Oleh: adek | Desember 19, 2008

Dorongan MESRA Budi (almarhum)

Waktu reunian SMUNSA-Tanjongpandan kemarin, Bang Novil sempat menyinggung sebuah nama teman lama yang sudah tak ku dengar.   Budi, nama lengkapnya aku tidak ingat, merupakan adik kelas ku di sekolah dasar, tapi karena rumahnya tidak jauh dari rumah kami, dan aktivitas hariannya selalu melewati tempat tinggal kami itu maka aku selalu ingat dengannya walaupun sudah tak satu sekolah lagi ketika menginjak dewasa.

Nah … apa yang mau kuceritakan tentang temanku ini, yang pertama aku baru tahu dari Bang Novil kalau Budi telah almarhum, tak lama setelah dipindah-tugaskan di unit narkotika.  Ya, setahuku dia adalah seorang polisi, aku juga tidak jelas apa satuannya, yang pasti aku pernah bertemu dia di satu masa.  Tahukah kawan … dimasa itu dimana situasinya sangat tidak enak, betul-betul tidak nyaman., tapi terpaksalah dibuat nyaman dipertemuan singkat itu.

Sampai 1999 setelah kejatuhan Soeharto di tahun 1998, masih ada organisasi mahasiswa yang turun kejalan karena menganggap perjuang belum selesai.  Waktu itu kami yang masih tergabung dalam Font Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi atau sering disingkat FAMRED dan hari itu sedang turun kejalan menuju Tugu Proklamasi (Tuprok), dari arah Salemba.

Sebenarnya di Tuprok sendiri sudah ada ratusan mahasiswa dan rakyat yang berkumpul dan mulai terakumulasi, sebagian masih dijalan seperti rombongan aksi kami.  Rombongan kami terdiri dari lebih dari 150 orang yang berkumpul dari Kampus ABA-ABI Matraman. Dan dalam perjalanan itulah akhirnya tertahan oleh puluhan polisi berpakaian lengkap anti huru-hara 2 lapis.

Tepatnya di persimpangan gedung TEMPO. Dalam keadaan seperti ini FAMRED yang udah terkenal dengan ANV (active non violence), biasanya tidak akan memaksakan diri merangsek masuk, tapi lewat negosiasi yang ternyata juga tak berhasil. Lalu Korlap aksi rundingan sebentar melihat potensi lapangan dan diputuskan untuk senam-senam kecil dengan tetap memaksa masuk karena Tuprok yang sudah ada didepan mata, cuma 100 meter kedepan tapi kok masih dilarang juga sih.

sna-018Akhirnya aksi dorong-dorongan di mulai, didalam kondisi ini simpul kampus bersinggungan langsung dengan aparat polisi sedangkan masa aksi dibelakang…., tahukan kawan apa yang kulihat persis pada lapisan terdepan dari polisi anti huru-hara tersebut, yap tepat sekali didepanku. Ternyata dia adalah Budi, teman kampungku itu.

Bagaimana perasaan kami berdua waktu itu didalam kondisi tegang dan saling dorong.  Aku tak ingat persis seperti apa percakapanku waktu itu tapi point-pointnya seperti ini.

“Oi Dek, ngape kao ne disinek ! ( Oi Dek, kenapa kamu ada disini !), sambil tatap-tatapan mata.

“Udah lama Bud endak ketemu kao, kiape keluarga”, – loh kok nanya keluarga.

“Baik aku sering main ke asrama pilot, kapan-kapan kita ketemu disana”, katanya menyebutkan Asrama anak Belitong yang berada di jalan Garuda Jakarta Pusat.

“Jadi sekarang kite gimana, aku endak enak ama komandan kesatuanku di pojok sana yang megang HT”.

“Ya udah tetap aja tapi dorongnya yang mesra ya”, kataku sambil kita ketawa dalam hati..

Untungnya kejadian itu tak lama bisa ketahuan sosiodrama kami mainkan berdua waktu itu, Rombongan Aksi kami berhasil menembus brikade dari samping, selalu demkian karena kami pakai siasat, sementara para aparat itu harus tunggu perintah dulu ketika ada formasi lain yang hendak dibentuk.

Jadi dorongan mesranya cuma sebentar doang. Kejadian itu pernah disinggung simpul kampus lain setelah aksi itu, kok tadi ada yang aneh dilapangan, aku diam saja tak pernah bercerita.

Sekarang dia sudah Almarhum dan hanya cerita ini yang tersisa, Selamat Jalan Bung semua Allah menempatkanmu pada sisi yang selayaknya. … Amieennnnn.

Oleh: adek | Desember 12, 2008

Umak dinyatakan sembuh …

Aku benar-benar gembira hari ini….   Dari 1,5 bulan rangkaian pengobatan Umak di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, usai sudah dan ditutup dengan hasil yang memuaskan. ( maap pilihan katanya salah ya…).  Ini bukan berarti menang atau kalah dalam sebuah pertandingan, Tapi bagi aku dan istriku-Sari perihal pernyataan dokter yang kami terima pagi ini sangat membuat kami lega. Alhamdulillah….!

Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya bahwa di bulan Agustus 2008 lalu aku sempat pulang kampung dikarenakan berita bahwa Umak masuk ICU karena adanya penyumbatan pada pembuluh darahnya. Seperti yang kalian tahu bahwa kampungku berada di pesisir, jadi untuk makan enak seperti udang tidaklah susah. Dan makan enak itulah yang merupakan salah satu pemicu sakitnya ini.

 Lalu kami berniat untuk memeriksakan umak ke Jakarta, dengan maksud untuk mendapatkan analisa yang tepat terhadap penyakit Umak ini, karena dikampungku ada keterbatasan alat dan dokter spesialis jantungpun memang belum ada, adapun itu karena dokter-terbang dari Jakarta, tetapi alat analisa dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang optimal belum lengkap..

Selain itu aku tidak bisa membayangkan kesembuhan Umak dengan obat yang harus diminumnya sebanyak 10 macam sehari….., komplikasi bisa jadi kupikir.

Sedangkan bagi umak sendiri berpikir datar saja bahwa dia merasa sudah tua dan 62 tahun katanya memang pantas sakit, tapi tidak bagi kami, Umak mesti sehat ….

Dan setelah kepulangan dari Belitong itulah, terutama Sari mulai mencari informasi dokter jantung dan mulai kamipun menahan diri dari pengeluaran-pengeluaran yang belum perlu. Singkatnya kami ingin Umak sehat, dilain hal penyakit Jantung bukanlah penyakit yang murah untuk biaya analisa dan pengobatannya. Dan juga sangat susah membujuk Umak untuk diajak berobat ke Jakarta.

Akhitnya ketika Umak mengatakan Iya…. berangkatlah mereka ke Jakarta.

Dan sebelumnya kami telah mendapat informasi dari salah seorang teman yang menyarankan untuk mempertemukan Umak dengan Profesor Budhi Setianto di National Cardiovascular Center Harapan Kita, di jalan Let Jend S. Parman Slipi.

Dikunjungan pertama sepuluh macam obat langsung berkurang menjadi 4 macam, itupun setelah di lakukan test medis mulai di Echocardiography (bener ngak nulisnya ya… ) terus di Treadmil Stress. Dan ada obat yang hanya dimakan seminggu 3 kali.

Kunjungan berikutnya Jantungnyapun dinyatakan sehat, tapi hasil cek livernya terganggu, lalu dilakukan pengecekan, dan pantangan beberapa makanan sampai akhirnya hari ini hasil USG abdominalis atas menyatakan normal.

Besok minggu Umak akan kembali pulang ke Belitong, setidaknya hal ini telah membuatnya lega, terlebih kami anak-anaknya. Semoga saja kita mulai menghargai kesehatan kita….

Upsss tapi sebentar kawan….. dengan adanya pelajaran sakit jantung di Umak ini, lantas membuatku akan berhenti merokok ngak …? Ha ha ha ha mengurangi iya, tapi masih susah berhenti…..

Oleh: adek | Desember 10, 2008

Embrio Komunitas ALUMNI SMUNSA-TP … muncul

dsc_67891

Sampai tahun 2008, SMA Negeri 1 Tanjungpandan-Belitung yang dulunya disingkat SMUNSA-TP atau SMAN1 Tanjungpandan, telah menghasilkan 42 angkatan kelulusan, kalau kita hitung perangkatan 100 orang saja maka sekolah itu telah menghasilkan lulusan sebanyak 4200 orang yang sekarang tersebar diseluruh muka bumi ini.

Dan hari itu sebuah embrio komunitas ALUMNI-SMUNSA dimunculkan. Pertama kali ketika mendapat undangan via Japri oleh Kak Endah aku langsung mengiyakan.

Dan hari yang ditunggu tiba… .. gembira campur sedih karena yang datang lebih dari 40 orang yang mewakili dari yang paling senior angkatan 1984 sampai yang muda tahun 2000. Bertempat di Bellagio-Mega Kuningan.

Acara di mulai dengan regestrasi dan softdrink. Setelah pembukaan dan 3 patah kata dari 3 angkatan yang mewakili, kamipun satu persatu memperkenalkan diri. Maklumlah, sudah lama sekali dan untung saja masing-masing orang memakai name tag jadi tak salah sapa.

Adik Nelly angkatan lulus 1995, berkesempatan maju dan berbicara didepan, ada satu kalimat yang aku ingat, “Aku hari ini nak sepuas-puasnye becakap Belitong !”, Aku langsung berasa hal yang hampir sama, tiba-tiba pagi hari rabu itu rasa Kebelitonganku membuncah, aku ingin berbicara dengan bahasa Belitong sepuas-puasnya, karena di aku sendiri sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia.

Beda kalau di milis Belitong karena ngetik pakai bahasa Belitong atau nelpon pakai bahasa Belitong… ini FEEL-nye beda karena dipertemuan ini lawan bicaranya didepan mata dan banyak pula, kita boleh pilih sapa saja yang kita mau ajak bicara ha ha ha….karena semue tersedia dan tumpah ruah disitu ha ha.. ha…

Padahal mungkin dari segi kerjaan diantara alumni yang hadir semalam pernah saling ketemu, entah itu sebagai konsultan yang mengaudit tempat kerjanya atau pernah ketemu dijalan. Tapi FEEL itu tidak dapat dan hanya ditemui diacara ini apalagi MCnya Bang Novil patnerku di BFM-Begalor .com dulu ditambah pula Teddy yang dengan sebetuk-betuknye menjadi MC dimalam itu.

Sayangnya aku seperti jagoan sendiri yang terlihat enggak gaul, karena ternyata beberapa diantara alumni ini saling kontekan diantara teman seangkatannya jadi angkatannya tidak sendirian.

Konon dari hasil pembicaraan berikutnya akan dibuat yang lebih akbar dan dalam jangka dekat akan segera dibuatkan buku alumni… Acara yang dimulai dari 17.30 ini sampai jam 21.45 wib masih terasa kurang….

dsc_6793

Oleh: adek | Desember 7, 2008

foto NARSIS, he .. he ..he…

nemu foto ini …. kapan ya tahun 1998 kah…

sna-009

…. aku, Arif dan yang orasi Sinton

Oleh: adek | November 15, 2008

foto hari ini …

Foto hari ini…. Umak, Bapak Moza dan Kiki (anak Bang Riza)

happ

@ pamulang…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori