Waktu reunian SMUNSA-Tanjongpandan kemarin, Bang Novil sempat menyinggung sebuah nama teman lama yang sudah tak ku dengar. Budi, nama lengkapnya aku tidak ingat, merupakan adik kelas ku di sekolah dasar, tapi karena rumahnya tidak jauh dari rumah kami, dan aktivitas hariannya selalu melewati tempat tinggal kami itu maka aku selalu ingat dengannya walaupun sudah tak satu sekolah lagi ketika menginjak dewasa.
Nah … apa yang mau kuceritakan tentang temanku ini, yang pertama aku baru tahu dari Bang Novil kalau Budi telah almarhum, tak lama setelah dipindah-tugaskan di unit narkotika. Ya, setahuku dia adalah seorang polisi, aku juga tidak jelas apa satuannya, yang pasti aku pernah bertemu dia di satu masa. Tahukah kawan … dimasa itu dimana situasinya sangat tidak enak, betul-betul tidak nyaman., tapi terpaksalah dibuat nyaman dipertemuan singkat itu.
Sampai 1999 setelah kejatuhan Soeharto di tahun 1998, masih ada organisasi mahasiswa yang turun kejalan karena menganggap perjuang belum selesai. Waktu itu kami yang masih tergabung dalam Font Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi atau sering disingkat FAMRED dan hari itu sedang turun kejalan menuju Tugu Proklamasi (Tuprok), dari arah Salemba.
Sebenarnya di Tuprok sendiri sudah ada ratusan mahasiswa dan rakyat yang berkumpul dan mulai terakumulasi, sebagian masih dijalan seperti rombongan aksi kami. Rombongan kami terdiri dari lebih dari 150 orang yang berkumpul dari Kampus ABA-ABI Matraman. Dan dalam perjalanan itulah akhirnya tertahan oleh puluhan polisi berpakaian lengkap anti huru-hara 2 lapis.
Tepatnya di persimpangan gedung TEMPO. Dalam keadaan seperti ini FAMRED yang udah terkenal dengan ANV (active non violence), biasanya tidak akan memaksakan diri merangsek masuk, tapi lewat negosiasi yang ternyata juga tak berhasil. Lalu Korlap aksi rundingan sebentar melihat potensi lapangan dan diputuskan untuk senam-senam kecil dengan tetap memaksa masuk karena Tuprok yang sudah ada didepan mata, cuma 100 meter kedepan tapi kok masih dilarang juga sih.
Akhirnya aksi dorong-dorongan di mulai, didalam kondisi ini simpul kampus bersinggungan langsung dengan aparat polisi sedangkan masa aksi dibelakang…., tahukan kawan apa yang kulihat persis pada lapisan terdepan dari polisi anti huru-hara tersebut, yap tepat sekali didepanku. Ternyata dia adalah Budi, teman kampungku itu.
Bagaimana perasaan kami berdua waktu itu didalam kondisi tegang dan saling dorong. Aku tak ingat persis seperti apa percakapanku waktu itu tapi point-pointnya seperti ini.
“Oi Dek, ngape kao ne disinek ! ( Oi Dek, kenapa kamu ada disini !), sambil tatap-tatapan mata.
“Udah lama Bud endak ketemu kao, kiape keluarga”, – loh kok nanya keluarga.
“Baik aku sering main ke asrama pilot, kapan-kapan kita ketemu disana”, katanya menyebutkan Asrama anak Belitong yang berada di jalan Garuda Jakarta Pusat.
“Jadi sekarang kite gimana, aku endak enak ama komandan kesatuanku di pojok sana yang megang HT”.
“Ya udah tetap aja tapi dorongnya yang mesra ya”, kataku sambil kita ketawa dalam hati..
Untungnya kejadian itu tak lama bisa ketahuan sosiodrama kami mainkan berdua waktu itu, Rombongan Aksi kami berhasil menembus brikade dari samping, selalu demkian karena kami pakai siasat, sementara para aparat itu harus tunggu perintah dulu ketika ada formasi lain yang hendak dibentuk.
Jadi dorongan mesranya cuma sebentar doang. Kejadian itu pernah disinggung simpul kampus lain setelah aksi itu, kok tadi ada yang aneh dilapangan, aku diam saja tak pernah bercerita.
Sekarang dia sudah Almarhum dan hanya cerita ini yang tersisa, Selamat Jalan Bung semua Allah menempatkanmu pada sisi yang selayaknya. … Amieennnnn.
diantara masa itu, Adek Rawie pun dicarik oleh Budi di kost kamek di Tomang, die cuma menyampaikan pesan “sebut kan Adek, kalo’ bisa tinggalkan Jakarta segera, kerene die jadi TO”. Kamek se kost ngatupkan lawang, ndak bisa agik donasi aik minum untuk mahasiswa yang undar ander ……….
Oleh: Novil on Desember 27, 2008
at 8:34 pm
TO dijaman itu, katanya adalah sebuah resiko tak meng-enakan, untungnya aku endak tau tau kalo jadi TO, kalo tau malah jadi parno-paranoid selintas pernah dengar tapi tak pernah gubris, kesannya sok tenar gitu ha ha ha…
Dulu ada teman di ITI dulu yang kebagian surat kaleng… Kasian dia. Kalo ingat kejadian tahun-tahun itu dikejar-dipukul-sampai ditembaki… menjadikan cerita tersendiri yg tak terlupakan. Ngak terbayang bisa jadi bagian sejarah dari republik ini walau tak berharap juga bisa menorehkan nama yang penting iklas lah…
Oleh: Adek on Desember 27, 2008
at 9:16 pm