Oleh: adek | Maret 13, 2008

Knafa Teknik Mesin, Dek .?

gokartborder= … Tewww … tewww …. Minggu ini aku mencoba aku mengumpulkan kepingan cerita semasa kuliah di ITI.  Singkat cerita remaja Belitong ini di tahun 1994 terdaftar sebagai mahasiswa Teknik Mesin di Fakultas Teknologi Industri.  Dan seingatku, hal ini menyambungkan cita-cita kecilku sewaktu berkumpul saat bermain bersama teman-teman kecil lainnya. 

Lalu diantara kami ada yang mau jadi polisi, dokter dan arsitek dan pilihan kecilku adalah Insinyur.  Mahluk apa itu insinyur akupun tidak bisa me ‘reka, yang pasti rada-rada susah disebutkan ditengah-tengah teman yang cadel. Yang semua itu tetap konsisten menjadi pilihan utama saat memilih ruang studi sewaktu kuliah.

Perihal Kampus Jingga ini sendiri, aku dikenalkan oleh Om Kamil yang saat itu bekerja di Puspiptek-Serpong “Ada kampus Habibie, Dek didepan kantorku “, begitulah katanya kira-kira.  Setelah berbicara dengan orang tua akhirnya aku bolehlah mengambil kampus swasta dengan pertimbangan banyaknya saudara dari pihak ibu yang tinggal di daerah selatan Jakarta.

Atas usulan beberapa saudara akhirnya bapakku juga membeli rumah di daerah Pamulang sebagai tempat tinggal kami (aku dan abangku), yang dilarang keras tinggal bersama saudara dengan alasan takut memberatkan.

Waktu tahun pertama kuliah, aku seperti memasuki suasana yang sangat berbeda dengan sebelumnya, harus banyak menggali dan mencari  sendiri.  Bayangkan saja aku tidak pernah mendengar sebelumnya apa saja ruang studi Teknik Mesin itu.  Maklum saja dikampungku mesin favourite cuma mesin jahit, pompa air, mesin motor bapak, yang sedikit canggih dulu adalah orang dikampungku yang mengubah mesin potong rumput menjadi mesin untuk menggerakkan sepeda kumbang menjadi seperti motor, dan itu lumayan terpatri terus-terusan diingatanku.  Saat motor modifikasi tersebut melintas didepan rumah kami, dari jauh dengung suaranya sudah terdengar, aku yang masih SMP berlari kencang menuju tepi jalan, memperhatikan dengan serius, apa yang diperbuat Si Bujang yang mengendarainya sehingga sepeda angin bisa melaju kencang.  Setelah diberitahu mesin pembantu yang menggerakkan roda adalah mesin pemotong rumput barulah kerutan dikeningku sedikit berkurang.  

Waktu memasuki SMA aku mencoba bernegosiasi dengan Pak Itam (salah seorang Omku) yang mempunyai mesin pemotong rumput dikeluargaku bahkan mungkin di lingkungan kami.  Tapi ditolak mentah mentah.  Proposalku tidak bagus katanya.   Padahal sepeda Phonik Umakku sudah siap dikorbankan.

Di jurusan Tehnik Mesin aku melihat senior-seniorku berambut panjang, padahal dikampungku orang yang berambut panjang hanyalah milik perempuan dan laki-laki tapi gila, yang tidur dan berkelana di sudut-sudut pasar.  Bahkan Moli yang ngetop dengan kata-kata “Ape Keje-gaji ma atus bara taik ayam”, saja masih berambut pendek.  Sepertinya aku juga memasuki sindrom gila, seperti laki-laki gimbal dikampungku yang berkelana tanpa lelah disudut-sudut dipasar.

Tahun pertama demi pergaulan dengan para senior akupun ikut model rambut panjang, tapi naas teknologi re-bonding belum ngetop waktu itu, rambutku persis Ahmad Albar makkkk…. aku gondrong tapi aneh, wal hasil Umak yang mengunjungiku waktu itu setengah mengancam-memaksaku meninggalkan model rambut aneh itu.

Sepertinya aku memang kurang informasi dalam masalah mode ini, tapi untuk masalah pelajaran, putra daerah terbukti lebih megang disana… mudah mengikuti walaupun itu hal yang baru sekalipun. Tak sulit bagiku belajar diruang studi ini.  Kami beberapa kali mengaplikasikan apa yang kami sebut ruang belajar mesin dengan actual mesin, dilapangan kami membuat dan merangkai Gokart dari mesin NSR dan Sasisnya kami dapatkan dari hiasan dinding selama tahunan di lap Tek Mek.  Hal ini sebagai realisasi kecil dari ruang studi mesin.

Bersama driver Tigo-pembalap motor jalanan-teman kuliahku, kami menggapai peringkat 3 dikelas GearBox di sirkuit Sentul, padahal kursi driver yang kami pakai berasal dari kursi taman ITI yang dibungkus rapih dan roda-roda Gokart bekas yang kami minta dari Gokart anak-anak Tinton dan Alex Asmasubrata.  Kami akhirnya tetap bisa meredam mimpi teman-teman Mesin Trisakti, Atmajaya, Tarumanegara dan ITB sekalipun.  Saingan kami otomatis adalah profesional dan pemain murni di bidang ini bukan mahasiswa.

Dalam team paddock Aku menangis memeluk Tigo waktu itu setelah piala ditangan.  Bagiku terutama adalah terlebih tentang mimpi sepeda motor dari mesin pemotong rumput yang baru terwujudkan setelah sekian lama dan nun bermil-mil jauhnya dari kampung halamanku. 

Mengenang perihal ini memang tiada habisnya …. tew…. tewww….


Tanggapan

  1. He .. he akhirnya nulis kisah kuliah juga… elo emang lucu kalo gondrong, karena kriba ha.. ha..

  2. He… He… Waktu itu ente yang paling serius nangis harunya, rupanya itu toh.

    Ngak gw sangka ada kisah lain dibalik itu dasar.. Sadek he… he… he…

  3. cerita seru dibalik Gokart itu, ya saat ngambil kursi taman… besoknya satpam kampus hanya mesem-mesem saja ketika melihat kursi taman pindah ke atas Gokart…. gila juga ye..

  4. Gak coba modifikasi sepeda pake mesin jahit pak, hehehe

  5. gak nyangka juga tuh mesin ngaciiir juga walaupun sempat dicari2 sama orang2 dan perjalannya kayanya jauh tuh sampe2 nyeberang sungai

  6. brooo
    apa kabar?…
    gw mao pesen sasis kaya yang ada di gambar, tapi yang buat 2 kursi berapa yang 1 kursi berapa??..
    untuk mesin gw mau di atas 200cc.
    sama kalo gw mau pesen rangka ATV bisa ga…
    gw tunggu balsannya
    Thx

  7. hubungin gw di No: 021 99084714 /08170710004

  8. saya ngak jual, Boss… cuma mengenang masa kuliah, tapi kalo ente mau, menurut ane ada cara yang dulu kami lakukan, setiap even gokart, ente kenalan ama yang punya gokart ‘ntu, sok kenal sok dekat lah kaya’ sekarang ini gitu.. dari situ ente bisa dapat jalur.. slamat mencoba broo

  9. bleh gabung kah?
    mau tanya”?tentang rangka gokart ni bang?

  10. wah kayaknya seru ngomongin gokart
    ikut nimbrung kang


Beri tanggapan

Your response:

Kategori