Oleh: adek | Februari 3, 2009

Facebook ohg …

fesbukApa yang dilakukan teman, sahabat dan handai taulan dengan facebook ?. Pertanyaan ini menghingapiku. Sampai ketemukan jawabannya sendiri. Lewat undangan seorang teman lama di emailku dan sejak itu aku jadi bagian disana.

Memang seperti bermain sulap saja Sim-Salabim tew… tew… dalam waktu kurang dari 4 minggu saja friends listku sudah mencapai 170- an.. apalagi kalo niat buat nambahin dengan meng-add- secara acak pastilah lebih banyak lagi sehingga membuat public atau every body know..”Wah si Adek banyak teman ya….?”

Lantas apakah hal ini bisa kita katakan sebagai prestasi nyata. Bisa dibayangkan, kita tidak perlu keluar rumah, tidak perlu soan ke tetangga jauh, bahkan luar kampung dan luar negara. Cukup didepan komputer saja kita bisa punya teman banyak dari bagian lain dari dunia ini. Cukup dengan keterampilan meng-klik saja yang tidak perlu didapatkan dari dunia pendidikan yang terlanjur muahal dinegeri ini.  Dalam waktu singkat kita sudah punya teman seperti layaknya masyarakat tradisional sana.

Karena dari pertama ketertarikanku hanya ingin tahu keberadan kawan-kawan lama yang hilang tak tahu rimbanya, makanya ketika ingin menambah teman aku periksa dulu karena tak mau sembarangan add saja. Bahkan aku memasang foto yang cukup mewakili.

Akupun kembali menggunakan nama asli yang di hidden semenjak didunia kerja, karena perusahaan asing tempak kerjaku dulu selalu meminta family name dicantumkan dibelakang namaku.

Kalau kita punya kepercayaan diri yang tinggi kita bisa pasang foto kita yang paling gantenglah karena Facebook adalah sebuah web jaringan social, tempat kita mejeng, berhaha-hihi, berqeqeqeqe-yang paling banyak dikunjungi dewasa ini. Sudah endak perlu lagi datang ke mall-mall buat mejeng yak..! Sekali lagi, bahwa facebook banyak dihuni oleh orang dewasa, kenapa ku tegaskan demikian.. aku punya teman rata-rata berumur 30-40 tahunan.

Berdasarkan statistik ter-up date yang ada, rata-rata setiap anggota facebook mempunyai sedikitnya 100 sahabat. Jumlah anggota facebook awal tahun 2009 ini saja sudah mencapai lebih dari 150 juta jiwa. … twewewwww.

Fantastis sekali bukan, setiap hari jumlah itu kian banyak, aku saja meracuni banyak teman lama untuk membuat account pada facebook, untuk mempermudah komunikasi dan jaringan sosial. Perhari katanya pertambahan itu mencapaai sekitar 600 ribu anggota baru. Jadi kalau nama kita tidak tercantum di facebook sama saja dengan You are no body. Sama dengan kata filsuf Yunani Decartes (dibaca: Deca) dijaman Eropa klasik dengan perkataannya: cognito ergo sum = aku ada, karena aku di facebook.  Aghhh… terlalu percaya diri sekali, biarin lah suka-suka aku nulisnya.

Balik lagi,… dalam dunia nyata pengertian teman-sahabat adalah tempat di mana kita bisa berbagi suka dan duka maupun tempat curhat. Bahwa setiap orang membutuhkan sahabat nyata dan keluarga. Tapi sayangnya kebanyakan manusia sekarang ini serba individual seperti tidak punya waktu untuk menjalin persahabatan. Dan lebih suka mencari sahabat secara insant seperti mie seduh, murah-meriah sampai muntah didepan computer berinternet ha.. ha.. ha..

Kita sudah mampu bertegur sapa, bahkan kita bisa mengirimi teman kita Bunga, Coklat, Roti, Gado-gado, Semur jengkol, Mie Belitong, Gangan Pelandok walaupun maya. Ha ha ha…

Konon katanya umur terbanyak dan teraktif adalah mereka yang berusia diatas 30 tahun, kenapa demikian. Analisa sederhananya begini, pada umur 30 tahun mereka adalah orang yang sedang giat-giatnya mengejar prestasi karir dan urusan periuk dirumah. Artinya waktu yang tersedia untuk berhaha-hihi dengan ruang selingkungan sangat-sangat kurang sekali. Bagaimana mereka melampiaskannya sebagai manusia mahluk social yaitu salah satunya yang getol sekarang adalah facebook-an ini.  Dengan beberapa menit saja mereka bisa ketemu teman sekampung, se-SD, teman bermain gundu, gambar-gambaran, karet, jungkat-jungkit semasa kecilnya, lebih dari seorang dalam sekali waktu.

Mereka bisa bertanya satu sama lain apakah anak-anak mereka punya kebiasaan yang sama mengorek upil seperti bapaknya ha ..ha ha.., atau pertanyaan lain yang membangkitkan kenangan lama.

Coba bayangkan saja ketika aku mem-posting foto sebuah perigi tua di Sekolahku, itu saja bisa mengundang puluhan komentar yang tertuliskan, bahkan ratusan yang tidak tersampaikan. Bahkan dengan modal kedaerahanku aku sekarang punya teman seorang Dokter specialist tulang yang berusia lebih dari 10 tahun diatasku, ngomong-ngomong didunia nyata aku belum pernah punya teman seorang dokter yang berpraktek dirumah sakit termahal di negeri ini ha.. ha.. ha. Kasian yah aku.

Kita juga tidak sungkan-sungkan, bahwa persahabatan maya itu diposisi sejajar antara satu sama lain, ketika berhubungan didunia maya kita  melalui chat didepan computer bisa dengan kaki satu terangkat keatas, sambil ngupil, garuk-garuk atau kegitan yang lainnya. Bahkan yang menginstal program opera di hapenya atau bangsa blackberry bisa berinteraksi sambil buang air besar, atau ibu-ibu sambil menyusui, masak untuk suaminya, luar biasa bukan.  Coba kalo didunia nyata, bisa ditempeleng kita karena tidak sopan ha.. ha ha ha… Sebab dalam ikatan persahabatan model facebook itu tidak melibatkan faktor emosional.

Kalo dari pertama aku memakai konsep persahabatan nyata dalam arti seperti layaknya tanaman yang membutuhkan pemeliharaan, perlu disiram dan dipupuk juga jadi kira-kira persahabatan dengan cara sembarang add bisa menyebabkan kesengsaraan yah di tolak (IGNORE) saja dari sejak pertama. Atau DELETE saja untuk menceraikannya. Jumlahnya juga perlu dikontrol. Toh kita bukan anak baru gede yang berlomba memperbanyak frend list….

Sekedar catatanku bahwa banyak sekali foto yang diup-load yang menggambarkan pertemuan kembali mereka yang lama telah terpisahkan, yang semua itu diawali dengan foto-foto bewarna kuning burik yang discan ulang ketika masa-masa sekolah mereka dulu dan mereka berkumpul dan terkumpulkan lagi… terlepas siapa pemilikmu facebook salute….

Oleh: adek | Januari 17, 2009

Gulungan Talibanjor

dsci15131 Dalam dunia pemancingan tradisional, ada benda bulat dan beralur seperti gambar disamping ini.  Kita sebut saja dengan benda ini dengan gulungan tali banjor, (tali banjor=senar pancing).  Supaya mudah dalam penceritaan berikutnya.

Gulungan tali banjor dipergunakan untuk menempatkan gulungan senar pancing.   Benda ini banyak kita temukan ditoko-toko alat pancing tentunya….  Setidaknya itu menjadi pikiran pertamaku ketika melihat benda itu dan pastinya pabrikan pikirku kemudian.  Tapi ternyata tidak juga sampai aku melihat proses pembuatannya di hari itu.   Gulungan tali banjor ada yang dibuat dirumahan.  Hampir tidak percaya sebelumnya.

Ketika hari ini aku melihat orang membuatnya, Bang Heri begitu namanya.   Profesi utamanya adalah nelayan, tapi karena pulau kecil Belitong lagi terjadi musim barat-istilah yang dipakai untuk menggambarkan situasi laut tidak bersahabat dimana gelombang bisa mencapai tinggi 4 meter,  sehingga bisa membuat nyawa nelayan melayang karena ditelan ombak.

Bang Heripun bercerita kurang lebih sudah 2 tahun ini beliau menggeluti usaha yang tidak diseriusin ini.  Disetiap musim barat ketika nelayan enggan melaut dan apalagi kemarin tersiar kabar bahwa musim barat kali ini telah memakan korban kapal transportasi bahan makanan dari Palembang ke pulau Bangka kandas dan yang mengakibatkan busuknya sayuran yang semestinya terangkut lewat sarana transportasi itu akibat laut tidak bersahabat.

Dan itulah yang membuat Bang Heri kembali ke usaha ini. “Daripada jagaan diam(-daripada tidak melakukan apa-apa-), lebe baik muat ini”, begitu katanya.

Pertama karena belum tau apa yang dihasilkan beliau ini yang waktu itu kulihat memotong paralon diameter 6 inchi menjaadi ukuran lebar 10 cm, aku berpikir pastilah untuk kebutuhan cetakan lubang udara pada dinding bangunan. Ternyata aku kecele…

Aku minta izin untuk mengambil photo, ketika beliau mengizinkan termasuk untuk bisa dimasukkan ke dalam blogku, aku mulai rewel tanya sana-tanya sini. dsci1512a Kadang sebulan jika tidak melaut beliau bisa membuat sebanyak 400 buah gulungan talibanjor yang dibuat dari 10 batang paralon. Satu pcs-nya dijual Rp. 8.000,-. Makanya tadi kubilang tidak serius, karena menurut beliau kalau dikejar bisa lebih dari itu karena satu batang paralon yang menghasilkan 40 pcs itu bisa diproses 3-4 jam dari awal pemotongan sampai jadi dan bisa dipasarkan.

Bagaimana proses pembuatannya… Bang Heri menatapku agak lama, lalu beliau bercerita.  Katanya Tauke yang mengambil barang beliau ini untuk dijual ke pemakai pernah memaksa untuk bisa tau prosesnya, tapi Bang Heripun tetap tak memberi tahu, nanti katanya kalo sudah ketahap itu, tapi akupun sudah tak punya waktu karena ada janji dengan senior-seniorku disekolahku dulu.

Lalu beliaupun menggambarkan singkat caranya, termasuk bagaimana menjaga supaya lekukannya mulus dan tidak hitam karena overheat…, dan karena hal ini merupakan paten beliau yang beliau cari dari percobaan-percobaan sederhana, jadi akupun tak akan menuliskan caranya disini.

Lalu ketika pamit aku minta beliau menjejerkan ukuran-ukuran yang pernah beliau buat yang bisa dilihat pada gambar, karena sifatnya no defect jadi sekali buat sekali habis dan terjual..

Quality Ratenya 100 % dengan Raw Material Cost 62,5 %, menarik bukan, karena menurut beliau untuk yang sebagus ini, Bang Herilah satu-satunya suppliernya.

Oleh: adek | Januari 9, 2009

Surat Cinta buat Shireen Sungkar

Pengantar :

Seperti syair dari Serieus… Aku juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati… halah jadi endak nyambung…

Dibawah ini ada artikel yang ada hubungan dengan kesenjangan antara Jakarta dan daerah terbelakang lain di Indonesia lainnya. Ditambah pula dengan carut-marutnya tontonan yang disajikan sekarang.
Mulai tahun 80-90 kita disuguhi telenovela, dan drama dari adopsi China , Malaysia dan India lalu era sekarang kita mendukung produk lokal penuh dengan kisah cinta-harta-paha, dengan pemeran yang lebih fresh tapi isi cerita itu–itu saja, (lihat saja kalo tak percaya.. tapi bisa jadi suka …)

Oleh karena banyak digandrungi oleh ibu-ibu, dan menulari anak-anaknya, sehingga sinetron-sinetron seperti Fitri, Intan, Khanza, (maap untuk bisa menuliskan judul ini aku mesti lihat jadwal sinetron di sebuah harian ibukota),… Eh ada lagi nih … Sekar, Ningrum, Melati, Tukul hua.. ha ..ha.., yang nyatanya lebih terkenal dibandingkan nama pemimpin partai di negeri ini.

Terenyuh….. kok bisa ya, itulah kita yang masih jadi manusia.

Endak ada maksud buruk selain untuk menyatakan bahwa sebagian besar dari masyarakat yang hidup dan berasal dari desa-desa terpencil yang jauh dari Ibukota Negeri ini juga Manusia sama seperti kita sekarang kebetulan parkir di Jakarta.

Berikut ini ada surat cinta dari seorang penggemar Shireen dari Lorwembun…

Adek

—forwarded message begins—

Surat Cinta buat Shireen Sungkar
– by M Aan Mansyur (http://pecandubuku.blogspot.com)

Sun 2:11pm
DALAM pelajaran sastra di sekolah, bukan penyair atau pengarang yang ditanyakan guru, tapi nama-nama pemain sinetron. Karena itulah, saya mengirim surat ini padamu, Shireen.

***

RUANG guru. Pukul 11.00. Seorang membacakan sebuah kalimat kepada seorang lain yang duduk di depan mesin ketik tua. *Sebutkan nama-nama pemeran sinetron Cinta Fitri!* Perempuan yang duduk di depan mesin ketik itu meminta diulangi. Perempuan di dekatnya mengulangi. Lebih pelan. Kata per kata. *
Sebutkan-nama-nama-pemeran-sinetron-Cinta-Fitri.* “Tanda seru,” kata perempuan itu mengakhiri kalimatnya.

Shireen, adegan itu tidak diambil dari sebuah sinetron.  Adegan itu saya saksikan sendiri Juni lalu saat mengunjungi sebuah Sekolah Menengah Pertama di Pulau Yamdena, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. (Apakah gurumu pernah menyebut pulau seluas 3.333 km2 itu di pelajaran geografimu?) Dua perempuan dalam adegan itu sedang mempersiapkan soal ulangan Bahasa dan Sastra Indonesia untuk siswa mereka. Esok harinya puluhan siswa kelas dua sekolah itu wajib menjawab soal itu agar tidak disebut bodoh.

Sekolah itu terletak di sebuah desa bernama Lorwembun, Shireen. Jika kau hendak ke sana, kau harus ke Ambon dulu dengan 4 jam penerbangan. Dari Ambon ke Saumlaki, ibukota kabupaten itu, kau membutuhkan waktu 2 jam lagi. Dari Saumlaki ke Lorwembun kau membutuhkan waktu sehari perjalanan. Naik bus di jalan yang tak beraspal setengah perjalanan. Lalu naik sampan menyeberangi sungai. Kemudian naik speed boat membelah laut, jika beruntung ada speed boat. Kalau tidak ada kau harus rela menunggu hingga esoknya lagi. Sungguh, Shireen, itu perjalanan yang sangat melelahkan!

Di Lorwembun tak ada listrik, Shireen. Telivisi yang hanya dimiliki sedikit rumah di desa itu butuh bahan bakar yang mahal. Bahan bakar itu hanya bisa didapatkan di Saumlaki, di mana satu-satunya pasar di pulau itu berada. Agar mereka bisa beli bahan bakar, ibu-ibu harus menjual hasil kebun mereka ke Saumlaki. Ubi, pisang dan kelapa. Kebun-kebun itu jauh dari rumah mereka.
Ada yang sampai 10 kilometer. Mereka harus jalan kaki naik-turun gunung untuk mencapainya. Hasil kebun itulah yang mereka jual agar bisa beli bahan bakar. Jika pergi ke pasar, ibu-ibu itu membutuhkan 3 hari sebelum tiba di rumah mereka.

Mereka rela melakukan semua itu agar setiap malam anak-anak mereka bisa menontonmu. Agar bisa melihatmu menangis tersedu-sedu di telivisi. Agar mereka bisa meniru gayamu. Agar bisa menjawab soal ulangan dari guru mereka, Shireen. Dan apakah kau tahu, saat di Jakarta pukul 20.00 di Lorwembun sudah pukul 22.00? Apakah kau tahu, Shireen?

***

RAYMOND Williams (kau pernah dengar namanya, Shireen?) pernah mengatakan bahwa media hiburan utamanya televisi kini telah menjadi institusi pendidikan jutaan anak di dunia. Kau itu guru, Shireen, bagi anak-anak Lorwembun dan jutaan anak lain di Indonesia. *Cinta Fitri*, yang sudah ratusan episode itu, adalah mata pelajaran. Saya pernah mendengar produsermu akan membuat *Cinta Fitri* bisa memecahkan rekor sebagai mata pelajaran terpanjang di Indonesia. 777 episode. Itu sungguh angka yang cantik, Shireen!

Saya harus buru-buru menambahkan kata-kata Raymond Williams bahwa bukan hanya jutaan anak yang jadi murid televisi. Guru-guru juga, Shireen. Seperti sepasang guru yang membuat soal ulangan itu. Saya juga tak akan pernah lupa, saya pernah melihat di acara *infotainment* banyak guru sengaja datang ke tempat syutingmu dan berebutan ingin berfoto bersama kau. Dan bahkan, saya juga melihat BJ Habibie datang menemuimu, Shireen, dan mengatakan sangat menyukai mata pelajaran itu.

“Saya ada di sini karena saya mengikuti sinetron *Cinta Fitri* dari episode pertama sampai sekarang. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.” Kau ingat kata-kata Mantan Presiden RI itu, bukan? Saya juga membaca kalimatnya itu, Shireen, yang dikutip banyak media. Dan, ah, saya lihat fotomu bersamanya ada di internet. Kalimat itu dia ucapkan saat menghadiri *press conference* peluncuran *Cinta Fitri 3*. BJ Habibie bahkan mengaku memperhatikan semua gerakan, mimik dan bahasamu sampai sedetail-detailnya.
Pasti kau lebih tahu soal ini, Shireen!

Jika kau belum percaya bahwa televisi adalah institusi pendidikan, saya akan menambahkan fakta lain, Shireen. Ibuku adalah murid yang patuh dari tantemu yang kata-katanya sejuk saat mengajar di pagi hari itu. Ibuku juga menjadi sangat sejuk jika bicara padaku, Shireen, seperti tantemu itu. Dia belajar dari televisi, Shireen, di mana tantemu itu mengajar. Dan banyak kawanku pernah ingin sekali jadi penyanyi dan pemain film seperti ayahmu sebelum sadar suara dan wajah mereka tak sebagus milik ayahmu. Mereka juga berguru pada ayahmu di televisi, Shireen.

***

SHIREEN, kau menjadi mimpi banyak orang. Ibu-ibu di Lorwembun (dan di daerah lain) bermimpi anaknya menjadi seperti kau. Guru-guru bermimpi muridnya menjadi seperti kau_atau seperti BJ Habibie. Para pria, muda dan tua, bermimpi memiliki kekasih atau istri seperti kau, Fitri yang lugu, baik hati dan taat itu. Gadis-gadis, bahkan yang berkulit gelap dan berambut keriting, bermimpi menjadi kembaranmu. Saya juga, Shireen, selalu bermimpi menjadi kekasihmu. Selalu, Sayang!

Sampaikan salam dan ucapan terima kasih pada teman-temanmu, Shireen, yang telah menjadi guru kami. Sampaikan pula terima kasih kami kepada produser dan sutradara yang merumuskan mata pelajaran favorit seperti *Cinta Fitri*.
Jangan lupa, sampaikan pula salam hormat dan terima kasih kami kepada yang menciptakan institusi pendidikan tempatmu mengajar. Sampaikan bahwa mereka sungguh berjasa! Sungguh mereka telah berjasa membodohi kami!

*catatan: surat ini saya kirim ke Kompas, semoga dimuat agar lebih banyak yang membacanya.*

—forwarded message ends—

Oleh: adek | Desember 19, 2008

Dorongan MESRA Budi (almarhum)

Waktu reunian SMUNSA-Tanjongpandan kemarin, Bang Novil sempat menyinggung sebuah nama teman lama yang sudah tak ku dengar.   Budi, nama lengkapnya aku tidak ingat, merupakan adik kelas ku di sekolah dasar, tapi karena rumahnya tidak jauh dari rumah kami, dan aktivitas hariannya selalu melewati tempat tinggal kami itu maka aku selalu ingat dengannya walaupun sudah tak satu sekolah lagi ketika menginjak dewasa.

Nah … apa yang mau kuceritakan tentang temanku ini, yang pertama aku baru tahu dari Bang Novil kalau Budi telah almarhum, tak lama setelah dipindah-tugaskan di unit narkotika.  Ya, setahuku dia adalah seorang polisi, aku juga tidak jelas apa satuannya, yang pasti aku pernah bertemu dia di satu masa.  Tahukah kawan … dimasa itu dimana situasinya sangat tidak enak, betul-betul tidak nyaman., tapi terpaksalah dibuat nyaman dipertemuan singkat itu.

Sampai 1999 setelah kejatuhan Soeharto di tahun 1998, masih ada organisasi mahasiswa yang turun kejalan karena menganggap perjuang belum selesai.  Waktu itu kami yang masih tergabung dalam Font Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi atau sering disingkat FAMRED dan hari itu sedang turun kejalan menuju Tugu Proklamasi (Tuprok), dari arah Salemba.

Sebenarnya di Tuprok sendiri sudah ada ratusan mahasiswa dan rakyat yang berkumpul dan mulai terakumulasi, sebagian masih dijalan seperti rombongan aksi kami.  Rombongan kami terdiri dari lebih dari 150 orang yang berkumpul dari Kampus ABA-ABI Matraman. Dan dalam perjalanan itulah akhirnya tertahan oleh puluhan polisi berpakaian lengkap anti huru-hara 2 lapis.

Tepatnya di persimpangan gedung TEMPO. Dalam keadaan seperti ini FAMRED yang udah terkenal dengan ANV (active non violence), biasanya tidak akan memaksakan diri merangsek masuk, tapi lewat negosiasi yang ternyata juga tak berhasil. Lalu Korlap aksi rundingan sebentar melihat potensi lapangan dan diputuskan untuk senam-senam kecil dengan tetap memaksa masuk karena Tuprok yang sudah ada didepan mata, cuma 100 meter kedepan tapi kok masih dilarang juga sih.

sna-018Akhirnya aksi dorong-dorongan di mulai, didalam kondisi ini simpul kampus bersinggungan langsung dengan aparat polisi sedangkan masa aksi dibelakang…., tahukan kawan apa yang kulihat persis pada lapisan terdepan dari polisi anti huru-hara tersebut, yap tepat sekali didepanku. Ternyata dia adalah Budi, teman kampungku itu.

Bagaimana perasaan kami berdua waktu itu didalam kondisi tegang dan saling dorong.  Aku tak ingat persis seperti apa percakapanku waktu itu tapi point-pointnya seperti ini.

“Oi Dek, ngape kao ne disinek ! ( Oi Dek, kenapa kamu ada disini !), sambil tatap-tatapan mata.

“Udah lama Bud endak ketemu kao, kiape keluarga”, – loh kok nanya keluarga.

“Baik aku sering main ke asrama pilot, kapan-kapan kita ketemu disana”, katanya menyebutkan Asrama anak Belitong yang berada di jalan Garuda Jakarta Pusat.

“Jadi sekarang kite gimana, aku endak enak ama komandan kesatuanku di pojok sana yang megang HT”.

“Ya udah tetap aja tapi dorongnya yang mesra ya”, kataku sambil kita ketawa dalam hati..

Untungnya kejadian itu tak lama bisa ketahuan sosiodrama kami mainkan berdua waktu itu, Rombongan Aksi kami berhasil menembus brikade dari samping, selalu demkian karena kami pakai siasat, sementara para aparat itu harus tunggu perintah dulu ketika ada formasi lain yang hendak dibentuk.

Jadi dorongan mesranya cuma sebentar doang. Kejadian itu pernah disinggung simpul kampus lain setelah aksi itu, kok tadi ada yang aneh dilapangan, aku diam saja tak pernah bercerita.

Sekarang dia sudah Almarhum dan hanya cerita ini yang tersisa, Selamat Jalan Bung semua Allah menempatkanmu pada sisi yang selayaknya. … Amieennnnn.

Oleh: adek | Desember 12, 2008

Umak dinyatakan sembuh …

Aku benar-benar gembira hari ini….   Dari 1,5 bulan rangkaian pengobatan Umak di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, usai sudah dan ditutup dengan hasil yang memuaskan. ( maap pilihan katanya salah ya…).  Ini bukan berarti menang atau kalah dalam sebuah pertandingan, Tapi bagi aku dan istriku-Sari perihal pernyataan dokter yang kami terima pagi ini sangat membuat kami lega. Alhamdulillah….!

Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya bahwa di bulan Agustus 2008 lalu aku sempat pulang kampung dikarenakan berita bahwa Umak masuk ICU karena adanya penyumbatan pada pembuluh darahnya. Seperti yang kalian tahu bahwa kampungku berada di pesisir, jadi untuk makan enak seperti udang tidaklah susah. Dan makan enak itulah yang merupakan salah satu pemicu sakitnya ini.

 Lalu kami berniat untuk memeriksakan umak ke Jakarta, dengan maksud untuk mendapatkan analisa yang tepat terhadap penyakit Umak ini, karena dikampungku ada keterbatasan alat dan dokter spesialis jantungpun memang belum ada, adapun itu karena dokter-terbang dari Jakarta, tetapi alat analisa dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang optimal belum lengkap..

Selain itu aku tidak bisa membayangkan kesembuhan Umak dengan obat yang harus diminumnya sebanyak 10 macam sehari….., komplikasi bisa jadi kupikir.

Sedangkan bagi umak sendiri berpikir datar saja bahwa dia merasa sudah tua dan 62 tahun katanya memang pantas sakit, tapi tidak bagi kami, Umak mesti sehat ….

Dan setelah kepulangan dari Belitong itulah, terutama Sari mulai mencari informasi dokter jantung dan mulai kamipun menahan diri dari pengeluaran-pengeluaran yang belum perlu. Singkatnya kami ingin Umak sehat, dilain hal penyakit Jantung bukanlah penyakit yang murah untuk biaya analisa dan pengobatannya. Dan juga sangat susah membujuk Umak untuk diajak berobat ke Jakarta.

Akhitnya ketika Umak mengatakan Iya…. berangkatlah mereka ke Jakarta.

Dan sebelumnya kami telah mendapat informasi dari salah seorang teman yang menyarankan untuk mempertemukan Umak dengan Profesor Budhi Setianto di National Cardiovascular Center Harapan Kita, di jalan Let Jend S. Parman Slipi.

Dikunjungan pertama sepuluh macam obat langsung berkurang menjadi 4 macam, itupun setelah di lakukan test medis mulai di Echocardiography (bener ngak nulisnya ya… ) terus di Treadmil Stress. Dan ada obat yang hanya dimakan seminggu 3 kali.

Kunjungan berikutnya Jantungnyapun dinyatakan sehat, tapi hasil cek livernya terganggu, lalu dilakukan pengecekan, dan pantangan beberapa makanan sampai akhirnya hari ini hasil USG abdominalis atas menyatakan normal.

Besok minggu Umak akan kembali pulang ke Belitong, setidaknya hal ini telah membuatnya lega, terlebih kami anak-anaknya. Semoga saja kita mulai menghargai kesehatan kita….

Upsss tapi sebentar kawan….. dengan adanya pelajaran sakit jantung di Umak ini, lantas membuatku akan berhenti merokok ngak …? Ha ha ha ha mengurangi iya, tapi masih susah berhenti…..

Tulisan Sebelumnya »

Kategori