Oleh: adek | April 4, 2008

post power syndrome

power-gajah.jpgSindrom pasca kekuasaan dalam bahasa Kampung kami, Belitong disebut Keburok’an Jang’ak atau dalam bahasa psikologinya disebut post power syndrome.  Istilah ini mulai akrab lagi ditelingaku ketika tahun 1998 kami banyak mendiskusikan tingkah pola para pejabat orde baru pasca mundurnya Presiden Soeharto.

Aku menulis kali ini bukanlah untuk membahas sang pejabat orde baru tadi, melainkan pengertian dari sindrom ini.  Karena sindrom ini mau tak mau aku mulai mencari arti dari post power syndrome itu sendiri.  Ternyata apa yang kami sering obrolkan tersebut adalah gejala kejiwaan yang kurang stabil yang muncul tatkala seseorang turun dari kekuasaan atau jabatan yang tinggi yang pernah dimiliki sebelumnya.

Untuk mempermudah pengertian terhadap sindrom ini, kita memerlukan contoh dan mau tak mau menyenggol mantan orang nomor 1 di negeri ini selama  32 tahun.  Konon mantan presiden ini sakit akibat tidak lagi menjadi presiden Republik Indonesia – gelar yang melekat selama kurun waktu yang tidaklah singkat.  Selain itu, kita juga banyak mendengar mantan pejabat yang menjadi labil emosinya. Mereka seakan kehilangan sesuatu yang sangat berharga lalu membiarkan kesedihan menyeretnya kedalam lamunan hingga akhirnya sakit. Bila terserang sidrom pasca kekuasaan ini maka terjadilah perubahan lewat gejala fisik menjadi cepat tua dibandingkan waktu dia menjabat, dekat sekali dengan uban rambut putih, keriput, pemurung, sakit-sakitan dan tubuh menjadi lemah.   Emosinya tinggi atau cepat tersinggung, merasa tidak berharga lagi, menarik diri dari pergaulan  dan terkadang jadi agak kasar.

Dibeberapa literatur menyebutkan orang yang rentan kena sindrom ini diantaranya adalah orang yang senang dihargai, dihormati dimana permintaannya selalu dituruti dan suka dilayani orang.  Lalu  orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena kurangnya harga diri jadi kalau ada jabatan dia merasa lebih diakui oleh orang.  Lalu terhadap orang-orang yang selalu mengkedepankan prestise jabatan dan kemampuan untuk mengatur hidup orang lain, untuk berkuasa terhadap orang lain artinya kekuasaan adalah segalanya dan sangatlah berarti bagi hidupnya.

Dengan demikian kita sedikit bisa menebak, jika kita mengasumsikan lewat jenis kelamin maka diantara pria dan wanita, maka pria lebih rentan karena wanita pada umumnya lebih menghargai relasi dari pada prestise.  Dan pria lebih menghargai prestise dan kekuasaan.

Akhirnya sampai juga kebagian akhir tulisan ini yaitu bagaimana mencegah atau mengurangi resiko sindrom ini.  Intinya kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang melekat pada diri manusia hanya bersifat sementara, titipan dari Tuhan, setinggi apapun itu cepat atau lambat akan diambil kembali oleh Nya.  Secara sadar kita juga harus selalu mepersiapkan diri jika titipan tersebut diambil kembali oleh Nya.  Jadi selama ada dipuncak yang kita pikirkan adalah kaderisasi bukan menimbun kekuasaan itu untuk diri sendiri.

Mari belajar rendah hati, sudah banyak yang menderita sindrom ini …..

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: