bukanlah bangsa Tar�tar yang memaksa Rusia untuk memperkenalkan senjata api dan menciptakan resimen tetap streltsi, bukanlah tentara Tartar yang kemudian memaksanya untuk membentuk kavaleri berkuda dan tentara infantri, akan tetapi tekanan dari Lithuania, Polandia dan Swedia-lah yang membuatnya demikian.” (3)

Bagaimanapun juga, dengan mengesampingkan keterbelakangannya jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa Barat, tsarisme Rusia jauh lebih maju dibanding Iran. Dalam konflik militer dengan negeri tetangga bagian utara-nya, dinasti Qajar mengalami dua kekalahan besar di tangan tentara Rusia yang relatif lebih modern, vang mengakibatkan kekalahan teritorial berat. Sejak saat itu, kombinasi efek dari membanjirnya penetrasi pengaruh luar negen di Iran dan upaya pemerintahan Iran untuk membangun sebuah angkatan bersenjata vang modern menyebabkan disintegrasi pada dinasti kesukuan yang Iama.(4) Iran dipaksa untuk memasuki gerbang jalan pembangunan kapitalisme. Namun semenjak permulaan, kapitalisme Iran memiliki karakter yang lamban, lemah, dan tidak sehat. Abad ke-19 disertai dengan pertumbuhan daya produktif yang lambat tapi mantap. Di sepanjang abad, populasi tumbuh dua kali lipat, urbanisasi meningkat dan agrikultur berkembang pesat. Kerajinan tangan dan ekspor tumbuh baik. Namun demikian, pada paro kedua abad itu, impor barang manufaktur dari negara imperialis menggusur produksi kerajinan lokal.

Era modern di Iran bisa dibagi menjadi tiga subperiode. Dalara periode pertama yang dibuka dengan abad ke-19, Iran bisa digambarkan sebagai negara semi koloni dengan partisipasi vang relatif kecil terhadap pasar dunia. Periode ini mencapai titik kulminasi pada revolusi konstitusional pada tahun 1906 (di bawah pengaruh revolusi Rusia tahun 1905) dan berakhir dengan bermulanya produksi minvak bumi secara ekstensif tahun 1908. Periode kedua (1908-1953) ditandai dengan meningkatnya integrasi Iran di pasar dunia (meski masih berupa negara semi koloni). Periode mi diikuti dengan pertumbuhan produksi minyak dan industrialisasi, serta pertumbuhan dan peningkatan konsentrasi kelas pekerja. Perselisihan menyangkut kemandirian minvak bumi dan bagian Iran atas pendapatan darinya adalah wajah karakteristik periode ini. Konflik ini mencapai klimaks pada masa pemberontakan sosial (1941-1953) yang diikuti dengan pengunduran diri Shah Reza (1926-1941). Periode ini berakhir dengan bangkit dan jatuhnya gerakan nasionalis Mossadeq (1951-1953). Periode ketiga (1953-1979) ditandai dengan tumbuhnya partisipasi Iran dalam pasar dunia sebagai negara yang berdaulat, dengan kontrol yang kuat atas sumber daya minyak bumi, peningkatan pendapatan yang tinggi dari minyak dan pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan.

Meski demikian, demam ekspansi ekonomi Iran tidak menandakan adanya reduksi kontradiksi interral. Malahan sebaliknya. Kenaikan harga minyak tidak secara signifikan memberikan keuntungan bagi massa yang terpukul oleh berhembusnya inflasi menggila. Kesenjangan kesejahteraan yang menonjol, diikuti dengan pamer kekayaan ala “barat,” dan kemiskinan yang mencekik menjadi tidak tertahankan. Munculnya ketegangan sosial tidak dapat dijinakkan dengan kebrutalan ekstrim yang dilakukan Savak (Savak adalah polisi rahasia yang loyal pada Shah) dari Shah, dengan kombinasi teknologi Amerika abad 20 dan kebiadaban timur abad pertengahan. Dengan mencoba untuk mengendalikan situasi dengan represi, Syah menciptakan sesuatu yang analog dengan panei tekan “presto” dengan katup pengaman tertutup rapat. Penampilan tenang dan tertata yang palsu merosot ke sebuah titik kritis menuju ledakan kekerasan terhebat yang tidak dapat dielakkan.

Periode setelah tahun 1979 ditandai dengan nasionalisasi industri-industri tertentu, bank-bank dan institusi finansial serta penyitaan kekayaan milik Shah. Di penjuru lain, tergelar pertempuran delapan tahun dengan Irak, perpecahan dalam tubuh PRI, kernenangan Khatami, dan kembalinya ke arah proses privatisasi dan “liberalisme pasar terbuka.” Periode keempat akan didiskusikan dalara bab terakhir, yang menarik benang merah perspektif tentang Iran

Prinsip Pembangunan Tidak Seimbang dan Terkombinasikan di Iran

Periode pertama yang berjalan kira-kira dari tahun 1800-1908 ditandai dengan perkembangan relasi produktif kapitalis yang lemah. Mayoritas populasi yang hidup di daerah pedesaan bergantung pada pertanian dan mode produksi pra-feodalis serta sebagian lagi bergantung pada sarana mata pencaharian nomadik. Kurang dari sepuluh persen populasi hidup di perkotaan, dan bekerja terutama sebagai saudagar dan para bazaaris (istilah para bazaaris menunjukkan kelas borjuis rendahan tradisional, penjaga toko kecil dan pedagang kaki lima.) Pada periode ini, produk Iran paling penting adalah sutera dan tekstil, vang keduanva sibuk menghadapi gempuran produk murah dari Inggris. Belakangan, tingginya permintaan dari Barat akan karpet Persia telah memungkinkan perkembangan dari industri kecil di sektor itu. Suatu kelas pedagang dan industri kecil karpet muncul dan makin menguat.

Menjelang akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, investasi asing terus mengalir ke Iran, dengan partisipasi dari pemegang saham lokal dalam sektor vang paling modern seperti konstruksi jalanan, indus tri penangkapan ikan di Laut Kaspia, dan telegraf. Mayoritas barang manufaktur dihasilkan oleh pengrajin dalam sekelompok besar bengkel kerja-bengkel kerja kecil, tetapi juga ada perusahaan kecil vang terlibat dalara pemintalan karpet dan industri kulit serta juga sejumlah pertambangan serta toko penjual barang cetakan. Menurut suatu penelitian tentang periode itu, pabrik karpet terbesar adalah di Tabriz dan mempekerjakan 1500 karyawan.

Di tahun 1908, minyak bumi ditemukan di Barat Daya Khuzistan, dan pada periode yang sama pembangunan jalan kereta api menyebabkan tumbuhnya integrasi ekonomi. Hal ini, sejalan dengan konsentrasi kelas pekerja, menyuarakan kemenangan akhir dari relasi kapitalis di Iran. Pada periode kedua, imperialisme Inggris secara keji mengeksploitasi industri minyak Iran dan memetik keuntungan luar biasa dari situ. Antara tahun 1912 hingga tahun 1933 saja, perusahaan Anglo-Persian Oil Company (APOC) menghasilkan keuntungan 200 juta lira, dan cuma 16 juta lira saja yang dibayarkan kepada Pemerintah Iran dalam bentuk royalti langsung. Sedangkan antara tahun 1945 hingga 1950, APOC hanya membayar sebanyak 90 juta lira sebagai royalti terhadap pemerintah Iran, dan memperoleh keuntungan bersih lebih dari 250 juta hra.(5)

Demikian skala produksi industri Iran hingga menjelang tahun 1920, mempekerjakan 20.000 karyawan, dan tahun 1940 telah mencapai 31.500 karyawan-salah satu konsentrasi terbesar di Timur Tengah. Pada akhir tahun 1925 Shah memberlakukan sebuah program untuk melindungi industri lokal dan untuk memberikan insentif negara bagi pengusaha swasta. Negara lebih mendasarkan diri pada pendapatan dari minyak bumi dan pajak, bukannya utang luar negeri. Berlawanan dengan dinasti sebelumnya, sebagian besar pendapatan dari minyak digunakan untuk pertahanan serta modernisasi negara Jan tentara. Selama masa 20 tahun kekuasaannya, Shah telah menghabiskan lebih dari 260 juta lira untuk industri. Setelah tahun 1930 kelompok-kelompok baru industri raksasa didirikan. Ratusan pabrik kecil dibangun, terutama yang bergerak dalam bidang tekstil, bahan makanan dan material konstruksi. Jumlah kelas pekerja meningkat secara radikal, seringkali terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar. Dalara hal mi, Iran meniru kekaisaran Rusia pada awal periode pembangunan industrinya.

Kebanyakan pekerja sebelumnya bekerja di bengkel-bengkel kerja kecil, tetapi setelah pembangunan pabrik penenunan tekstil di Isfahan, Kerman, Yazd, dan Teheran, jurnlah pekerja meningkat dengan mantap. Prinsip pembangunan ekonomi dan sosial yang tidak seimbang dan terkombinasikan menunjukkan kemajuan. Mengacu pada dominasi pasar dunia oleh imperialisme,proses industrialisasi di Iran tidak bisa dilaksanakan dengan cara klasik. Karena Iran adalah sumber energi yang penting, eksploitasi sumber daya minyaknya oleh imperialis Inggris mengarah ke bentuk pembangunan yang sangat terbatas dan timpang. Kapitalis Inggris hanya tertarik untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri. Dengan demikian, pertumbuhan industri menghasilkan pola pembangunan yang sangat tidak berimbang, dimana pendirian industri maju hanya terbatas pada kota-kota besar-Teheran, Tabriz, Isfahan, Kerman dan beberapa pusat kota lainnya. Kebutuhan akan industri rninyak bumi mendorong dibangunnya industri maju di daerah Khuzistan-sebuah daerah yang belum pernah berubah selama berabad-abad-akan tetapi di kebanyakan wilayah negara itu masih tetap tertinggal. Kapital industri masih merupakan perkecualian, bukan peraturan. Kapital komersial masih memainkan peranan yang dominan.

Distorsi ini memiliki arti bahwa hanya pola pembangunan yang terkombinasikan dan tidak seimbanglah yang rnungkin dilakukan. Bentuk sosial dan ekonomi yang paling maju dibangun beriringan dengan yang paling primitif. Seiringan dengan cahaya terang dari pabrik-pabrik petrokimia modern, ada cahaya lampu redup di desa-desa tanpa listrik. Di depan industri-industri yang menggunakan teknologi paling mutakhir, perajin kecil masih terus menggunakan metode yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, bahkan mungkin bermilenium-milenium. Rumah-rumah modern komplet dengan dapur ala Amerika berdiri kokoh di samping perkampungan kumuh dimana makanan dimasak di ata5 arang dan tungku kayu penuh asap.

Periode ketiga sekali lagi dikarakterisasi dengan pertumbuhan dramatis dalam hal pendapatan sektor minyak bumi. Menjelang 1965, pendapatan itu berjumlah $522 juta dan di tahun 1969, $938 juta. Hasil raksasa ini dihabiskan pada aparat negara. $10 diinvestasikan untuk memperluas infrastruktur dan industri manufaktur. Sembilan puluh perusahaan asing berinvestasi di Iran tahun 1969, separuh darinya berkantor pusat di AS.(6) Akan tetapi negara masih merupakan sumber utama pertumbuhan industrial, dan mensuplai 40-50 persen dari keseluruhan investasi. Pertumbuhan ekonomi meningkat secara drastis berkat kenaikan harga minyak tahun 1973. Pada bulan Desember 1973, harga minyak terpompa hingga ke tingkat $11,65 per barel jika dibandingkan dengan harga sebesar $1,79 di tahun 1971. Pendapatan Iran serta-merta naik dari sebanyak $938 juta tahun 1969 hingga sebanyak $22 milyar pada tahun 1974.

Rencana pembangunan lima tahun diluncurkan dengan program pembangunan beranggaran $69 milyar. Upah buruh terampil naik dengan pesat, meningkatkan aliran urbanisasi dari desa ke kota. Antara tahun 1956 hingga 1971, berjuta kaum pedesaan hijrah ke kota. Pada pertengahan 1970-an, rata-rata 380.000 orang bermigrasi setiap tahunnya. Hal ini menimbulkan dampak yang buruk pada sektor agrikultur, dimana produksinya mengalami penurunan dan harga bahan makanan meningkat. Hanya dalam dua tahun, uang sewa di Teheran telah berlipat 300%. Beberapa orang mendapatkan uang dari spekulasi properti dan komisi sebagai makelar. Akan tetapi inflasi yang akut memukul telak kaum buruh, para petani dan borjuis rendahan.

Gubuk-gubuk kumuh semakin menjamur di perkotaan dan bermunculan dimana-mana, melenyapkan perasaan kemanusiaan paling mendasar. Kemiskinan yang mengerikan membayangi massa. Dalam situasi ini, Shah yang seharusnya menjadi figur pemerintah vang bijaksana dan “progresif” justru menghambat program pembangunan. Hasilnya adalah kemerosotan nilai ekspor secara tajam, intensifikasi yang telah ada menjadi berantakan. Kaum buruh menjawabnya dengan memperbanyak serikat kerja yangbergerak di pabrik-pabrik, di mana mereka melaksanakan pekerjaan organisasi dan agitasi yang berbahaya di bawah pengawasan ketat agen Sayak. Posisi negara yang tidak nyaman dalam perusahaan industrial seringkali memaksa otoritas untuk mengusahakan supaya agen mereka terpilih sebagai pemimpin dari apa yang disebut sebagai serikat pekerja resmi, organisasi yang dirancang oleh negara, bernama “Sindikat.” Anggota Sindikat merupakan unsur utama dalam kontrol negara di dalam tubuh kaum pekerja. Kaki tangan negara ini memainkan peranan penting dalam mengeliminir gerakan kaum buruh dan memobilisasi kekuatan untuk demonstrasi dan unjuk rasa mendukung rezim.

Metode kedua untuk mempolitisir adalah melalui kehadiran langsung dari agen polisi rahasia, dibawah penyamaran dalam semacam Institusi perusahaan seperti Hefazat dan Entezamat (Badan Pengamanan). Ini merupakan unit de facto Sayak di dalam tubuh perusahaan-perusahaan. Setiap pabrik memiliki beberapa informan langsung. Entezamat dan Hefazat diawaki hampir seluruhnya oleh para kolonel dan perwira militer yang secara langsung terkait dengan Sayak. Keberadaan para kolonel dan perwira militer dalam pabrik-pabrik dan struktur manajemen hirarkis membuat perusahaan-perusahaan berubah menjadi tempat teror seperti barak. Akan tetapi seluruh kendali ketat terhadap para pekerja tidak menangkal berjalannya pemogokan. Beberapa orang memperkirakan 20 sampai 30 aksi mogok terjadi setiap tahunnya setelah 1973.

Dengan mengesampingkan catatan yang ada, kegagalan strategi pemerintah untuk mengamankan rezim dan untuk menon-aktifkan kaum buruh terlihat secara terang-terangan. Polisi rahasia dipaksa untuk memilih penggunaan kekuatan militer untuk mengantisipasi aksi buruh kolektif. Terdapat berbagai contoh dimana tentara mengepung pabrik yang sedang dilanda pemogokan – pabrik pembuatan perkakas Tabriz, perusahaan traktor Sazi di Tabriz, perusahaan besi baja Pars dan Renault adalah beberapa contoh pada tahun 1970-an.

Pembangunan kapitalis di Iran setelah Perang Dunia 1 dan khususnya setelah Perang Dunia II secara mendalam telah merubah wajah negeri ini. Modal telah mem-penetrasi Iran dan meninggalkan jejaknya di tiap sudut masyarakat. Daerah pedesaan telah mengalami beberapa perubahan sejak land reform pada tahun 1960-an. Akan tetapi struktur fundamental dari masyarakat pedusunan belum berubah. Pembangunan ekonomi yang pesat dibarengi dengan konsentrasi modal di tangan segelintir orang. Empat puluh lima keluarga mengendalikan 85 persen perusahaan-perusahaan terbesar pada tahun 1974. Pembangunan kapitalis juga telah menciptakan kelas pekerja raksasa di Iran, dan dengan demikian mentransformasi sepenuhnya per�imbangan kekuatan kelas. Fakta ini benar-benar mencolok pemandangan tahun 1979 di saat proletariat memainkan peranan penentu dalam revolusi.

Bab III
Partai Komunis Iran

Tumbuhnya gerakan dan pemikiran komunisme di Iran, dalam sudut pandang nyata, dimulai di ladang minyak Baku di Rusia sebelum tahun Revolusi 1917. Beribu-ribu imigran buruh Iran telah dipekerjakan oleh rezim tsaris di tambang minyak dimana mereka bekerja bahu-membahu dengan buruh dari Rusia, Azeri, juga Armenia dan bersentuhan dengan propaganda dan agitasi Bolshevik. Para pekerja ini memainkan peranan yang signifikan dalam perkembangan Partai Komunis di Iran. Hampir 50 persen dari para buruh di ladang minyak Baku adalah orang Iran yang kebanyakan dari mereka melakukan kontak dengan kaum Bolshevik yang bekerja di serikat buruh tambang minyak.(1) Catatan statistik resmi menunjukkan bahwa 190.000 orang Iran pergi ke Rusia di tahun 1911, dan 16.000 kembali ke rumah pada tahun yang sama.(2) Akan tetapi perkiraan yang tidak resmi menunjukkan bahwa tidak kurang dari 300.000 pekerja Iran bermigrasi ke Rusia setiap tahun. Para buruh ini umuninya berasal dari Azerbaijan dan Gilan, tetapi juga banyak yang datang dari bagian lain di Iran. Kaurn buruh Iran demikian terpengaruh dengan kaum Bolshevik sehingga setiap saat mereka kembali ke Iran, mereka membawa tradisi dan gagasan Marxis Rusia bersamanya. Untuk pertarna kalinya dalam sejarah Iran mereka mengumandangkan slogan terkenal dari Manifeste Komunis: Kargaran-e-Japan Mottahad Slotweed (“Kaum Buruh Sedunia, Bersatulahl”)

Revolusionaris Iran memiliki kaitan dengan aktivitas dari Partai Demokratik Sosial Rusia sejak awalnya. Ketika Iskra (“Percikari’) mulai dipublikasikan pada bulan Desember 1900, revolusionaris Iran mengirim terbitannya ke Baku melalui Persia. Revolusionaris inilah yang kemudian dikenal sebagai Sosial Demokrat.(3) Dalara rangka urusan Iskra, Krupskaya suatu saat pernah menulis surat kepada Torkhan mengnyakan padanya apakah dia bisa mengirim terbitan itu ke Rusia melalui Tabriz. Dalara sebuah surat kepada L.Y. Galperin, Lenin juga menuliskan tentang pengiriman yang lebih jauh ke Persia melalui Wina, yang dia katakan hanya sebagai eksperimen terbaru, jadi hal itu masih “terlalu dini untuk mengatakan gagal; hal itu mungkin berhasil.” (4) Galperin sendiri bertugas untuk mengirim Iskra ke Baku (oleh Sosial Demokrat Rusia) pada Musim Semi tahun 1901. Dia mengorganisasi Komite Baku dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Fungsi dari komisi ini adalah untuk mengatur kerahasiaan pencetakan dan transportasi literatur ilegal dari luar negeri, serta distribusinya di dalam negeri Rusia.

Kebanyakan kaum Bolshevik malahan berpartisipasi dalara gerakan Mashrutiat (Konstitusional) antara tahun 1905 hingga tahun 1911 dan kehilangan nyawanya bersama dengan revolusionaris Iran. Gartovk, duta besar Tsar di Iran, mengirim surat kepada pemerintah Rusia pada tanggal 2 Oktober 1908, bahwa komandan artileri Sattar Khan (pemimpin revolusi Tabriz) adalah seorang awak dari Kapal Perang Potemkin yang terkenal, yang telah melarikan diri ke Rumania namun belakangan kembali lagi ke Iran, dimana dia bergabung dengan para revolusionaris. Duta besar lebih jauh menulis bahwa literatur revolusioner itu dikirimkan dari Tabriz oleh para revolusionaris Rusia.(5)

Pada waktu itu sebagian dari Manifesto Komunis diterjemahkan ke dalam bahasa Persfa pada waktu revolusionaris Rusia yang dipimpin oleh Sergo Orjonikidze yang datang ke Iran tahun 1909 dalara rangka melaksanakan aktivitas revolusioner. Istrinya menulis tentang hal ini dalara bukunya Jalan Kaurn Bolshevik. Lenin sendiri mengadakan kontak dengan beberapa orang kaum Bolshevik Transkaukasia, yang berada di Iran selama berlangsungnya reaksi setelah kekalahan dalara Revolusi 1905. Kelompok Bolshevik Transkaukasia menduduki peran penting dalam menyebarluaskan ide-ide Marxisme di Iran selama Gerakan Konstitusional menentang dinasti Qajar.(6)

Namun, pada mulanya gerakan Sosial Demokrat Iran didominasi oleh, bukannya Marxisme, akan tetapi tren yang sama dengan Narodnisme Rusia. Alan Woods dalara bukunya yang terbaru Bolshevism, the Road to Revolution, menulis: “Kaum Narodnik dimotivasi oleh volunterisme revolusioner: yakni gagasan bahwa keberhasilan revolusi bisa dijamin dengan kemauan baja dan penentuan sikap sekelompok kecil lelaki dan perempuan yang berdedikasi. Faktor subyektif tentu saja menentukan dalara sejarah umat manusia. Karl Marx menerangkan bahwa lelaki dan perempuan membuat sejarahnya sendiri, tetapi dengan tambahan bahwa mereka tidak berhasil melakukannya di luar konteks hubungan sosial dan ekonomi yang terbentuk secara independen dari keinginan mereka.”(7)

Pada dasarnya, terorisme adalah tendensi borjuis kecil (petit-bourgeois), yang betul-betul asing bagi tradisi kelas pekerja. Bahwasanya gerakan tersebut musti memilih menggunakan metode-metode serupa di masa awal adalah sernata merupakan refleksi dari fase perjuangan yang masih terbelakang. Hal itu merupakan akibat langsung dari rendahnya tingkat pembangunan sosio-ekonomi di Iran. Pembangunan daya produktif yang lambat lagi melempem menemukan refleksinya dalam struktur kelas yang terbelakang dalam masyarakat Iran pada suatu ketika saat kelas pekerja masih dalam masa balita. Bagi para mahasiswa dan intelektual progresif, terlihat bahwa masyarakat berada dalam keadaan yang benar-benar stagnan. Dalam ketidaksabaran, mereka menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar dari krisis yang ada dalcm masyarakat kecuali dengan cara penggunaan senjata dan bom. Meskipun hal ini tidak bisa dibenarkan walau pada saat itu sekalipun, setidaknya hal itu bisa dimengerti pada suatu titik manakala mode produksi kapitalis masih berada dalam tahap perkembangan primitif. Kaum buruh masih dalam fase embrionik. Dengan demikian, para pelajar mencari sebuah basis di antara kaum petani yang tak terpuaskan. Yang terakhir ini sangat tertindas dalam cengkeraman para tuan tanah feodal dan seringkali melancarkan serangan putus asa terhadap tuan tanah dan kebangsawanan feodal. Akan tetapi keterbelakangan yang lazim dari rakyat pedesaan, sikap masa bodoh serta tuna aksara, dan pembawaan dari kaum tani yang berserak-serak dan tak terorganisir dengan baik, memiliki arti bahwa, dengan hanya mengandalkan diri sendiri, mereka tidak mampu menawarkan jalan keluar. Hanya dengan mencari sekutu revolusioner yang kuat di perkotaan, para petani bisa berdiri tegak menuntut atas sebuah transformasi masyarakat yang revolusioner.

Revolusionaris tahap awal ini adalah orang-orang pemberani dan tulus, yang mendedikasikan diri untuk mencari jalan menuju kemerdekaan manusia. Mereka berpikir bahwa melalui metode ini mereka akan sampai pada sebuah perubahan dalam masyarakat dan mengakhiri penindasan serta eksploitasi. Akan tetapi di samping keberanian mereka, mereka kekurangan pemahaman teoritis yang penting untuk memimpin revolusi itu. Mereka habiskan banyak waktu guna berdiskusi tentang bagaimana cara membunuh Shah serta kaum aristokrat dan bangsawan feodal yang dibenci. Pada suatu kesempatan, mereka mengirimkan sebuah bingkisan hadiah kepada gubemur Kota Marand atas nama teman dekatnya yang hidup di pedesaan. Ketika Gubernur membuka bingkisan itu, bom meledak dan tewaslah dia terbunuh. Tetapi biasanya mereka,tidak sedemikian sukses.

Maksud para pemuda ini adalah mengarahkan sasaran hanya kepada para pejabat yang bengis dan penguasa yang lalim. Mayoritas aktivitas organisasional mereka berkisar di seputar tindakan terorisme individual menentang tuan tanah feodal dan anggota kaum bangsawan. Selama beberapa waktu dihantui ketakutan atas pembunuhan, para pejabat pemerintah hidup dalam keadaan panik terus-menerus. Dari sekian revolusionaris, ada satu figur yang menonjol, Hyder Khan Amougly, yang mencoba melakukan pembunuhan terhadap sang Raja Moh. Ali Shah atas instruksi Dewan Revolusioner Pusat. Pada bulan Februari 1908, setelah gagal pada upaya pertama, dia melakukan usaha yang kedua, ketika dia mencoba menaaamkan bom di bawah mimbar dimana Sang Raja dan segenap bawahan hendak berdiri di situ. Walapun demikian, yang kedua ini tak lebih beruntung dari upaya pertama.

Bahkan jikalau mereka berhasil, tindakan semacam itu sekali-kali tidak akan nienimbulkan efek paling ringan dalam memperlemah rezim tersebut, apalagi untuk menggulingkannya. Kesalahan dari para teroris adalah membayangkan bahwa negara hanya bersandar pada individu-individu. Tapi bukan hal itu yang terjadi. Seorang gubernur reaksioner akan digantikan dengan yang lain, dan negara dipaksa untuk mengambil langkah-langkah represif baru dengan kekuatan baru. Monarki Iran tidak bisa digulingkan oleh bom teroris melainkan hanya dengan gerakan massa revolusioner. Metode terorisme individual yang primitif, sebagaimana kita amati, berkaitan dengan sifat hubungan kelas di Iran yang relatif tidak maju saat itu. Sementara, kaum proletar masih dalam status kebayiannya. Kaum revolusionaris, pada tingkatan tertentu, berhasil dalam upayanya untuk mendapatkan basis di antara para pemuda, kaum tani, dan di antara suku yang lemah dan tertindas. Mereka sangat setia kepada cita-cita kaum miskin dan pergi ke desa-desa di mana mereka bekerja dengan buruh tani seraya berusaha meyakinkan mereka untuk berjuang, tapi, seperti halnya usaha-usaha kaum Narodnik Rusia sebelumnya, para revolusionaris ini tidak mendapatkan respons yang serius dari mereka. Kadangkala mereka begitu frustasi dengan tiadanya kemajuan yang mereka dapat sehingga mereka mencaci maki para petani, dan tentu saja dengan hasil yang masih jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Mereka bukanlah benar-benar teroris sejauh mereka berupaya mencari basis di kalangan rakyat banyak. Mereka benar-benar mencari cara untuk mengakhiri sistem dengan cara-cara revolusioner. Tentu saja mereka tidak seperti teroris jaman sekarang yang memainkan keseluruhan peran negatif dalam perjuangan revolusioner. Pada saat ketika kekuatan proletar terlihat jelas bagi semua orang, dan ketika tidak seorangpun bisa secara serius mempermasalahkan peranan utama kelas pekerja dalam revolusi, orang-orang ini mencoba untuk membawa kembali gerakan kepada keadaanya di jaman pra-sejarah, kembali kepada meiode terorisme individual yang dikecam oleh Lenin dan semua orang Rusia Marxis. Metode semacam itu hanya bisa menabur benih kebingungan, memperlemah gerakan revolusi dan menggerogoti kesadaran diri kaum proletar, dan justru memperkuat reaksi (kaum reaksioner) dan aparat negara yang mereka nyatakan sebagai musuh yang harus dilawan.

Metode semacam itu tidaklah memajukan cita-cita revolusi sosialis dan kelas pekerja namun sebaliknya, mereka menolong para agen dan tentara bayaran imperialis melestarikan kekuasaan mereka dengan menyabotase kaum buruh dan memotong jalan sejati menuju perjuangan revolusioner. Metode perjuangan yang primitif dan ketinggalan jaman ini hanya merupakan satu fase transisi dimana pada tingkat yang lebih besar akan dianggap usang begitu kaum buruh yang masih bayi ini memasuki kancah politik. Salah satu contoh pertama adalah gerakan buruh tekstil dan buruh pabrik kulit di Teheran, yang menyampaikan ultimatum kepada majelis bahwa jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, maka mereka akan menghentikan kerja. Pemerintah mereaksi ancaman ini dengan melancarkan tindakan represi terhadap’ para pekerja, yang membalas dengan meneruskan aksi mogok. lnilah pemogokan pertama yang dilancarkan oleh para buruh dalam catatan sejarah Iran, dan pemogokan pertama ini berhasil memenangkan sebuah pengurangan jam kerja dari 14 jam menjadi 10 jam sehari. Ini merupakan pengalaman pertama mereka tentang betapa kekuatan bisa dicapai dengan aksi bersama dari kaum buruh. Dampak pemogokan ini sungguh hebat, sehingga dalam setiap siklus revolusioner debat-debat bermula pada peranan kaum buruh dan potensi mereka. Pemogokan ini merubah perilaku dari kesemua revolusioner serius. Seiring dengan berkembangnya kekuatan dan daya rekat kelas pekerja, serta peranan sosial mereka semakin jelas, maka kaum revolusionaris lama memodifikasi metode perjuangannya yang sudah kuno, dan mulai secara serius mempersiapkan kaum buruh.

Serangkaian suratkabar muncul dalam periode ini, dan sejumlah artikel tentang Marxisme yang kian bertambah mulai dipublikasikan. Cendekiawan Soviet, Ivanov, mengungkapkan sejumlah polemik antara revolusionaris Iran dengan Kautsky dan Plekhanov.(S) Menurut dokumen ini, pada tanggal 16 Oktober 1908, sebuah pertemuan diselenggarakan dimana satu kelompok Sosial Demokrat mengemukakan opini bahwa Iran telah mencapai tahap kapitalisme. Dalara pamadangan mereka, semestinya kaum revolusionaris tidak memberikan dukungan pada kaurn borjuis, yang semata-mata cuma akan mengeksploitasi situasi demi keuntungan sendiri, seperti yang telah mereka lakukan dalam revolusi Perancis. Kaum borjuis tak hanya tidak mampu memainkan peranan progresif, tetapi justru akan mencelakakan pergerakan kaum buruh dan revolusi.

Dalam kenyataannya, bersilangan banyak tendensi berbeda dalam tubuh Hemmat (“ambisi”), kelompok bentukan orang Iran yang diasingkan di Baku pada tahun 1904 berkat koordinasi dengan Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Kelompok Hemmat secara aktif terlibat dalam gerakan Mashrutiat atau konstitusional di Iran. Kelompok ini menderita banyak perpecahan, yang salah satu kelompok pecahannya membentuk kelompok Mujahidin. Tuntutan utama dari kelompok ini termasuk perancangan -sebuah majelis (parlemen), hak untuk memilih, kebebasan pers dan distribusi tanah. Pada tahun 1916 mereka memasuki jaringan kolaborasi dengan Partai Bolshevik. Kaum revolusionaris tua Iran yang diasingkan, bersama-sama dengan Mujahidin (pecahan dari organisasi Hemmat) membentuk sebuah kelompok baru, Hezb-e-adalat (“Partai Keadilan”), yang menjadi tulang punggung dari Partai Komunis Iran masa datang. Setahun berselang, terjadi sebuah peristiwa yang merubah keselurufan rangkaian dalara sejarah dunia.

Revolusi Oktober 1917 di Rusia adalah sebuah inspirasi bagi Iran. Kaum revolusionaris Iran melaksanakan tugas proletarian internasional, berjuang di jajaran kelas buruh dunia melawan kekuatan kontra-revolusioner selama masa perang sipil di Uni Sovjet. Antara tahun 1907 hingga tahun 1915 dua pakta rahasia dikeluarkan antara Tsar dan imperialis Inggris yang berarti pembagian Iran ke dalam wilayah pengaruh. Revolusi Oktober dengan cepat mempublikasikan traktat rahasia dan menghapuskan semua kebijakan ekspansionis kolonial tsaris. Iran adalah merupakan sebuah contoh utama atau penerapan kebijakan kolonial yang kejam dilakukan oleh tsarisme Rusia dalara kolaborasinya dengan apa yang disebut dengan demokrasi barat, dimana hak-hak nasional rakyat koloni diberlakukan bagai nilai kembalian yang kecil. Revolusi Oktober terbukti sebagai benteng pertahanan praktis dari segala bentuk penindasan nasional. Untuk pertama kalinya dalara sejarah modern, bangsa-bangsa yang tertindas menemukan pelindung yang kokoh dalara bentuk Negara Buruh di bawah kepemimpinan Lenin dan Trotsky. Terinspirasi oleh revolusi Oktober, massa Iran bahkan biasa menyanyikan lagu revolusioner seperti: khosh khabar badai nasim soinal keh bema mirasad zaman vesal (Sebuah kebahagiaan baru dibawa oleh angin utara kepada kita, menyentuh kita, menjadikannya berbentuk dua hati yang baik melebiur). (9)

Inspirasi dan energi yang didapat masa rakyat Iran dari revolusi Oktober juga menemukan suatu ekspresi yang lebih praktis dalam serangkaian kebangkitan. Setelah perang, Iran berada dalam sebuah keadaan instabilitas parah. Bulan April 1920, kaum revolusionaris di Azerbaijan mendirikan pemerintahan nasional mereka sendiri; tak lama berselang di Gilan dan Khurasan pemberontakan merebak, menentang rezim yang lemah, rapuh dan tidak stabil di Teheran. Pemberontak merancang republik independen sendiri. Di kota-kota, rakyat, setelah mengalami radikalisasi oleh pengalaman penjajahan bangsa asing dan kemenangan Revolusi Oktober 1917 di Rusia, juga dalara kegemparan revolusioner. Kelas buruh industrial memimpin sebuah gelombang perjuangan baru di kota-kota besar. Pada tahun 1921 serikat mengklaim memiliki anggota sebanyak 20.000 di industri minyak saja. Menjelang November 1921 gerakan pekerja telah mendapatkan semacam kekuatan yaitu, di bawah pengaruh Partai Komunis Iran yang baru saja dibentuk, organisasi Dewan Serikat Pusat yang dibentuk terafiliasi dengan Serikat Buruh Merah Internasional yang didirikan oleh Komunis Internasional.(1O) Masih di tahun 1921 para buruh pabrik cetak, pekerja pos, para guru, penambang minyak dan kuli pelabuhan melakukan pemogokan. Meskipun ukuran jumlah kaum buruh yang ikut bisa dibilang sedikit, namun tingkat perjuangannya sangat tinggi. Sebuah pesan salam revolusioner disampaikan kepada Trotsky, yang berbunyi:

“Dewan Perang Revolusioner dari Tentara Merah Persia, yang diatur oleh keputusan Dewan Komisariat Rakyat Persia, mengirimkan salam komunis kepada Tentara Merah dan Angkatan Laut Merah. Setelah melewati kesengsaraan yang hebat dan mengalami segala macam bentuk penderitaan, kami berhasil menghancurkan kaum kontra-revolusi internal kami yang bukan lain adalah agen imperialis. Dengan keinginan untuk menempa masyarakat, Tentara Merah di Persia diorganisasikan dengan tujuan untuk menghancurkan perbudakan terhadap orang-orang Persia.”

Pesan itu ditutup dengan slogan: “Hidup serikat persaudaraan antara Tentara Merah Rusia dengan Tentara Merah Persia muda!” dan ditandatangani oleh pemimpin Dewan Perang Revolusioner Mirza Kuchk Khan, Komandan angkatan bersenjata Ehsan Ullah dan, anggota Dewan Perang Revolusioner, Muzzafar Zadeh. Dalam balasan surat ini, Trotsky menulis bahwa berita pembentukan Tentara Merah Rusia “telah memenuhi hati kauri dengan kebahagiaan”,. (11)

Partai Adalat didirikan dan mulai menerbitkan dua suratkabar, Hormat (“Respek”) di Persia serta Yoldash (“Kamerad”) di Azerbaijan. Pada akhir tahun 1919 beberapa revolusioner terkernuka dari kelompok ini bergabung dengan organisasi revolusioner lainnya yaitu Kereta Timur Merah, yang sangat dekat dengan kaum Bolshevik dan berjuang melawan kontra-revolusi di Asia Tengah. Partai Komunis Iran dibentuk pada bulan Juni 1920, akan tetapi pada awalnya terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para anggota. Beberapa orang tetap mempertahankan garis kaum Bolshevik, sedangkan yang lainnya memakai garis yang telah dipertahankan oleh kaum Bolshevik Lama sebelum adanya tesis April dari Lenin. Sementara sisanya masih berpegang pada posisi Menshevik. Pertentangan ini mewarnai Kongres Rakyat Timur di Baku, yang’ diperhelatkan selama tujuh hari di tahun 1920, dengan partisipasi 204 delegasi. Delegasi Iran melakukan serangkaian pertemuan untuk mendiskusikan masalah revolusi akan tetapi tidak sampai pada kesimpulan yang jelas.

Kekalahan Republik Soviet Gilan telah meluapkan frustasi dan kebingungan sehingga orang-orang mulai saling melemparkan kesalahan atas kekalahan yang menimpa. Dikarenakan tajamnya perbedaan internal yang terjadi, maka Partai benar-benar mendirikan dua Komite Sentral yang terpisah. Hal ini jelas tidak dapat dipertahankan. Pada tanggal 25 Januari 1922 Partai Komunis Iran mengadakan sebuah pertemuan dimana perwakilan dari Komintern juga turut ambil bagian, kemungkinan besar berkat desakan dari Lenin. Sebelumnya Komite Sentral Partai menulis banyak surat kepada Lenin menyangkut situasi di Iran dan posisi Partai. Pada akhir pertemuan tersebut, keberadaan dua Komite Sentral di dalara tubuh Partai ditolak. Demi mempertahankan kesatuan, maka sebuah Komite Sentral gabungan diorganisir, terdiri dari 20 anggota. Komite lokal dan Komite Sentral yang lama dibubarkan. Akhimya, diputuskan untuk menyelenggarakan Sidang Pleno Komite Sentral berikutnya pada tanggal 1 Mei 1922. Bagaimanapun juga, pada pertemuan ini perbedaan dalam hal perspektif dan metode Iran tidak dengan pas dipecahkan. Sejumlah besar suratkabar muncul pada periode itu dan pandangan politik yang berlainan diekspresikan di halaman-halaman majalah dan surat kabar ini. Diantara dari mereka adalah: Kommunist (“Komunis”), Enkelabee-e-Sorkh (“Revolusi Merah”), Haqeqat (“Kebenaran”), Reykan (“Panah”), Khalq (“Rakyat”), Javagheh (“Pijar”), Peyak (“Duta”), Nassihat (“Nasehat”), Edalat (“Keadilan”), Iran-e-Sorkh (“Iran Merah”), Eqhtasadeh Iran (“Ekonomika Iran”), Peykar (“Perjuangan”), Nohzat (“Gerakan”), Satareh Sorkh (“Bintang Merah”), dsb.

Partai Komunis Iran telah mengalami berbagai gejolak dan perubahan di sepanjang dekade setelah dibentuknya formasi pada bulan Juni 1920. Dekade itu ditandai dengan peristiwa-peristiwa historis besar di Iran: bangkit dan tenggelamnya Republik Soviet Gilan, kejatuhan dinasti Qajar dan pembentukan dinasti despotis Pahlavi, militansi masyarakat urban khususnya kaum buruh, gelombang-gelombang pemogokan, dan sebagainya. Partai Komunis Iran sangat aktif; mulai bekerja di antara para wanita dan membeutuk organisasi-organisasi berbeda, seperti Masyarakat untuk Evolusi, Kebangkitan Wanita serta Wanita Patriot. Organisasi-organisasi ini tidak hanya mendidik wanita, tetapi juga memberikan pengetahuan teknis bagi industri kerajinan tangan. Partai juga telah mengorganisir sayap kebudayaan yang memainkan peranan luar biasa dalam menyebarluaskan gagasan-gagasan kepada masyarakat dalam cara yang sederhana. Pertunjukan dan drama memainkan peran yang signifikan dalam mengembangkan organisasi di antara lapisan masyarakat yang lebih luas. Yang paling populer dan terkenal adalah Shah Abbas Drabaray Mobaraza, Enkalab-e-Murdom-e-Tabraiz dan Nadir Shah Afshar.

Dalara Sidang Pleno Komintern yang Keenam dan Ketujuh (Februari 1926 hingga November-Desember 1926), sekretaris jendral Partai Komunis Iran meminta bantuan Komintern dalam penyelesaian krisis internal Partai Iran. Dalam Sidang Pleno Komite Eksekutif Komintern-sebuah pertemuan khusus yang diadakan untuk membahas masalah-masalah Partai Komunis Iran serta perspektifnya-diputuskan bahwa kongres berikutnya (yang kedua) akan diselenggarakan bulan September 1927, dimana mereka akan mengupas masalah itu lebih jauh. Kongres kedua Partai Komunis Iran diadakan tepat pada waktunya dengan sembunyi-sembunyi pada bulan September 1927. Dua puluh. delegasi mengambil bagian, dan yang menjadi agenda adalah situasi internasional, karakterisasi rezim Reza Khan, masalah-masalah nasional, tantangan-tantangan organisasional, konstitusi Partai Komunis Iran, aktivitas Komsomol (kepemudaan) dan tugas-tugas bagi garda perempuan.

Item yang paling penting dalam agenda adalah karakterisasi Reza Khan yang telah memproklamirkan diri sebagai raja di bawah dinasti Pahlavi yang baru saja didirikan pada tanggal 12 Desember 1925. Di samping isu-isu lain, hal ini merupakan titik pusat pertentangan dalam Partai. Beragam opini dikemukakan, dengan beberapa orang mempertahankan pendapatnya bahwa kudeta yang dilakukan Reza Khan mempunyai arti pelucutan feodalisme dan dominasi kaum borjuis, sedang beberapa yang lain tetap berkeras bahwa kudeta itu hanyalah sekedar sebuah revolusi dalam istana, tanpa membawa pengaruh bagi relasi kepemilikan. Beberapa orang yang lain berpendapat bahwa untuk berjuang melawan imperialisme, Partai haruslah bersekutu dengan Reza Khan, sedang kubu lainnya mengkarakterisasikan dia sebagai agen imperialisme.

Sekali lagi Partai gagal mencapai satu keputusan dan perbedaan masih tetap bersemayam dalam tubuh organisasi. Dalam kenyataannya, apa yang telah terjadi adalah bahwa sesudah revolusi Oktober di Rusia, krisis yang menimpa dinasti Qajar telah mencapai tingkat akut. Di pucuk kekuasaan, sebuah perpecahan terjadi antar monarki, kaum bangsawan dan jajaran aristokrat dalam Birokrasi, yang merupakan tulang punggung dari pemerintahan pusat. Mereka di masa lampau adalah penguasa seni konspirasi dan intrik yang mustahil dipisahkan dari politik kesukuan. Di lain pihak, angkatan darat terbelah, dan muncul pula gejolak nasionalitas yang terinjak-injak. Terbangkitkan amarahnya oleh kehadiran pasukan asing dan terimbas dengan dampak dari Revolusi Oktober, kaum buruh menjadi militan

Sebuah situasi mirip perang saudara berkecamuk dalam masyarakat. Dalam otobiografinya, Muhammad Reza Shah Pahlavi telah memberikan beberapa informasi yang menarik tentang situasi waktu itu. Dia menulis bahwa para serdadu tidak menerima gaji tetap dikarenakan pemerintah terlalu lemah untuk menarik pajak. Suatu hari di kala departemen luar negeri hendak menjamu makan malam bagi tamu dari luar negeri, terungkap bahwa tidak terdapat lagi persediaan dana, walhasil mereka terpaksa berbelanja di bazaar dan meminjam uang demi membiayai perjamuan resmi. Disintegrasi sosial dan ekonomi telah menghancurkan struktur masyarakat. Di Teheran, warga tidak akan keluar rumah waktu malam hari karena takut terpenggal kepalanya. Jalan-jalan raya di Iran yang dahulu pernah tersohor menjadi begitu menyedihkan sehingga untuk pergi ke Teheran melalui Meshad orang harus melakukan perjalanan lewat Rusia, dan untuk bepergian dari Teheran ke Khuzistan di bagian barat laut, maka orang bersangkutan musti melewati Turki dan Irak.(12)

Reza Khan, yang merupakan seorang perwira tentara, melakukan berbagai manuver di unit-unit ketentaraan yang berbeda-beda guna membangun basis dukungan, dan akhirnya memimpin sebuah ICudeta pada tanggal 21 Februari 1921. Dengan menyeimbangkan gaya Bonapartis antara kelas-kelas yang berbeda dan antara kubu-kubu yang bertikai di tingkat atas, dia merengkuh kekuasaan. Pada kali pertama, dia mengandalkan bazaaris untuk mempertahankan diri dari barang impor, dan sembari memenangkan dukungan dari kaum nasionalis dan para buruh. Akan tetapi, begitu mengkonsolidasikan dirinya dalam kekuasaan, dia melancarkan pukulan terhadap kaum buruh dan Partai Komunis.

Setelah tahun 1928, kaum buruh berpartisipasi dalam gelombang baru perjuangan; mereka dalam keadaan memiliki semangat tempur yang tinggi. Pada tanggal 4 Mei 1929 para buruh penyulingan minyak berkumpul untuk menyuarakan tuntutan ekonomi mereka, dan perkumpulan ini berubah menjadi demonstrasi politik anti-pemerintah. Mereka meneriakkan slogan-slogan anti rezim dan menuntut pengunduran diri pemerintah. Buruh pabrik-pabrik yang lain bergabung dengan demonstrasi itu dengan antusiasme revolusioner. Tentara bersenjata datang dan secara brutal menyerang para pekerja dengan pedang mereka dan kaum buruh membalasnya dengan tongkat dan batu bata. Banyak buruh ditangkapi dan gerakan mulai menyebar ke kota-kota lain. Di Abdan, sejumlah 20.000 demonstran turun ke jalan berunjuk rasa menentang serangan brutal angkatan bersenjata terhadap kaum buruh. Sekali lagi pertempuran kecil terjadi antara tentara dengan kaum buruh. Situasi ini berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih dari liga ratus pekerja ditangkap, dan akhirnya pemerintah dipaksa untuk mendukung gerakan. Akan tetapi sekali lagi pada tahun 1931 para pekerja mengorganisir sebuah pemogokan besar-besaran. Mengambil tempat di pabrik tekstil Vatan kota Isfahan, para buruh pekerja itu mendesak pihak manajemen agar menaikkan upah mereka sebesar 40 persen dan menerima pengurangan jam bekerja dari 12 jam per hari menjadi 9 jam per hari. Di bagian utara, 800 buruh serikat dagang rahasia melakukan gerakan mogok.

Partai Komunis Iran memperoleh kemajuan signifikan di beberapa wilayah yang berbeda pada waktu itu. Akan tetapi, sejauh perbedaan politik dan masalah-masalah ideologis ditonjolkan, masalah mereka tetap tidak akan terpecahkan. Pada saat itu, peristiwa-peristiwa yang terjadi di Rusia mengalami peralihan yang sangat tajam dimana dampaknya sampai kepada berbagai partai Komunis di seluruh dunia. Dalam rangka untuk mengalahkan Trotsky dan Oposisi Kiri, Stalin menyandarkan diri ke kubu sayap kanan dari Partai Komunis Rusia. Hal ini membuat bangkitnya kulaks (para petani kaya) yang pada tahun 1928 mulai mengancam eksistensi pokok negara Soviet. Dalam bukunya, Russia: frons Revolution to Counter-Revolution, Ted Grant menjelaskan bagaimana Stalin telah mendapat banyak kesulitan dalam usahanya untuk mengandalkan elemen kapitalis di Rusia (kaum kulaks dan Nepmen). Hal ini tercermin dalam lingkup kebijakan politik luar negeri dan kinerja Komunis Internasional. Di Cina, upaya untuk menjalin hubungan baik dengan kaum borjuis nasional menghasilkan subordinasi Partai Komunis kepada Chiang Kai-Shek dan Kuomintang, dengan akhir berupa bencana. Di Inggris, usaha untuk berdamai dengan birokrasi Serikat pekerja menjadikan kekalahan dalara pemogokan umum dan rusaknya Partai Komunis Inggris. Sekarang Stalin beralih dengan tajam kepada Komintern dengan arah yang berlawanan. Dia melakukan satu belokan berbalik arah ke arah “kiri”, yang dengan segera diterima oleh semua kubu dalara tubuh Komintern.

Ted Grant menulis: “Dalam pelanggaran anggaran dasarnya, Komunis Internasional tidak menyelenggarakan konferensi selama empat tahun. Kongres baru diadakan pada tahun 1928 dimana untuk pertama kalinya, teori anti-Leninis’sosialisme dalam satu negara’ secara resmi diperkenalkan pada program Komintern. Juga diproklamirkan akhir dari stabilitas kapitalis dan dimulainya apa yang diistilahkan dengan ‘Periode Ketiga’. Berkebalikan dengan periode pergolakan revolusioner sesudah 1917 (‘periode Pertama’) dan periode stabilitas kapitalis relatif setelah tahun 1923 (‘Periode Kedua’), apa yang dinamakan dengan ‘Periode Ketiga’ ini adalah untuk menunjukkan kolaps akhir dari dunia kapitalisme. Pada waktu yang sama, sesuai dengan teori Stalin yang pernah masyhur (tapi sekarang telah terkubur), Sosial Demokrat diharuskan bertranformasi diri menjadi ‘sosial fasisme.” (13)

Perubahan yang terjadi dalam tubuh Komunis Internasional ini langsung memberi dampak terhadap Partai Komunis Iran. Pada Kongres Komunis Internasional VI, yang diselenggarakan pada bulan Juli-Agustus 1928 di Moskow, masalah perbedaan internal dalam partai Komunis di Iran mengemuka kembali. Hingga waktu itu Partai didominasi. oleh garis sayap kanan, tetapi sekarang mendadak dikuasai oleh kubu ultra-kiri ekstrim, sejalan dengan zig-zag terakhir yang dilakukan oleh panutannya di Moskow yang Stalinis. Hal ini tidak hanya terjadi dalam tubuh Partai Komunis Iran, tetapi juga sudah menggejala di seluruh belahan dunia. Selama beberapa tahun, sernua partai-partai Komunis mengejar kegilaan ultra-kiri ini, yang, dengan memecah-belah kaum buruh yang kuat di Jerman, langsung dapat menghantarkan kemenangan bagi Hitler di tahun 1933.

Dengan demikian, praktis hanya dalara waktu semalam, Partai Komunis Iran melompat dari posisi kanan dengan mendukung Reza Khan Pahlevi, ke posisi ultra-kiri. Mereka secara konsisten berjuang menentang kekuatan demokrat dan berkeras bahwa tidak ada perbedaan antara dernokrasi dan fasisme. Hal ini mengakibatkan terjadinya malapetaka. Tumbuhnya militansi gerakan kaum buruh di masa-masa itu dirubah oleh Partai Komunis Iran menjadi petualangan. Banyaknya kesalahan fatal yang mengalir dari kebijakan yang tidak benar menyediakan basis bagi rezim represif diktator Reza Khan. Dengan mudah, dirangkulnya majelis agar mensahkan Akta anti-Komunis tertanggal 1 Juni 1931. Dia melarang Partai Komunis dan memulai sebuah kampanye massal berupa eksekusi yang ditujukan terhadap kaum buruh Partai dan aktivis serikat dagang. Dia mengeksekusi banyak buruh dan pemuda-pemuda terbaik serta penyair-penyair revolusioner. Lebih dari dua ribu orang buruh telah dijebloskan ke penjara.

Sehabis mengalami kekalahan dan represi berat demikian, rasa putus asa, frustasi dan faksionalisme menimpa orang-orang awam dalam tubuh Partai. Banyak buruh yang meninggalkan Partai, yang sekali lagi menemukan dirinya dalam keadaan terisolas.i. Partai kemudian bergerak di bawah tanah dan berbasis terutama pada lingkup intelektual dan mahasiswa. Mereka mulai menerbitkan sebuah majalah baru bemama Doniya (“Dunia”), yang para pembacanya terbatas pada lingkup ini. Rezim melarang majalah itu, dan para anggota kalangan ini ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan ini populer dengan sebutan “kelompok lima puluh liga”. Kesemuanya dijatuhi hukuman selama liga hingga lima belas tahun hukuman penjara, tetapi pemimpin kelompok tersebut Dr. Taghi Arnai dibunuh dalara penjara pada tahun 1940.

Satu tahun setelah bencana Hitler berkuasa di Jerman, Stalin memerintahkan Komintern untuk melakukan gerakan salto lagi, membelot ke “kanan” dengan apa yang disebut sebagai kebijakan Front Populer, yaitu, sebuah kebijakan menggabungkan diri dengan borjuis “liberal” (yang sebelumnya dikecam sebagai “fasis radikal”) untuk melawan fasisme. Pada tahun 1939, Stalin berganti posisi sekali lagi,`setelah menandatangani sebuah pakta dengan Nazi Jerman. Front Populer mendadak dibubarkan. Ketika Stalin menandatangani traktat non-agresi dengan Hitler, Trotsky mengumumkan bahwasanya penandatanganan Traktat dengan Hitler memberikan satu alat ukur ekstra yang bisa untuk mengukur derajat kemerosotan Birokrasi Soviet dan keterpurukannya bagi kelas pekerja internasional, termasuk Komintern.(14)

Hingga peristiwa Hitler menyerang USSR, pemimpin Kremlin mengira kalau dia telah mengakalinya. Merasa yakin telah mengamankan garis belakangnya dengan menandatangani Pakta Hitler-Stalin, Stalin menunggu-nunggu Jerman dan lnggris serampangan, sementara dia menonton dari luar garis lapangan. Seperti yang ditandaskan Trotsky, Stalin secara efektif telah bertindak sebagai nahkoda Hitler. Dari saat pecahnya Perang Dunia 11 hingga tepat pada bulan Juni 1941 ketika Hitler menyerang Rusia, Nazi Jerman memperoleh peningkatan besar dalam ekspor dari USSR. Antara tahun 1938 hingga 1940 ekspor ke Jerman naik dari 85,9 juta rubbel menjadi 736,5 juta rubbel yang sangat membantu Hitler dalam mengupayakan perang.(15) Setelah mengabaikan setiap jejak perspektif internasionalis revolusioner, kaum Stalinis dimabuk kepayang dengan ilusi, padahal Hitler sedang mempersiapkan sebuah serangan yang bakal meluluhlantakkan mereka. Hal inilah yang melucuti Uni Soviet di hadapan musuhnya yang paling mengerikan. Betapapun juga, sernua ini dipersingkat jalannya pada tahun 1941 ketika Hitler melancarkan serangan atas USSR. Sebagaimana yang telah diramalkan jauh-jauh hari oleh Trotsky tahun 1931, bahwa jika Hitler memperoleh kekuasaan, maka Jerman akan mende�klarasikan perang terhadap Uni Soviet. Sekarang pandangan ini terbukti benar.

Situasi politik di Iran menemui perubahan yang serius pada tahun 1941 ketika Hitler menyerang Uni Soviet pada tanggal 22 Juni. Melihat bahaya aktivitas Jerman di Iran, imperialis Inggris dan Stalinis Rusia sekonyong-konyong melakukan tindakan dan menyerukan satu memorandum kepada pemerintah Iran yang menuntut:

1. Pemutusan hubungan diplomatik dengan Jerman dan Italia.

2. Upaya pemerintah Iran untuk memfasilitasi transportasi material perang sekutu berupa jalan, rel kereta atau rute udara.

3. Kepastian Teheran memperbolehkan penempatan tentara sekutu di teritori Iran.

Reza Khan menolak persyaratan ini dan dipaksa untuk mengundurkan diri dengan digantikan oleh putranya, Mohammed Reza Khan, seorang anjing penjaga imperialisme yang jmak dan patuh. Dia naik tahta pada tanggal 16 September 1941. Tindakan pertamanya adalah menggusur seluruh orang Jerman dan Italia dan Iran. Langkah kedua adalah melepaskan seluruh tahanan politik, termasuk kelompok 53 (Doniya). Mayoritas kelompok tersebut mendukung rezim baru tersebut, dan memproklamirkannya sebagai karakter yang “anti fasis”. Dengan tindakan serta merta yang menggemparkan itu, Partai Tudeh melakukan langkah menyeberang berbalik 180 derajat, seperti halnya panutan mereka Stalin, dan berganti kebijakan memberikan dukungan kepada Sekutu dalam menentang Jerman. Dalara situasi kondisi demikian, perubahan pada politik luar negeri dengan tiba-tiba terefleksikan dalara sebuah perubahan kebijakan dalara negeri yang sama-sama kasar. Tanpa ada kata-kata penjelasan, Partai membuang pendirian anti-Inggris dan menggantinya dengan suatu kebijakan yang memberikan dukungan penuh bagi Sekutu yang “demokratis” dalam rangka melawan Jerman.

Mengikuti Kebijakan Moskow bagaikan budaknya, PK bahkan memutuskan untuk merubah namanya. Prioritas mereka adalah untuk membentuk front “anti-fasis” dan menerbitkan sebuah suratkabar Mardom (Rakyat’ ). The Hezb-e-Tudeh Iran (yaitu Tudeh atau “partai’rakyat’ Iran”) diwujudkan pada tanggal 2 Oktober 1941. Konferensi pertama Partai Tudeh dilak�sanakan pada tanggal 9 Oktober 1942 dengan kehadiran 120 delegasi. Mereka menekankan pertahanan Soviet Rusia dan memutuskan untuk memberikan “dukungan yang bersifat kritis kepada rezim Reza Khan. Perubahan yang tiba-tiba ini menjebloskan Partai ke dalara sebuah krisis internal. Sebuah kubu dari unsur anti lnggris meninggalkan Partai. Beberapa memilih bergabung dengan barisan fasis Jerman, beberapa dari mereka membentuk “front patriotik” sendiri dan memakai kebijakan “tunggu dan lihat.” Mereka memiliki basis dari kaum borjuis rendahan: para pedagang dan di antara suatu kubu kecil dari kaum borjuis. Tidak satupun dari mereka yang memiliki sesuatu yang dimiliki oleh sebuah garis kaum Leninis.

Dalam periode ini para pekerja dalam banyak perusahaan, penyulingan minyak bumi dan rel kereta api melakukan pemogokan dalam protesnya menentang kerja yang terlalu berat dan waktu kerja yang berlebihan dalam keadaan perang. Pada waktu yang bersamaan, Partai Tudeh mengeluarkan propaganda, menyerukan kepada para buruh untuk tidak ambil bagian dalara pemogokan, dan memaklumatkan bagi mereka yang mendukung pemogokan sebagai “fasis”. Mereka berpendapat bahwa, karena para buruh memproduksi barang-barang bagi kekuatan sekutu, maka pemogokan apapun akan merugikan sekutu, menyebabkan dan memberikan kekuatan bagi kekuatan fasis secara internasional. Dalara kenyataannya, mereka bertindak sebagai pencegah pemogokan yang terburuk.

Selama masa perang, industri swasta berkembang pada tingkatan tertentu dan kapitalis Iran menghasilkan banyak keuntungan. Akan tetapi setelah kegagalan kekuatan Imperialis untuk menyalurkan bantuan ang dijanjikan untuk pembangunan memiliki dampak negatif. Berakhirnya perang menandai sebuah periode baru pergolakan yang besar di Iran. Pada tanggal 22 Januari 1946, Azerbaijan dan Kurdistan mendeklarasikan perundang-undangan domestik dan merancang sebuah pemerintahan yang otonom. Jumlah pemogokan naik hingga lebih dari seratus, bandingkan dengan tahun 1944 yang hanya enam puluh. Pusat-pusat industri kunci bergabung dengan gerakan tersebut. Di Tabriz, sebagai contoh, kaum buruh di 16 dari 18 pabrik di kota itu bergabung dalam pemogokan.

Banyak pertikaian militan terjadi pada waktu itu, khususnya di lokasi-lokasi tambang minyak, pabrik tekstil dan lokasi yang tengah dibangun. Pada tahun 1946 terdapat dua pemogokan umum besar oleh para pekerja tambang minyak Khuzistan. Periode setelah Perang Dunia Pertama, terlihat kemajuan pesat bagi serikat-serikat, dan periode sehabis Perang Dunia Kedua sekarang dilihat sebagai kebangkitan kembali yang serupa tetapi dalam skala yang jauh lebih besar. Akan tetapi Staliris Rusia tidak menginginkan adanya perubahan revolusioner di Iran. Komintern yang mengalami kemerosotan telah dibubarkan oleh Stalin pada awal tahun 1943 untuk menyenangkan hati kekuatan-kekuatan imperialis. Alih-alih mendukung revolusi untuk menggulingkan Sang Raja, birokrasi Stalin malah lebih memilih untuk membangun hubungan baik dengan Reza Shah. Dengan mengesampingkan kebijakannya yang keliru, partai Tudeh kembali mendapatkan basis sebagai satu-satunya partai buruh masa di Iran. Dalam pemilu untuk Majelis (parlemen) ke-14 di musim dingin 1943. Partai Tudeh menggunakan kesempatan untuk ikut bertanding memperebutkan tiga puluh kursi, yang memenangkan sepuluh di antaranya. Setelah pemilu, Partai Tudeh menunaikan kongres pertamanya pada bulan Agustus 1944. Betapapun juga, pada waktu kongres, perbedaan-perbedaan mengemuka dalara pertanyaan tentang partisipasi dalara pemilu, tentang taktik front anti-fasis setelah Perang Dunia Il dan sekali lagi tentang rezim Iran. Terpecah belah dengan isu-isu ini, Paartai mengalami krisis yang akut.

Setelah Perang Dunia Kedua gelombang gerakan mogok begitu besar hingga bisa menyapu semua halangan, memperlihatkan solidaritas kelas yang menakjubkan di antara kaum buruh. Sebuah serikat federasi baru yang dikendalikan oleh Partai Tudeh mendapatkan keanggotaan sebanyak 275.000 orang dan pada tahun 1946 di saat terdapat 186 serikat yang terafiliasikan memiliki anggota sebanyak 335.000 orang. Pemogokan tiga hari diadakan pada tahun 1946 dimana sebanyak 65.000 buruh minyak ikut ambil bagian. Kaum pekerja memenangkan tuntutan utama mereka, seperti naiknya upah dan kondisi higinitas yang lebih baik. Pada pemogokan itu, para pekerja tambang minyak di Khuzistan dan para buruh tekstil, bahkan yang berada di sektor ekonomi paling terpencil sekalipun, ikut terlibat. Pemerintahan begitu lembek dan tekanan terus-menerus merongrong dari bawah, dari kaum buruh, maka Partai Tudeh di parlemen mengajukan sejumlah tuntutan reformis bagi kepentingan para pekerja. Ini meliputi hak-hak serikat, penghapusan lembur, jam bekerja selama 48 jam per minggu serta upah minimum. Semua tuntutan ini dikabulkan.

Imperialis Inggris, seperti biasa, menggunakan taktik lama berupa divide et impera serta memulai dukungan terhadap suku-suku di dekat Khuzistan, membiayai kaum mullah dan tuan tanah untuk menentang kaum buruh, serikat dan Partai Komunis Iran. Uni Soviet pada awalnya mendukung republik otonom baik itu Azerbaijan maupun di Kurdistan, tetapi tentara Rusia meninggalkan Iran pada tanggal sembilan Mei 1946 dan pemberontakan tersebut dihancurkan oleh tentara pemerintahan pusat. Dalara pertumpahan darah ini, ribuan anggota dan pendukung partai Tudeh mati terbantai.

Penarikan angkatan bersenjata sekutu memberikan dampak di berbagai sektor industri yang bergantung pada produksi untuk tujuan perang. Akibat yang berupa pemutusan hubungan kerja berdampak bagi moral kaum buruh dan mengurangi aktivitas serikat kerja. Pertumbuhan keanggotaan serikat pekerja terhenti dan mulai berkurang. Setelah kekalahan di Azerbaijan dan Kurdistan, para buruh Partai mengalami demoralisasi dan keanggotaan partai Tudeh berkurang secara drastis. Rezim mulai melancarkan tindakan ofensif melawan kaum buruh. Dari tahun 1947 hingga 1949, aktivitas kelas buruh terjun bebas ke titik terendah mereka.

Pada tanggal 4 Februari 1947, Shah pergi guna menghadiri peringatan berdirinya universitas Teheran, pada waktu itu seorang fotografer berita menembakkan lima peluru ke arahnya. Tubuh Shah hanya sedikit tergores, tetapi ketika dari rumah sakit dia mengumumkan kepada bangsanya lewat radio: Shah menuduh Tudeh berdiri di balik penyerangan ini. Hal ini jelas-jelas keliru, tapi menyediakan cukup dalih bagi rezim untuk mengumumkan negara dalam keadaan bahaya yang diumumkan pukul 7.30 malam pada hari yang sama. Keesokan harinya pimpinan partai Tudeh ditangkap, Partai dinyaakan ilegal, dan para pendukungnya dipecat dari diasas pemerintahan. Pengadilan mahkamah militer diajukan untuk mengadili para pemimpin Partai Komunis, yang di Iran menjadi terkenal sebagai Pengadilan Empat Belas. Pada tanggal 15 Desember 1950, atas bantuan dari seksi ketentaraan Tudeh, sepuluh pemimpin Partai melarikan diri dari penjara dan sekali lagi merintis aktivitas bawah tanah. Dengan demikian, kebijakan untuk berkolaborasi dengan apa yang dinamakan kaum borjuis progresif telah menghantarkan menuju malapetaka.

Masalah Mossadeq

Di masa ini, tendensi nasionalis dan fundamentalis mengisi kekosongan untuk sementara. Menyusul paska perang, hawa anti-Inggris kian kuat berkembang. Mossadeq yang nasionalis mendirikan sebuah Front Nasionalis dari partai-partai yang mewakili para profesional, bazaaris dan beberapa elemen religius. Mossadeq ditunjuk sebagai perdana menteri yang baru pada tanggal 28 April 1951. Setelah menutup pabrik penyulingan minyak bumi milik Inggris di bulan April, dalam sebuah tindakan sabotase yang disengaja, imperialis Inggris mebeberkan kasus ini ke PBB. Bersamaan dengan itu, Mossadeq memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Proses ini mencapai titik tertinggi tatkala Mossadeq mengimplementasikan kebijakan nasionalisasi, saat majelis mensahkan sebuah resolusi berupa nasionalisasi Anglo Iranian Oil Company.

Dengan naifnya, Mossadeq berpikir bahwa Amerika akan menolong Iran dalam krisis ini. Dia bahkan pergi ke Amerika Serikat demi mengusahakan bantuan ekonomi, tetapi kembali dengan tangan kosong. Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, perimbangan kekuasaan antara negara-negara kapitalis berubah ke posisi imperialis Amerika. Trotsky telah menjelaskan terjadinya hal ini bahkan sebelum perang, pada saat dia meramalkan bahwa Amerika Serikat akan memperoleh kejayaan dari perang yang akan datang, tetapi sebagai akibatnya Amerika akan memiliki dinamit siap ledak yang terpasang dalam pondasinya. Selama masa krisis ini, Presiden Truman mengirimkan penasihat politik luar negeri Harriman ke Teheran pada tanggal 16 Juli 1951 untuk mendayagunakan situasi bagi kepentingan Amerika. Ketika Harriman memasuki Teheran, partai Tudeh mengorganisir sebuah demonstrasi besar-besaran menentang imperialisme Amerika. Pertikaian antara para demonstran melawan polisi membuat 20 orang terbunuh dan terluka di depan gedung majelis.

Tak seperti kaum borjuis nasional, para buruh memperlihatkan bahwa mereka telah bersiaga untuk bertempur. Pemogokan-pemogokan besar meletus di ladang-ladang minyak bumi. Dalam responnya terhadap pemotongan upah, mobilisasi serikat dagang tumbuh dengan mantap. Pada bulan April, sekitar 45.000 buruh mengadakan aksi mogok. Pemerintah menyatakan martial law atau undang-undang negara dalam keadaan bahaya, namun pemogokan telah menyebarluas seperti arus yang deras. Perusahaan penambangan minyak berjanji untuk mengembalikan tingkat upah, dan pemogokan-pemogokan ditunda selama beberapa saat, ternyata perusahaan hanya mencoba untuk menggunakan taktik mengulur-ulur waktu. Sekali lagi pemogokan-pemogokan meledak dengan dukungan dari ribuan kaum buruh non-minyak di pusat-pusat industri yang lain. Tekanan yang berasal dari bawah menjalar ke atas memaksa Mossadeq untuk menasionalisasi perusahaan minyak Anglo-Iranian. Tentu saja, para anggota Partai Tudeh memegang peran kunci dalam gerakan kaum buruh dari tahun 1951 hingga 1953. Jumlah pemogokan besar kembali terus bertambah, sejalan dengan jumlah keanggotaan serikat dagang.

Tuntutan serikat dagang termasuk upah yang lebih tinggi serta hak-hak bagi serikat dagaug. Akan tetapi gerakan yang muncul tersebut menentang negara itu sendiri. Serangkaian konfrontasi dengan polisi terjadi pada setiap siklus baru gerakan kaum buruh. Solidaritas kelas menjalar di antara kaum pekerja dari berbagai lapisan, berbagai daerah serta profesi. Pergerakan secara pesat meningkat dalara kekuatan dan dalam mendapatkan sebuah karakter politik. Tekanan deras dibangun dari bawah terhadap pemerintah, yang terus didesak untuk menawarkan konsesi yang lebih banyak dari sebelumnya di tahun 1946. Akibatnya, kepercayaan diri kaum pekerja tumbuh sangat cepat. Persoalan kekuasaan terajukan secara terang-terangan.

Yang paling diuntungkan dalam hal ini sebenarnya adalah Partai Tudeh. Kali ini mereka bisa keluar dengan terbuka serta posisi yang kuat dalam kelas pekerja. Momentum dari gerakan jadi tak bisa ditahan, dan tak pelak lagi, menjurus secara radikal kepada institusi monarkis. Para politisi borjuis dan borjuis kecil digentarkan dengan tekanan dari golongan pekerja. Di bawah tekanan yang ekstrim, Front Nasional retak dan mereka mencabut dukungan mereka bagi Front itu. Pada 2 Mei 1953, Mossadeq menulis satu surat untuk Presiden Eisenhower dimana dia mengungkapkan harapan bahwa bangsa Iran, dengan pertolongan dan bantuan dari pemerintah Amerika, akan bisa mengatasi halangan yang menghambat penjualan minyak Iran, dan bahwa jika pemerintah Amerika tidak mampu memberikan pengaruh terhadap penghilangan hambatan-hambatan serupa, berarti pemerintah Amerika berkenan memberikan bantuan ekonomi yang efektif untuk memungkinkan Iran menggunakan sumber daya lain. Sebagai kesimpulannya, dia meminta simpati dan perhatian responsif dari Yang Mulia menyangkut situasi berbahaya yang ada di Iran dan percaya penuh bahwa dia akan menanggapi semua poin yang terkandung dalam pesan ini: “Mohon diterima, Mr. Presiden, jaminan dari pertimbangan saya yang tertinggi,” demikian pesan tersebut berakhir dengan kepedihan.(16) Kalimat-kalimat ini dengan akurat mengungkap kepengecutan sifat dari golongan yang berjuluk kaum borjuis nasional Iran. Akan tetapi, meskipun mereka memiliki rivalitas dengan Inggris, imperialis AS tidak dapat mentolerir nasionalisasi minyak bumi di Iran karena bahaya adanya preseden yang akan diberikan. Dalam jawabannya kepada Mossadeq, pemerintah Amerika menulis bahwa tidak akan ada bantuan dari AS yang diberikan hingga konflik minyak Anglo-Iranian diselesaikan. Sebagai tambahan, Washington mengungkapkan adanya perhatian yang serius terhadap tingkat kebebasan yang diberikan oleh pemerintah Iran terhadap Partai Tudeh. (17)

Menteri Sekretaris Negara John Foster Dulles men gungkapkan perhatiannya da lam sebuah pernyataan pers tentang tumbuhnya aktivitas Partai Komunis yang ilegal (Partai Tudeh) dan menuduh pemerintah Iran hanya menjadi penonton atas aktivitas semacam itu. Situasi ini mengundang “perhatian serius” di Washington dan membuat Amerika Serikat menjadi lebih sukar untuk memberikan bantuan kepada Iran.(18) Bahkan sebelum dikeluarkannya pernyataan ini, Dulles telah menyodorkan ancaman (pada 13 Juli 1953) bahwa dia tidak akan memberikan toleransi kepada Mossadeq lagi. Dan CIA memerintahkan Kernit Roosevelt, cucu dari mantan Presiden Roosevelt, untuk merancang sebuah kudeta terhadap Mossadeq. Jendral Zahedi dan kolonel Nasir diinstruksikan oleh Shah untuk bekerjasama dengan CIA. Namun, sebuah usaha kudeta yang dilakukan pada tanggal 16 Agustus gagal dan jendral Nasir ditangkap. Perilaku brutal dari kaum imperialis memprovokasi adanya krisis di Iran dengan polarisasi yang tajam antara kubu kanan dan kiri. Pertikaian sengit mulai timbul di tingkat atas di Teheran. Mossadeq meminta Shah untuk menyerah dan prajurit istana dibubarkan. Menyangkut situasi ini, Shah menulis dalam otobiografinya bahwa Mossadeq telah mengurangi jumlah tank yang menjaga istana Sadabad miliknya. Hanya empat tank yang kemudian ditinggalkan, tidak cukup untuk menghadapi serangan mendadak dari Partai Tudeh.

Iran waktu itu berada dalam cengkeraman situasi pra-revolusioner. Massa terbangkitkan. Foto-foto Shah diturunkan dari dinding pertokoan, bioskop, dan kantor pemerintah di Teheran. Kemungkinan kudeta akan muncul, jika Mossadeq telah siap untuk menarik massa, tetapi politisi borjuis ini seribu kali lebih takut kepada massa daripada terjadinya reaksi. Sebenarnya, Mossadeq gagal untuk bertindak dan memperbolehkan komplotan tersebut mengadakan arak-arakan dan merampas kekuasaan. Noorudin Kianouri menulis: “Kauri mendapat informasi bahwa kubu militer terang-terangan mendukung usaha untuk kudeta. Kauri mengontak Mossadeq untuk kedua kalinya. Dia menjawab: ‘Oh, Pak, semua orang telah mengkhianati saya, sekarang Anda bebas untuk melaksanakan tanggung jawab sekehendaknya.’ Saya meminta kepada beliau sekali lagi untuk menyiarkan pesan tersebut, tapi sayangnya, bukan mendapatkan jawaban, malah saya mendengar suara seseorang memutus hubungan telepon.”(19)

Meskipun begitu, dalam keputus-asaan Mossadeq masih bergantung harapan pada imperialis Amerika sebagai dewa penyelamat. Dari pihaknya, Birokrasi Moskow tidak tertarik dengan perkembangan revolusioner di Iran. Sebagai akibatnya, keseluruhan gerakan dibatalkan. Shah segera dikembalikan kekuasaannya. Setelah itu sebuah proses penahanan dan pembunuhan dimulai. Partai Tudeh kembali terpecah. Beberapa anggotanya berpendapat bahwa Front Nasional adalah merupakan sebuah aliansi progresif yang mewakili pertarungan antara kaum borjuis nasional melawan imperialis Inggris. Kubu yang lainnya bersikeras bahwa Mossadeq mewakili sebuah kubu kaum borjuis yang terkait dengan kepentingan barat. Iraj Eskandri, seorang pemimpin partai tingkat atas, menulis: “Kami membikin kesalahan yang tidak sedikit, hanya dikarenakan kami tidak memiliki konsep yang cukup jelas tentang peranan dan karakter kaum borjuis nasional.” Lebih jauh dia berkata bahwa selama perjuangan menasionalisasikan industri minyak Iran, para pemimpin Tudeh tidak mendukung Mossadeq, yang tiada disangsikan lagi mewakili kepentingan borjuis nasionalls. Pemikiran dari Partai kurang lebihnya seperti ini: Mossadeq berjuang demi nasionalisasi minyak Iran. Pada saat yang bersamaan, imperialis Amerika mendukung langkah tersebut. Ini berarti mereka telah membimbingnya. Dengan demikian, Partai menarik kesimpulan yang tidak benar bahwa Komunis seharusnya tidak mendukung langkah nasionalisasi. Partai dengan demikian memutuskan sendiri hubungan mereka dengan massa, yang mengikuti garis kaum borjuis pada isu ini, dan bukannya memotong Partai.(20)

E. A. Bayne mengatakan bahwa sekitar empat tahun setelah kudeta, pemimpin Partai tingkat atas tidak bisa memberlakukan kebijakan apapun, karena masih ada masalah-masalah yang belum terpecahkan, termasuk masalah perihal borjuis nasionalis dalam tubuh Partai. Untuk pertama kalinya, masalah ini diperbincangkan dalara Sidang Pleno Keempat Komite Sentral, yang dilaksanakan dalam kondisi sembunyi-sembunyi (kemungkinan di Republik Demokratik Jerman) pada tanggal 17 Juli 1957. Sidang Pleno Ketiga telah dilakukan dulu kala, pada tahun 1948.(21) Kianouri menulis: “Selama saya tinggal di Iran, kami mencoba untuk merintis hubungan dengan Front Nasional dan kelompok-kelompok lain, termasuk beberapa suku bangsa di Selatan yang mengaku sebagai pendukung Mossadeq, tetapi tak seorangpun memberikan perhatian terhadap perjuangan menentang rezim Shah. Kamt bahkan mengirim beberapa kamerad kauri seperti Roozbeh dan Kol. Chalipa sebagai ahli militer untuk melatih para suku yang siap sedia untuk melakukan perjuangan bersenjata melawan Shah. Kami menginginkan diadakannya suatu demonstrasi besar-besaran di Teheran, tetapi akhirnya gerakan Front Nasional pimpinan Mossadeq (yang kemudian digantikan oleh Dr. Moazami) menolak kerja sarna dengan kauri, dan dengan demikian kami gagal untuk mengorganisirnya dengan kekuatan kami sendiri. Sungguh suatu buruh diri politik bagi kami. Setelah kudeta kami fuga mencoba membangun sebuah basis bersenjata di Utara Iran, tetapi usaha ini dikhianati oleh mereka yang ada di penjara. Mereka bocorkan rencana ini kepada polisi. Setelah kegagalan ini kami sekali lagi mencoba untuk melancarkan sebuah perjuangan bersenjata pada tahun 1961, tetapi gagal dikarenakan Front Nasional tidak mau bekerjasama dengan para pendukung Mossadeq.”(22)

Noorudin Kianouri adalah Sekretaris Partai selama masa revolusi 1979. Sidang Pleno Ke-5 di bulan Februari 1958 juga menganalisa kudeta pada tahun 1953: Partai menyatakan bahwa kesuksesan reaksi kudeta pada bulan Agustus 1953 adalah berkat tiadanya kerjasama yang erat antara kekuatan yang beroposisi terhadap Partai Tudeh serta kaum borjuis nasionalis. Sifat dasar kaum borjuis nasionalis yang tidak memiliki kepercayaan dalam memandang partai kaum buruh, telah diperburuk dengan kegagalan Partai dalam memahami sifat borjuis nasionalis dan potensi anti-imperialis-nya. Hal ini mengakibatkan Partai memberlakukan taktik yang salah dalara hubungannya dengan pemerintahan Mossadeq.”(23)

Satu-satunya kesimpulan yang bisa diambil dari situ adalah bahwa Partai Tudeh menanti terbitnya revolusi demokratis nasional sebelum bergerak menuju revolusi sosialis di Iran. Mendasarkan diri pada perspektif yang salah itu, mereka selalu mensubordinasikan gerakan buruh di bawah kaum borjuis nasionalis. Lagi-lagi, mereka mengejar satu demi satu kubu borjuis untuk membentuk sebuah “aliansi bagi revolusi demokratik”, yang selalu menghasilkan konsekuensi berupa bencana. Para pemimpin Partai Tudeh mengambil segala kesimpulan yang salah dari gerakan revolusioner 1953, yang tidak hanya memperlihatkan potensi kelas pekerja tetapi juga mengungkap kepengecutan dan sifat keterbatasan dari kaum borjuis dan peran kontra-revolusioner.

Jauh-jauh hari Trotsky telah menjelaskan bahwasanya kaum borjuis kolonial yang lemah tidak memiliki kemampuan untuk memimpin masyarakat keluar dari jalan buntu. Lambatnya perkembangan dari borjuis nasionalis memiliki arti bahwa kelompok tersebut terikat tangan dan kakinya dengan kepentingan imperialis. Tindakan Mossadeq pada tahun 1953 jelas-jelas menunjukkan fakta ini. Potensi kaum buruh untuk menggulingkan rezim Iran jelas sekali terungkap oleh gerakan massa dan aksi solidaritas yang menakjubkan. Akan tetapi karena kelangkaan faktor subyektif-Partai revolusioner dan kepemimpinan-pergerakan ditakdirkan untuk mengalami kekalahan. Partai Tudeh, dengan kebijakan “dua tahap” yang keliru, menyia-nyiakan kesempatan dan harus membayar dengan harga mahal atas kesalahan ini.

Selama masa berkuasanya Shah, partai Tudeh “berpura-pura mati”. Pada tahun 1963, partai tersebut tidak mengambil peran apapun dalam gerakan menentang Program Revolusi Putih yang dicanangkan oleh Shah. Itulah kenapa gerakan tersebut bisa dipimpin oleh Khomeini, dalara tingkat tertentu. Akan tetapi partai berkompromi kembali dengan pihak istana. Selama masa pemerintahan Shah, Partai Tudeh tidak memiliki kebijakan yang independen sama sekali. Hal ini hanya bisa dijelaskan dengan kebijakan luar negeri dari Birokrasi Rusia. Moskow tidak menghendaki konflik apapun dengan imperialis Amerika di Iran dikarenakan begitu pentingnya Iran sebagai negara penghasil minyak. Dalara kenyataannya, Birokrasi Stalinis di Uni Soviet lama sejak sejak saat itu tidak lagi menyandarkan pada pemikiran tentang kebijakan revolusioner, yang telah mengancam kepentingan vital imperialis, khususnya dari adidaya utama imperialis Amerika. Kebijakan yang disebut sebagai hidup bersama dengan damai semata merupakan ungkapan pembagian dunia menjadi dua blok antagonistik, dimana kedua belah pihak dengan diam-diam saling menerima adanya wilayah pengaruh satu sama lain.

Moskow tidak mempunyai keinginan untuk memperburuk hubungan antara Rusia dengan Amerika yang akan mengalir tappa terelakkan akibat dari revolusi sosialis di Iran. Sebaliknya, Birokrasi Rusia tertarik untuk menyangga kedudukan Shah, yang dengannya mereka menikmati hubungan yang baik. Mereka mengikat perjanjian dagang dengan Iran, yang dirancang untuk ekspor sejumlah besar gas alam dari Iran ke Uni Soviet dan umumnya berusaha keras untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan Shah. Hal itu merupakan Balah satu alasan utama kenapa partai Tudeh sangat pasif dalara hubungannya dengan Shah. Hanya ketika Shah diguncangkan oleh gerakan massa, barulah Partai Tudeh melakukan sebuah tndakan baru yang berkebalikan 180 derajat dan menyerukan sebuah perjuangan bersenjata pada puncak pergerakan di tahun 1979. Akan tetapi kebijakan partai berubah dari buruk, menjadi lebih buruk manakala pemimpin Tudeh mendeklarasikan dukungan mereka terhadap Ayatullah Khomeini pada tanggal 1 Januari 1979. (24)

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Setelah revolusi Februari 1979, para pemimpin Partai Tudeh berpedapat seperti ini: Sebagaimana karakter revolusi Iran yang anti-imperialis, maka kami harus menerima fakta bahwa rezim yang beroleh kekuasaan setelah Revolusi Februari 1979 bersifat progresif. Rezim itu telah secara konstan ikut serta dalam perang menentang imperialisme AS, yang secara aktif berkonspirasi menentang rakyat Iran untuk menarik mereka kembali ke masa CIA-Savak yang seperti neraka. Untuk itu, tugas utama dari rakyat Iran dalara situasi demikian bukanlah untuk “membangun sosialisme seketika”, akan tetapi untuk “mengkonsolidasikan capaian anti-imperialis’, dengan begitu bayang-bayang NATO tidak akan membawa kegelapan bagi Iran sekali lagi. “Dalam aspek ini,” begitu mereka jelaskan, “cukup jelas terlihat bahwa kekuatan-kekuatan anti-imperialis bekerja aktif di bawah kepemimpinan Khomeini. ltulah alasan kenapa kekuatan-kekuatan kiri yang terpenting yaitu Tudeh Iran dan organisasi rakyat Iran Fedaeen (Mayoritas) berada di belakang Khomeini.” (Penekanan dari kami) (25)

Sikap Partai Tudeh terhadap revolusi Iran sangat jelas tergambar di sini: sebuah rasa percaya diri yang benar-benar kurang di kalangan kelas buruh dan sosialis, serta subordinasi sepenuhnya gerakan buruh di bawah kaum borjuis dan apa yang disebut sebagai kekuatan-kekuatan anti-imperialis-termasuk Khomeini! Hal ini benar-benar berkebalikan dengan pendirian Lenin, yang selalu mempertahankan kebijakan independensi kelas sepenuhnya serta mengkritik pedas dan membeberkan peran kontra-revolusioner dari kaum liberal borjuis di Rusia, bahkan dalam periode revolusi demokratik borjuis sekalipun. Posisi Partai Tudeh tidak seperti yang dianut Lenin tetapi lebih mirip dengan kaum Menshevik Rusia yang juga menyokong subordinasi gerakan kaum pekerja di bawah liberal borjuis, dengan dalih kebutuhan untuk menyatukan semua “kekuatan progresif”.

Sidang Pleno Ke-6 Partai Tudeh yang diselenggarakan pada bulan Februari-Maret 1980 di Iran menetapkan segel dukungan Partai bagi Khomeini, dan mengemukakan poin-poin berikut ini:

“Tugas paling utama dan Partai dalara bidang politik adalah untuk bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan revolusioner sejati, maka Partai dengan jelas mendukung mereka yang berada di belakang Ayatullah Khomeini. Partai juga memutuskan untuk ikut mengambil bagian dalara peinilihan umum untuk inajelis dan referendum yang akan datang.

“Sidang pleno juga memutuskan untuk menunda Kon gres Partai Ke-Tiga yang telah lama ditunggu hingga waktu yang tidak lama lagi.” (Kongres Partai Ke-2 diadakan pada tahun 1948.)

Sebelumnya, ketika Iran mendeklarasikan sebuah Republik Iran pada 1 April 1979 melalui referendum seluruh negeri, Partai Tudeh mendukungnya, mengatakan dalara sebuah pernyataan: kebijakan dari Partai Tudeh adalah untuk menegakkan persatuan menentang imperialisme. Dengan demikian, referendum mempunyai arti bagi kita penguburan rezim Shah… karena kita menginginkan persatuan dengan rakyat, maka kami dengan sepenuh hati mendukung referendum. (Penekanan dari kami) (26)

Setelah deklarasi Republik Islam, Mahkamah Islam, yang telah beraksi, menghukum ratusan agen Savak, dan dengan menggunakan alasan palsu yang sama, mereka mulai melakukan eksekusi bagi buruh militan. Para buruh dihadapkan dengan reaksi terbuka dalam bentuk represi dan eksekusi. Akan tetapi Tudeh, dengan aib yang abadi, memasung mereka yang mengkritik “Mahkamah Islam yang kontra-revolusioner milik Khomeini dan bahkan menuduh mereka menjadi agen bagi Savak dan CIA.

Dari sisi mereka, organisasi Fedayeen dan Mujahiddin memiliki garis ultra-kiri. Mereka memain�kan peranan yang sangat negatif, seperti yang dilakukan oleh organisasi yang mendukung apa yang disebut sebagai sekte-sekte Trotskys yang dalara beberapa hal terkait dengan kelompok-kelompok mahasiswa revolusioner di Iran. Sayangnya, mahasiswa revolusioner di Iran tidak berorientasi terhadap kelas pekerja dan tidak memformulasikan sebuah program untuk aksi kelas pekerja. Kebalikannya, mereka diberi nasihat oleh sekte itu untuk merubah metode menjadi terorisme individual. Sebagaimana biasanya, sekte-sekte memandang kaum buruh impoten, tidak terpelajar, dan benar-benar tidak berkekuatan untuk merubah hubungan antar kekuatan yang eksis di Iran. Konsepsi-konsepsi mereka diperkuat dengan adanya fakta bahwa kelas pekerja memang sepenuhnya tidak terorganisir.

Seluruh perspektif kaum ultra-kiri telah keliru sejak awal hingga akhir. Mereka mulai dengan penilaian pesimis terhadap situasi sebelum tahun 1979. Sebagai akibatnya, mereka menghapuskan keberadaan kelas pekerja dan menolak segala kemungkinan adanya revolusi di Iran. Argumen dari sekte tersebut dan mereka yang nantinya berganti dengan kebijakan terorisme individual, adalah bahwa Shah mengadakan industrialisasi dan semua kartu ada di tangannya. Shah telah menaikkan standar hidup kelas pekerja, begitu pendapat mereka, bahwa Shah telah memberikan konsesi yang besar bagi kelas pekerja dan juga kaum tani. Hal ini, simpul mereka, akan menjadikan adanya stabilitas bagi rezim tersebut. Mereka menyatakan bahwa Shah dapat mempertahankan kekuasaannya selama berpuluh tahun sebagai konsekuensi dari “revolusi putih” dan kemajuan industri. Tanpa sengaja, gagasan ini juga ditelan mentah-mentah oleh kaum imperialis. Sebagai contoh, CIA mengeluarkan sebuah laporan pada akhir September 1978, yang mengatakan bahwa Shah memiliki sebuah rezim yang stabil dan akan terus memegang kekuasaan untuk setidaknya sepuluh hingga lima belas tahun ke depan.

Taktik terorisme individu, terbukti selalu membawa bencana. Menurut fakta yang ada sejauh ini, setelah enam tahun perjuangan bersenjata melawan para pendukung pemerintah, 600 pejuang gerilya terbunuh dan 2000 orang tertangkap, dibandingkan hanya sejumlah 200 orang mati dari pihak pemerintah.(27) Sebagai akibat dari kegiatan para gerilyawan yang kekanak-kanakan pada periode itu, maks Savak bisa melakukan comeback dan negara memperkuat dirinya dengan segala bentuk kebijakan dan undang-undang represif. Perilaku kaum teroris yang menghinakan terhadap kelas pekerja dengan jelas disampaikan oleh Amir Parviz Pouyan, yang, dalam bukletnya Zaroorat-e-Mobarzeh Mosalneh (“Pentingnya perjuangan bersenjata”), menulis: “Sepanjang pengalaman kauri, kami bisa katakan bahwa rakyat kelas pekerja semata merupakan orang yang bodoh. Mereka bukan merupakan kelas yang sadar secara politik dan seringkali memuaskan diri dengan mempelajari literatur reaksioner. (28) Kesimpulan yang ditarik oleh orang-orang ini merupakan pandangan yang pesimistis dan seluruhnya revolusioner. Mereka tidak siap untuk membuat kritik-diri yang jujur akan. kesalahan mereka sendiri, mereka menyalahkan segalanya kepada kelas pekerja-satu-satunya kelas revolusioner sejati dalam masyarakat, dan satu-satunya kelas, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Marx jauh di waktu lampau, yang bisa melaksanakan transformasi masyarakat sosialis.

Bab IV
Revolusi Februari 1979

Selama masa perjuangan melawan Shah, gerakan masa dengan mantap menunjukkan peningkatan dan kelas pekerja menjadi semakin teradikalisasi. Titik puncak dari proses ini adalah peristiwa revolusi 1979. Revolusi adalah sebuah perbenturan kekuatan secara terbuka dari kekuatan-kekuatan sosial yang saling bertentangan dalam perebutan kekuasaan. Dalara revolusi 1979, kekuatan kolosal kaum proletar dengan segera terungkap. Tiga juta orang turun ke jalan dalam mobilisasi massa terbesar sepanjang sejarah Iran. Dihadapkan dengan sebuah gerakan masa dengan skala sebesar itu, Shah beserta kaki tangannya yang terlihat seperti rezim yang maha kuat, kolaps seperti satu pak kartu yang berceceran. Hanya dalam waktu semalam, keseluruhan situasi mengalami perubahan yang tajam. Negara yang dijuluki sebagai negara digdaya (strong state) jatuh berkeping-keping pada pengujian serius yang pertama kali. Dalam sebuah situasi demikan, peranan partai yang memimpin para buruh memikul unsur utama yang krusial. Di saat perjuangan kelas mencapai sebuah persimpangan kritis, berjuang untuk merebut kekusaan negara, maka persoalan tentang kepemimpinan pada puncaknya akan menentukan segala sesuatu.

Revolusi Iran sebenarnya dimulai pada awal tahun 1977, ketika unjuk rasa hak-hak sipil yang dilakukan oleh para penulis dan pengacara mulai menuntut kebebasan yang lebih. Seperti biasa, intelejensia adalah sebuah barometer yang sensitif, merefleksikan ketidakpuasan yang diam-diam mengakumulasi dalam relung masyarakat yang paling dalam. Mencium adanya bahaya, maka imperialis Amerika melakukan tekanan terhadap Shah agar segera melakukan langkah reformast dan liberalisasi. Situasi serupa cukup dikenal dengan baik oleh para mahasiswa jurusan sejarah. Tekanan dari bawah pada tingkat tertentu menghasilkan perpecahan dalam tubuh elit pemerintah. Takut mereka akan menggulingkannya, maka elit pemerintah memperkenalkan reformasi dari atas untuk mencegah revolusi dari bawah. Bagaimanapun, seperti yang pernah dijelaskan oleh Alexis de Tocqueville, gerakan yang paling berbahaya bagi sebuah pemerintahan yang buruk, umumnya berupa gerakan yang mengartikulasikan reformasi. Shah yang mengumumkan adanya reformasi, termasuk persidangan majelis (parlemen). Betapapun juga, reformasi ini, jauh dari menyelesaikan masalah, justru membuka jalan untuk menggulingkan pemerintahan Shah. Mereka menyiapkan cara untuk mengintervensi secara langsung terhadap panggung sejarah kelas pekerja, bersama dengan massa yang tertindas dan kelas menengah.

Peranan yang menonjol dari kelas pekerja telah memastikan keseluruhan perkembangan yang telah terjadi sebelumnya. Ekonomi Iran yang sangat sukses mendorong penguatan kolosal dari proletar. Meningkatnya pendapatan minyak bumi niendorong suatu kemajuan yang nienakjubkan dalara industri Iran, yang terakselerasi setelah lompatan harga minyak tahun 1973. Produksi Kotor Nasional (Gross National Product/GNP) naik hingga 33,9 persen pada tahun 1973 – 1974, dan pada tahun 1974 – 1975 adalah 41,6 persen jauh lebih tinggi. Industri juga meningkat dengan pesat, dan berikut ukuran serta kekuatan dari kelas pekerjanya. Maka, dengan kemajuan kekuatan-kekuatan produktif, rezini telah mempersiapkan penggali lubang kuburnya sendiri dalam wujud kaum proletar Iran yang kuat. Bukan hanya karena kelas pekerja telah berkembang sedemikian besar, tetapi juga karena mereka begitu segar dan muda. Akan tetapi, sejalan dengan luapan pertumbuhan dahsyat dalam industri, segala kontradiksi sosial nienjadi terus-menerus menajam. Inflasi meroket dan jadi alasan bagi timbulnya peristiwa kerusuhan kolosal tahun 1977. Dalam kondisi kesulitan hidup masyarakat yang memuncak, pemerintah di tahun 1976 mengumumkan adanya program penghematan (pengencangan ikat pinggang). Ketika Shah memutuskan untuk menghentikan program pembangunan, proyek�proyek ekspansi industri dipotong hingga 40 persen. Kebijakan itu sendiri memiliki arti bahwa lebih dari 40 persen tenaga tidak terampil dan 20 persen tenaga terampil tergusur oleh pemutusan hubungan kerja. Seiring dengan membubungnya tingkat pengangguran, gajipun merosot drastis dan pemerintah menarik kembali keuntungan yang sebelumnya telah diberikan kepada buruh. Reaksi dari kelas pekerja disalurkan dalam gerakan aksi mogok yang terus menguat terjadi di Abadan dan Behshahr. Para buruh tekstil menuntut kenaikan upah dan insentif.

Pada tanggal 8 September 1978 (Jumat Kelabu) para serdadu melakukan pembantaian atas ribuan demonstran di Teheran. Sebagai jawabannya, para buruh melakukan pemogokan. Pemogokan itu adalah percikan yang menyulut dinamit yang telah terpasang di seluruh pelosok negeri. Pada tanggal 9 Spetember 1978, para pekerja kilang minyak di Teheran mengeluarkan seruan pemogokan untuk mengungkapkan solidaritas terhadap pembantaian yang dilakukan sehari sebelumnya dan menentang diberlakukannya undang-undang negara dalam keadaan bahaya. Tepat pada keesokan harinya, pemogokan telah menjalar luas seperti api yang tidak bisa dijinakkan ke Shiraz, Tabriz, Abdan dan Isfahan. Para buruh penyulingan minyak melakukan mogok dimana-mana. Tuntutan ekonomi dari kaum buruh dengan cepat dirubah menjadi tuntutan politik: “Turunkan Shah!” “Bubarkan Savak!”, “Marg Ber, imperialis Amerika!” Kemudian pekeija minyak Ahwaz mengadakan mogok, diikuti oleh buruh non-minyak di Khuzistan yang bergabung dengan pemogokan pada akhir September. Di atas segalanya, gerakan para buruh minyak-lah-yang kemudian disebut sebagai kelompok istimewa dari kelas pekerja di Iran – yang paling menentukan dalam penggulingan rezim. Ketika ritme gerakan mogok diperhebat dan diperpanjang, karakternya juga mulai berubah. Semua bidang-bidang kerja barupun ditarik ke dalam perjuangan: para pekerja dari sektor publik-guru, dokter, karyawan rumah sakit, pegawai kantor, pegawai di kantor pos, perusahaan telepon dan stasiun televisi, serta para pegawai dari perusahaan tansportasi, jalan kereta api, bandar udara domestik dan bank semua bergabung dengan gelombang raksasa yang tengah bergolak. Para pekerja kerah putih dengan pengalaman berjuang yang minim atau malahan tidak punya sama sekali, juga bergabung dengan pemogokan umum. Pemogokan di Bank Sentral Iran terutama berdampak sangat efektif. Hal ini diikuti dengan pembakaran ratusan bank oleh masa yang telah kalap oleh amarah. Ketika pegawai bank melakukan mogok, mereka mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, $1.000 juta telah dilarikan ke luar negeri oleh 178 anggota elit pemerintahan, termasuk keluarga Shah. Shah yang sedang sibuk mengadakan persiapan untuk sebuah pengasingan yang nyaman, telah mengirimkan keluarganya ke luar negeri, dan mentransfer $1 milyar ke Amerika (ini adalah tambahan dari $1 milyar atau lebih yang disimpan di Bonn, Swiss dan di bagian dunia lainnya). Harta Iran telah dijarah oleh otokrasi dan anjing penjaga Savak yang dibenci. Gelombang pasang pemogokan telah melumpuhkan mesin kenegaraan; para pegawai negeri juga melakukan aksi mogok. Akan tetapi pemogokan buruh minyak yang hebat selama 33 harilah yang hampir melumpuhkan segalanya. Fakta ini dengan sendirinya memperlihatkan kekuatan kolosal dari kaum proletar Iran: satu pemogokan tunggal barisan buruh minyak menyebabkan pemerintah menelan kerugian tidak kurang dari $74 juta perhari berupa pendapatan yang hilang. Buruh minyak bumi telah memotong urat nadi utama penyalur pendapatan negara.

Trotsky menulis dalam Sejarah Revolusi Rusia:

“Fitur sebuah revolusi yang paling tidak bisa diragukan adalah interferensi langsung oleh rakyat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah. Pada saat-saat biasa, negara, apakah itu berbentuk monarkhi ataupun demokrasi, mengangkat dirinya sendiri di atas bangsa, dan sejarah dibuat oleh para spesialis dalam urusan semacam itu – raja, para menteri, birokrat, anggota parlemen, wartawan. Namun pada gerakan krusial itu, ketika tatanan yang lama tidak lagi bisa diterima oleh masyarakat, maka mereka akan menghancurkan hambatan yang membatasi mereka dari arena politik, mengesampingkan wakil tradisional mereka, dan menciptakan, dengan interferensi mereka sendiri, landasan kerja awal bagi sebuah rezim baru. Apakah hal ini baik atau buruk, kita serahkan penilaiannya kepada para moralis. Kita sendiri akan mengambil kenyataan sebagaimana yang mereka berikan dengan tingkat perkembangan yang obyektif. Sejarah sebuah revolusi bagi kita adalah menjadi prioritas dari yang lainnya, sebuah sejarah masuknya masa yang tidak bisa dihindarkan ke dalam tataran pemerintahan yang diperuntukkan bagi nasib mereka sendiri.”(1) Hal ini tepat seperti yang terjadi di Iran tahun 1979. Basis material dari Revolusi Februari terletak pada kemajuan kekuatan-kekuatan produktif dan perubahan yang telah dilakukan dalam kapitalisme Iran di seluruh periode sebelumnya. Shah kehilangan dukungan dari segenap kelompok massa, kaum petani, intelektual, kelas menengah dari berbagai lapisan dan kelompok yang paling berhawa jahat, tentara. Negara sendiri terguncang kerasnya pukulan godam yang dilancarkan massa. Hari demi hari demonstrasi terus menerus dan mobilisasi massa yang telah jauh melanggar batas kehidupan normal. Massa menyerang kedutaan Inggris dan Amerika sembari membakar ribuan bendera Amerika. Boneka patung Presiden AS Jimmy Carter dan Shah digantung ribuan kali menghiasi setiap pojok jalan setiap kota Iran. Shah menjadi simbol dari bercokolnya tatanan yang dibenci dan represi Savak yang berdarah.

Negara dalam analisis paling mutakhir, sebagaimana yang diterangkan oleh Marx dan Lenin, terlengkapi dengan lembaga angkatan bersenjata berupa barisan tentara dengan segenap peralatan dan senjata mereka.(2) Dalam setiap masyarakat kelas, komposisi tentara dibentuk dari berbagai lapisan masyarakat yang beragam, dan merefleksikannya secara, kurang lebih, jujur. Di masa-masa biasa, angkatan bersenjata bercokol tak tertandingi, tak tertembus dan kompak. Bagaimanapun juga, selama masa revolusi, ketika angkatan bersenjata mengalami stres dan ketegangan yang hebat, maka dengan segera keretakan dan patah struktur mereka akan tampak membayang, dan akhirnya cenderung membelah sesuai dengan garis kelas pada momentum-momentum revolusi yang krusial. Kerekatan di tubuh tentara bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi.tergantung pada intensitas tekanan dari gerakan massa.

Seperti yang telah kita saksikan dalam setiap revolusi di sepanjang sejarah, angkatan bersenjata bisa beralih mendukung ke pihak rakyat. Tendensi di dalam tubuh angkatan bersenjata untuk mengalami perpecahan sesuai dengan garis kelas, adalah proporsional dengan polarisasi dalara masyarakat kelas, manakala rakyat berjuang merebut kekuasaan negara. Sebuah artikel dalam majalah Amerika, Newsweek, berkomentar tentang barisan massa penuh amarah yang telah berkumpul di Jaleh Square bereaksi menentang diberlakukannya undang-undang negara dalam keadaan bahaya dengan meneriakkan slogan-slogan’ yang menentang rezim: “Ketika mereka telah mendekat, tentara memerintahkan para demonstran untuk membubarkan diri, tetapi bukannya mundur, para pengunjuk rasa malah mengabaikan perintah dan terus maju melewati garis peringatan, perlahan-lahan tersedak karena asap gas air mata, tetapi tidak mau kembali. Akhirnya para serdadu mengangkat moncong senjata mereka, menembakkan tembakan peringatan ke udara, meski demikian kerumunan bahkan semakin mendekati pagar betis prajurit tersebut. Dan para tentara menurunkan pandangan mereka dan, ketika kerumunan tersebut terus bergerak maju, maka menghamburlah para demonstrator dengan berondongan demi berondongan peluru. Perpecahan dalam tubuh tentara sesuai dengan garis kelas tidak muncul dengan proses yang sederhana, tetapi sebaliknya, melalui serangkaian proses, yang mengarah kepada diferensiasi di dalara. Tentara tingkat terbawah mencoba untuk mengira-ngira perilaku massa, sembari menjalankan komitmen mereka, melaksanakan keputusan bulat mereka untuk menjalani hingga akhir untuk mengganti perintah tetua mereka, dengan ketersinggungan mereka. Tepat di persimpangan ini, begitu para serdadu menyadari bahwa massa bersungguh-sungguh, mereka menolak untuk mematuhi perintah dari perwira dan bergabung dengan rakyat, dan mengangkat senjata bersama-sama. Dan inilah apa yang sesungguhnya terjadi di Iran. Ketika ribuan orang pelayat berarakan menuju gerbang pemakaman Beheste Zahra di Teheran, meneriakkan slogan-slogan menentang Shah, dan menyerang sebuah kendaraan lapis baja, seorang mayor keluar dan berteriak: “Kami tidak mempunyai keinginan untuk membunuh kalian! Kalian adalah saudara kami!” dan memberikan senjatanya kepada kerumunan tersebut: “Ini, ambil senjata saya dan bunuhlah saya kalau anda mau!” Orang-orang yang sedang berbelasungkawa bersorak sorai dan meneriakkan slogan-slogan seruan persatuan melawan rezim.(3) Terdapat insiden lain semacam itu. Beberapa serdadu wajib militer menembak perwira mereka atau melakukan bunuh diri karena diperintahkan untuk menembaki para demonstran. Di pihak lain, banyak desersi dan pemberontak dieksekusi oleh Savak.

Seorang Perwira Angkatan Bersenjata AS yang diwawancarai oleh Newsweek, mengutarakan pendapatnya tentang tentara Iran: “Saya tidak akan sepenuhnya mempercayai kehandalan mereka, kita tidak tahu dimana titik lemah mereka.” Seorang pejabat Iran juga disitir mengatakan: “Semakin lama Shah menurunkan tentara ke jalanan, maka semakin besar pula bahaya kontaminasi.”(4) Peraturan umum ini berlaku di semua negara dimana situasi macam ini terjadi. Pertanyaannya selalu sama: dimanakah titik lemahnya? Bisa dikatakan, di titik manakah kuantitas tertransformasikan menjadi kualitas? Di titik manakah ketakutan prajurit terhadap perwiranya yang bertongkat dan berpistol itu dikalahkan oleh perasaan yang membisikkan betapa perkasanya kekuatan massa? Pertanyaan semacam itu, tentu saja, tidak bisa dijawab seketika, tetapi hanya bisa dipecahkan dengan dialektika kekuatan-kekuatan perjuangan hidup.

Di Iran tank-tank dipangkalkan di sekeliling istana untuk pertama kalinya sejak 25 tahun lalu. Shah sendiri mengutarakan kepada Newsweek: “Saya pikir kami dalam sebuah situasi yang mengerikan Selasa kemarin, dan hampir saja semuanya berantakan. Orang-orang tidak memperdulikan hukum. Mereka tidak mengacuhkan sedikitpun terhadap peringatan pemerintah. Faktanya, mereka bisa saja menguasai apapun yang mereka inginkan. Jadi dalam pandangan ini, ketika tentara dikonfrontasikan dengan massa yang diamuk amarah, maka sebuah polarisasi masyarakat yang menentukan bisa menangkap refleksinya pada suatu perpecahan di tubuh tentara. Pada momenturn itu, serdadu Iran menolak untuk melakukan tembakan terhadap para buruh dan tani bangsa mereka sendiri, dan berbalik mengarahkan senjata kepada kelompok pemerintah. Hal ini terjadi di tahun 1979 pada berbagai kejadian ketika para prajurit dan perwira rendahan menolak untuk menembaki para demonstran. Tetapi mengacu pada ketiadaan satu kebijakan kelas revolusioner yang jelas – kesempatan tersebut hilang. Tentara terbelah di Iran tetapi tidak memiliki arah indera kelas yang jelas.

Setelah terjadinya perpecahan yang terjadi dalam tubuh tentara, Shah kehilangan semua kendali terhadapnya. Dalam kepanikan, setelah ragu pada awalnya, beliau melakukan langkah terakhir untuk tetap memegang kendali kekuasaan, menunjuk Shahpur Bakhtiar dari Front Nasional sebagai perdana menteri. Akan tetapi manuver tersebut gagal dan krisis tersebut menjadi lebih parah. Pada tanggal 16 Januari 1979, negara ini dalara sebuah keadaan pergolakan revolusioner. Tidak ada harapan yang tersisa bagi Shah, yang pada akhirnya harus terbang meloloskan diri dengan pesawat terbang ke Mesir. Maka dari itu, ilusi tentang militer yang tak terkalahkan hancur menjadi abu dalam waktu semalam. Revolusi Iran telah menghempaskan tentara terbesar kelima di dunia, tentara yang ditopang oleh imperialis Amerika karena kepentingan vitalnya terlibat dalam peran kunci ini di Timur Tengah. Tetapi dalam kenyataannya, tekanan dari rakyat begitu intensif sehingga tentara perkasa ini luluh lantak berkeping-keping seperti sebuah gelas anggur yang jatuh dari meja

dalara suatu pesta mabuk.

Imperialis Amerika bahkan begitu mabuk dengan ilusi bahwasanya kedigdayaan tentara Iran, yang loyal kepada Shah dan kepentingan USA di Timur Tengah, dianggap demikian kuat tak tergoyahkan, dan ketika melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di Teheran, mereka menyaksikannya dengan tatapan kosong seakan tidak percaya. Tiba-tiba dikejutkan oleh bergantinya peristiwa demi peristiwa yang tidak disangka-sangka dan dibuat tak berdaya oleh kekhawatiran akan terjadinya revolusi yang telah menyapu bersih institusi yang seharusnya tak terkalahkan, bak seseorang menggerus kutu, membuat Washington membutuhkan waktu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Tentara Iran yang dilatih oleh Pentagon sekarang dengan niudah dihancurkan oleh sebuah revolusi yang membakari bendera Amerika dan meneriakkan: Kematian bagi imperialis Amerika.” Hal ini adalah perubahan mencengangkan yang memberikan dampak terhadap situasi dunia secara keseluruhan. Suara-suara nyanyian ini dengan cepat bergema ke seluruh penjuru Timur Tengah, memekakkan gendang telinga kaum elit Saudi, bagaikan denging ketel air yang telah mendidih, menghentikan detak jantung kelas elit Amerika dan membikin tulang belakang staf jendral AS menjadi bergemeretak.

Pada saat Khomeini kembali dari pengasingannya di Paris pada 1 Februari 1979, perjuangan melawan Shah secara efektif telah selesai. Negara yang lama 72 telah benar-benar terdisintegrasi dan kekuasaannya tumpah ke jalanan, menunggu seseorang, untuk memungutnya. Meskipun ulama tua tersebut tidak memainkan peranan yang nyata dalam menggulingkan Shah, ada orang-orang yang berkeinginan untuk memberinya sebuah peran pemuka. Sebagai konsekuensinya, dia dipertemukan dengan para perwira yang men�janjikannya dukungan dari unit-unit utama angkatan bersenjata. Elit militer berkeinginan untuk mendapatkan kembali kendali dan “ketertiban”. Di seluruh pelosok negeri, terjadi desersi setiap hari, dan ketika Shah Pur Bakhtiar menggunakan polisi militer serta Prajurit Istana untuk melawan sekelompok pemberontak yang merupakan para kadet angkatan udara, meletusiah pertempuran. Pemberontakan menyebar ke seluruh penjuru unit militer. Satu kubu dari Front Nasional yang dipimpin oleh Mehdi Bazargan, Sayap Militan Khomeini dan beberapa kelompok ultra-kiri (Fedayeen dan Mujahiddin), bergabung dengan para pemberontak. Dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka meluluhlantakkan mesin perang Shah, merampas pabrik persenjataan, pangkalan militer, stasiun televisi, penjara serta parlemen. Korps perwira tinggi dilumpuhkan. Shah Pur Bakhtiar larf bersembunyi dan Bazargan, yang dideklarasikan sebagai perdana menteri oleh Khomeini, mengambil alih.

Dalam proses pemogokan massa revolusioner, kelas pekerja mengorganisir shura (soviet/dewan perserikatan buruh-Penerj.) dan organ kekuasaan independen embrionik lainnya. Hal ini serupa dengan dewan perwakilan buruh yang pertama kali muncul dalam pemogokan massa dalara Revolusi Rusia 1905, yang pada akhirnya dihancurkan oleh negara tersebut setelah kekalahan pada revolusi 1905. Akan tetapi pada tahun 1917 dewan perserikatan buruh bangkit sekali lagi dan memainkan peran kunci dalara Revolusi Oktober. Lebih-lebih, sistem soviet bukan merupakan, sejauh klaim dari reformis, suatu fenomena yang eksklusif milik Rusia. Revolusi November 1918 di Jerman secara spontan menghapuskan lembaga yang sama. Mereka adalah perwujudan dari organisasi buruh sendiri. Di setiap pelabuhan, kota, dan barak di Jerman, didirikan dewan buruh, dewan serdadu, dan dewan pelaut Jerman yang menyandang kekuatan politik yang efektif. Soviet didirikan kemudian di Bavaria dan selama masa revolusi Hungaria 1919. Di Inggris juga didirikan dewan aksi pada tahun 1920, yang digambarkan Lenin sebagai “soviet yang hanya sekadar nama”, dan didirikan lagi selama masa pemogokan umum tahun 1926 (Komite aksi dan dewan dagang). Meskipun kaum Stalinis dan reformis mencoba untuk mencegah, soviet-soviet selalu bermunculan kembali pada setiap kejadian yang menentukan di sejumlah negara, khususnya pada masa revolusi Hungaria 1956 dengan terciptanya dewan buruh Budapest.(5)

Di Iran, shura muncul pada tahun 1979 tapi sayangnya tidak dikembangkan hingga mencapai taraf soviet-soviet zaman Revolusi Oktober 1917. Meskipun demikian, potensi kekuatan buruh mengemuka. Assef Bayat menulis bahwa krisis revolusioner diperlengkapi dengan basis material bagi organisasi semacam itu, dan bentuk organisasional serta fungsional dari kekuatan buruh telah eksis berupa embrio. (Lenin mengajukan poin yang serupa tentang soviet di Rusia di tahun 1905, ketika beliau mengkarakterisasikannya sebagai bentuk embrionik dari pemerintahan kaum buruh.) Pada awal mula, betapapun juga, kesernua soviet adalah perluasan dari komite pemogokan. Mereka sudah merupakan elemen dari dua sisi kekuatan dalara situasi tersebut. Manajemen tidak bisa meraih fungsi “normal” mereka tanpa adanya izin dari kaum pekerja, administrasi demikian juga, tidak akan bisa. Maka dari itu, perwakilan dari Pabrik Pengolahan Baja Isfahan harus berunding dengan buruh kereta api untuk memintanya mengangkut batubara yang mereka butuhkan dari Kirman supaya tanur pabrik tetap bisa menyala. Perjanjian serupa dicapai antara buruh minyak`dengan pekerja kereta api untuk mengangkut bahan bakar yang diperlukan bagi konsumsi dalara negeri ketika produksi lain masih terhenti. Hal ini sudah merupakan elemen dari sebuah bentuk dasar administrasi sosial kelas pekerja. (6)

Pada bulan Desember dan Februari, rakyat mengambil alih kendali atas sejumlah kota besar dan kota kecil, khususnya di Azeri Utara dan propinsi-propinsi Laut Kaspia, termasuk Zanjan, Orumich, Salmas, Ardabil Maraghel dan Ajabsheer. Ide dasar dari shura datang dari pengalaman spontan dan langsung dari kaum pekerja sendiri. Kelas pekerja belajar melalui pengalaman dan aksi langsung untuk mengembangkan perjuangan melebihi batas tuntutan ekonomi elementer, dan mulai mempertanyakan prinsip-prinsip fundamental tentaug dominasi dan legalitas kapitalis. Tiga hari setelah pemberontakan, pada tanggal 14 Februari 1979, Khomeini memerintahkan semua buruh untuk kembali bekerja. Akan tetapi resistensi buruh minyak memaksa Khomeini untuk mengeluarkan ancaman: “Segala bentuk ketidakpatuhan, dan tindakan sabotase, terhadap pemerintahan sementara, akan dianggap sebagai oposisi dari revolusi Islam yang sejati.”(7) Dengan mengesampingkan ancaman ini, gerakan masih tidak mereda. Pada awal bulan itu juga sehabis pemerintahan sementara menjabat kekuasaan bulan Februari, setidaknya tercatat 50.000 buruh melakukan pemogokan. Kekisruhan di sektor industri ini dipicu oleh adanya transformasi radikal dalam kesadaran para buruh yang telah terjadi dalam rangkaian revolusi dan terutama setelah pemberontakan. Para buruh menuntut pembayaran upah yang tertunda dan menolak pemecatan serta penutupan kesempatan untu bekerja kembali.

Di sejumlah daerah utara, rakyat membentuk shura dalara rangka menjalankan urusan mereka sehari-hari. Untuk jenis administrasi yang serupa, sllura juga dibentuk setelah pemberontakan dalara tubuh angkatan udara -sliuras-e-home farain (dewan dinas angkatan udara). Shura organisasi dan perusahaan milik buruh ini, yang telah bermunculan dimana-mana setelah revolusi, masih terus berdiri kokoh selama beberapa waktu, berjuang gigih demi bertahan hidup dalam kondisi yang sulit. Akan tetapi dengan ketiadaan partai revolusioner kelas pekerja yang murni, maka mereka bertempur untuk kalah. Segera setelah negara baru mengkonsolidasikan diri, suattu kampanye nasional tentang intimidasi, pelecehan dan terorisme mulai meruyak menentang shura kaum buruh. Sesudah pemerintah menginvasi Kurdistan dan mengadakan restorasi gradual dalam kebijakan pemerintah berupa manajernen dari atas, unsur-unsur kekuatan kaurn buruh dalam pabrik-pabrik ditindas secara brutal. Setelah langkah mundur ini, terdapat gejala penurunan gerakan buruh secara umum. Dalam kesemuanya ini, Partai Tudeh secara solid berdiri di belakang pemerintah dan menyokong Khomeini.

Perlu diadakan sebuah analisa terhadap kandungan kelas dalam revolusi yang sebenamya dan tendensi-tendensi yang terlibat di dalamnya. Khomeini dan kaum fundamentalis mustahil akan pernah mendapatkan kekuasaan jika tidak berkat adanya gerakan kaum buruh. Secara khusus bisa dikatakan bahwa beberapa batalion penuh kelas pekerja di sektor-sektor ekonomi kuncilah yang memainkan peran penting dalam meruntuhkan kekuatan penyokong negara ini. Betapapun fuga, kaum proletar industrial tidak sendirian, tetapi dikelilingi oleh kelas sosial dan lapisan masyarakat yang lain. Komposisi kelas yang kompleks dalam masyarakat Iran, dengan berbagai lapisan unsure-unsur kaum miskin kota, semi proletar, dan borjuis kecil, memiliki arti bahwa kaum proletar yang telah maju dijaga sekelilingnya dari segala sudut, oleh lapisan masyarakat yang terbelakang dan memiliki kesadaran kelas yang lebih rendah. Fakta ini membuat perhitungan revolusioner menjadi sangat kompleks dan meninggalkan pintu yang terbuka bagi adanya penetrasi dari kaum mullah dan ulama demagog seperti Khomeini.

Dari bulan Juni 1977 hingga Februari 1979, intervensi dari kaum proletar memainkan peranan utama dalam meruntuhkan rezim Pahlavi. Bagaimanapun juga, pada tahap awal (hingga pertengahan tahun 1978), bisa dikatakan bahwa gerakan didominasi oleh lapisan kelas pekerja yang paling bawah: tenaga tidak terampil, bersama borjuis rendahan (bazaaris) dan kaum miskin kota (proletar tak terpelajar). Karena kebanyakan dari mereka baru datang dari pedesaan dan kurang memiliki kesadaran kelas yang mantap, maka mereka mudah dipengaruhi oleh kaum mullah. Hal ini telah menjelaskan sebagian kenapa pemimpin gerakan jatuh ke tangan para mullah dan pada kasus tertentu di tangan Front Nasional; hal itu merefleksikan karakter kelas gerakan massa yang heterogen dan nir-bentuk, mereka yang baru saja siuman menuju kesadaran. Trotsky menulis bahwa lapisan masyarakat proletar yang paling tidak terampil atau yang paling terbelakang kesadaran politiknya, dan sebagai pihak yang paling tereksploitir, seringkali merupakan kelompok pertama yang memasuki medan perjuangan dan dalam hal terjadi kekalahan, merekalah yang paling terakhir meninggalkan medan. (8)

Masuknya kaum proletar sebatalion penuh memainkan peran yang menentukan dalam revolusi anti-Shah. Ketika setelah pertengahan 1978 kaum buruh

terampil menyerukan aksi mogok, pemogokanpun menyebar luas seperti sebuah gelombang pasang kolosal, menyebabkan kolapsnya mesin kenegaraan. Hal inilah yang memberikan revolusi ini keluasan dan kedalaman yang dibutuhkan. Tanpa adanya partisipasi dari lapisan teratas kelas pekerja, Shah tidak akan mungkin terguling pada waktu itu. Tanpa kepemimpinan dari kaum proletar, massa yang tidak disiplin tidak akan dapat mengesinambungkan perjuangan melawan negara itu. Kaum mullah akan menghianati mereka, sebagaimana yang telah mereka lakukan pada kesempatan sebelumnya. Mari kita mengingat apa yang telah terjadi pada tahun 1963, dimana kaum funda-mentalis telah memenangkan dukungan politik dari lapisan masyarakat yang paling terbelakang ini, tetapi mereka gagal untuk menggulingkan rezim tersebut. Segera setelah kekalahan mereka, mereka melakukan kompromi dengan kelas elit pemerintah. Hal ini menyingkapkan mitos dari Khomeini yang “revolusioner”.

Bagaimanapun fuga, supaya tercapai pemahaman dengan apa yang terjadi pada tahun 1979-80, tidak cukup hanya dengan mengacu pada keseimbangan kekuatan kelas. Di Rusia pada tahun 1917 kaum proletar jelas lebih lemah daripada kelas pekerja Iran di tahun 1979. Tetapi di bawah kepemimpinan Partai Bolshevik (yang, jangan lupa, hanya memiliki anggota 8.000 orang dari jumlah penduduk sebesar 150 juta pada Februari 1917), kaum buruh dan kaum tani bisa meraih kemenangan dengan program revolusi sosialis. Alasan kenapa hal ini tidak terlaksana di Iran bukanlah karena situasi obyektif tetapi karena kekeliruan kebijakan dan tindak kepengecutan dari para pemimpin Partai Tudeh. Mengacu pada ketiadaan partai yang memimpin kelas pekerja, maka gerakan dibajak oleh para mullah. Mereka yang disebut sebagai kaum kiri, kalau tidak berada di belakang kaum mullah, mereka menyokong Front Nasional. Tidak satupun dari mereka menganut kebijakan kelas yang independen, menjelaskan kepada para buruh tentang keharusan untuk mengambil alih kekuasaan dengan tangan mereka sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Lenin dan Trotsky di tahun 1917.

Ini adalah tragedi dari revolusi Iran tahun 1979. Dalam kenyataannya, hanya partisipasi aktif dari kaum proletar-lah yang membawa kemenangan di tahun 1979. Shah yang semestinya digdaya dikalahkan dan dipaksa untuk kabur ke luar negeri. Kekuasaan sesungguhnya ada di tangan kelas pekerja Iran, tetapi, dalam ketiadaan sebuah partai dan pemimpin revolusioner sejati, mereka tidak mengetahui hal itu, dan tak seorangpun yang menjelaskan kepada mereka. Maka dari itu, kekuasaan lepas dari genggaman mereka dan dengan cepat dirampas oleh Khomeini dan kaum mullah. Mereka tidak memimpin revolusi tersebut, tetapi semata mengeksplotasinya untuk keuntungan mereka sendiri. Mereka melakukan semuanya dalam kekuasaan mereka, untuk membinasakan dan menghancurkan gerakan kelas pekerja yang independen, mengandalkan lapisan masyarakat yang paling terbelakang dan telantar untuk mendudukkan mereka dalam tampuk kekuasaan. Dan begitu lava revolusi telah mendingin, mereka tanpa ampun menghabisi gerakan massa.

Revolusi Oktober bisa mencapai kemenangan hanya karena kaum proletar Rusia dipimpin oleh sebuah partai dan pemimpin yang memberikan program yang benar dan slogan yang sesuai dengan zamannya, yang membuat kaum buruh terbimbing untuk mencapai kekuasaan (“semua kekuasaan milik Soviet”). Dengan cara ini mereka membawa revolusi kepada akhir yang sukses. Sampai saat ini, pekerja di Iran merupakan bagian populasi yang jauh lebih besar daripada kelas pekerja Rusia sebelum Revolusi Oktober 1917. Akan tetapi pada revolusi Februari 1979 di Iran, partai revolusioner tidak ada. Sliura (soviet) bermunculan selama gerakan pemogokan, tetapi hal itu membutuhkan kepemimpinan yang bervisi luas untuk mengajukan pertanyaan tentang kekuatan kaum buruh dengan jelas seperti hari itu. Tanpa perspektif pengambilalihan kekuasaan, sliura, tidak bisa tidak, akan memudar dan binasa.

Di waktu yang lampau Karl Marx menerangkan bahwa, tanpa organisasi, kelas pekerja hanyalah bahan mentah untuk eksploitasi. Ted Grant mernaparkan: “Memang benar, kaum proletar memiliki kekuatan luar biasa. Tidak ada roda yang akan berputar, tidak akan ada hola lampu yang akan menyala, tanpa seijinnya. Tetapi tanpa organisasi, kekuatan ini tinggal berupa potensi semata. Dengan cara yang sama, turbin uap adalah kekuatan yang kolosal, tetapi tanpa kotak piston, hanya akan berhamburan di udara tanpa ada gunanya. Agar hal itu bisa tercapai, kekuatan kelas pekerja harus berubah dari semata hanya potensi menjadi sebuah realitas, mereka harus diorganisir dan dikonsentrasikan pada satu titik. Hal ini bisa dilakukan melalui sebuah partai politik dengan kepemimpinan yang berani dan berpandangan ke depan serta sebuah program yang benar.”(9)

BAB V
Basis Fundamentalisme Islam

Karl Marx menulis bahwa “Manusia yang menciptakan agama, bukanlah agama yang menciptakan manusia. Agama adalah kesadaran diri dan kepercayaan diri seorang manusia, yang belum lagi menemukan jati dirinya, ataupun telah kehilangan dirinya lagi. Akan tetapi manusia bukanlah makhluk abstrak yang berkemah di luar dunia. Manusia itulah dunia manusia, negara dan masyarakat. Negara dan masyarakat ini menciptakan agama: sebuah kesadaran – dunia yang terbalik, karena kita hidup di sebuah dunia yang terbalik, sebuah dunia dimana hubungan umat manusia natural berdiri di atas kepala mereka.” (1)

Analisa Marxis mengenai agama dan akar sosial manusia membantu kita dalam memahami masyarakat di masa lampau dan, melalui pemahaman masyarakat terdahulu, memahami masyarakat jaman sekarang yang telah berevolusi darinya. Begitu kita telah menggapai metode ilmiah ini (materialisme historis), dengan mudah kita bisa memahami fenomena fundamentalisme, yang sangat menyebar luas dalam masyarakat kontemporer -bukan hanya fundamentalisme Islam, tetapi juga macam Yahudi, Hindu dan Kristen. Penyebaran fundamentalisme dan jenis pemikiran irasional lain adalah sebuah refleksi dari kebuntuan kapitalisme. Alan Woods mengatakan: “Antara lapisan penutup yang tipis, terdapat tendensi dan ide-ide irasional primitif, tersembunyi dalam peradaban yang telah mengakar di masa lampau dan setengah terlupakan, tetapi belum sepenuhnya tertanggulangi. Pun hal itu tidak akan pernah benarbenar tercerabut dari kesadaran manusia kecuali para lelaki dan perempuan telah membangun kendali yang mantap atas kondisi eksistensi mereka.” (2)

Gagasan-gagasan agamis masih memainkan peranan kuat dalara masyarakat umat manusia tetapi, dalam analisa terakhir, hal ini didasarkan atas realitas material. Dengan mengesampingkan segala formasi dan karakter khusus, pemikiran-penikiran religius yang muncul pada periode tertentu perkembangan sosial manusia muncul terutarna dari perubahan yang berlangsung dalam hubungan produktif dan daripadanya merupakan refleksi dari perubahan-perubahan ini.

Setiap institusi relijius pun, dan juga organisasi-organisasi yang mendasarkan diri padanya, pada pokoknya mewakili kepentingan kelas tertentu dalam tubuh masyarakat. Derajat survivalitas agama yang tinggi hanya bisa diwujudkan sepanjang bisa memelihara landasan sosialnya sendiri berupa dukungan terhadap satu kelas atau pengelompokan sosial atau yang lainnya.

Sebagai contoh, gereja Katolik Roma, yang muncul pada akhir jaman kuno, bisa bertahan dengan mengadaptasikan diri, yang pertama dengan masyarakat feodal dan kemudian dengan masyarakat kapitalis yang menggantikan feodalisme. Dalara proses ini kebanyakan ajarannya telah berubah. Di abad ke-16 dan ke-17, ketika krisis feodalisme merusak tatanan sosial masyarakat lama, satu gerakan yang menggoncangkan menyapu daratan Eropa. Kepentingan sosial dan kelas dibungkus dengan baju agamis. Dalara konteks ini, Luther, Calvin dan para pemuka agania lain menginterpretasikan kembali Injil, yang secara tidak sadar merefleksikan perubahan hubungan kelas. Meskipun mereka sendiri tidak menginsyafi relasi antara dogma agama dengan kepentingan kelas sosial yang ada di baliknva, mereka memainkan peranan yang fundamental dalam menentukan arah revolusi borjuis di Eropa (Reformasi dan Revolusi Inggris). Dengan demikian, dari sudut pandang Marxis, perlu dibedakan dengan hati-hati antara bentuk luar ideologis dari agama dengan kepentingan kelas yang disalurkan melaluinya dalam~ sebuah bentuk yang berbelit dan mistik. Dengan kata lain, perlu dibedakan antara bentuk dan isi.

Islam secara mendasar tidaklah berbeda dengan agama lainnya. Agama tersebut lahir di kota-kota Arab pada abad ke-7 dan merefleksikan trend ekonomi tertentu serta mengakibatkan perubahan dalam hal hubungan kepemilikan, kepentingan kelas dan tendensi sosial. Perang-perang yang berkepanjangan antara Persia dan Bizantium telah, selain memperlemah kinerja ekonomi mereka, membuat rute perdagangan di Teluk dan Laut Merah menjadi tidak aman. Akibatnya adalah, rute perdagangan melalui Mekkah dan Yatsrib (Madinah) menjadi sangat penting. Arus perekonomian yang mengalir ke Mekkah membawa perubahan yang cukup mendasar dalara kehidupan sosial, politik dan kulturalnya. (3) Kebangkitan kepemilikan pribadi memperkuat kelas pedagang Arab yang baru terbentuk. Ketika pedagang yang kaya sibuk dengan memperbanyak kekayaan personal mereka, mereka semakin tidak memperdulikan kewajiban tribal tradisional mereka: memperhatikan anggota suku yang lebih miskin. Urusan memperkaya diri lebih penting daripada solidaritas klan. Sebagai akibatnya, masyarakat klan yang lama dengan cepat terdisintegrasikan oleh tekanan relasi keuangan dan perdagangan, membuat rakyat semakin lemah. Akibatnya sikap permusuhan semakin meningkat terhadap para pedagang yang terkemuka, yang diharapkan masih menaruh rasa hormat terhadap nilai-nilai lama.

Di antara mereka-mereka yang teralienasi, adalah para anggota suku Mekkah yang paling kuat, suku Quraisy, yang tidak berbagi kesejahteraan dengan kelas pedagang yang baru. Muhammad dilahirkan dalara suku ini. Perhatiannya yang paling utama adalah untuk menyembuhkan ketidakadilan dalara masyarakat Mekkah. Pertanian tidak bisa dilakukan di Mekkah dan tidak ada kemajuan dalam relasi kelas yang berdasar atas tanah, sebagaimana yang kemudian terjadi di Eropa feodal.(4) Kerajaan Persia dan Byzantium mengadu domba suku-suku yang ada untuk keuntungan pribadi mereka sendiri dan memanfaatkan para pendekar suku Badui sebagai tentara bayaran.

Agama suku Badui, sebagaimana yang dimiliki oleh leluhur nomaden kuno mereka Israel, memiliki ajaran yang mempercayai dewa-dewa lokal, roh-roh yang mendiami tempat-tempat keramat dan memuja berhala dalam berbagai jenis obyek. Muhammad mendorong masyarakat Mekkah untuk menyembah satu Tuhan, yang nabinya, Muhammad sendiri, telah dikirim untuk menyampaikan risalah syariah, dan akan menimbang perilaku manusia pada Hari Pembalasan. Risalah kepada para pengikutnya adalah: tiadakan segala bentuk pemujaan berhala serta pasrahkan dirimu dengan sepenuhnya terhadap yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, tapi Maha Pengasih, Allah. Dia memperingatkan kaum berpunya bahwasanya yang hanya perduli pada pengumpulan kekayaan dan kikir dalam menggunakan uangnya, akan mengarahkan dirinya pada bencana. Pesan ini jelas revolusioner dari segala sudut. Serangan terhadap orang-orang kaya yang berlebihan mendapat sambutan gegap gempita dari kaum miskin, tetapi tidak diterima dengan baik oleh para pedagang. Di sisi lain, dengan menuntut penerimaan yang penuh akan satu Tuhan, Muhammad juga menciptakan sebuah loyalitas yang melewati batas kesetiaan tradisional terhadap klan tersebut. Hal ini menyulut kemarahan para pernimpin klan yang kuat, yang juga kecewa dengan kecaman terhadap kekayaan mereka yang tidak terinfakkan. Pada tahun 619 permusuhan terhadap Muhammad dan sekelompok kecil pengikutnya mencapai keadaan dimana mereka dilecehkan dan diserang berulang kali.

Pada bulan Juni 622, pada sebuah pertemuan antara 75 orang penduduk Madinah dengan umat Muslim di Mekkah, kaum muslimin memutuskan untuk berimigrasi ke Madinah. Kaum Muslim dari Mekkah berangkat menuju Medinah, 300 mil ke utara, dengan Muhammad dan sahabatnya Abu Bakar yang terakhir berangkat. Muhammad hijrah untuk membangun sebuah kelompok yang berbasis para pengikutnya, Ummahh. Ummahh mengorganisir serangkaian serangan terhadap kafilah-kafilah Mekkah, mengklaim sebuah kemenangan besar, vang setelahnya Muhammad membagi-bagi hasil pampasan perang diantara anggota Ummahh. Dalam waktu delapan tahun setelah kepindahannya dari Mekkah, masyarakat Mekkah memasrahkan diri kepada Muhammad. Mekkah telah menjadi sentra ekonomi regional dan sekarang menjadi pusat kerajaan Islam yang berkembang dengn pesat. Arab bagian barat sekarang dipersatukan di bawah otoritas sentral yang kuat diperintah oleh Muhammad. Hal ini mewakili sebuah revolusi sosial mendalam, yang mempersatukan suku-suku Arab yang tercerai-berai di bawah satu pemerintahan dan agama. Islam menjadi sebuah kekuatan digdaya yang merubah dunia. Islam bertindak sebagai kekuatan perekat, yang pada awalnya bekerja sebagai pelindung sergapan suku-suku lain yang menjarah perniagaan yang semakin meningkat, serta merubah kaum Badui yang tak berdaya menjadi kuat.

Imperium Muslim, menyebar dengan cepat dalam kurun beberapa tahun. Kekuasaan mereka telah mencakup Afrika Utara, Siria, Irak dan Iran. Dalam konteks pemerintahan Byzantium dan Persia yang opresif, kekuatan Islam dianggap sebagai pembebas. Pada mulanya imperium Islam memberlakukan beban pajak yang relatif ringan atas teritori taklukan. Mereka tidak menduduki atau mengambil alih tanah kaum tani dan tidak memaksa mereka untuk merubah agamanya. Semangat keagamaan memberikan kontribusi kepada kemenangan. Akan tetapi di luar semua ini, terdapat pembusukan di dalara imperium ini menyebabkan mereka semua berguguran seperti buah yang terlalu matang.(5) Terdapat alasan mengapa Arab harus diberi kehormatan sebagai pembawa pesan, bukannya populasi yang lebih tua, kaum Semit Siria dan Mesopotamia serta orang Mesir. Hal itu dikarenakan mereka telah lama menjadi daerah jajahan bagi Roma, kemudian oleh Byzantium di Barat dan bagi Imperium Sassanid Persia. Mereka berada dalam keadaan berontak permanen dan pemberontakan ini memiliki landasan berupa basis sosial dan sedikit basis agama.

Meluasnya agama Islam mencakup wilayah yang terbentang dari Pantai Atlantik di Afrika Barat Laut hingga Teluk Benggala, melibatkan penyatuan dalam masyarakat Islam bagi semua orang yang menganut Islam. Banyak dari mereka yang tetap mempertahankan elemen-elemen signifikan dari budaya dan praktik agama lama mereka, yang memiliki dampak yang besar bagi Islam. Hal ini cukup natural karena, kendati bertentangan dengan kepercayaan para teologis dan fanatis, gagasan-gagasan agama tidak memiliki kehidupan dari independensi masyarakat mereka sendiri. Setelah kematian Muhammad, dalara waktu dua dekade, Islam dengan sendirinya terlapis oleh karakter masyarakat yang telah ditaklukkan.

Hanya dua tahun setelah kematian Muhammad, perselisihan pecah antara para pengikut Abif Bakar, yang menjadi Khalifah pertama, dan Ali, suami dari putri Sang Nabi. Ali mengklaim bahwa beberapa kebijakan pemerintahan Abu Bakar opresif. Perselisihan tumbuh hingga titik dimana tentara partisan saling bertempur. Namun merupakan suatu yang berada di luar perselisihan ini mengspa pemisahan sekte Sunni dan Sy’iah dalam Islam bisa muncul. Aliran Syiah mulai menjadi sebuah kelompok politik pengikut Ali, keponakan dan menantu Muhammad.

Di bawah dinasti Abbasiyah, kelompok utama dari penganut Syi’ah terkristalisir menjadi tarekat “lima”, “enam” dan “dua belas”. Kelompok “lima” memegang ketakziman khusus terhadap imam kelima (Ali):, Kelompok “tujuh” dan “duabelas” berbeda pada garis suksesi setelah imam yang ke-6. Imam ini semakin lama menjadi dianggap terlindung secara religi dari segala kesalahan dan dosa, dan sebagai mediator antara Allah dan hambanya. Kaum Sunni di lain pihak, menekankan bahwa Qur’anlah, dan bukan orang yang mendapat

petunjuk dari langit, yang membimbing segala segi kehidupan. Sekte Sy� ah yang paling radikal-pada abad ke 9 dan ke 10 adalah kelompok “tujuh” atau Ismailiyah yang melancarkan ancaman serius terhadap Imperium Abbasiyah. lsmailiyah adalah gerakan dari kaum tertindas pada awal periodenya, para pengikut utamanya adalah para petani dan kemudian para pengrajin di perkotaan.

Terdapat sebuah kemiripan yang mengejutkan antara gerakan awal Islam dan gerakan awal Kristen yang juga berbasiskan kaum miskin dan tertindas. Bukan tanpa alasan, musuh awal Kristen, Bangsa Romawi, memberikan stigma terhadap kepercayaan mereka sebagai sebuah agama “para wanita dan para budak”. Di Persia, para pejuang militan Safavid memperoleh

kekuasaan pada tahun 1501 mengikuti kepopuleran Syi’ah “dua belas”. Di bawah kaum Syi’ah, tradisi Persia lama berupa monarki keluarga dirubah dari ideologi mesianik menjadi sebuah sarana untuk mensolidkan pemerintahan Safavid dan menjadi sebuah senjata untuk melawan rivalnya kerajaan Sunni Ottoman. Ini adalah sebuah pola yang mereproduksi diri lagi dan lagi: kaum miskin, berarakan di bawah panji-panji agama, melakukan revolusi menentang elit kaya, tetapi kemudian dinasti vang dilahirkan, setelah mendapatkan kekuasaan dalara genggaman, menjadi kaya dan opresif, dan menindas rakyat jelata.

Satu gagasan sebangun yang diambil dari sekte Syi’ah Ismailiyah oleh para penganut Syi’ah dan Sunni adalah pemikiran tentang Imam Mahdi. Imam Mahdi seseorang yang telah dibimbing dari atas – akan terlihat tepat sebelum hari kiamat, ketika dunia telah menjadi serpihan dan puing-puing, penuh dengan ketidakadilan serta penindasan, untuk menyelamatkan umat manusia. Gagasan ini serupa dengan ajaran Messiah dalara Kristen yang telah menunggu kedatangan Kristus selama dua ribu tahun terakhir. Hal itu juga berakar dari kerinduan mereka yang menderita dan tertindas akan sebuah dunia yang lebih baik dan seorang Juru Selamat dari atas yang akan mengenyahkan dunia yang tidak adil, menghukum yang jahat dan memberikan pertolongan pada saat yang tepat bagi mereka yang lemah dan terinjak.

Di kemudian hari, menentang latar belakang ekspansi kolonial imperialis, gerakan kehangkitan Islam muncul sebagai sebuah titik pusat resii- -nsi terhadap opresan asing. Perjuangan melawai L., 1 Eropa adalah sebuah sumber kekuaaan ’11ental yang diperbaharui balti Islam. Gerakan revival: islam memasuki gelanggang politik pada suatu saat ketika hubungan sosial ekonomi dalara masyarakat kol- -lial dan semi kolonial telah enyah melalui sebuah proses transformasi dibawah pemerintahan imperialis. Apa yang digarn barkan Lenin dan Trotsky sebagai kemajuan yang terkombinasikan dan tidak adil bertindak sebagai agen yang kuat bagi perubahan sosial dan ekonomi.

Korupsi yang dilakukan oleh para rezim dan perilaku menjilat dan pengecut dari para ulama (pejabat keagamaan) dalara hubungannya dengan majikan bangsa asing, menghasilkan serangkaian gerakan yang menuntut dikembalikannya warna versi Islam yang orisinil dan “murni” sebagai sebuah sarana perjuangan melawan tatanan tersebut. Setelah Perang Dunia 1, imperialis Eropa membagi kerajaan Ottoman menjadi wilayah pengaruh dan dengan brutal mengeksploitasi daerah itu. Terhadap kolonisasi in!, tienbul berbagai macam respon dari elit lokai-beberapa di antaranya mengorganisir resistensi bersenjata, beberapa melancarkan tekanan politik, beberapa mencoba untuk menentang pengaruh imperialis barat dengan menjiplak barat, memodernisasikan ekonomi dan mereformasi negara. Akan tetapi seluruh strategi ini berakhir dengan kegagalan. Manufaktur tradisional digantikan oleh metode kapitalis yang diimpor dari Barat, yang mentransformasikan relasi sosial internal di Timur. Kolonialisasi juga membawa perubahan mendalam baik dalam struktur politik maupun sosial.

Aliran revivalis Islam yang pertama digagaskan oleh Jamaluddin Al-Afghany, yang berpendapat bahwa: “Pemetaan wilayah kekuasaan yang telah terjadi di Negara-Negara Islam semata-mata berasal dari kegagalan para penguasa, yang menyirnpang dari prinsipprinsip solid yang dibangun di atas keyakinan Islam dan ineninggalkan jalan yang diikuti oleh para pewaris mereka sebelumnya. Ketika mereka yang memerintah Islam kembali kepada peraturan-peraturan dari hukum mereka serta perilaku mereka mengambil teladan berdasar dari apa yang telah dipraktekkan oleh generasi Muslim awal, maka tidak akan lama lagi Tuhan akan memberikan kekuatan yang tangguh dan melimpahkan kekuatan yang sebanding dengan yang dimiliki oleh para khalifah ortodoks, yang merupakan para pemimpin agama.” Argumennya mengalir kuat menentang gagasan negara nasional Muslim, dan menyerukan dibentuknya negara pan-Islaini, penyatuan seluruh negara yang menggunakan tradisi Islam. Pendekatan Afghani merupakan sebuah terobosan terhadap pendirian tradisional dan menyerukan akan adanya sebuah restorasi nilai-nilai Islam yang telah dimurnikan. Jamaluddin Afghany meletakkan basis Islam radikal atau Islam fundamentalis. Dari latar belakang ini muncullah Ikhwannul Muslimin yang didirikan oleh Hassan al-Banna di tahun 1929. Padahal, ini merupakan suatu pendekatan yang benar-benar utopis terhadap masalah yang dihadapi oleh negara-negara jajahan. Setelah Perang Dunia II, revolusi kolonial menggerakkan rakyat jajahan berjuta jumlahnya dalam perjuangan menentang imperialisme. Akan tetapi, setelah apa yang dinamakan dengan pemerdekaan, terungkap bahwa pendirian para borjuis kolonial benar-benar impoten dalam melaksanakan tugas yang dilimpahkan oleh sejarah. Pengalaman dalam revolusi Aljazair menunjukkan bahwa, dengan berbasiskan kapitalisme, tidak akan ada jalan keluar bagi masyarakat. Meskipun menunjukkan perjuangan heroik melawan penindas Perancis, Aljazair di masa kini lebih bergantung pada imperialisme daripada sebelumnya. Dan hal yang sama bisa diungkapkan tentang keadaan seluruh negara Muslim setelah merdeka dari imperialism. Dengan berdasarkan kapitalisme, tidak ada suatu halpun yang bisa diselesaikan. Kemiskinan yang meraja lela, alienasi masyarakat, khususnya lapisan pemuda dan kelas menengah, telah mendorong mereka menuju lorong buntu fundamentalisme religius. Fenomena yang sebangun bisa diamati di Mesir, Palestina, Turki, Afganistan, Tajikistan dan Iran.

Gerakan Islam Radikal tidak memperoleh dukungan sepadan dari semua lapisan masyarakat. Fundamentalisme Islam dipupuk oleh berbagai pengelompokan sosial, yang masing-masing menggunakan arus mi untuk kepentingan kelas mereka sendiri. Eksploitasi habis-habisan yang kejam terhadap negaranegara koloni, dan krisis dari ekonomi dunia selama 30 tahun terakhir, telah memperburuk semua kontradiksi ini. Industri modern telah berkembang hingga satu titik dimana batas ekonomi yang sempit dari negara-bangsa, menjadi terlalu sempit baginya untuk beroperasi secara efisien. Akan tetapi ekonomi dunia telah menjadi terlalu kompetitif bagi mereka untuk bertahan tanpa adanya proteksi dari negara. Dan terbukanya negara kolonial bagi imperialisme telah memperdalam krisis tersebut. Mayoritas negara-negara ini telah menghabiskan lebih dari 30 persen pendapatan ekspor mereka guna membayar hutang dan berikut bunganya. Dampak dari privatisasi industri dan badan milik negara telah menciptakan kekecewaan yang semakin mendalam di antara para buruh dan pemuda kelas menengah karena pencabutan hak-hak atas pekerjaan dan prospek karir mereka.

Setelah terpuruknya Rusia- Stalinis dan kontrarevolusi di Afghanistan, ekonomi pasar gelap, khususnya sektor narkotika, merupakan sumber utama bagi pendanaan fundamentalis Islam. Para penghasil dan pedagang obat-obatan terlarang dengan demikian mendukung organisasi ini untuk melindungi diri mereka dari kebijakan-kebijakan pro-IMF. Kubu pemerintah Saudi memainkan peran menonjol dalara ekonomi pasar gelap ini. Sebuah contoh yang bagus adalah Osama Bin Laden. Imperialis AS dan Arab Saudi keduanya paling bertanggungjawab atas para reaksioner Taliban di Afganistan. Mereka mempersenjatai dan mendanai Taliban dalcm perjuangbul Mafia ini memperoleh $80 Stalinis sebelumnya di Kabul.mafia ini memperoleh $80 juta per tahun dari laba penjualan obat bius. Imperialisme dunia sekarang mengalarni keputusasaan dalara menghadapi perdagangan ilegal yang menyengsarakan umat manusia, tetapi imperialislah khususnya imperialis AS -yang membuat Afghanistan tersumbat dan terikat dengan kekuatan reaksioner dan merubahnya menjadi wilayah pembudidayaan opium terbesar di seluruh belahan dunia. Betapapun juga, fenomena fundamentalisme merupakan hal yang kompleks. Sebagai contoh, di Iran, reforma agraria atau land reform properti Shah tahun 1960-an menguntungkan minoritas kaum petani, dan pada saat yang bersamaan, membuat yang lainnya tidak menikmati perbaikan, bahkan kadangkala lebih terpuruk. Land reform ini memperkaya kebangsawanan dan para tuan tanah yang tidak tinggal di atas tanah yang dimilikinya tersebut, yang mendominasi Iran. Motif sebenarnya di balik land reform ini adalah untuk mengusir para petani dari tanah yang mereka miliki, sehingga bisa didapat buruh murah bagi pabrik-pabrik. Jadi dalara konteks ini kaum tani dirugikan, dan ditanggalkan dari akar masyarakat rural tradisional. Golongan kaum miskin desa yang dirugikan dari kebijakan reformasi Shah serta merta membanjiri perkotaan, dengan putus asa mencari kerja dan makanan, akan tetapi kota-kota di Iran belum ditata selayaknya untuk memenuhi situasi baru ini, dengan kelangkaan perumahan yang kronis, infrastruktur yang menyedihkan, fasilitas kesehatan yang langka, serta pengangguran yang meraja lela. Kondisi ini meningkatkan alienasi terhadap lapisan termiskin dalara masyarakat kota. Di Iran (dan fuga Afghanistan) mayoritas dari mereka, yang mengalami penderitaan oleh buruknya perumahan dan rendahnya gaji, memilih untuk tinggal di masjid-masjid yang menawarkan mereka remah roti yang cukup menghibur perut dan mengurangi kemalangan mereka.

Sejurnlah besar sukarelawan Muslim, terutama berasal dari sisi populasi yang paling miskin, yang miskin sejak masa kecil mereka, meninggalkan rumah mereka dan bergabung dengan jaringan mullah di masjid-masjid. Mereka bekerja sebagai tentara cadangan dan mereka memainkan peranan yang esensial dalam menggerakkan kekuatan untuk demonstrasi pro atau anti-rezim. Meskipun kekuatan utama bagi kaum mullah berasal dari kaum miskin, satu sektor pedagang tradisional juga turut mendanai mereka. Fundamentalis Islam mendapatkan dukungan politik vital dari kalangan kelas menengah baru yang telah muncul sebagai hasil kemajuan kapitalis yang terbatas. Anak-anak dari kelas menengah baru memperoleh akses ke universitas, dimana mereka bertemu dengan rasa frustasi baru dan akut yang muncul dari kelangkaan pekerjaan dan prospek karir. Hal ini mendorong satu lapisan pemuda terdidik dan setengah terdidik menuju ke aktivitas teroris. Organisasi sernacarn Hizbullah, Harnas, FIS (Front Pembela Islam), dan lain-lain, datang terutama dari lapisan ini. Keputusasaan para pemuda ini mencapai titik dimana mereka telah siap sedia untuk merelakan nyawa dalara serangan bom bunuh diri. Mereka mencari jalan menuju emansipasi dari penderitaan yang dalam atas hidup mereka, tetapi hanya satu jalan buntu yang mereka jumpai. Krisis keluarga dan sosial yang menyebarluas, alienasi dan, lebih dari itu semua, ketiadaan alternatif Marxis yang jelas telah mendorong mereka menuju lorong buntu fundamentalisme agarnis. Mengalami penderiataan dari keadaan sekarang yang tanpa harapan, dan tak berpengharapan di masa depan, mereka berpijak pada masa lampau untuk mendapatkan penghiburan, dan masa lalu bagi mereka menjadi penuh gemerlap. Kemiskinan masal, kesengsaraan, penindasan sernua terkombinasikan membuat fenomena fundamentalisme sernakin menjadi-jadi. Dan perpecahan terus-menerus di antara organisasi ini menciptakan sebuah lingkungan vang diinginkan bagi konflik penuh kekerasan, yang paling menyesakkan, mendekati sebuah situasi yang mirip dengan perang saudara.

Dengan demikian, dimanapun seseorang melihatnya, sulit ditemukan sebuah rezim borjuis Muslim tunggal yang stabil. Sebuah krisis yang mengerikan membayangi di negeri ini. Sebuah titik balik adalah pada bulan Februari 1979, tatkala rezim Shah jatuh. Bagaimanapun juga, sejak awal telah terdapat salah kaprah yang menyebarluas mengenai sifat dan kandungan revolusi Iran. Fundamentalis Islam memproklamirkan hal itu sebagai kemenangan ideologi dan intelektual Islam atas imperialisme. Mereka secara sistematis mendistorsi fakta sebenarnya dalam revolusi Iran. Dalam hal ini, mereka melakukan yang terbaik untuk menyembunyikan dan mengingkari peranan kelas pekerja dalam revolusi. Kebohongan ini terulang oleh kaum imperialis yang memiliki alasan tersendiri atas keterangan yang tidak benar tentang keadaan revolusi Iran, khususnya untuk membingungkan dan mengecewakan kaum buruh di Barat. Beberapa intelektual borjuis sampai sejauh ini memproklamirkan Syi’ah sebagai sebuah fenomena “revolusioner”. Mereka semua menghadirkan satu gambaraas yang benar-benar salah tentang revolusi.

Sebagian merupakan akibat dari propaganda tahunan oleh pihak borjuis, fakta tentang revolusi Iran sekarang merupakan sebuah buku yang tersegel rapat bagi kebanyakan orang. Merupakan suatu hal yang sangat penting untuk menelanjangi peran sesungguhnya yang dimainkan oleh kaum fundamentalis di Iran: bagaimana mereka telah membajak revolusi tersebut, menghancurkan kelas pekerja, mengembalikan relasi kapitalis dan negara borjuis. Para mullah Iran telah menikmati hubungan baiknya dengan Dinasti Qajar, mereka menguasai posisi jabatan-jabatan kunci di bawah Shah, khususnya dalara lembaga yudisier. Mereka juga menarik banyak uang dari para pedagang, serta pendapatan yang mereka dapat dari tanah-tanah wakaf (hibah).

Satu kubu mullah telah berpartisipasi dalam gerakan menentang Shah di tahun 1892 ketika Shah memberikan konsesi lebih besar kepada imperialis Inggris dalara penjualan dan ekspor tembakau. Konsesi tersebut memberikan dampak bagi kelas pedagang, dan tekanan dari para pedagang membikin para mullah riuh memprotes kebijakan Shah. Tapi sebelumnya, para mullah itu telah berintegrasi hangat dengan dinasti Qajar. Pada tahun 1927, beberapa mullah melancarkan protes terhadap kebijakan reformasi Shah,, yang termasuk di dalamnya reformasi terhadap institusi Iegal dan edukasional. Pada tahun 1936 Shah mensahkan undang-undang yang memperbolehkan wanita membuka cadarnya, dan menjadikan sistem hukum dan pendidikan berada di bawah kontrol negara.

Setelah kudeta tahun 1953 oleh CIA terhadap Mossadeq, yang mengembalikan kekuasaan kepada Shah, mereka beraliansi kembali dengan rezim tersebut. Pada periode itu, mereka secara terbuka berkubu dengan kediktatoran Reza Khan. Kekuatan-kekuatan oposisi yang tersisa bertahan dalam keadaan tercerai-berai. Setelah tahun 1953 Partai Tudeh melakukan kritik pribadi dengan merengkuh kebijakan sektarian kiri tanpa sepenuhnya mendukung pemerintahan Mossadeq. Akan tetapi sebagai hasilnya, mereka hanya semakin dalara tenggelam dalam rawa berlumpur. Pada tahun 1963 selama masa Revolusi Putih Shah, partai ini mengambil sikap diara dan tetap pasif sebagai penonton munculnya peristiwa demi peristiwa. Front Nasional, setelah kudeta tahun 1953, mengalami bertumpuk macam perpecahan. Walau demikian, seperti yang telah kita saksikan, kaum mullah hanya muncul sebagai kekuatan oposan pada tahun 1963, ketika mereka bangkit menentang land reforin. Land reform dipandang sebagai sebuah ancaman terhadap properti hibah yang digunakan sebagai sumber pendapatan penting bagi kaum mullah. Mereka bergabung dengan kubu pemilik tanah feodal guna mengorganisasir sebuah kampanye menentang reformasi-yang bukan berasal dari aksi revolusioner, melainkan berasal dari satu pendirian yang murni reaksioner. Hanya pada titik ini Khomeini muncul sebagai seorang pemimpin anti-Shah. Mayoritas mullah sebenarnya memberikan dukungan terhadap rezim Shah. Kekritisan pertama Khomeini mengemuka tatkala dia menuduh bahwa Shah mengabaikan pedoman ajaran Islam demi mengadopsi imperialisme. Akan tetapi kekritisannya masih dalam batas-batas sang penguasa. Dia sekedar memprotes tindakan Shah yang melampaui batas.

Bagaimanapun juga, kepentingan yang berbenturan antara Shah dengan para penghuni masjid meningkat dan menghasilkan konflik-konflik baru. Ketika Shah mengumumkan sebuah referendum pada “Revolusi Putih”-nya, Khomeini dan para pemimpin keagamaan menentangnya, dan rezim itu menyerang para pemrotes. Khomeini ditahan. Setelah itu Khomeini diasingkan selama 15 tahun. Dalam pengasingannya beliau menulis buku Velayat-e-Faqih (Peraturan Para Ahli Hukum) dimana beliau memaparkan tentang bagaimana cara mencapai sebuah bentuk murni Islam, dan bagaimana hal itu diterapkan dalara lingkup kenegaraan. Dihabiskannya banyak waktu di Najaf untuk menyampaikan kuliah tentang Islam, dan menyerukan semua pemimpin agama untuk bergerak bahu membahu menentang Shah.

Pada bulan September 1978 serangkaian pemogokan masal mengoyak negeri itu. Bermula oleh satu unjuk rasa menentang pembunuhan, aksi itu dengan cepat berubah menjadi aksi boikot atas dasar tuntutan ekonomi dan politik. Sesungguhnya mayoritas demonstrasi, khususnya pada enam bulan pertama tahun 1978, terkait dengan penegakan hukum keagamaan. Pada bulan Desember 1977, Khomeini kembali menyerukan penggulingan Shah dan menegakkan kembali konstitusi tahun 1905. Melalui masjid-masjid, para mullah mengumpulkan kekuatan anti-Shah dan menarik para pedagang, proletar-kelas bawah, dan bahkan Partai Tudeh serta beberapa kubu Front Nasional untuk bergabung.

Meskipun demikian, seperti yang telah kita amati, peristiwa kunci yang menyebabkan Shah jatuh, bukanlah yang dilakukan oleh para borjuis kecil ataupun kelas miskin kota, tetapi pemogokan yang dilakukan oleh para pekerja yang telah maju, khususnya para buruh minvak. Negara itu mengalami kolaps, pemberontakan merajalela dalam tubuh angkatan bersenjata. Hal ini merupakan hasil dari gerakan masal dari kelas pekerja. Sayangnya, mengacu terhadap ketiadaan faktor subyektif, yaitu partai revolusioner, sebagian besar gerakan yang muncul menjadi teridentifikasikan dengan Khomeini. Pada saat kembalinya Khomeini ke Teheran bulan januari 1979, dia menjelma menjadi “pemimpin oposisi” simbolik. Setelah penggulingan Shah, sebagaimana yang telah kita paparkan, shura (soviet) bangkit di pabrik-pabrik; universitas-universitas berada di bawah kendali mahasiswa-mahasiswa berhaluan kiri; di perkotaan, administrasi bergaya shura dibentuk.

Semula Khomeini bergerak dengan penuh kebijaksanaan. Dia menunjuk Bazargan (perwakilan dari Front Nasional) sebagai perdana menteri. Akan tetapi terdapat sentra otoritas yang lain-yang dikenal sebagai dewan revolusioner, yang diunggulkan oleh Khomeini. Melalui aliansi dengan Bazargan, mereka membuka satu kampanye menentang shura dan gerakan nasional suku Kurdi. Mereka membentuk Hizbullah, sebuah organisasi teroris yang dimanfaatkan untuk melawan kekuatan kiri dan aktivis wanita.

Khomeini mempergunakan taktik Bonapartis ini untuk mengkonsentrasikan kekuatan di tingkat atas dan mengisolasi Bazargan. Dia mengirim pendukungnya untuk menduduki Kedutaan Besar Amerika dan kemudian memanfaatkan sentimen populer anti-Amerika guna menggerakkan kekuatan massa di belakang Partai Islam Republik (PIR). Dalam kesemuanya ini, Partai Tudeh berdiri mendukung Khomeini. Ketika dia telah mengatasi aliran revolusioner pada tingkat tertentu, dia membentuk sebuah aliansi dengan Bani Sadir untuk menyerang universitas yang tidak berada dalam kontrol fundamentalis. Mereka mengirimkan pendukung genggeng militan Hizbullah untuk menginvasi universitas, dengan brutal membunuhi mahasiswa dan membakari literatur yang tersisa serta kemudian menutup seluruh akademi dan universitas selama tiga tahun. Dia juga mendayagunakan segala macam peristiwa-peristiwa eksternal untuk mengkonsolidasikan kekuatan lebih besar di tangannya. Invasi Irak, taktik penjelajah organisasi ultra-kiri, seperti pemboman markas besar PIR-kesemua faktor ini membantu Khomeini untuk merapatkan genggaman atas kekuasaan dan keseimbangan antara faksi yang berbeda dalam tubuh PIR. Cita-cita pertama Khomeini adalah membasmi gerakan independen kelas pekerja Iran yang telah melaksanakan revolusi. Setelah mengkonsolidasi kekuatan di tingkat atas, secara brutal diremukkannya shura, memakai gerakan Islami Hizbullah dengan dalih bahwa mereka “disangga oleh CIA”.

Fundamentalisme merepresentasikan sebuah jalan buntu yang mengerikan bagi rakyat. Dengan mengambil langkah negatif, fenomena ini merepresentasikan sebuah konfirmasi yang menggempur teori revolusi permanen. Dalara basis kapitalis, tiada langkah maju bagi Iran. Kegagalan proletariat untuk mengambil alih kekuasaan ketika memungkinkan berakibat, bukan kemajuan, tetapi sebuah kemunduran yang mengerikan. Selarna dua puluh tahun Iran berada dalara cengkeraman reaksioner religius. Betapapun juga, dalara pandangan historis yang lebih luas, kebangkitan fundamentalisme lebih terlihat sebagai sebuah penyimpangan yang sementara. Merupakan sebuah paradoks, kemunculan tatanan sebuah “republik Islam” akan terbukti sebagai keruntuhan kaum fundamentalis. Fakta bahwa kaum fundamentalis telah mendapatkan kekuasaan, dan telah memiliki waktu dua dekade untuk mengungkapkan jati dirinya, memberikan rakyat kesempatan berlimpah untuk memahami sifat reaksioner dan korup dari fundamentalisme.

Pada saat ini, kediktatoran kaum mullah mulai mendekati ambang batas. Para ulama berpegang erat pada kekuasaan dan sejauh ini telah berhasil, utamanya melalui kelembaman (inersia) sementara dari massa. Hal’ ini tidak akan berlangsung selamanya. Tentara dan polisi Shah yang perkasa tidak dapat menyelamatkan diri begitu para buruh mulai bergerak. Setelah 20 tahun pemerintahan vang dilakukan kaum mullah, rakyat dijejali dengan kemunafikan dan korupsi. Para pemuda sekarang dalam keadaan revolusi terbuka. Perpecahan dalara tubuh pihak mullah dan kekalahan mereka barubaru ini dalara pemilu mengindikasikan dimulainya sebuah proses yang baru. Pada tingkat tertentu, ada kemungkinan terjadinya sebuah ledakan revolusioner dari kaum proletar Iran yang akan mengejutkan dunia, seperti yang mereka lakukan pada tahun 1979. Akan tetapi kali ini pesan tersebut mesti jelas: Alternatif terhadap imperialisme dan kapitalisme bukanlah fundamentalisme, tetapi revolusi sosialis.

TAMAT

Oleh: adek | November 1, 2007

mimpi apa SEMALAM

dream.jpgPagi ini aku mulai gelisah, didalam mobil yang membawaku ke UKI, sejak aku menyadari bahwa dompetku tak bisa kutemui didalam tas, aku mulai bersikap enggak karuan. Semua laci yang ada ku kubuka dan kucari dengan teliti dan penuh harap, siapa tau ada selipan yang tersisa atau apa saja yang bisa dilakukan sebagai alat pembayaran yang sah di negera ini.

Tiba-tiba aku menginginkan mobil yang membawaku untuk bergerak dengan pelan sampai kutemukan uang untuk membayar. Tapi tak kuasa setengah menantang takdir diomelin supir.  Ya sudahlah pikirku karena kegelisahan ku kepalang mengganggu penumpang kiri dan kanan. Aku terus saja mencari dan berdoa, terbayang malu jika turun tidak membayar dan harus memberikan argumen yang tepat, muka yang pas, supaya yang Mulia Supir bisa menerima aku sebagai penumpang gratisnya hari ini.. Jauh dari itu aku memikirkan bagaimana membuat awalan hari menjadi lebih cerah.

Pikirku ke malam tadi ….
Mimpi apa hari ini …, semalaman aku enggak tidur setelah, Ngelawat tetangga sebelah rumah yang meninggal karena gula dan aku sudah tidak bernapsu makan dan segera mendapati ruang-ruang dalam kamar rumahku berair semata kaki, kucoba mencari penyebab banjir ini dan kutemukan ternyata saluran air ditutup istriku untuk mencegah tikus tidak keluar dari lubang pembuangan air dan mengacak-acak sampah. Walhasil ketika hujan deras turun air masuk dengan sukses masuk keruang tamu dan kamar tidur.

Makin lemes aku membuka kamar dan kudapati CPU komputer yang ngeletak dilantai jadi korban pertama, akhirnya kunaikan dan air mengucur deras dari lubang-lubang kecil pada CPU. Hatiku berteriak seketika, mateeeee !
Kutelpon Istri yang masih dijalan menanyakan dimana hairdryer, dan dijawab masih dimobil katanya. Aku meraih tissu dan ku lap satu persatu part yang ada didalamnya. Berharap keras supaya data yang ada masih bias diselamatkan. “Ah besok saja baru kucoba nyalakan, takutnya meleduk sekarang karena belum pasti kering benar”.

Malam tadi juga pekerjaannya berlanjut ke menguras genangan air serta mengepel hingga bersih hingga jam 12 malam, membuatku akhirnya cape .. dan bangun tidur telat.

Saat bangun dan tersadarkan jam kerja mulai mendekat aku buru buru aku mandi dan dompet masih tergeletak di atas meja tengah, andai saja dompet bisa berteriak mungkin dia akan berseru… “Boss, emang jalanan punya negara, kagak pakai bayar !!!”

Aku tersentak karena jariku menyentuh kertas, tapi masih ragu apakah itu catatan kecil atau asli uang, aku sedikit berdoa, Catthaaa ternyata benar uang, aku diuntungkan dengan lipatan uang 20-ribuan yang sudah tercuci dan tersetrika sekian lama terpendam dalam kantong kecil diatas kantong besar celana jeans depan.

Aku menarik napas lega… tak jadi mengamen kali ini ha ha …., tapi tunggu dulu setelah turun pak supir jelas langsung marah-marah saat ku sodorkan uang 20 puluhan itu, ” Eh Mas, kalo pagi-pagi genee pakai uang pas donk, situ sengaja ya biar enggak ada kembaliannya, udah tau sewa pagi, Gw apalin muka lo ya besok dobel.”

Beeeeteeeeeeee banget kan aku jadinya.

Oleh: adek | Oktober 31, 2007

kuncir SETANG MOTOR

mode.jpgDari siang aku mesem-mesem aja seharian, pas siang tadi istri telpon dari Plasa Semanggi katanya lagi nyari karet ikat rambut buat Moza.  Lagi-lagi anakku ini buat ketawa saja. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah, kepada ibunya Moza minta di buatkan kuncir Setang Motor pada rambutnya.

Yang tak habis pikir masalahnya adalah si Moza  dapat  dimana  istilah ini, allllahh mak, bapakmu ini kuper amat  seh.., enggak terbayang tuh bagaimana kuncir setang motor itu ada di rambutnya..  

yakuza_logo_preview.jpgSejarah panjang Yakuza dimulai kira-kira pada tahun 1612, saat Shogun Tokugawa berkuasa dan menyingkirkan shogun sebelumnya. Pergantian ini mengakibatkan kira-kira 500.000 orang samurai yang sebelumnya disebut hatomo-yakko (pelayan shogun) menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum ronin.

Seperti kata pepatah : “orang yang hanya punya martil cenderung melihat segala sesuatu bisa beres dengan dimartil..”, demikian juga dengan kaum ronin ini. Banyak dari mereka menjadi penjahat dan centeng. Mereka disebut sebagai kabuki-mono atau samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Terdapat kesetiaan tingi di antara sesama ronin sehingga kelompok ini sulit dibasmi.

Apakah kaum ronin ini yang menjadi biang Yakuza…? Bukan.

Untuk melindungi kota dari para kabuki-mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk machi-yokko (satgas kampung). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki mono. Di kalangan rakyat Jepang abad ke 17 – kaum machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.

Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulung para ronin, para anggota machi-yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka – dan memilih jadi preman. Hal ini diperparah lagi dengan turut campurnya Shogun dalam memelihara para machi-yokko ini. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Namanya saja kaum pedagang – tetapi pada kenyataannya, kaum Tekiya ini suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Boss-bapak) dan Kobun (bawahan-anak), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza.

PEJUDI SEWAAN

Kaum Bakuto (penjudi), punya sejarah yang unik. Awalnya mereka disewa oleh Shogun untuk berjudi melawan para pegawai konstruksi dan irigasi. Untuk apa…? Agar gaji para pegawai konstruksi dan irigasi habis di meja judi – dan tenaga mereka bisa disewa dengan harga murah!

Jenis judi yang biasa dilakukan adalah menggunakan kartu Hanafuda dengan sistem permainan mirip Black Jack. Tiga kartu dibagikan dan bila angka kartu dijumlahkan – maka angka terakhir menunjukkan siapa pemenang. Nah diantara sekian banyak “kartu sial”, kartu berjumlah 20 adalah yang paling sering disumpahi orang, karena berakhiran nol. Salah satu konfigurasi kartu ini adalah kartu dengan nilai 8-9-3 – yang dalam bahasa Jepang menjadi Ya-Ku-Za – yang kemudian menjadi nama asal Yakuza.

Dari kaum Bakuto ini juga muncul tradisi menandai diri dengan tattoo sekujur badan (disebut irezumi) dan yubitsume (potong jari) sebagai bentuk penyesalan ataupun sebagai hukuman. Awalnya hukuman ini bersifat simbolik – karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat si empunya tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan mantap. Hal ini menjadi simbol ketaatan terhadap pimpinan.

YAKUZA MODERN

Waktu pun berlalu, kaum Bakuto dan Tekiya menjadi satu identitas sebagai Yakuza. Kaum yang asalnya bertugas melindungi masyarakat – menjadi ditakuti masyarakat. Para pimpinan Jepang memanfaatkan hal ini untuk mengendalikan masyarakat dan menggerakkan nasionalisme. Yakuza ikut direkrut oleh pemerintah Jepang dalam aksi pendudukan di Manchuria dan China oleh Jepang tahun 1930-an. Para Yakuza dikirim ke daerah tersebut untuk merebut tanah, dan memperoleh hak monopoli sebagai imbalan.

Peruntungan kaum Yakuza berubah setelah Jepang menyerang Pearl Harbor. Militer mengambil alih kendali dari tangan Yakuza. Para anggota Yakuza akhirnya harus memilih apakah bergabung dalam birokrasi pemerintah, jadi tentara atau masuk penjara. Boleh dikata pamor Yakuza tenggelam.

Setelah Jepang menyerah, para anggota Yakuza kembali ke masyarakat. Muncul satu orang yang berhasil mempersatukan seluruh organisasi Yakuza. Orang itu adalah Yoshio Kodame, seorang ex-militer dengan pangkat terakhir Admiral Muda (yang dicapainya di usia 34 tahun). Yoshio Kodame berhasil mempersatukan dua fraksi besar Yakuza, yaitu Yamaguchi-gumi yang dipimpin Kazuo Taoka, dan Tosei-kai yang dipimpin Hisayuki Machii. Yakuza pun bertambah besar keanggotaannya terutama di periode 1958-1963 – saat organisasi Yakuza diperkirakan memiliki anggota 184.000 orang – atau lebih banyak daripada anggota tentara angkatan darat Jepang saat itu. Yoshio Kodame dinobatkan sebagai godfather-nya Yakuza.

ECSTASY, PACHINKO DAN PELUNCUR ROKET

Di masa kini, keanggotaan Yakuza diperkirakan telah menurun tajam – tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Tulang punggung bisnis illegal mereka adalah pachinko, perdagangan ampethamine (termasuk ice dan ecstasy), prostitusi, pornografi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata.

Di era 1980-an, Yakuza mengembangkan sayap mereka hingga ke Amerika, dan ikut masuk dalam bisnis legal untuk mencuci uang mereka. Dalam operasinya, Yakuza membeli asset di Amerika – dan salah satu yang pernah mencuat ke permukaan adalah keterlibatan Prescott Bush Jr., saudara dari presiden George Bush dan paman dari Presiden George W. Bush Jr., dalam transaksi penjualan perusahaan Asset Management International Financing & Settlements di awal 1990-an.

Berdasarkan perkiraan kasar dari sumber majalah Far Eastern Economic Review edisi 17 Januari 2002 – Yakuza diperkirakan telah menanamkan uang hingga USD 50 Milyar dalam investasi saham dan perusahaan di Amerika. Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang USD 36 Milyar.

Di dalam negeri, Yakuza juga ditengarai turut berperan dalam anjloknya ekonomi Jepang selama 10 tahun terakhir. Sebagai akibat amblasnya bisnis properti dan macetnya kredit bank di Jepang pasca 1990 – banyak debitor yang menyewa anggota Yakuza agar agunan mereka tidak disita oleh bank. Selain itu, banyak perusahaan yang memperoleh pinjaman bank – pada dasarnya adalah sebuah kigyo shatei atau perusahaan boneka miliki Yakuza. Perusahaan milik Yakuza ini diperkirakan memperoleh kredit antara USD 300-400 Milyar, dan sebagian dari jumlah itu dialirkan ke induk organisasi Yakuza. Menghadapi hal seperti ini – bank Jepang jelas tidak bisa berkutik.

Di sisi lain, anggota Yakuza juga kerap membeli asset properti dengan harga miring dari perusahaan yang butuh cash – untuk dijual kembali dengan harga tinggi – apapun itu mulai dari apartemen, perkantoran hingga rumah sakit. Bila sebuah bangunan telah dibeli oleh Yakuza – siapa sih yang berani jadi tetangga mereka? Alhasil harga properti langsung amblas, dan segera naik segera setelah Yakuza menjualnya.

Selain beroperasi secara di level bawah, Yakuza juga menggurita di kalangan politisi Jepang. Beberapa praktek suap telah terbongkar termasuk dalam program tender proyek umum senilai trilyunan yen. Program rekapitalisasi perbankan Jepang yang berlarut-larut tidak kunjung selesai – diperparah oleh keterlibatan Yakuza yang sangat berkepentingan dalam bisnis properti dan kredit perbankan. Saat ini perbankan Jepang masih menanggung beban kredit macet sebesar kira-kira USD 1,2 Trilyun – dan membuat ekonomi tidak bertumbuh selama 10 tahun terakhir
(dikutip dari wikipedia)

BlueFame Forums: A Blue Alternative Community > BlueFame Pustaka > Sejarah > Sejarah Dunia

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.