Apa yang dilakukan teman, sahabat dan handai taulan dengan facebook ?. Pertanyaan ini menghingapiku. Sampai ketemukan jawabannya sendiri. Lewat undangan seorang teman lama di emailku dan sejak itu aku jadi bagian disana.
Memang seperti bermain sulap saja Sim-Salabim tew… tew… dalam waktu kurang dari 4 minggu saja friends listku sudah mencapai 170- an.. apalagi kalo niat buat nambahin dengan meng-add- secara acak pastilah lebih banyak lagi sehingga membuat public atau every body know..”Wah si Adek banyak teman ya….?”
Lantas apakah hal ini bisa kita katakan sebagai prestasi nyata. Bisa dibayangkan, kita tidak perlu keluar rumah, tidak perlu soan ke tetangga jauh, bahkan luar kampung dan luar negara. Cukup didepan komputer saja kita bisa punya teman banyak dari bagian lain dari dunia ini. Cukup dengan keterampilan meng-klik saja yang tidak perlu didapatkan dari dunia pendidikan yang terlanjur muahal dinegeri ini. Dalam waktu singkat kita sudah punya teman seperti layaknya masyarakat tradisional sana.
Karena dari pertama ketertarikanku hanya ingin tahu keberadan kawan-kawan lama yang hilang tak tahu rimbanya, makanya ketika ingin menambah teman aku periksa dulu karena tak mau sembarangan add saja. Bahkan aku memasang foto yang cukup mewakili.
Akupun kembali menggunakan nama asli yang di hidden semenjak didunia kerja, karena perusahaan asing tempak kerjaku dulu selalu meminta family name dicantumkan dibelakang namaku.
Kalau kita punya kepercayaan diri yang tinggi kita bisa pasang foto kita yang paling gantenglah karena Facebook adalah sebuah web jaringan social, tempat kita mejeng, berhaha-hihi, berqeqeqeqe-yang paling banyak dikunjungi dewasa ini. Sudah endak perlu lagi datang ke mall-mall buat mejeng yak..! Sekali lagi, bahwa facebook banyak dihuni oleh orang dewasa, kenapa ku tegaskan demikian.. aku punya teman rata-rata berumur 30-40 tahunan.
Berdasarkan statistik ter-up date yang ada, rata-rata setiap anggota facebook mempunyai sedikitnya 100 sahabat. Jumlah anggota facebook awal tahun 2009 ini saja sudah mencapai lebih dari 150 juta jiwa. … twewewwww.
Fantastis sekali bukan, setiap hari jumlah itu kian banyak, aku saja meracuni banyak teman lama untuk membuat account pada facebook, untuk mempermudah komunikasi dan jaringan sosial. Perhari katanya pertambahan itu mencapaai sekitar 600 ribu anggota baru. Jadi kalau nama kita tidak tercantum di facebook sama saja dengan You are no body. Sama dengan kata filsuf Yunani Decartes (dibaca: Deca) dijaman Eropa klasik dengan perkataannya: cognito ergo sum = aku ada, karena aku di facebook. Aghhh… terlalu percaya diri sekali, biarin lah suka-suka aku nulisnya.
Balik lagi,… dalam dunia nyata pengertian teman-sahabat adalah tempat di mana kita bisa berbagi suka dan duka maupun tempat curhat. Bahwa setiap orang membutuhkan sahabat nyata dan keluarga. Tapi sayangnya kebanyakan manusia sekarang ini serba individual seperti tidak punya waktu untuk menjalin persahabatan. Dan lebih suka mencari sahabat secara insant seperti mie seduh, murah-meriah sampai muntah didepan computer berinternet ha.. ha.. ha..
Kita sudah mampu bertegur sapa, bahkan kita bisa mengirimi teman kita Bunga, Coklat, Roti, Gado-gado, Semur jengkol, Mie Belitong, Gangan Pelandok walaupun maya. Ha ha ha…
Konon katanya umur terbanyak dan teraktif adalah mereka yang berusia diatas 30 tahun, kenapa demikian. Analisa sederhananya begini, pada umur 30 tahun mereka adalah orang yang sedang giat-giatnya mengejar prestasi karir dan urusan periuk dirumah. Artinya waktu yang tersedia untuk berhaha-hihi dengan ruang selingkungan sangat-sangat kurang sekali. Bagaimana mereka melampiaskannya sebagai manusia mahluk social yaitu salah satunya yang getol sekarang adalah facebook-an ini. Dengan beberapa menit saja mereka bisa ketemu teman sekampung, se-SD, teman bermain gundu, gambar-gambaran, karet, jungkat-jungkit semasa kecilnya, lebih dari seorang dalam sekali waktu.
Mereka bisa bertanya satu sama lain apakah anak-anak mereka punya kebiasaan yang sama mengorek upil seperti bapaknya ha ..ha ha.., atau pertanyaan lain yang membangkitkan kenangan lama.
Coba bayangkan saja ketika aku mem-posting foto sebuah perigi tua di Sekolahku, itu saja bisa mengundang puluhan komentar yang tertuliskan, bahkan ratusan yang tidak tersampaikan. Bahkan dengan modal kedaerahanku aku sekarang punya teman seorang Dokter specialist tulang yang berusia lebih dari 10 tahun diatasku, ngomong-ngomong didunia nyata aku belum pernah punya teman seorang dokter yang berpraktek dirumah sakit termahal di negeri ini ha.. ha.. ha. Kasian yah aku.
Kita juga tidak sungkan-sungkan, bahwa persahabatan maya itu diposisi sejajar antara satu sama lain, ketika berhubungan didunia maya kita melalui chat didepan computer bisa dengan kaki satu terangkat keatas, sambil ngupil, garuk-garuk atau kegitan yang lainnya. Bahkan yang menginstal program opera di hapenya atau bangsa blackberry bisa berinteraksi sambil buang air besar, atau ibu-ibu sambil menyusui, masak untuk suaminya, luar biasa bukan. Coba kalo didunia nyata, bisa ditempeleng kita karena tidak sopan ha.. ha ha ha… Sebab dalam ikatan persahabatan model facebook itu tidak melibatkan faktor emosional.
Kalo dari pertama aku memakai konsep persahabatan nyata dalam arti seperti layaknya tanaman yang membutuhkan pemeliharaan, perlu disiram dan dipupuk juga jadi kira-kira persahabatan dengan cara sembarang add bisa menyebabkan kesengsaraan yah di tolak (IGNORE) saja dari sejak pertama. Atau DELETE saja untuk menceraikannya. Jumlahnya juga perlu dikontrol. Toh kita bukan anak baru gede yang berlomba memperbanyak frend list….
Sekedar catatanku bahwa banyak sekali foto yang diup-load yang menggambarkan pertemuan kembali mereka yang lama telah terpisahkan, yang semua itu diawali dengan foto-foto bewarna kuning burik yang discan ulang ketika masa-masa sekolah mereka dulu dan mereka berkumpul dan terkumpulkan lagi… terlepas siapa pemilikmu facebook salute….
Dalam dunia pemancingan tradisional, ada benda bulat dan beralur seperti gambar disamping ini. Kita sebut saja dengan benda ini dengan gulungan tali banjor, (tali banjor=senar pancing). Supaya mudah dalam penceritaan berikutnya.
Kadang sebulan jika tidak melaut beliau bisa membuat sebanyak 400 buah gulungan talibanjor yang dibuat dari 10 batang paralon. Satu pcs-nya dijual Rp. 8.000,-. Makanya tadi kubilang tidak serius, karena menurut beliau kalau dikejar bisa lebih dari itu karena satu batang paralon yang menghasilkan 40 pcs itu bisa diproses 3-4 jam dari awal pemotongan sampai jadi dan bisa dipasarkan.
Akhirnya aksi dorong-dorongan di mulai, didalam kondisi ini simpul kampus bersinggungan langsung dengan aparat polisi sedangkan masa aksi dibelakang…., tahukan kawan apa yang kulihat persis pada lapisan terdepan dari polisi anti huru-hara tersebut, yap tepat sekali didepanku. Ternyata dia adalah Budi, teman kampungku itu.