Karena kami makan akar dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan dan ruangmu berlebihan maka kita bukan sekutu
Karena kami kucel dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek dan kamu mengunci pintu maka kami mencurigaimu
Karena kami terlantar di jalan dan kamu memiliki semua keteduhan …
Karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar … maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam dan kamu nerocos bicara …
Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan … maka kami bilang TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana …
Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senapan …
Karena kami harus sopan dan kamu punya senjata … maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati maka air akan mengikis batu.
oleh WS Rendra (dibacakan pada 15 Mei 1998 didepan pimpinan DPR)

hai dek, lo ngingetin gw akan syair itu. syair yang selalu bikin gw sadar bahwa kita dan mereka memang berbeda…
Oleh: savic on November 12, 2007
at 7:07 pm
Begitulah adanya, belum ada perubahan yang menyentuh subtansi atas nama rakyat, namanya saja wakil rakyat …
Sering main dimari Vic…
Oleh: adekrawie on November 13, 2007
at 5:48 am
prtama dgr puisi ini aku thn 96, gila!!! merinding! tmpak skali triakan jiwa2 muda yg pnh kegelisahan,, semprawut !!! penuh retorika selamat mas.willy,,, smoga Tuhan mmbrikan rahmatNYA slalu.,, ditunggu krya2 brikutnya, slmt mnikmati hari tuamu……..
Oleh: basit adzis on Maret 25, 2009
at 8:38 am
sajak-sajak buat orang2 yang yang ditindas nasib!!!
i love rendra
Oleh: soengkunie on Juli 5, 2009
at 2:37 pm
Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir 7 November 1935-2009 meninggal di Depok 6 Agustus , Bogor karena Jantung Koroner
Oleh: adek on Agustus 7, 2009
at 11:08 pm
Terlepas dari kekaguman saya pada Rendra dan pesan dari puisi ”Sajak Orang Kepanasan” yang sangat kuat menancap di benak. Ternyata puisi ini juga membuka jalan kembali untuk menjumpai Wiji Thukul. Sajak Orang Kepanasan ini segera mengingatkan saya pada puisi Wiji, Bunga dan Tembok, Sajak Suara dan Peringatan.
Bila Rendra bilang TIDAK, TIDAK dan TIDAK maka dalam Peringatan Wiji Thukul lantang meneriakkan ’maka hanya satu kata : LAWAN!
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Maka dalam Peringatan Wiji Thukul menuliskan pula pendasarannya. …
bila rakyat tak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya da satu kata: lawan!
Dan sebelum sampai kepada klimaksnya TIDAK, TIDAK dan TIDAK Rendra dengan piawai membangun pukulan demi pukulan untuk menguatkan benturan atau kontradiksi antara si tertindas dan penindas atau antara siapa yang berlawan dan siapa musuh yang harus di lawan.
sumber : http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/dalam-sajak-orang-kepanasan-ws-rendra.html
Oleh: adek on Agustus 10, 2009
at 10:43 am